
Ada yang penasaran pengen liat video visual PASUTRI..?
Follow my : Ig. khalidiakayum & Fb. Lidia Rahmat 🤗
.
.
.
"Ri, sejujurnya hati kecilku masih tidak bisa menerima semua ini.." Seiyna berucap sendu, namun dirinya tidak menangis lagi.
Seiyna bahkan merasa jika kantung air matanya telah mengering, saking terlalu banyak dirinya menangis, namun pada kenyataannya takdir yang telah tergariskan dalam jalan hidupnya tidak mungkin lagi berganti.
"Aku tau semua ini pasti berat, Seiy, tapi mau bagaimana lagi.. semuanya telah terjadi, dan penyesalan hari ini tidak lagi berarti, tidak bisa mengubah segala sesuatu yang sudah telanjur.."
Seiyna mengangguk lemah, seraya mengetatkan pelukannya ke boneka hello kitty berukuran raksasa miliknya.
Sama seperti Riri, Seiyna juga sangat menyukai hello kitty. Itu sebabnya nuansa kamar mereka berdua sama-sama didominasi warna pink, dan mereka mempunyai koleksi barang-barang yang nyaris sama, salah satunya boneka hello kitty raksasa yang sedang dipeluk Seiyna saat ini.
Karena menyukai tokoh kartun yang sama, tak jarang mereka berdua juga sering meluangkan waktu untuk berburu koleksi hello kitty kesukaan mereka.
"Aku mengerti kenapa kamu merasa seperti itu. Bagaimanapun pasti terasa aneh melihat orang yang sehari-harinya kita lihat.. tiba-tiba memiliki makna yang berbeda dalam sekejap.." gumam Riri lagi, lirih, seolah bicara pada dirinya sendiri.
Seiyna terhenyak mendengar kalimat Riri yang terasa begitu mengena pada kondisi yang dialaminya saat ini. "Ri.. kata-katamu itu.."
"Kenapa..?" alis Riri bertaut mendengar kalimat Seiyna yang mengambang.
"Kata-katamu itu kenapa bisa sebijak itu sih..? mengena banget dengan situasi hatiku saat ini, seolah kamu benar-benar bisa merasakan apa yang aku rasakan.." sepasang mata Seiyna terpatri kearah Riri, menandakan seberapa besar dirinya tercengang dengan perkataan Riri barusan.
Mendengar itu Riri menelan ludahnya kelu, namun dalam hati tak urung Riri bergumam.
'Tentu saja aku tau bagaimana rasanya Seiy, karena aku juga mengalami hal yang sama denganmu. Bedanya Bang Bima cukup gentle karena bersedia menikahimu, menebus kesalahan karena telah mencoreng harga dirimu secara tidak sengaja, dan mau bertanggung jawab.'
'Sementara kakakmu Sean adalah sebaliknya..'
'Bahkan saat aku mengatakan untuk melupakan semuanya dan menganggap semuanya tidak pernah terjadi, Kak Sean malah menjauhiku dengan senang hati..'
Riri terus larut dalam keterpurukan hatinya mengingat betapa dinginnya sikap Sean kepadanya.
Sikap Sean sekarang sangat berbanding terbalik dengan sikapnya dimalam itu, yang begitu hangat.. sampai-sampai Riri rela menyerahkan diri seutuhnya untuk Sean, hanya karena Sean meminta untuk bisa memiliki dirinya berkali-kali.
Malam itu Sean memperlakukan Riri dengan penuh kasih, memujanya dengan handal, merayu dengan begitu lihai..
"Aku kesal dengan Kak Sean. Semua ini terjadi karena Kak Sean terlalu egois. Bisa-bisanya dia tidak memikirkan aku sama sekali, malah asik bermesraan dengan Liliyana si centil itu.." gerutuan Seiyna terdengar kembali, seolah sengaja ingin menerbangkan segenap asa Riri yang sedang memeluk ingatannya tanpa henti.
Kemudian Seiyna mengarahkan tatapannya kearah Riri yang mendadak menjadi gelisah mendengar gerutuan Seiyna yang berkali-kali, untungnya karena perasaan Seiyna yang sedang kesal dengan Sean membuat semua ekspresi Riri luput dari perhatiannya dengan mudah.
"Seandainya malam itu Bang Bima yang menjemputmu dan bukan Kak Sean, tentu tidak akan begini endingnya..!" Seiyna masih saja mengomel panjang pendek.
Seiyna memang tidak pernah tau tentang kenyataan apa yang sebenarnya terjadi dimalam itu. Karena saat Seiyna mulai merasa tidak sabar menunggu didalam mobil, Bima hanya mengatakan bahwa Riri yang merasa pusing dan mabuk sedang tertidur disalah satu kamar cottage akibat minuman beralkohol yang disuguhkan Rendi dimalam itu.
__ADS_1
"Kok lama sekali sih, Ri?" itu pertanyaan Seiyna yang tersentak bangun begitu Riri tiba dimobil kira-kira pukul dua dinihari, bahkan mungkin lebih.
"Maaf Seiy, aku ketiduran.." ujar Riri beralasan dengan wajah yang terlihat sedikit pucat, yang disangka Seiyna akibat udara malam yang dingin mendera.
Kemudian mobil Bima mulai melaju membelah malam, menuju rumah keluarga Djenar, sementara usai mengantar Riri masuk kemobil, Sean langsung tancap gas dengan mobilnya, dan tidak kembali kerumah sampai besok pagi.
"Sudahlah.. seperti katamu tadi, penyesalan hari ini tidak lagi berarti, dan tidak lagi bisa mengubah segala sesuatu yang sudah telanjur terjadi.."
Kemudian sepasang kelopak mata milik Seiyna kembali berkaca-kaca.
