Pembantu Pengganti

Pembantu Pengganti
Bab 10


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju rumah Rangga, di dalam mobil hanya sunyi yang ada kala canggung tiba tiba hadir diantara Rangga dan Maurin yang kini berada di dalam satu mobil. Dan kesunyian itu trus berjalan sampai mobil yang di kendarai Rangga itu sampai di kediamannya.


Setelah mobil berhenti di garasi, bergegas Maurin keluar dari dalam mobil yang langkahnya di ikuti oleh Rangga. dengan cepat laki laki itu menyusul langkah Tiara yang berhenti di depan bagasi mobil dan menunggu Rangga membukakannya.


"Lain kali jangan langsung mendahului kalau membuka bagasi masih tidak bisa." kata Rangga sembari membuka bagasi mobil.


"Maaf tuan."


"Sepertinya tidak kata lain yang dapat kamu ucapkan selain kata maaf, cepat ambil barang barangmu jangan lupa tutup kembali hitung hitung sambil belajar." Setelah mengatakannya Rangga langsung berlalu masuk ke dalam rumah meninggalkan Maurin dengan sejumlah barang yang di bawanya dari rumah.


"Huuuufffttt... Sabar Rin Sabar..." Ucap Maurin sembari mengelus elus dadanya, seakan menyemangati dirinya sendiri agar tetap sabar menghadapi sikap dingin Rangga yang seperti kutub Utara.


Maurin dengan bersusah payah membawa masuk barang barangnya sendiri tanpa bantuan siapa siapa, sempat pak Dono menawarkan bantuan, tapi dengan sopan Maurin tolak. Bukan karna apa gadis itu hanya takut jika pak Dono membantunya masalah baru bisa saja datang dan Maurin tidak ingin melibatkan pak Dono dalam masalah hanya karna dirinya.


Setelah menyelesaikan dan merapikan barang barangnya, Maurin langsung mendaratkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit langit yang mampu melayangkan ingatannya pada sosok Rangga.


"iissshhh, dasar beruang kutub Utara." ucap Maurin yang tiba tiba kembali kesal kala mengingat sikap Rangga yang terkadang menyebalkan.


Tidak mau trus trusan memikirkan sosok laki laki yang menyebalkan sekaligus laki laki yang di sukainya, Maurin segera bangkit dari rebahannya lalu menuju kamar mandi yang terletak dekat dengan dapur, dan Maurin mau tidak mau harus kembali membersihkan dirinya setelah badannya terasa lengket setelah memindahkan barang barangnya.


Dengan handuk dan sepasang pakaian, Maurin mengendap endap menuju kamar mandi, dengan Maurin yang melihat kesana kemari karna takut Rangga melihatnya, yah meskipun itu hal yang wajar tapi Maurin masih merasa canggung.

__ADS_1


Di dalam kamar mandi Maurin terlebih dahulu mancantolkan setelan baju tidur berbahan satin, lalu setelah itu Maurin segera melepas seluruh pakaian yang menempel di tubuhnya, setelah itu Maurin membasahi tubuhnya di bawah kucuran air shower.


Rasa dingin yang menyentuh kulitnya melegakan Maurin yang sedari tadi merasa gerah setelah memindahkan barang barangnya sendiri, tanpa sadar suara merdunya bersenandung di dalam kamar mandi yang tanpa di sadari Rangga yang tengah melintas untuk ke dapur mendengar senandungan Maurin yang terdengar merdu.


"Beruntung suaranya merdu." ucap Rangga bersuara lirih saat mendengar senandungan Maurin dari dalam kamar mandi.


Setelah membersihkan tubuhnya, Maurin segera membilasnya dan gadis itu menikmati guyuran air dari shower yang cukup menenangkannya. Setelah selesai Maurin segera mengeringkan tubuhnya dan segera memakai setelan baju tidur dengan tali spaghetti dan celana pendek yang hanya sebatas paha saja, dan tidak lupa Maurin menguncir rambutnya lalu menggulung rambut indahnya itu sehingga leher jenjang putihnya begitu terlihat. Wajah polos cantik itu semakin terlihat mempesona kala anak rambut yang terlihat basah.


Maurin yang telah menyelesaikan kegiatannya di kamar mandi, langsung membuka pintu lalu keluar. Namun, saat Maurin kembali menutup pintu dan membalikkan badannya gadis itu terkejut kala melihat Rangga sudah berada di hadapannya dan spontan Maurin menutupi bagian dadanya dengan handuk dan pakaian yang baru di lepasnya.


