PASUTRI

PASUTRI
Dengan segenap rasa


__ADS_3

Bima menggeliat sejenak, sebelum kemudian terlonjak kaget hingga terduduk begitu saja diatas ranjangnya.


Kucek-kucek mata sambil menguap sebentar, dan sepasang matanya terlihat memicing saat menyadari bias cahaya mentari telah menerobos lewat tirai jendelanya yang tebal.


"Astaga, jam berapa ini..?" bergumam perlahan sambil menyibak selimut.


Dengan tampilan kaos putih dan celana pendek surfing, Bima terlihat beringsut dari ranjangnya.


Bima menurunkan kedua kakinya menyentuh lantai, namun memilih duduk ditepian ranjang sebentar, berusaha memgumpulkan nyawanya yang terburai, sedikit demi sedikit..


"Abang.."


Bima tertegun.


'Suara itu..'


Refleks Bima menajamkan pendengarannya.


Aneh.. kenapa dia seperti mendengar suara Seiyna..?


'Sepertinya sampai pagi ini mabukku semalam belum hilang total..'


Bima menggeleng-gelengkan kepalanya yang memang masih sedikit berat, mencoba mengusir halusinasi yang sedang menggerogoti benaknya.


Melihat Bima yang terlihat lempeng saja meskipun nyata-nyata sudah mendengar dengan jelas panggilannya, mau tak mau membuat Seiyna menjadi gemes sendiri.


"Abang ihh..!!" semprot Seiyna keras, sanggup membuat Bima terlonjak ditempat.


"Seiyna?" kedua alis Bima bertaut kaget. "Kamu.. kamu kenapa ada disini..?" Bima menatap Seiyna yang duduk menopang dagu disertai bibir mengerucut itu dengan wajah keheranan.


"Bang Bima sendiri..? kenapa tidur disini..? kenapa tidak pulang kerumah..?" balas gadis itu dengan pernyataan beruntun sambil melotot galak, mampu membuat Bima menatapnya dengan tatapan aneh dan sedikit salah tingkah.


"Aku.."


"Bang Bima pergi kemana semalaman dengan Kak Sean..?" todong Seiyna seolah tidak rela memberikan Bima kesempatan sedikitpun untuk menjelaskan.


"Sean..?" mendadak Bima seolah teringat sesuatu. "Astaga, Sean.." mendadak ia memijat pelipisnya perlahan, sambil mengambil ponsel yang masih tersambung dengan soket konektor charger, memutuskan koneksinya dan langsung mengaktifkan benda pipih tersebut.


Semua gerak-gerik Bima yang seolah-olah mengacuhkan Seiyna itu terang saja membuat Seiyna gregetan sendiri. Ia merasa seolah kehadirannya disana tidak dianggap oleh Bima.


Seiyna baru saja hendak mengajukan protesnya manakala bunyi notifikasi bersahut-sahutan di ponsel Bima yang baru saja aktif, nyaris tanpa jeda, seiring dengan wajah pria itu yang menegang dan bergegas bangkit dari duduknya dengan tergesa.


"Sh.. itt.."


Seiyna bahkan bisa mendengar umpatan samar dari bibir pria itu sebelum melesat seperti peluru.


"Bang Bima ada apa sebenar..?"


Braakk..!


Bukan jawaban yang Seiyna dapatkan, melainkan bunyi pintu kamar mandi yang terhempas keras saking Bima yang bergerak terburu-buru, yang justru menjawab pertanyaan Seiyna yang belum juga selesai sepenuhnya.


"Dasar Bang Bima nyebelin..!!" Seiyna mendesis kesal, seiring dengan terdengarnya bunyi air mengucur dari balik pintu yang baru saja terhempas lumayan keras.


XXXXX


Mobil yang dikendarai Bima melesat cepat membelah jalanan ibukota yang mulai ramai serta padat kendaraan.


Bima terlihat sangat gesit saat beberapa kali berhasil menyalip kendaraan didepannya namun demikian wajah pria itu tetap terlihat tenang, tidak sedikitpun menampakkan ketegangan, nyaris tanpa ekspresi.


