PASUTRI

PASUTRI
Sean.. bijaklah..


__ADS_3

Tepat jam delapan malam ketika Bima sampai digerbang utama rumah keluarga Djenar.


Seperti biasa Bima akan turun sejenak disana hanya untuk mengecek situasi dan keadaan terkini.


"Bang Bim, sudah lama nih gak duel.." Mang Rojak yang merupakan satpam senior dengan umur nyaris mendekati masa produktif menyapa Bima dengan akrab, sambil memegang papan catur.


"Mang Rojak masuknya siang terus sih, makanya tiap malam aku kesini gak pernah ketemu.." Bima beralasan sambil tersenyum ramah.


"Mamang masuknya sudah sesuai jadwal kok.. malah Bang Bima nih yang jarang keliatan.."


"Harap maklum Mang, biasalah pengantin baru. Maunya ngadem terus, suka gak mau lagi begadang diluar rumah.." kali ini yang menimpali kepala piket yang sering disapa Pak Dudi.


Selorohan Pak Dudi terang saja langsung mengundang tawa meriah Mang Rojak sekaligus tiga orang pengawal muda yang kebetulan malam itu sedang bertugas dipos keamanan gerbang utama.


Sementara Bima yang menjadi target godaan para anak buahnya hanya bisa mesem-mesem.


"Bang Bima, kalau jadi pengantin baru memang harus lembur terus. Gasspooll.." Mang Rojak terlihat bersemangat saat menimpali, membuat sekumpulan tawa meriah yang tadinya hendak mereda kembali memecah malam.


"Bisa aja kalian.." ujar Bima sambil menggeleng-gelengkan kepala. Mau tak mau Bima merasa malu juga digoda seperti itu meskipun pada kenyataanya yang ada dibenak setiap anak buahnya justru sangat bertolak belakang dengan kenyataan.


Boro-boro 'lembur' seperti kata Mang Rojak, menyentuh Seiyna seujung rambut pun Bima tidak berani, apalagi ditambah dengan penolakan Seiyna yang terang-terangan sejak awal mereka sah menjadi pasangan suami istri.


"Baiklah karena semuanya aman terkendali aku masuk dulu yah.." pungkas Bima dengan senyum, begitu anak buahnya puas tertawa usai menggoda dirinya. Keadaan kini kembali berubah serius.


"Baik Bang Bim.." Pak Dudi menjawab diiringi anggukan yang lainnya.


"Jangan lupa terus berikan laporan setiap dua jam.."


"Siaapp Bang.." jawaban tersebut terdengar nyaris bersamaan.


"Bang Bima, trus duelnya kapan lagi nih..?"


Bima yang ingin beranjak urung mendengar celetukan mang Rojak.


"Liat sebentar yah, Mang.." ujar Bima yang disambut anggukan Mang Rojak.


Bima pun berlalu menuju mobilnya yang terparkir dan langsung menaikinya.


Tepat saat Bima menginjak pedal gas, sebuah mobil model SUV keluaran terbaru milik Sean nampak mengekor dibelakang.


"Baru pulang, Bang..?" tanya Sean berbasa-basi begitu pria tampan itu keluar dari dalam mobilnya, nyaris bersaaman dengan Bima saat kedua mobil itu terparkir bersisian di garasi.


"Iya, Sean. Barusan dari apartemen dulu.." ucap Bima manakala ia telah teringat sesuatu. "Oh ya, Sean.." pungkas Bima cepat, menahan laju pergerakan langkah Sean yang hendak terayun menuju kearah teras depan.


Langkah Sean terhenti, tubuhnya berbalik guna mendapati sosok Bima yang berdiri tegak dibelakangnya.

__ADS_1


"Ada apa, Bang?" alis Sean bertaut.


"Tadi siang aku menjemput Seiyna dirumah Riri."


"Memangnya kenapa bang?" tanya Sean penuh rasa ingin tau.


"Riri sedang sakit."


"Riri sakit..?" ulang Sean.


Bima bisa langsung menangkap, jika dari ekspresi wajahnya saja, Sean bahkan tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


Bima mengangguk kecil kemudian menghembuskan nafasnya perlahan. "Mungkin jika aku menanyakan hal ini terdengar sedikit tidak pantas, tapi Sean.. apa.. kamu yakin malam itu kamu tidak melakukan kecerobohan.. waktu bersama Riri.." tanya Bima to the point. Pada akhirnya, kalimatnya malah terdengar mengambang.


Bima memang tidak pandai berbasa-basi, jadi ia memutuskan untuk menanyakan dengan jelas meskipun sebenarnya ia pun merasa enggan.


Bima benar-benar merasa malu untuk membahasnya. Dirinya dan Sean adalah pria dewasa, obrolan semacam ini sudah pasti Sean paham kemana arahnya.


Sean terlihat menarik nafasnya berat setelah termanggu untuk beberapa jenak. Kali ini ia malah menatap Bima dengan ekspresi wajah yang sedikit meringis.


"Sean, jangan bercanda.. aku sedang serius." pungkas Bima begitu menangkap sedikit senyum nakal diwajah penerus utama keluarga Djenar itu.


Sean terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia merasa salah tingkah seolah dihakimi oleh satu-satunya orang yang mengetahui kebrengsekannya di malam itu.


"Awalnya.. awalnya sih aman, Bang. Tapi beberapa kali yang terakhir itu.."


Bima mengusap wajahnya panik, tak habis pikir bisa-bisanya Sean bisa melakukan hal itu pada Riri, adik Rei, sekaligus putri bungsu keluarga Wijaya yang memiliki hubungan sejarah kedekatan yang luar biasa istimewa dengan keluarga Djenar.


