
Alhamdulillah.. bab sebelumnya sudah di SUPPORT.. 🤗
.
.
.
Arini bukannya tidak tau bahwa Bima adalah pria yang baik.
Bima adalah anak tunggal Beni Sanjaya, yang semasa hidupnya juga bekerja menjadi seorang pengawal, yang telah mengabdi untuk suaminya dengan penuh rasa tanggung jawab hingga tugasnya usai karena usia.
Setelah dewasa, Bima juga mengikuti jejak sang ayah, ikut mengabdikan diri kepada suaminya dengan penuh rasa tanggung jawab.
Kira-kira dua tahun yang lalu, Tian telah memberikan kepercayaan penuh kepada Bima, diusianya yang masih sangat muda, untuk menduduki jabatan tertinggi yang membawahi semua divisi keamanan Indotama Group secara keseluruhan.
Tapi sebaik apapun Bima dimatanya, itu tidak serta merta berarti dirinya rela menikahkan Seiyna, dengan Bima.
Bagi Arini, Seiyna adalah putri satu-satunya, harta berharganya, penantiannya panjangnya.. miliknya yang terindah..
Arini selalu berandai-andai, kelak dirinya dan Tian bisa mengantarkan Seiyna ke altar pernikahan yang megah, menyerahkan tangan putrinya sepenuhnya kepada pria yang tepat. Pria yang hebat, pria yang sepadan, dan tentu saja pria yang dicintai dan mencintai Seiyna.
Tapi keputusan Tian telah membuat semua impian Arini musnah seketika.
"Lalu kamu ingin melihat garisan tangan siapa..?" kilah Tian. "Kita bahkan bisa hidup bahagia sampai detik ini, bisa memiliki Sean dan Seiyna, bisa menyaksikan mereka beranjak dewasa, lalu garisan tangan siapa lagi yang ingin kamu lihat..? apa kamu melupakan semuanya..?"
"Sayang.. tapi Bima hanyalah seorang pengawal.."
"Lalu apa salahnya jika Bima hanyalah seorang pengawal?"
__ADS_1
"Aku tidak yakin Seiyna bisa bahagia menikah dengan pria seperti Bima yang hanya.. seorang.."
"Arini, apakah sekarang hal seperti itu telah menjadi standar yang begitu penting untukmu dalam menilai kwalitas seseorang..?" Tian terlihat menatap Arini kecewa.
"Justru karena aku tau bagaimana rasanya menjadi seorang yang bukan siapa-siapa, makanya aku risau.."
Tian berdiri dari duduknya, serta merta membawa tubuh Arini masuk kedalam dekapannya.
"Kamu ingat tidak, dulu aku pernah bertanya kepadamu, perihal kenapa kamu menerima perjodohan yang ditentukan oleh ayahmu begitu saja tanpa merasa khawatir sama sekali..?"
Tian terus mengusap lembut pungggung Arini yang masih membisu sambil bersandar didadanya.
Tentu saja, bagaimana mungkin Arini bisa melupakannya. Itu adalah moment pembicaraan pertama antara dirinya dan Tian yang begitu intim disalah satu hotel terbaik dikota S pada waktu itu.
Saat itu dirinya baru saja diberikan kejutan manis oleh Tian yang secara tiba-tiba membawanya mengunjungi Ayah yang telah berhasil melakukan operasi transplantasi jantung, dengan menaiki private jet milik Tian.
Malam itu mereka berdua saling berbicara panjang lebar, mengungkapkan perasaan, penyesalan yang nyaris terlambat, serta cinta yang mulai membara.
Tian kembali menghela nafasnya sejenak, menyadari wanita yang kini berada dalam pelukannya masih membisu, terus menyikmak semua ucapannya tanpa sepatah katapun, namun terlihat sekali jika masih ada keengganan untuk menerima.
"Sesaat sebelum aku memutuskan untuk menemui awak media aku telah menimbangnya dengan matang. Bahwa nama baik Seiyna tidak bisa serta merta pulih hanya dengan mengucapkan klarifikasi. Apakah publik bisa menerimanya begitu saja alasan yang mengatakan bahwa Seiyna hanya tertidur di mobil Bima usai menghadiri pesta di club malam hingga dinihari..?" Tian terlihat menggeleng berkali-kali. "Jika aku melakukannya, aku takut itu akan semakin berdampak buruk bagi Seiyna. Media bisa saja membuat pemberitaan yang melebih-lebihkan dan semakin tidak terkendali, sementara orang jahat yang berada dibalik kekacauan ini akan tertawa.."
Mendengar penuturan itu, bahu Arini terlihat kembali terguncang lirih. Hari ini seperti mimpi buruk, Arini bahkan tidak bisa mempercayai jika masa depan Seiyna telah diputuskan oleh Tian seperti ini, yang tak lepas dari satu saja kesalahan Seiyna yang telah mencurangi kepercayaan kedua orangtuanya terlebih dirinya pada malam yang naas itu.
"Percayalah, Bima adalah lelaki yang tepat untuk Seiyna. Bima bisa menjaga Seiyna serta dapat diandalkan. Kepribadiannya baik, dewasa dan bertanggung jawab. Kalau pun ada pergaulannya yang selama ini terlihat sedikit bebas.. aku merasa itu masih berada dalam batas kewajaran. Bima adalah seorang pria lajang, dan anak muda jaman sekarang selalu terbuka untuk mencari tau banyak hal.. seperti halnya Sean putra kita. Tapi aku percaya, mereka pasti akan berhenti disaat yang tepat.."
Bahu mungil Arini terasa semakin keras bergetar dalam pelukan Tian, namun Tian justru semakin merengkuhnya kuat, seolah ingin mengaliri kekuatan, membagi segenap kekuatan yang ia punya untuk istrinya.
"Sayang, tolong percayalah padaku, tidak perlu merisaukan terlalu banyak.."
__ADS_1
"Aku takut Seiyna tidak bahagia.."
"Kenapa harus takut..? bukankah dimana pun doamu berada, maka disitu pula letak kebahagiaan anak-anak kita..?"
Kemudian Tian mengangkat dagu Arini dengan lembut, memaksa wajah berurai air mata itu untuk menentang sepasang manik matanya.
"Kamu ingin Seiyna bahagia, kan..?"
Tian menyentuh ujung hidung wanita itu dengan ujung hidungnya, memaksa Arini tunduk sehingga mengangguk dalam isak.
"Maka berikanlah restumu untuknya.." bisik Tian lagi, membuat tangis Arini pun seketika memecah keras.
Arini terisak hebat, dan meskipun terasa begitu berat dan lemah.. kepalanya telah mengangguk untuk mengiyakan.
Yah.. Arini telah mengalah..
Bukan pada doktrin Sebastian Putra Djenar, suaminya yang hebat serta memiliki watak setegar batu karang..
Melainkan karena cintanya sebagai seorang ibu yang begitu besar demi kebahagiaan anak-anaknya.
Demi kebahagiaan Seiyna.. putrinya.. penantiannya.. harta berharganya..
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
Like, Comment, Vote, Rate, pliss.. 🤗
Thx and Lophyuuu all.. 😘