"Bang Bima.." Seiyna yang masih tak sabar dengan penjelasan singkat Bima yang seolah masih tidak bisa ia temukan korelasinya, tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya untuk tidak bertanya.

__ADS_1


"Hmm.." Bima hanya berdehem, tapi menoleh pun tidak.


"Bang Bima..!"


"Iyyaa Seiynaa.."


"Ishh.."


"Iya, ada apa..?"


"Bang Bima kenapa sih. Tiap kali diajak bicara selalu begitu..?" protes Seiyna sengit.


"Begitu bagaimana, Seiy?" Bima terlihat menoleh sejenak, sebelum kembali fokus kedepan, kearah hiruk-pikuk jalanan.


"Tidak pernah serius."


Bima terhenyak dalam hati mendengar tudingan itu.


Bima bahkan tidak habis pikir, bagian mana dari dirinya yang dianggap tidak serius oleh Seiyna? namun seperti biasa, ia memilih diam dan tidak mendebat Seiyna.


"Ya baiklah.. memang apa lagi yang ingin kamu tanyakan..?" ujar Bima dengan intonasi suara rendah.


"Aku masih tidak percaya kalau Riri bisa.. bisa.. bisa seperti itu." ujar Seiyna sedikit kesulitan mencari padanan kata yang tepat untuk menggantikan kata 'hamil' yang entah kenapa terasa aneh dan enggan diucapkan bibirnya.


"Lalu bagaimana bisa semuanya tiba-tiba telah terhubung dengan Kak Sean begitu saja? mereka bahkan jarang bertemu dan bicara satu sama lain.."


Bima terlihat menarik nafas, seolah berpikir sejenak. "Aku juga tidak tau, Seiyna.."


"Bagaimana mungkin Abang tidak tau, sedangkan Abang justru sangat sering bersama Kak Sean."


"Kan sudah aku bilang, yang aku tau hanya sebatas kakakmu Sean telah melakukan kesalahan dimalam yang sama, saat kamu melakukan kebodohan."


"Jadi Abang ingin menyalahkan aku atas semua yang terjadi di malam itu?"


"Tapi Abang tadi telah mengatakannya, seolah-olah karena aku semuanya menjadi runyam seperti ini..?!"


"Seiyna, kamu yang terus bertanya dan aku hanya menjawab. Aku tidak menyalahkan."


"Tapi Abang bilang itu karena kebodohanku." pungkas Seiyna yang tetap ngotot plus sewot.


"Baikah aku minta maaf.." ujar Bima perlahan, yang diluar dugaan dibalas dengan nada datar.


"Malah minta maaf.."


"Nah kan.. lalu maunya apa, Seiyna?" tanya Bima lagi separuh bingung, serba salah menghadapi sikap labil Seiyna.


"Huhh..!!"


Seiyna sungguh merasa sangat jengkel.


Mendapati hal itu diam-diam Bima tersadar bahwa gadis manja ini mungkin kesal karena merasa telah diacuhkan sejak awal.


Sungguh Bima tidak bermaksud mengacuhkan Seiyna, hanya saja ia bahkan begitu kalut karena telah kecolongan sebuah insiden yang nyaris membahayakan nyawa Sean, Riri, dan yang terpenting adalah calon cucu keluarga Djenar yang berharga, yang sedang bersemayam dalam perut Riri.


Huhff.. untung saja akhir dari semua insiden menegangkan itu bisa terlewati meski harus melewati insiden yang cukup mencekam, karena kalau tidak.. Bima bahkan tidak bisa membayangkannya..!


Saat ini, info terakhir yang didapat Bima, yang diperoleh dari salah satu anak buahnya yang saat ini tengah berjaga di area rumah sakit Medical Indotama Centre adalah tak lain, mengenai kehebohan yang terjadi diseluruh area pintu masuk dan keluar, yang lagi-lagi telah dipenuhi oleh wartawan yang ingin mencari tau informasi tentang pewaris keluarga Djenar selanjutnya.


