
Selama waktu pelajaran berlangsung diam diam Elea memperhatikan Maurin , yang mulai dari pertama pelajaran di mulai gadis itu terlihat begitu murung, dan lebih banyak melamu. Sedangkan sebelumnya Maurin terlihat ceria ketika baru datang ke sekolah, dan itu membuat Elea khawatir dengan keadaan Maurin apakah gadis itu kembali merasa tidak enak badan.
Sepanjang waktu pelajaran Elea hanya fokus pada Maurin, sampai bel istirahat berbunyi, semua siswa siswi berhamburan keluar dari dalam kelas. Dan menyisakan Maurin dan Elea saja di dalam kelas.
"Sedari tadi aku perhatikan kenapa ngelamun terus sih Rin, lagi gak enak badan lagi yah?." Tanya Elea khawatir.
"Ooohhh... Gapapa kok Rin, cuman lagi ngantuk ajah." Elak Maurin yang tidak menyangka ternyata sahabatnya itu begitu memperhatikannya.
"Nanti keluar ayok Rin, Kemaren Revan juga ngekhawatirin kamu, duuuh liat muka dia jadi so sweet banget tau gak sih Rin. Pas begitu khawatir sama kamu." Ujar Elea menceritakan juga tentang Revan, Maurin mendengarkan dengan seksama tentang laki laki yang Maurin sudah ngerti tentang perasaan laki laki itu padanya.
"Yah nanti lihat dulu yah El, aku izin ke ibuk dulu. nanti kalo bisa kau bakal telfon kamu yah." Kata Maurin. Elea yang menyetujui perkataan Maurin memberi jawaban anggukan kepala.
Keduanya menikmati waktu istirahat di dalam kelas, saling mengobrol dan menikmati cemilan yang di bawa Elea.
Setelah melewati pelajaran terakhir semua siswa dan siswi berhamburan keluar kelas, sebuah bel yang begitu di nanti ketika pelajaran usai. Dan seperti biasa Maurin dan Elea berjalan menuju ke arah parkiran.
"Pelajaran yang kemaren terlewat nanti kamu salin ajah Rin, nanti sekalian aku bawa kalo kita bisa ketemu." Ucap Elea pada Maurin.
__ADS_1
"Makasiih yah El, kamu sahabat terbaik banget pokoknya." Jawab Maurin mengembangkan senyuman, tentu gadis itu merasa beruntung memiliki sahabat setulus Elea.
Akhirnya sesampainya di parkiran, keduanya berpisah saat keluar dari halaman sekolah. Sepanjang jalan fikiran Maurin terus beterbangan apa yang harus di lakukannya setelah ini. Setelah kejadian semalam Maurin ingin sekali menghindar terlebih dulu pada Rangga, tapi keputusan terbaik masih belum di temukannya. Fikirannya yang masih buntu dan belum menemukan jawaban, Maurin hanya menghela nafas.
Hari itu Rangga yang biasanya pulang di waktu matahari sudah tenggelam, lain hal dengan hari ini. Fikirannya yang begitu kacau membuat Rangga menjadi tidak fokus dalam bekerja, tidak ingin semakin berantakan Rangga memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah bahkan Maurin masih belum pulang, Rangga langsung menuju kamar mandi mengguyur kepalanya di bawah kucuran air shower yang terasa dingin. Cukup mampu meredam kepalanya yang begitu banyak menampung permasalahan.
Setelah meredam rasa sakit kepalanya, Rangga segera menyelesaikan acaranya di kamar mandi. Laki laki itu keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terlihat begitu segar, di tambah aroma wangi dari sabun yang di pakainya tercium semerbak.
Rangga hari ini hanya ingin menikmati waktunya untuk merilekskan fikirannya saja, Rangga memilih setelan casual santai untuk di rumah setelah rapi laki laki itu berlalu ke dapur, sesaat sebelum akhirnya sampai di dapur. Rangga sekilas melirik ke arah kamar Maurin, rasa bersalahnya semakin mencuat kala mengingat kesalahan yang di lakukannya tadi malam pada Maurin.
