
Rangga lalu mulai menyentuh perut rata Maurin, laki laki itu mengelus lembut perut Maurin. Dan sesekali Rangga mendaratkan ciuman itu, Maurin yang di perlakukan seperti itu justru merasa sedikit aneh. Antara bahagia dan canggung semua terasa dan bercampur menjadi satu.
"Haloo sayang, baik baik disana yah. Jangan nyusahin ibu kamu biar kamu dan ibu sama sama sehat." