PASUTRI

PASUTRI
Menghilangkan jejak


__ADS_3

"Apa yang harus aku lakukan, Bang. Demi Tuhan, aku tidak pernah berniat melakukannya.. sungguh.."


Bima terdiam. Seluruh cerita dari awal kejadian sampai akhir telah diceritakan Sean dengan gamblang tanpa ada yang terlewat.


Apa lagi yang mau dikata..? semuanya telah terjadi. Bima bukan lah orang yang tidak bisa berempati. Tapi memikirkan jalan keluar untuk kesalahan fatal yang telah dilakukan Sean kali ini benar-benar telah membuat keseluruhan otaknya lumpuh dalam sekejap.


"Sean.. dengan sedikit menyesal aku harus mengatakannya padamu terlebih dahulu tentang satu hal.." Bima menarik nafasnya perlahan, seraya menatap Sean yang kini juga tengah fokus menatap kearahnya. "Bahwa sebenarnya.. Seiyna berada bersama Riri di pesta ulang tahun Rendi malam ini.."


"Appa..? lalu bagaimana keadaan Seiyna.." Sean nampak terbelalak mendengarnya.


"Jangan khawatir, Seiyna baik-baik saja dan sekarang dia ada dimobilku.."


"Damn.. Sheiyna.. apakah dia dan Riri tidak tau bagaimana kejamnya dunia luar dimalam hari..?" rutuk Sean nyaris tak tedengar.


"Awalnya sesuai permintaan Seiyna, aku sebenarnya ingin menyembunyikan keberadaannya dari dirimu. Tapi mengingat keadaan Riri yang seperti ini, mau tak mau aku harus mengatakannya.."


"Tapi Riri bahkan tidak ingin Seiyna tau apa yang telah terjadi diantara kita berdua.."


"Tidak apa-apa. Itu adalah hak Riri untuk membuat keputusan.."


Sean terlihat mengacak rambutnya sejenak. "Bang Bima, tolong jaga rahasia ini untuk Bang Bima sendiri.. aku mohon.. Riri bahkan telah mengancam akan bertindak bodoh jika aku berani menceritakan yang terjadi diantara kami kepada siapapun.." Sean terlihat panik.


"Baiklah.. baiklah.. kalau begitu anggap saja aku tidak mengetahui apa-apa. Dan sebagai gantinya, tolong jangan meluapkan amarahmu kepada Seiyna atas kejadian malam ini.. karena seperti dirimu, aku juga telah berjanji untuk membawanya pulang dengan selamat, tanpa harus berurusan denganmu.."


"Baik, Bang.. aku mengerti.."


"Cukup kendalikan dirimu untuk Seiyna, dan kita akan fokus kepada Riri."


Sean hanya bisa mengangguk pasrah, karena otaknya bahkan tidak mampu lagi berfikir dengan jernih.


"Aku dan Seiyna akan menunggumu disini, bawa Riri kesini jika dia benar-benar telah siap.." kemudian Bima menambahkan lagi. "Pertama-tama yang harus kita lakukan adalah membawa pulang Seiyna dan Riri kerumah.."


"Selarut ini..?" alis Sean bertaut tak yakin.


"Hhmm.."


"Bagaimana kalau Daddy dan Mommy tau, Bang..?"


"Karena itulah kita harus mengaturnya sedemikian rupa agar para penjaga tidak menaruh curiga. Mereka harus naik mobilku jika tidak ingin mengundang perhatian para penjaga didepan gerbang.."


"Lalu bagaimana dengan mobil yang dibawa Seiyna..?"


"Kirim saja mobil itu kedalam bengkel. Kita memerlukan plan B jika nanti ketahuan.." ujar Bima kemudian yang disambut anggukan kepala Sean, yang lagi-lagi terlihat pasrah dengan keadaan yang telah terlanjur terjadi, tanpa berani membantah Bima lagi.

__ADS_1


XXXXX


"Kesinikan tanganmu.."


Mendengar itu Rei tidak kunjung bergeming. Tatapannya malah mengembara keluar.. menembus udara malam yang semakin pekat, sementara dua tangannya tetap meremas kuat-kuat besi pembatas yang ada di balkon kamarnya.


"Rei.." panggil Nisa lembut. Dirinya masih menunggu, namun karena Rei tak kunjung bergerak akhirnya Nisa memiih mengambil pergelangan tangan kanan Rei, menariknya lembut kearah bangku berukir yang berada disudut balkon.


Awalnya Rei terkejut mendapati perlakuan lembut Nisa, namun memilih menurut saat Nisa mengajaknya duduk bersisian.


Tangan kanan Rei yang tadi dituntun dengan lembut kini ditaruh Nisa tepat diatas pangkuannya, membuat Rei sedikit risih namun tidak sampai menarik tangannya. Rei takut jika melakukannya, Nisa bisa-bisa tersinggung.


Rei membiarkan tangannya bertengger dipangkuan Nisa sementara kedua tangan Nisa sibuk membuka dos kecil khas kemasan salep.


