
Usai menarik pergelangan tangan Riri, kini mereka berdua berada disisi ranjang, saling berhadapan dan salah tingkah satu sama lain.
'Kenapa aku malah ikut-ikutan gugup seperti Riri..?'
Dalam diam, Sean mengutuk dirinya dalam hati, yang malah bertingkah konyol seperti abg diusianya yang seperti ini.
"Kak Sean.. baju kakak kotor, mau tidak aku ambilkan baju kak Rei untuk ganti..?"
Refleks Sean menatap dirinya sendiri. Riri benar, kemeja yang dipakainya memang kotor terkena tanah saat ia melompati pagar dan jatuh keatas rumput, belum juga ia telah memanjat pohon untuk bisa sampai di balkon kamar Riri yang ada dilantai dua.
Jangan ditanya lagi kenapa Sean sangat mengenal betul seluk-beluk rumah keluarga Wijaya, karena semua itu wajar saja, mengingat saking seringnya ia bertandang kerumah ini, bahkan sejak jaman bersekolah hingga dibangku perkuliahan, dan menjadi sedikit jarang saat dirinya dan Rei sama-sama disibukkan oleh pekerjaan masing-masing.
Sean pun mengangguk setuju tanpa berpikir dua kali, terlebih lagi saat mengingat dirinya memang belum mandi sejak tadi sore. "Aku.. bau yah, Ri?" tanya Sean iseng sambil mengambil kerah kemejanya dan menghirupnya.
Riri menggeleng malu menyaksikan gerak-gerik Sean yang tanpa segan mengendus beberapa bagian tubuhnya sendiri didepannya. "A-anu kak, sebenarnya bukan bau seperti itu, tapi bau.. alkohol.. dan anu.. parfum wanita.." ujar Riri berterus terang. Ia memang agak pening saat mencium dua aroma tersebut yang melekat samar ditubuh Sean.
Sean terdiam. Diam-diam ia mengigit bibirnya yang kelu menyadari bahwa Riri benar lagi.
Bau alkohol dan parfum wanita.
Terang saja.. karena Sean dan Bima memang telah menenggak minuman beralkohol, dan sempat melantai dengan beberapa wanita meski tidak sedikitpun terbersit niatan untuk melanjutkannya 'seperti biasa'.
"Ri, sebaiknya aku mandi saja sekalian. Pinjam kamar mandinya yah.."
"Egh? dini hari begini mau mandi, kak..?" tanya Riri keheranan.
"Iya, minimal bersih-bersih sedikit. Pergilah cepat ambilkan baju dan celana rumahan milik Rei.." ujar Sean sambil ngeloyor begitu saja kekamar mandi Riri tanpa tercegah, dengan begitu percaya diri, seolah dirinya sedang berada dikamarnya sendiri.. dan memasuki kamar mandinya sendiri..
XXXXX
Dengan hanya menyisakan celana boxer, Sean baru saja membersihkan tubuhnya seala kadarnya, juga telah mencuci muka dengan menggunakan facial foam milik Riri yang ada di rak khusus kamar mandi.
Saat Sean berniat mencari obat kumur dilemari kamar mandi yang ada diatas wastafel, ia malah menemukan benda yang lain.
"Apa ini..?"
Mendadak sepasang mata Sean terbelalak.
Tiga buah test pack berbeda merk namun semuanya menunjukkan pemandangan yang sama, dimana gambaran dengan dua garis berwarna merah yang mencolok tergambar jelas disana.
"Apa ini... berarti.. kekhawatiran yang dikatakan Bang Bima tadi sore tentang Riri.."
Sean menaruh tiga benda tersebut kembali ketempat semula. Ia terduduk di closet sambil mencoba menarik nafasnya dalam-dalam diantara dadanya yang terasa bergemuruh hebat.
Mencoba menenangkan hati,
Mengendalikan diri..
Berusaha tenang..
XXXXX
'Kenapa sekarang aku yang seperti menjadi orang asing dikamarku sendiri..?'
Riri bergumam dalam hati, sambil melirik kearah pria yang seolah sedang menguasai ranjangnya itu.
Nyaris lima menit Sean terlihat duduk bersandar diatas ranjangnya, dengan sebelah kaki terlipat, sibuk mengutak-atik ponsel yang ada ditangannya. Terkadang wajah itu terlihat serius, alisnya sesekali bertaut, kemudian menerawang sejenak sambil memikirkan sesuatu.