Sedangkan Rangga terhenyak kala tanpa sengaja melihat lekuk tubuh Maurin yang di balut setelan baju tidur, jiwa kelakuannya tetap tidak dapat di bohongi Rangga cukup terpesona akan lekuk tubuh yang tidak pernah Maurin ekspos sevulgar ini.


Mendengar ucapan Rangga, Maurin langsung menggeleng cepat dan semakin mengeratkan handuk untuk menutupi dadanya.


"Ma- maaf tuan, saya kira tuan sudah tidur." jawab Maurin dan trus menunduk.


Mendengar jawaban dari Maurin, Rangga hanya terdiam dengan sorot mata yang kini terkunci pada Maurin, sedangkan Maurin trus saja menunduk untuk menghindari tatapan Rangga. Detik selanjutnya Rangga memajukan langkahnya yang spontan Maurin memundurkan tubuhnya hingga mentok di pintu kamar mandi yang kini menjadi sandarannya.


Maurin langsung memejamkan mata dengan tangan yang setia trus menggenggam handuk di dadanya, Lalu, satu tangan Rangga mendarat di pintu kamar mandi yang beruntungnya masih kuat untuk menopang sandaran. Dan kini posisi Maurin yang dikukung Rangga semakin dekat dengan tubuh laki laki itu.


"Lain kali hati hati jika berpakaian seperti ini, karna aku juga laki laki normal yang kapanpun bisa saja tertarik, lalu kejadian yang tidak di inginkan terjadi." kata Rangga dengan suara pelan namun, terdengar nafasnya yang memburu.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Rangga langsung menjauh dari Maurin lalu segera meninggalkan gadis itu yang masih memejamkan mata.


"Huuuufffttt... Ya tuhan terimah kasih sekali lagi kau telah menyelamatkanku." Maurin berucap syukur lalu segera menuju kamar dan menguncinya gadis itu mulai bersumpah untuk tidak melakukan hal yang bodoh lagi.


****


Pagi buta Maurin mulai mengerjapkan matanya, kala Alarm yang sudah di aturnya lewat ponsel sebelum tidur terus saja berbunyi dan akan berhenti jika Maurin sendiri yang menghentikannya.


Maurin meraba raba ponselnya di atas kasur, setelah mendapatkannya Maurin langsung mematikan Alarm itu, setelah beberapa saat Maurin masih mencoba untuk mengumpulkan nyawanya, dan akhirnya mata Maurin dapat terbuka sempurna.


"Hooaammm." Maurin spontan menutup mulutnya dengan tangan kala dirinya reflek menguap.


Setelah merapikan tempat tidurnya, Maurin beranjak untuk membersihkan diri, dan pagi itu Maurin melakukan aktivitas seperti biasanya Maurin lakukan, masak sarapan dengan bahan lengkap yang tersedia di dapur, lalu mencuci baju yang kini juga telah menjadi tugasnya, lalu di lanjut dengan membersihkan rumah. Hari itu Maurin mengerjakan pekerjaannya dengan selesai lebih awal.


Setelah Maurin selesai dengan pekerjaannya tepat saat itu juga Rangga keluar dari dalam kamar dengan pakaian rapi, Maurin langsung menundukkan kepalanya kala masih merasa malu setelah kejadian semalam.


Rangga tidak langsung sarapan, laki laki itu memilih untuk menuju pintu depan yang sudah di bukan oleh Maurin. Tidak lama dari Rangga berada di pintu, terdengar suara wanita yang menghampiri Rangga dengan penuh senyuman, dan wanita itu datang bersama anak kecil yang pernah di temui Maurin di mall beberapa hari lalu. Siapa lagi kalau bukan Bella dan Aden.


"Ayo masuk..." Rangga mempersilahkan Bella untuk masuk lalu mengambil alih Aden dari gendongan Bella.


saat Bella memasuki rumah, Maurin dengan segera masuk kembali ke dalam kamar, Dan hari itu Maurin mengerti tentang alasan saat dirinya datang dan gerbang sudah terbuka. namun, Rangga masih dalam rumah, dan kini pertanyaannya mulai terjawab karna Bella lah yang datang sebelum Maurin datang kemaren.

__ADS_1


__ADS_2