
Saat terdengar bunyi khas dari door lock acces yang terbuka, wajah Seiyna langsung terlihat sumringah.
"Nona Seiyna, aku hanya bisa menemani Nona sampai disini.." suara bernada khawatir milik Tomi yang berada disamping Seiyna terdengar berbisik.
Sungguh mati, Tomi benar-benar takut jika ulahnya membocorkan sedikit privacy milik sang bos kepada Nona majikannya sampai ketahuan.
"Baiklah kamu boleh pergi, tapi ingat yah Tom.. laporkan kepada Daddy bahwa aku pergi kekampus pagi-pagi. Awas saja kalau kamu sampai berani membocorkan bahwa aku pergi ke apartemen Bang Bima..!" ancam Seiyna dengan bibirnya yang naik dua centi.
"Beres, Nona. Kalau soal itu Nona Seiyna tenang saja.. hari ini aku rela membuat laporan palsu untuk Pak Tian, demi kelangsungan cinta Nona Seiyna dan Bang Bima." ujar Tomi, yang langsung disambut pelototan sepasang mata Seiyna, yang sayangnya tidak bisa menyembunyikan rona merah jambu yang lebih dahulu menghias dikedua pipinya.
"Kamu ini bicara apa sih, Tom.. ngawur saja!" sok ngedumel, tapi dengan gayanya yang malu-malu tapi mau.
Tomi terlihat cengengesan, dalam hati ia sungguh girang karena berhasil mendapatkan kartu as dari sang Nona majikan.
Fix. Tomi yakin seribu persen bahwa Nona Seiyna memang sangat menyukai Bang Bima, tapi anehnya selama ini Bang Bima terlihat biasa saja.
Masa iya sih bosnya itu tidak tertarik sama sekali dengan wanita secantik Nona Seiyna..? padahal kalau dengan wanita-wanita lain yang sebelumnya, Bang Bima malah lebih terlihat bersemangat.
Aneh. Semalam Bang Bima sempat-sempatnya mengacuhkan Nona Seiyna dengan tidak pulang kerumah, malah memilih tidur di apartemen..!
"Ya sudah, Nona, kalau begitu aku pamit dulu yah.." pamit Tomi lagi setelah tersadar dari lamunannya sendiri.
Seiyna pun mengangguk menanggapi permintaan pamit dari Tomi. Seiyna bahkan terus mengawasi punggung Tomi, yang seolah ingin bisa berlalu secepat kilat dari depan pintu kamar apartemen Bima yang telah terbuka sedikit.
Sepeninggal Tomi, Seiyna memberanikan diri mendorong pintu tersebut.
Hari memang masih sangat pagi, jam dipergelangan tangan Seiyna bahkan baru menunjukkan pukul setengah enam pagi.
__ADS_1
Seiyna memang nyaris tidak tidur semalaman demi menunggu kedatangan Bima yang tak kunjung pulang, begitupun dengan kakaknya Sean.
Dan untuk semua itu Seiyna bahkan telah membulatkan tekad.
Seiyna telah bersiap sejak shubuh demi mendatangi suaminya itu langsung ke salah satu unit apartemen di daerah elite yang letaknya di pusat kota, tak seberapa jauh jaraknya dari kantor pusat Indotama Group.
Usai menutup kembali pintu yang ada dibelakangnya Seiyna berjalan perlahan memasuki apartemen.
Suasana hening pun menyapa Seiyna, seolah disana tidak ada sedikitpun tanda-tanda kehidupan, namun aroma maskulin yang khas langsung menyergap indera penciuman Seiyna begitu saja.
"Apa Bang Bima masih tidur yah?" Seiyna bertanya perlahan seolah pada dirinya sendiri.
Seiyna berdiri tegak ditengah ruang tamu dengan kepala celingak-celinguk kesana-kemari.
Apartemen Bima merupakan apartemen dengan tipe loft, yakni apartemen dengan unit dua lantai, yang luas lantai keduanya tidak seluas lantai utama.
Langit-langitnya tinggi sekitar lima belas kaki, sehingga memberikan kesan ruang terbuka yang luas dan lapang dengan nuansa yang mewah, jelas berbeda jauh dengan apartemen biasa.
Hal itu tidak bisa diragukan lagi, karena tentu saja semuanya sesuai dengan suasana kenyamanan yang ditawarkan.
Tatapan Seiyna tertuju kearah lantai dua yang bersekat kaca, kemudian pindah kearah tangga ornamen kayu yang terkesan simple, seperti konsep dasar apartemen loft pada umumnya.
Tanpa ragu kakinya melangkah kesana, meniti satu persatu anak tangga yang ia yakini akan mengantarnya ke lantai dua, dimana biasanya kamar tidur berada.
Dan.. benar saja.
Disana, sebuah pemandangan tubuh yang meringkuk nyaman diatas ranjang telah membuat Seiyna mematung sejenak diujung tangga, sebelum akhirnya mendekat dengan langkah yang semakin mengendap.
__ADS_1
Keinginan awal Seiyna yang berencana ingin membuat keributan dengan Bima di pagi hari karena Bima yang nekad tidak pulang semalaman kerumah pun mendadak urung begitu saja.
Alih-alih mengamuk atau sekedar membangunkan, Seiyna malah menarik perlahan sebuah kursi yang ada disana, mendudukinya dengan jarak yang tak seberapa jauh dari ranjang.
Dengan menopang dagu Seiyna terlihat terus-menerus mengawasi pemandangan yang sama, diruangan yang masih terlihat temaram karena cahaya matahari yang sebenarnya mulai meninggi, masih terhalang tirai yang tebal.
Tak seperti biasanya di jam seperti ini Bima telah beranjak dari sofa yang telah menjadi tempat tidurnya selama sebulan lebih.
Karena saat ini Seiyna bahkan bisa melihat dengan jelas, bahwa disana.. diatas ranjang yang empuk miliknya, Bima malah masih tertidur lelap.
Begitu nyaman..
Dengan wajah yang begitu tenang..
Dan..
Sangat tampan..
Akh..
.
.
__ADS_1
.
Next boleh tapi tinggalkan jejak yang cantik dulu yah.. 🤗