PASUTRI

PASUTRI
Episode yang tak lekang


__ADS_3

Riri tidur terlentang sambil menatap langit-langit kamarnya yang merupakan kombinasi warna putih susu dan pink yang sangat soft.


Kamar Riri memang bernuansa hello kitty, makanya tak heran jika warna kamarnya pun didominasi warna tersebut.


Merasa lelah karena sejak tadi membolak-balikkan badan kesana kemari seraya mencoba memejamkan mata untuk menjemput tidur, namun pada kenyataannya kedua kelopak mata Riri tidak juga mau terpejam.


Riri ingin berteriak, menangis sekencang-kencangnya, namun akhirnya memilih diam menahan rasa sakit diulu hati karena harus memendam semua itu seorang diri.


Selain tidak ingin semua hal buruk memalukan yang menimpanya diketahui Daddy terlebih Mommy.. Riri bahkan harus mati-matian mencegah sepasang matanya agar tidak terlalu sering menumpahkan air mata.


Menangis hanya akan membuat matanya sembab. Dan kalau matanya sembab, pasti akan menimbulkan tanda tanya besar bagi siapapun yang melihatnya.


Riri menggeleng kuat-kuat, manakala bayangan kejadian kemarin malam terus menerus terekam jelas dalam memori otaknya.


Sungguh, Riri benar-benar mengutuk hari dimana Rendi berhasil meyakinkan Seiyna agar datang ke The Reds semalam, yang mengakibatkan ia kehilangan mahkotanya ditangan pria yang selama ini sudah dianggap tak ubahnya seperti Rei kakaknya.


Pria playboy yang punya segudang wanita, yang seumur hidupnya Riri bahkan nyaris tidak pernah berbicara panjang lebar dengannya.


Selama ini sosok Sean dimata Riri dan Seiyna adalah sama. Sean ibarat monster galak berhati dingin. Seiyna bahkan lebih bisa bercanda dengan Rei kakaknya, daripada dengan Sean yang notabene kakaknya sendiri.


Tapi mengingat bagaimana cara Sean merayunya setelah kekhilafan yang telah terjadi diawal membuat jantung Riri selalu berdebar aneh.


Yah.. Riri mengakui, bahwa Rendi si brengsek itu yang telah mengerjai dirinya, yang mengakibatkan Sean harus membawanya kekamar cottage The Reds, untuk menghindari sikapnya yang sedang mempermalukan diri sendiri didepan umum.


Tapi setelah semua kesalahannya itu.. yang terjadi berikutnya sudah tidak bisa lagi dikategorikan pada kekhilafan, karena Riri dan Sean bahkan melakukannya kembali hingga berkali-kali, setelah Sean kembali kekamar usai mengejar Rei yang telah salah paham dengan keberadaan dirinya yang dianggap sebagai Liliyana.


Saat memasuki kamar nomor tujuh itu Riri merasa sudah seperti orang gila. Kesadaran Riri benar-benar telah pergi meskipun Sean sudah menyeretnya kekamar mandi, membantunya untuk membasuh wajah, namun yang ada Riri malah melepas semua pakaian yang melekat ditubuhnya begitu saja, membuat Sean terhenyak ditempatnya.


Sesaat kemudian, ketika Riri mencium bi bir Sean yang kaku, awalnya Sean juga sempat menolaknya, namun pada akhirnya pertahanan pria itu jebol juga.


Bagaimana mungkin Sean bertahan dengan kondisi seorang gadis yang menciumnya dengan ganas, sementara tubuh gadis itu polos tanpa sehelai benang.


Setelah semuanya usai Riri baru bisa menguasai dirinya.. namun semuanya sudah terlambat.


Noda merah yang mengendap jelas diatas seprei putih adalah jawaban dari segenap penyesalan Riri dan Sean, yang terpekur dipenuhi sesal sebelum kemudian pintu cottage terdengar seperti digedor orang gila.