Sepertinya saat Nisa memintanya berhenti untuk mampir di sebuah apotik yang dibuka satu kali dua puluh empat jam itu, gadis itu telah membeli salep ini.


"Ini adalah salep khusus untuk memar dan bengkak.." ucap Nisa menjelaskan, meskipun Rei tidak bertanya.


Jemari halus Nisa mulai membalurkan salep tersebut diseluruh permukaan punggung tangan Rei yang memang terlihat sedikit membengkak usai meninju bemper mobilnya sendiri di area parkir The Reds, saat Rei tidak bisa mengontrol emosinya lagi sehingga melampiaskannya dengan cara seperti itu.


Mata Rei bahkan tidak berkedip saat sapuan jemari halus Nisa tengah menari-nari dipermukaan kulit punggung tangannya yang terlihat memar, seiring dengan aliran darahnya yang seolah tersirap.


"Nanti sebelum tidur, kamu juga harus minum obat anti nyeri.." ujar Nisa lagi usai membalur semua formula salep tersebut dengan merata, mempermudah kulitnya untuk menyerap.


"Tidak perlu." tukas Rei acuh.


"Tapi ini tidak sakit."


Tentu saja Rei berbohong, karena yang ada punggung tangannya bahkan mulai terasa nyut-nyutan.


Rei hanya merasa malu menerima perhatian Nisa yang telah melihat sendiri bagaimana bejatnya perempuan yang selama ini mati-matian ia cintai dan perjuangkan, malah berbuat mesum dengan sahabatnya sendiri.


Yah.. Rei juga tidak mengerti, apa yang membuat dirinya merasa perlu untuk menangkap basah Sean dan Liliyana. Karena begitu ia bertemu Edi dimeja bartender, Rei dengan refleks telah menanyakan apakah waitress itu melihat sosok Sean. Tak disangka jawaban Edi cukup membuat darahnya mendidih.


Sean bersama seorang wanita, disebuah cottage The Reds yang letaknya agak dibelakang club, dikamar nomor tujuh.


Rei hanya merasa dirinya perlu pembuktian untuk dirinya sendiri.


Karena itulah Rei nekad mendatangi kamar nomor tujuh, masih berharap bahwa dia tidak akan menjumpai wajah Sean disana, namun yang ada Rei harus benar-benar menelan kecewa.


Sean muncul dibalik pintu, dengan rambut serta pakaian berantakan yang sebagian kancing kemejanya bahkan belum sempat terkunci sempurna.


Saat Rei ingin menerobos kedalam untuk memastikan, Sean langsung mencegatnya.

__ADS_1


"Jangan menghalangiku."


"Kekasihku belum sempat berpakaian, bagaimana bisa aku membiarkanmu masuk?"


"Kekasih..?"


Sean terlihat membisu. Pemandangan itu sungguh meremukkan hati Rei. Pemandangan seorang Sean yang seolah tidak memandang arti dirinya lagi.


Rei telah berasumsi, kalau wanita yang ada didalam sana adalah orangain, pasti Sean akan mengucapkan siapa nama wanita itu dengan mudah. Tapi saat ini sangat terlihat jelas jika Sean enggan menyebut namanya.


Tentu saja, karena itu artinya wanita yang sedang bersama Sean saat ini tak lain adalah Liliyana.


Yah.. itu pasti Liliyana.


Detik berikutnya Rei telah berbalik, meninggalkan Sean, yang bersikeras menyusulnya hingga sampai ke parkiran The Reds.


"Kamu harus tetap meminum obatnya, Rei.." suara lembut Nisa mampu menerbangkan ingatan Rei yang mengembara pada peristiwa barusan.


Rei melengos. "Kan sudah aku bilang tanganku tidak sakit.."


"Bisa jadi sekarang kamu belum merasakan sakitnya, tapi nanti, besok pagi begitu kamu bangun.."


"Hhhhuhh.."


Kalimat Nisa bahkan telah terputus hanya dengan hembusan nafas kasar Rei.


Kemudian Nisa terlihat menatapnya lekat-lekat. "Kalau tanganmu sakit, itu akan bisa menghalangi aktifitas kamu besok. Baru juga mau memulai perjalanan ke kota yang pertama kamu sudah.."


"Iya.. baiklah.. baiklah, sebelum tidur aku pasti akan meminumnya." pungkas Rei datar, sebelum ceramah Nisa untuknya terdengar semakin panjang ditelinga.


Mendengar itu Nisa tersenyum, karena kali ini Rei mau mendengarkan perkataannya dengan mudah meskipun tampangnya terlihat sangat datar.


"Sudah selesai." ujar Nisa sambil tersenyum puas, menatap punggung tangan Rei yang telah terbalur salep dengan sempurna.


"Terima kasih," Rei langsung menarik tangannya begitu saja dari dalam genggaman tangan Nisa, yang entah kenapa terasa begitu menentramkan..


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


LIKE and SUPPORT yah.. guys.. 🤗


THX and LOPHYUUU all.. 😘


__ADS_2