Riri pastinya tidak tau, bahwa Sean sedang mencari tau makna dari dua garis merah dari tiga benda aneh yang ia temukan didalam lemari kamar mandi milik Riri.
Tidak.. sebenarnya Sean tidak sebodoh itu sehingga tidak tau artinya serta apa kegunanaan tiga benda yang bernama test pack tersebut, namun sekarang ia sedang meyakinkan dirinya saja dengan mencari jawaban yang sebenar-benarnya dengan membuka mesin pencari untuk mengetahui penjelasan mengenai semua hal yang menyangkut semua itu.
__ADS_1
Sean memang merasa perlu untuk melakukannya, karena ia meyakini satu hal. Riri tau apa yang sedang terjadi dengan dirinya, tapi anehnya gadis itu malah diam seribu bahasa. Tidak seperti wanita-wanita lain yang sibuk menuntut pertanggung jawaban seorang pria seperti yang sering Sean lihat dalam kehidupan nyata.
'Dasar bodoh..'
'Diam-diam malah menanggung semuanya seorang diri, memangnya dia pikir dia sekuat apa..?'
'Apa dia pikir dengan mengunci mulut maka semuanya bisa disembunyikan..?'
Sean bergumam lagi dalam hati, sedikit kesal dengan sikap diam yang diambil Riri.
Biar bagaimana pun yang ada diperut Riri itukan anaknya juga, memangnya cuma gadis itu saja yang berhak tau..?
Iya, Sean memang kesal. Tapi membayangkan ada makhluk mungil yang merupakan bagian dari dirinya sedang tumbuh didalam perut Riri membuat perasaan Sean menjadi terhibur.
Sambil menaruh ponselnya diatas nakas, sepasang mata Sean langsung menatap Riri yang memilih duduk diatas kursi belajar miliknya.
Tatapan Sean yang mengarah tiba-tiba padanya itu membuat Riri gelagapan.
"Ri, kenapa duduk disitu..?"
Riri yang gelagapan terlihat semakin terkesima terlebih saat melihat senyum Sean yang mendadak sumringah saat menatapnya.
'Kak Sean kenapa sih..?'
Entah kenapa Riri malah merasa was-was menerima senyum pria itu.
"Malah melamun, ayo kemari.." ujar Sean sambil menepuk-nepuk permukaan ranjang yang ada disebelahnya, justru membuat Riri semakin bergidik melihatnya.
"T-tidak.. Kak.. kalau Kak Sean mau menumpang tidur, tidur saja. Lagian ini juga sudah mau pagi.." tolak Riri gelagapan, membuat Sean terbengong melihatnya.
'Sean.. Sean.. lagi-lagi kamu lupa yah. Tolong ingat baik-baik.. wanita didepanmu saat ini adalah Riri. Bukan sekumpulan para wanita seperti biasanya yang akan langsung melompat padamu, setiap kali kau menyuruh mereka datang mendekat..'
Akhirnya ia memilih bangkit dan mendekat, kearah Riri yang terlihat semakin gelagapan saking gugupnya. Menatap gadis yang terlihat belingsatan itu sejenak dengan tatapan yang lekat.
"Kak.. mau apa.. aku.. aku.. aaaa.. "
Riri membungkam mulutnya sendiri yang nyaris memekik begitu Sean langsung mengangkat tubuhnya begitu saja dengan enteng.
"Ssttt.. jangan berisik, nanti bik Atun dengar.." bisik Sean terus melangkah dengan membopong tubuh Riri yang menatapnya dengan sepasang mata yang terus melotot sambil tangannya masih membekap mulutnya sendiri.
Sean menaruh tubuh Riri perlahan keatas tempat tidurnya, namun tubuhnya ikut menyusul disana.
Riri terlihat menelan ludahnya kelu menyadari kepalanya yang berada diatas bantal terbingkai oleh sepasang lengan kokoh Sean yang membelai beberapa helai rambut Riri dengan lembut.
Wajah Sean pun tengah berada diatas wajah Riri. Begitu dekat.. semakin dekat..
"Kak Sean.." lirih Riri saat nafas Sean terasa seolah menjadi satu tarikan dengan nafasnya, saking dekatnya mereka kini, nyaris tak berjarak.
"Hhmm.."