Suara Rei diluar sana membuat nyawa Riri nyaris melayang saking ketakutan, namun Sean telah meyakinkan Riri untuk tetap tenang.


Sean telah mencegah Rei yang berniat menerobos kedalam kamar. Kesalahpahaman kakaknya yang malah mengira Sean sedang bersama kekasihnya Liliyana cukup menguntungkan posisi Riri dimalam itu.

__ADS_1


"Jangan khawatir, Rei tidak tau dengan keberadaanmu.." itu kalimat pertama Sean saat kembali dengan wajah kusut masai, dan mendapati Riri yang terisak dikamar. "Riri.. aku minta maaf.." Sean duduk ditepian ranjang, tangannya terangkat guna menghapus butiran bening yang meluncur dikedua pipi Riri.


"Ini semua salahku, Kak.." Riri terisak pilu, menyadari telah kehilangan sesuatu yang berharga, yang telah meninggalkan noda merah yang mencolok diseprai berwarna putih. "Aku takut, Kak.. aku takut hamil.. aku takut ketahuan Mommy dan Daddy.. aku.."


"Sstt.. aku janji bahwa kita akan merahasiakan yang terjadi di malam ini, jadi kamu tidak perlu takut. Seiyna sedang menunggumu di mobil Bang Bima, dan Bang Bima akan membuat kalian kembali kerumah tanpa ketahuan siapapun." Sean menjelaskan panjang lebar, berusaha menenangkan Riri yang terlihat panik.


"Kak.. aku tidak mau hamil.."


"Tidak akan."


"Tapi, Kak.."


"Aku bilang tidak akan." ucap Sean menegaskan dengan penuh keyakinan, namun Riri yang polos terlihat masih tidak bisa mempercayainya begitu saja, membuat Sean membuang nafasnya berat sebelum berucap pelan namun sanggup membuat sekujur wajah hingga telinga Riri memerah sempurna. "Aku mengeluarkannya diluar dirimu, lalu mana mungkin kamu bisa hamil? memangnya waktu sekolah, guru biologi tidak pernah mengajarkannya..?"


Riri menggigit bibirnya menahan rasa malu akibat kepolosan dan kebodohannya yang terlihat nyata.


Tentu saja guru biologi pernah mengajarkannya, tentang proses pembuahan yang diakibatkan sel sper ma dan sel te lur yang bersatu, namun tidak pernah terlintas dalam benak Riri sedikit pun bahwa dalam prakteknya, untuk mencegah pembuahan hanya semudah seperti apa yang dilakukan Sean yang terlihat sangat berpengalaman bahkan terlihat lebih pintar dari guru biologinya di smu dulu.


"Kita kembali sekarang." ujar Sean seraya menatap Riri dengan lembut, namun Riri juga bisa melihat sebuah penyesalan disepasang mata Sean yang berwarna gelap seolah menyesatkan, membuat Riri terpaku untuk beberapa saat.


Dan sesuatu yang tak terduga terjadi..


Awalnya hanya terasa seolah saling menempel satu sama lain, namun setelahnya Sean telah mengambil inisiatif untuk melu matnya dengan penuh dan menuntut.


Saat Riri tersadar, pakaiannya yang seharusnya telah terbalut sempurna ditubuhnya telah ditanggalkan kembali oleh Sean tanpa melewati kesulitan berarti.


"Kak, jangan.." Riri menahan dada telan jang milik Sean yang mulai menindihnya di ranjang, tapi Sean malah menangkap kedua tangannya dan menaruhnya diatas kepala, sambil kembali melu mat dua belahan bibirnya yang terengah, membenamkan wajah untuk mengecup dikedalaman ceruk lehernya.. membuatnya meng gelin jang seketika begitu pria itu berlabuh pada kedua aset yang memiliki puncak sensitif.


Kedua bola mata mereka terus bertaut ketika Sean ingin menaikkan level permainannya, dan Sean sepertinya tidak lagi bisa berpikir jernih manakala tidak mendapatkan penolakan didasar telaga milik Riri selain hasrat yang mendamba agar Sean memberikan yang lebih dari sekedar sentuhan pembuka.