Rangga yang berada di dapur memilih untuk memasak air untu membuat segelas jahe hangat, yang dimana aromanya cukup membuatnya tenang.
Di tengah Rangga menikmati kerileksannya, tiba tiba saja pintu terbuka Rangga sesaat melirik dan mengira jika itu adalah Maurin, Namun ternyata tebakan Rangga salah. Ternyata mantan istrinya lah yang ternyata datang.
Melihat kedatangan Bella yang tidak di undang, Rangga langsung menegakkan tubuhnya. Bella melemparkan senyuman pada Rangga yang sepertinya terlihat sedikit malas akan kedatangan Bella.
"Tumben udah di rumah Ga?." Tanya Bella ketika merasa heran kala di jam seperti ini Rangga sudah berada di rumah. Sedangkan kedatangan Bella hanya ingin memastikan Maurin apa masih berada di rumah ini. Wanita itu pun mencoba mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah tapi tidak mendapati sosok yang di carinya.
__ADS_1
"Lagi ingin santai aja di rumah, kedatanganmu kesini ada apa?." Jawab Rangga dan melemparkan kembali sebuah pertanyaan.
"Gak ada! Aku hanya ingin mampir karna tadi kebetulan setelah dari salon aku lewat jalan yang searah dengan rumahmu." Dan tentu jawaban itu hanya alasan, karna tidak terlihat penampilan Bella jika setelah dari salon.
Rangga yang mendengarnya hanya manggut manggut. Beberapa saat kemudian Bella semakin penasaran akan pembantu rumah itu, setidaknya setelah keluar dari rumah ini dia harus mendapat jawaban apakah rencana Aditya berhasil atau tidak.
"Omong omong Ga, dimana pembantumu itu kok gak kelihatan sama sekali?." Tanya Bella mulai mengulik informasi pada Rangga.
"Dia masih sekolah, mungkin dia pulang sedikit terlambat." Jawab Rangga yang memang seperti itulah kenyataannya.
Bella seketika terdiam, wanita itu mulai menduga jika rencana Aditya itu gagal. Jika memang rencana Aditya berhasil lalu kenapa gadis itu masih berada di rumah ini.
"Apa mau aku buatkan minuman Bel?." Tanya Rangga menawarkan pada Bella.
"Ohh gak usah Ga, lagian aku gak lama kok disini." Jawabnya. Bella yang sudah mendapatkan cukup jawaban dari semuanya akhirnya berniat untuk segera pergi dari rumah itu.
Namun, saat wanita itu hendak bangkit dari duduknya, dari luar rumah terdengar deru motor yang sepertinya baru saja tiba, dan Bella langsung menebak jika itu adalah Maurin.
__ADS_1
Akhirnya wanita itu mengurungkan niatnya untuk segera pergi, Wanita itu menunggu sampai dimana Maurin akan masuk ke dalam rumah. Ketukan kaki Maurin yang menapaki teras rumah tentu dapat di dengar oleh Bella dan saat itulah Bella langsung bangkit, dan ketika handle pintu mulai di buka dengan sengaja Bella menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Rangga yang masih duduk di sofa. Rangga cukup terkejut dengan itu di tambah dengan dirinya yang belum siap. Dan di waktu yang begitu pas Maurin membuka pintu dan langsung mendapati pemandangan yang membuat perasaannya langsung hancur, bagaimana tidak ketika baru tadi malam Rangga merenggut kesuciannya dan sore ini Maurin melihat adegan mesra Rangga bersama Bella.
Maurin seketika mematung, tangannya mencengkram erat handle pintu yang masih dalam genggamannya. Rangga yang menyadari kehadiran Maurin, dengan cepat berusaha melepaskan Bella dari pangkuannya. Laki laki itu sedikit mulai khawatir ketika Maurin melihat adegan yang memang benar benar di luar kuasa Rangga, yang tentu Rangga paham jika Bella melakukan itu dengan sengaja.