Pantas saja malam itu ia harus menunggu berjam-jam lamanya didalam mobil sampai-sampai Seiyna ketiduran juga.


Rupanya setelah melakukan kekhilafan Sean bahkan mengulangi lagi kesalahannya, dengan kesalahan yang dibarengi kecerobohan yang disengaja.


'Dasar Sean..!'


"Kenapa bisa se-nekad itu, Sean? seharusnya kamu bisa bermain aman. Masa iya pria sepertimu harus diajarkan lagi hal seperti itu sih.." Bima melengos kesal.


"Lost control, Bang Bim. Soalnya rasanya lain.."


Bima terhenyak mendengarnya. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali mendengar kalimat Sean yang dibarengi senyum usil.


"Sean, aku serius. Aku tidak percaya kalau sampai detik ini kamu sama sekali tidak memikirkan akibatnya.."


"Maaf Bang.." ujar Sean lagi, sedikit kikuk.


"Untuk apa meminta maafku..?" Bima terlihat semakin kesal, terlebih saat mengingat saat ini hidupnya telah terperangkap pernikahan konyol dengan Seiyna, semata-mata karena ulah Sean.

__ADS_1


"Aku juga sudah meminta maaf pada Riri.."


"Dengan meminta maaf, bukan berarti semua persoalannya selesai begitu saja, Sean.."


"Lalu aku harus bagaimana, Abang? aku tidak punya keberanian untuk mengakui semua ini, Riri apalagi.." kali ini wajah Sean telah berubah serius.


Sungguh Sean merasa dirinya sangat dilema. Disisi lain ia dikejar rasa bersalah dan tanggung jawab.. disisi lain ia tidak yakin akan memulai masa depannya bersama Riri.


Sean mengakuinya. Sebagai wanita Riri cukup cantik dan menarik. Tapi sepertinya Riri bukanlah wanita yang cocok untuk berada dimasa depannya.


Selama ini Sean selalu berharap bisa menemukan wanita yang bisa mengimbangi dirinya, seperti Mommy yang bisa mengimbangi Daddy, meskipun tidak berasal dari strata ekonomi yang setara.


Karena meskipun secara kasat mata sikap dominan Daddy sangat kentara, namun semua yang mengenal keluarga Djenar dengan baik pasti bisa mengetahui bahwa Mommy adalah sosok wanita kuat, yang mampu mendominasi seorang Sebastian Putra Djenar dengan begitu mudah.


Sean menginginkan wanita seperti itu, dan Riri masih terlalu muda untuk bisa menjadi penopang yang tepat, terlalu lemah untuk menjadi wanita yang kuat, yang bisa terus berada disampingnya seperti yang ia inginkan, dan menguatkannya saat kelak dirinya diserahi Daddy guna memikul sebuah tanggung jawab besar, menjadi tulung punggung dari hajat hidup banyak orang.


"Kamu harus mengatakannya Sean.." suara Bima memecah lamunan Sean yang mengembara, dimana bersahut-sahutan penolakan untuk Riri dari sisi hatinya yang lain senantiasa mendobrak kuat.


"Daddy benar-benar bisa membunuhku kalau mengetahui apa yang sudah aku perbuat pada anak bungsu Daddy Rico.." lirih Sean lagi dengan ekspresi kuyu.


"Apa hanya Daddymu yang kamu takutkan, Sean? apa kamu tidak pernah takut perbuatanmu itu bisa membuat Riri.."


"Bang Bima jangan menakutiku.. buktinya saat ini Riri baik-baik saja.."


"Kata siapa Riri baik-baik saja? saat ini Riri sedang sakit."


"Tapi bukan berarti.."


"Dengar baik-baik, Sean. Menurut Seiyna, Riri sakit karena belakangan ini telah kehilangan naf su makannya. tidak hanya itu, Riri juga sering pusing, mual.."


"Tapi, semua itu bukan serta merta berarti bahwa Riri.."


"Terserah padamu." pungkas Sean datar, sedikit kesal dengan semua usaha penyangkalan Sean. "Kamu hanya punya waktu dua hari untuk menentukan sikap, sebelum Daddy dan Mommy membawa lamaran keluarga Djenar untuk keluarga Agung Baskara. Sean, jangan sampai kamu menyesal karena saat ini kamu menolak untuk memikirkannya dengan baik. Perbuatanmu, telah mengkhianati banyak orang. Kedua orang tua kalian.. juga Rei sahabat baikmu. Aku bukannya tidak tau bahwa sebenarnya kamu menyukai Elsa. Kamu nyaman bersamanya, merasa cocok, sehingga melihat Elsa sebagai sosok yang sempurna untuk masa depanmu. Tapi disisi lain kamu juga harus bisa bertanggung jawab, atas apapun kesalahan yang sudah kamu lakukan. Jangan egois, Sean, sekuat tenaga memikirkan masa depanmu.. tapi anehnya kamu malah lupa, kamu bahkan sudah menghancurkan masa depan Riri.."


Bima mendekati Sean yang terlihat berdiri mematung ditempatnya.


"Sean.. bijaklah.." ujar Bima sambil menepuk pundak Sean beberapa kali, sebelum ia benar-benar beranjak kearah teras, meninggalkan Sean yang masih termanggu ditempatnya.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


Happy weekend 😍


Jangan lupa supportnya yah.. Thx and Loophyuu all.. 😘


__ADS_2