"Tapi meskipun demikian aku tidak bisa menerima Bang Bima menjadi suamiku, Ri.. hatiku menolaknya.."
"Seiyna.."
"Aku tidak mampu mengecewakan Daddy.. tapi aku juga merasa takut.."
"Seiy, tenanglah.." menyadari suara Seiyna yang semakin bergetar, Riri menggenggam kedua jemari Seiyna erat-erat, seolah ingin memberi kekuatan untuk Seiyna yang terlihat sangat tertekan.
"Aku benar-benar tidak siap menghadapi pernikahan. Aku bahkan tidak pernah berangan-angan akan menikah secepat ini. Semua yang terjadi membuatku takut.."
"Kenapa harus takut? aku yakin Bang Bima itu pria yang baik.."
"Aku tau Bang Bima pria yang baik. Tapi seorang pria tetaplah seorang pria, Ri.. bagaimana kalau dia.. dia.."
"Dia kenapa? apa yang membuatmu takut sih..?" Riri kembai bertanya heran karena setelah terlihat kesal, tidak nyaman dan ketakutan sendiri, saat ini raut wajah Seiyna malah terlihat merona seperti seseorang yang sedang tersipu, membuat Riri terheran-heran dengan perubahan aura wajah Seiyna yang berubah-ubah dengan cukup drastis.
"Ri.." Seiyna menarik jemari Riri yang masih bergenggaman dengan jemarinya.
"Riiiii.." kembali menghentak jemari Riri dengan wajah yang semakin merona.
"Iyaaaa.. ada apa sih, Seiy..?" Riri mulai menjadi tidak sabar melihat tingkah Seiyna yang berbelit-belit, tidak langsung mengungkapkan apa yang ingin dia ungkapkan.
"Aku malu mengatakannya.." bisik Seiyna dengan tatapan yang mengarah kearah pintu kamarnya yang terkatup rapat, seolah ingin memastikan kembali bahwa keadaan kamarnya cukup aman.
"Ya sudah.. kalau begitu tidak usah katakan saja.." seloroh Riri santai, sambil merebahkan tubuhnya diatas ranjang Seiyna yang lebar, mencoba menegakkan punggungnya yang terasa pegal karena sedari tadi duduk bersila, berhadap-hadapan dengan Seiyna sambil bercerita tentang berbagai hal.
"Iiihh.. Ririii.. aku serius.." manjanya Seiyna kumat, refleks ia menarik-narik pergelangan tangan Riri yang telah rebahan itu dengan gemas.
"Lagian mau ngomong aja banyak drama.."
Riri terlihat misuh-misuh sambil akhirnya mengalah dan kembali mendudukkan dirinya karena Seiyna yang tak kunjung berhenti mengganggunya.
"Ya sudah, apa..? cepat katakan..!" Riri menatap Seiyna yang wajahnya semakin bersemu.
"Riii.."
"Hhhmm..."
"Kalau Bang Bima memintanya.. aku tidak mau memberikannya.." bisik Seiyna, kali ini kedua telinganya sudah ikut merona sempurna.
Riri terlihat berpikir sejenak, berusaha mencerna maksud, tujuan serta arah dari pembicaraan Seiyna yang kini sedang menatapnya dengan gaya malu-malu meong.
__ADS_1
"Astagaa.." Riri langsung membekap mulutnya sendiri begitu menyadari maksud dari kalimat Seiyna tersebut. "Seiyna, otakmu itu.. mesum juga.." Riri menggelengkan kepalanya berkali-kali, tak menyangka jika yang menjadi pembahasan Seiyna saat ini adalah menyangkut obrolan dewasa, dua puluh satu plus.
"Bukan mesum, Ri.. tapi hal itukan sering dilakukan oleh orang yang sudah menikah. Maksudku.. aku.. aku tidak mau melakukannya.."
Riri terdiam sejenak, ekor matanya melirik Seiyna sedikit. "Memangnya kenapa, Seiy..?" tanyanya meskipun sedikit enggan, tapi dikalahkan oleh rasa penasaran yang besar.
"Karena aku hanya ingin bisa melakukannya dengan orang yang aku cintai.."
"Tapi Bang Bima kelak akan jadi suamimu.."
"Iya, tapi aku kan tidak mencintainya."
"Kamu akan menanggung dosa, kalau menolak suamimu sendiri.."
"Aku tau, tapi mau bagaimana lagi? apa kamu tidak pernah mendengarnya, Ri..? bahwa seorang wanita tidak akan bisa melakukannya dengan kerelaan hati.. jika dia tidak menyukai pria itu.."
Riri terdiam mendengarnya.
'Benarkah..?'
'Benarkah yang dikatakan Seiyna..?'
'Bahwa seorang wanita tidak akan bisa melakukannya dengan kerelaan hati.. jika dia tidak menyukai pria itu..?'
'Lalu saat aku melakukannya dengan Kak Sean dengan segenap kerelaan hatiku.. apa itu artinya aku juga menyukai Kak Sean?'
Riri menggeleng dalam hati.
Entahlah..
Karena meskipun saat pertama mereka melakukannya Riri masih berada dalam pengaruh obat perangsang yang dicampurkan Rendi kedalam orange juice yang dipilihnya, namun untuk yang kedua dan seterusnya, Riri telah melakukannya dengan kesadaran penuh.
Apa iya karena dirinya menyukai Sean?
Entahlah..
Satu hal yang Riri yakini.. bahwa saat ini.. meskipun sikap Sean telah kembali mendingin seperti salju dikutub utara, bahkan hingga detik ini Riri tidak pernah bisa membenci pria itu..
Malah sebaliknya..
Sedikit merindu..
.
.
.
Bersambung..
LIke and Support dong.. Thx and Lophyuu all.. 😘
__ADS_1