
Waktu terus berjalan.. tanpa terasa sebulan pun telah berlalu..
"Ini adalah hotel Mercy terburuk dari semua hotel Mercy yang sudah aku datangi..!"
Rei misuh-misuh sendiri begitu petugas service ac keluar dari kamar yang telah ditempati oleh mereka sejak kemarin.
Nisa hanya bisa mengelus punggung pria itu untuk menenangkannya.
Wajar saja Rei terlihat marah. Bagaimana tidak, sejak kemarin menempati hotel ini insiden demi insiden tidak henti-hentinya terjadi guna menandakan betapa buruknya managemen pengelolaan hotel Mercy yang berada di kota M ini.
Setelah di beberapa hotel yang diawal mereka datangi, mereka nyaris tidak mengalami gangguan berarti, kalau pun ada hanya terbatas pada hal-hal kecil seperti fasilitas hair dryrer yang sudah rusak sehingga tidak bisa lagi berfungsi, dan beberapa hal kecil lainnya yang intinya hanya terkait seputar peremajaan fasilitas.
"Oh iya Rei, tadi Mommy menelpon kalau Mommy dan Daddy sudah sampai di Melboourne.."
"Oh ya..? syukurlah.." ujar Rei singkat.
Kepergian Mommy dan Daddy ke Melbourne hari ini memang bisa dibilang mendadak, karena Daddy harus mengurus anak perusahaan milik Daddy di Melbourne yang sedang sedikit terkendala oleh persoalan dengan pemerintah setempat, terkait dengan beberapa ijin dan persuratan yang telah jatuh tempo.
Sebenarnya Mommy dan Daddy mengharapkan ia dan Nisa bisa pulang sebentar agar bisa menemani Riri yang tidak bisa ikut serta karena jadwal perkuliahan yang mulai normal seiring dengan menghadapi ujian akhir semester.
Namun Rei dengan sangat terpaksa menolak untuk kembali saat ini karena ia pun sedang disibukkan dengan kondisi, dimana mulai terbukanya titik persoalan pengembangan hotel Mercy secara keseluruhan yang sudah mulai terurai satu persatu.
Tentang mengapa dibeberapa titik animo pengunjung berkurang yang tentu saja buntutnya berpengaruh pada profit income dari hotel Mercy secara keseluruhan.
Pada akhirnya Riri sendiri yang menguatkan hati Mommy bahwa dirinya tidak apa-apa tinggal dirumah ditemani oleh Bik Atun dan Mang Udin, pasangan suami istri yang telah cukup lama mengabdi dikeluarga mereka.
"Nanti kalau urusan Rei cepat kelar, Rei dan Nisa akan pulang secepatnya, Momm.."
Itu adalah janji Rei kepada Mommy sebelum bertolak ke Melbourne tadi pagi.
"Aku tidak ingin membuang waktu lama ditempat bobrok ini. Sudah aku putuskan, besok pagi aku akan membuka identitasku yang sebenarnya dan aku akan langsung mengadakan meeting internal dengan pihak managemen hotel.."
"Aku rasa itu ide bagus, sayang. Lebih cepat diselesaikan lebih baik.."
Rei mengangguk. "Baikah.. kita akan melakukannya seperti yang kita lakukan kemarin dikota P."
"Masih perlu bantuan untuk menyesuaikan materi persentasinya tidak?" ujar Nisa bermaksud menawarkan jasa bantuannya secara tidak langsung, karena pada dua hotel terakhir Nisa juga yang membantu Rei dalam pembuatan materi power point.
"Tentu saja, sayang, selagi kamu tidak keberatan.."
"Mana mungkin keberatan? aku malah senang bisa melakukannya untuk meringankan pekerjaanmu. Biar kamu juga tidak terlalu capek dan bisa beristirahat secepatnya.."
"Dan bisa punya waktu lebih banyak juga untuk bermesraan denganmu kan.."
"Ish, apaan sih.." Nisa mendorong wajah Rei yang hendak mendekati wajahnya.
__ADS_1
"Nis, bagaimana kalau kita melakukannya dulu sebentar, baru kemudian kita mulai bekerja.." bisik Rei memberikan penawaran.
"Apa?" Nisa terhenyak mendengar ide itu. "Tidak-tidak.. kita bekerja dulu," tolak Nisa mentah-mentah.
"Tapi Nis.. aku janji, cuma sebentar kok.."
"Tidak bisa. Mana pernah sebentar..? kamu jangan coba-coba menipuku Rei, karena aku tidak akan tertipu! ayo kerja dulu, kalau kerjaannya sudah selesai baru terserah kamu.."
"Baiklah, tapi janji yah.. begitu pekerjaan selesai kita akan.."
"Iya.. iya.. dasar cerewet!" pungkas Nisa kesal, mendengar sejak tadi Rei terus ribut membahas aktifitas mereka setiap malam.
Seolah pria itu tak pernah merasa puas untuk melakukannya.. dan kembali mengulangnya..
XXXXX
Siang yang cukup panas.