Rumah sakit Indotama Medical Center sudah tidak seberapa jauh, namun Bima telah memutuskan untuk menepikan mobilnya dibahu jalan terlebih dahulu.


Bima menarik tuas rem tangan, dan kemudian menatap Seiyna dengan tatapan penuh.

__ADS_1


"Kenapa berhenti..?" kepala Seiyna menengok kesana kemari, sedikit bingung menyadari Bima telah menghentikan mobilnya di pinggir jalan, padahal tujuan mereka masih berada diujung sana.


Detik berikutnya Seiyna telah salah tingkah sendiri saat menyadari tatapan Bima kini lekat padanya, tidak beralih seinchi pun.


"B-Bang Bima.. k-kenapa menatapku seperti itu.."


"Maaf."


"Ap-pa..?!"


"Maaf karena semalam pergi tanpa memberitahu, maaf karena aku tidak pulang kerumah. Maaf juga karena telah merepotkanmu, maaf karena sejak tadi mengacuhkanmu. Maaf juga karena telah menyalahkanmu atas kejadian di The Reds malam itu.."


Seiyna terhenyak mendengar ungkapan maaf yang begitu panjang dari Bima. Bukannya merasa nyaman, Seiyna malah merasa hatinya seperti dicubit.


Semua yang dilakukan Bima ini, benar-benar sikap seorang pengawal kepada majikannya.


Tidak lebih, tidak ada sama sekali hal yang mencerminkan jika mereka adalah sepasang pasutri yang seharusnya saling bertoleransi, sedikit berargumentasi serta melengkapi kekurangan masing-masing.


'Tapi bukankah semua itu justru aku yang memintanya sejak awal? akulah yang sejak awal begitu angkuh mengingatkan Bang Bima agar menjaga sikap, sehingga tidak merubah apa yang berlaku diantara mereka berdua selama ini..'


"Seiyna.." panggilan Bima yang lembut, mampu menerbangkan keseluruhan lamunan Seiyna.


Saat Seiyna mendongak ia telah disuguhi sepasang tatapan mata Bima yang bersinar lembut.


"Ada apa? kenapa diam?"


"Aku.. aku.."


Mengambang. Seluruh perbendaharaan kata yang ada didalam otak Seiyna seolah menguap entah kemana. Tatapan lembut Bima sanggup melumpuhkan dirinya.. juga hatinya.


"Mau bertanya apa lagi? tanyakan saja dan aku akan menjawab semuanya. Tapi tolong jangan terlalu banyak yah.. karena daddymu telah menunggu di rumah sakit, disana keadaannya sudah sangat ramai. Wartawan telah memenuhi loby rumah sakit, karena berita tentang calon cucu pertama di keluarga Djenar telah tersebar begitu cepat tanpa diketahui asal mulanya."


Tatapan Seiyna terpaku kewajah Bima yang berhiaskan senyum. Bima terlihat seolah sedang menghadapi seorang bocah yang sedang ngambek, sehingga ia merasa perlu untuk membujukmya.


"Terus saja.." ujar Seiyna datar.


"Apa..?"


"Aku bilang terus saja. Aku tidak sabar bertemu Riri!" berucap acuh sambil melipat tangannya didada.


Kini tatapan Seiyna telah berpaling, keluar kaca jendela.


Bima terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya menarik nafas panjang.


Entah mendapat dorongan dari mana sehingga tangan Bima telah terangkat, guna mengacak sejenak pucuk kepala Seiyna dengan segenap rasa.


Namun, sungguh.. Bima melakukan semua itu dengan seluruh kasih sayang yang ia punya, entahlah jika Seiyna bisa merasakannya atau tidak.


.


.


.


Bersambung..


Pliss Like, support, vote 🤗


Big Thx to Susi Susanti dan Hardtea Willian Setiawan yg sdh mengapresisi novel PASUTRI di grup FB 🤗.


Maaf baru nemu postingannya, itupun dikasih tau teman sesama author.. 🥰.

__ADS_1




__ADS_2