"Kenapa.. tiba-tiba datang.." sengaja berucap demi mencegah terjadinya hal yang belum terjadi saja sudah membuat dadanya sesak tak tertolong.
Sean menarik wajahnya sedikit, mungkin hanya sekitar dua centi untuk memudahkan kedua tatapan mereka bertaut.
"Ingin melihatmu.."
"Sudah melihatnya kan, aku tidak apa-apa."
__ADS_1
"Tapi aku.."
"Tidak boleh seperti ini lagi.." lirih.
'Penolakan lagi..!'
Sean mengeram kesal, namun mereda dengan cepat begitu ia melihat kilatan sendu yang sekilas terekam.
'Whatever..'
Tekad Sean telanjur bulat. Apapun yang terjadi Sean merasa harus bisa memiliki wanita yang didalam dirinya kini sedang tertanam benih miliknya.
Sean melu mat bibir yang gemar menolaknya itu dengan lembut, tak peduli dengan penolakan dan rasa enggan Riri yang terkejut dengan pergerakannya yang secepat peluru.
Riri mencoba berontak, ia menggunakan kedua tangannya dengan sekuat tenaga untuk mendorong tubuh Sean yang berada diatasnya, namun anehnya tidak menindih seperti yang pernah.
Sean menyeringai dalam hati menantang dirinya sendiri. Bukan Sean namanya kalau ia tidak bisa menundukkan wanita, tak terkecuali yang terpolos sekalipun seperti Riri.
Pada akhirnya Sean tidak butuh waktu lama untuk membuat gadis itu benar-benar takluk pada sentuhannya, pasrah saat Sean mulai meloloskan satu persatu pakaian yang melekat ditubuhnya.
Kaos beserta celana pendek rumahan.. sebuah benda dengan pengait menyebalkan.. serta segitiga pengaman yang terlepas dalam sekali hentakan.
Riri menggigit bibirnya begitu keseluruhan dari pahatan sempurna tubuh milik Sean kini berada dihadapannya, usai Sean melempar kaos milik Rei kesembarang arah.
Wajah pria itu memerah menahan naf su yang menggelora, terlihat tak sabar saat hendak menekan bagian tubuhnya yang telah menegang manakala Riri yang seolah tersadar akan sesuatu sontak terhenyak, berusaha bangkit dengan panik seraya mengumpulkan serpihan kesadarannya yang berhamburan akibat cumbuan Sean yang memabukkan.
"Tidak Kak.. jangan.. tidak boleh.. " Riri terlihat panik, menyadari bahwa ia harus menjaga sesuatu yang sedang tumbuh didalam perutnya. Jangan sampai semua yang akan mereka lakukan akan berdampak buruk pada sebuah calon kehidupan yang sedang berada didalam sana.
"Riri.."
"Jangan Kak.." Riri terlihat menggeleng berkali-kali.
"Kenapa jangan..?" tanya Sean dengan nafas berat, yang nenandakan betapa ia tengah kesulitan menguasai dirinya dengan susah payah.
"Karena.. karena.."
Mengambang.
Sean tersenyum sambil menunduk. "Aku berjanji tidak akan menyakitinya.." bisik Sean, tepat ditelinga Riri, membuat Riri terhenyak mendengarnya.
'Apa Kak Sean sudah tau tentang..'
"Iya, aku sudah tau." ujar Sean seolah ingin menjawab pertanyaan yang bahkan tidak bisa Riri ucapkan lewat mulutnya.
Pria itu terlihat tersenyum lembut penuh kebahagiaan, membuat Riri harus mengerjap berkali-kali takut salah melihat, karena baru kali ini Riri melihat senyum seperti itu yang kini bertengger manis di bibir Sean.
"Kak.." sepasang mata Riri terlihat mengembun.. ia malah tak bisa berkata-kata lagi terlebih saat Sean memeluk tubuhnya dengan utuh, menciumi sekujur wajahnya yang telah berair dengan lembut.
Dan dengan dua lengan serta siku yang menopang kuat dipermukaan ranjang, Sean terus memeluk tubuh Riri lagi-lagi tanpa menindih.. namun dua pusat kenikmatan yang berada dibawah sana telah beradu.. melesak perlahan tanpa perlawanan..
.
.
.
Bersambung..
Ig. @khalidiakayum
Fb. Lidia Rahmat
__ADS_1
Thx and Lophyuu all.. 😘