Seiyna dan Riri sedang duduk disudut kantin kampus yang tidak terlalu ramai. Diatas meja mereka terdapat dua porsi bakso plus dua gelas es degan.
Kampus merupakan salah satu tempat yang selalu membuat wajah Seiyna berseri-seri.
Karena setelah keputusan Daddy yang sempat mengultimatum dirinya untuk melakukan kuliah secara private sehingga tidak mengijinkan Seiyna kuliah dikampus umum, akhirnya keputusan Daddy melemah setelah Seiyna yang dibantu Mommy dan Bang Bima ikut memohon kepada Daddy, sehingga Daddy kembali memperbolehkan Seiyna kembali berkuliah seperti biasa, namun tentu saja dengan begitu banyak peraturan ketat yang tidak boleh dilanggar.
"Ri, kenapa daritadi baksonya diaduk terus sih? kapan dimakannya..?" usik Seiyna gemas saat melihat Riri yang sejak tadi hanya bolak-balik menyeruput es degannya, tanpa sedikitpun memakan bakso yang biasanya merupakan salah satu makanan favorite Riri.
"Akhir-akhir ini aku perhatiin selera makanmu juga berkurang, Ri. Tuh, pipi kamu makin keliatan tirus. Kamu lagi ada masalah ya..?"
Riri sontak menggeleng sambil akhirnya memutuskan untuk mendorong bakso miliknya yang belum tersentuh sama sekali itu ketengah meja, memilih kembali menyeruput es degan.
"Tuh kan, buntutnya malah tidak dimakan sama sekali." protes Seiyna lagi semakin cerewet. "Kamu kenapa sih, Ri..? kalau ada persoalan cerita dong. Jangan dipendam sendiri."
"Tidak ada persoalan apa-apa, Seiyna. Aku hanya kangen Mommyku saja.."
"Idih.. baru juga sehari ditinggal sudah kangen. Dasar manja.."
"Biarin..!" ujar Riri cuek sambil membalas ejekan Seiyna.
Seiyna ingin membalas, namun urung begitu mendengar ponselnya berdering, terlebih saat melihat nama 'Sean' kakaknya tertera jelas disana.
Seiyna buru-buru mengangkatnya.
"Halo, kak..?"
"Seiyna, kamu mau pulang kerumah sekarang kan?"
__ADS_1
"Ini mau pulang, Kak, lagi di kantin nunggu jemputan Bang Bima.."
"Bang Bima tidak bisa menjemput, lagi sama Daddy dilokasi proyek."
"Kok Bang Bima tidak memberitahu, sih.."
"Lah.. ini aku sedang apa kalau bukan sedang memberitahumu?"
Suara Sean terdengar dingin seperti biasa.
"Sudah, tidak usah banyak tingkah. Buruan ke parkiran..! aku tunggu kamu pas dibawah pohon akasia.."
"Iya kak, iya.."
Pembicaraan itu telah diputuskan oleh Sean secara sepihak.
Seiyna menatap Riri yang sejak tadi terlihat menyimak pembicaraannya.
"Kak Sean ya, Seiy..?" tanya Riri dengan intonasi lirih.
Sudah sebulan Riri tidak pernah lagi bertemu dan mendengar kabar Sean. Mendapati siang ini Sean sepertinya yang akan menjemput Seiyna, entah kenapa jantung Riri ikut berdebar.
Bukan apa-apa, tapi karena selama ini Riri nyaris setiap hari menebeng jemputan Seiyna setiap kali pulang kampus karena rumah mereka yang memang searah.
Seiyna mengangguk, "Buruan, Ri, kak Sean sudah diparkiran. Kalau kelamaan nunggu bisa meledak dia.." ujar Seiyna sambil bergegas menaruh ponselnya kedalam tas, bersiap beranjak.
"Seiy.. anu.. aku pulangnya naik taxi online saja deh.." tolak Riri sedikit salah tingkah.
Selama ini Riri memang terbiasa menumpang jemputan bersama Seiyna karena rumah mereka juga searah, dan letaknya pun tidak begitu jauh.
Tapi karena kali ini bukan Bang Bima yang menjemput Seiyna, melainkan Kak Sean, membuat Riri tiba-tiba menjadi enggan meskipun disisi yang lain ada perasaan rindu yang terselip untuk pria yang tak lain kakak kandungnya Seiyna itu.
"Apa-apaan sih, Ri, biasanya juga bareng. Lagian kalau aku membiarkan kamu naik taxi onine Mommyku bisa marahin aku nanti.." protes Seiyna.
"Tapi Seiy.."
"Buruan ih.." tanpa sabar Seiyna pun langsung menarik pergelangan tangan Riri, untuk secepatnya beranjak dari kantin tersebut.
Mau tak mau akhirnya Riri harus rela mengikuti langkah Seiyna yang terus terayun tanpa melepaskan pergelangan tangannya, menuju parkiran, dimana mobil Sean telah terparkir dibawah sebatang pohon akasia yang rindang.
.
.
.
__ADS_1
Next boleh tapi jangan lupa Favoritekan novel ini, Like comment, Vote, dan support yang banyak biar author makin semangad up nya.. 💪