Mereka berdua bahkan lupa bahwa Seiyna dan Bima sedang menunggu kedatangan Riri dimobilnya, sehingga tanpa terasa waktu telah terlewat sekian jam lamanya.


"Kak.. aku takut.." Riri mematung didepan pintu kamar, ketika pada akhirnya, dengan berat hati Sean mengajak Riri check out setelah membiarkan Bima dan Seiyna menunggu dimobil nyaris tiga jam, karena saat itu jam mungil dipergelangan tangan Riri telah menunjukkan nyaris pukul dua dinihari.


"Kalau terjadi sesuatu, aku akan bertanggung jawab.." Sean berucap nyaris tanpa beban, sambil menarik pergelangan tangan Riri keluar melalui pintu samping The Reds yang memiliki akses lebih dekat kearah parkiran.


'Kalau terjadi sesuatu..? kalau aku hamil maksudnya? lalu kalau aku tidak hamil bagaimana..? apa Sean akan menganggap semua yang terjadi diantara mereka seolah tidak terjadi..?'


Riri membatin, membisu dengan benak yang dipenuhi sesal. Seolah baru tersadar, bahwa tentu saja Sean hanya menganggap dirinya angin lalu.

__ADS_1


Pria itu pastinya sudah biasa melakukannya kan..?


Semua itu bahkan sudah terlihat jelas dari cara Sean yang begitu profesional, serta sangat mahir mengetahui seluk beluk dari perbuatan terlarang yang telah mereka lakukan.


Riri menutup wajahnya dengan bantal, saat menyadari ingatannya lagi-lagi mengarah nakal pada malam panas yang ia lewati bersama Sean.. seolah ingatannya itu merupakan sebuah episode yang tak bisa lekang dari otaknya..


Sementara itu..


Disebuah kamar dengan nuansa maskulin yang kentara..


Sean terlihat mengendurkan ikat pinggangnya sebelum menghempaskan tubuhnya yang penat keatas ranjang, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.


Sean baru pulang dari sebuah meeting yang membuatnya harus mewakili sang Daddy yang juga berada pada meeting bisnis lainnya.


Sejak kuliah Sean memang telah terbiasa membantu Daddy untuk urusan pekerjaan, dan saat ini kesibukannya semakin padat di detik-detik pra pengalihan jabatan Daddy sebagai Ceo Indotama Group yang mau tak mau harus diterimanya.


Sean memijit keningnya. Kepala Sean terasa pusing karena sejak kejadian ia telah menodai Riri, Sean bahkan belum bisa tidur sampai hari ini.


"Kalau terjadi sesuatu, aku akan bertanggung jawab.."


Sean merasa kalimat itu mungkin merupakan ucapan paling brengsek yang pernah terucap dari bibirnya.


Saat itu Sean telah mengucapkannya tanpa beban, sambil menarik pergelangan tangan Riri keluar melalui pintu samping The Reds yang memiliki akses lebih dekat kearah parkiran.


Sebenarnya Sean hanya berpura-pura tenang. Karena pada kenyataannya, setelah sebelumnya ia telah menegaskan bahwa perbuatannya tidak akan membuat Riri hamil, namun saat itu Sean bahkan merasa tidak yakin lagi setelah apa yang ia lakukan di moment-moment terakhir, yang terus menumpahkannya didalam tubuh Riri yang terlihat masih awam.


'Damn..'


Sean merutuk dalam hati. Tidak menyangka dirinya telah begitu lepas kendali, justru saat meniduri gadis yang bahkan selama ini tidak pernah terlintas sedikitpun dibenaknya untuk bisa membuatnya tertarik dan berhasrat, padahal selama ini.. Riri bahkan tumbuh besar didepan hidungnya.


.


.


.


Bersambung..


Like and Support pliss.. 😀

__ADS_1


Thx and Loophyuuu all.. 😘


__ADS_2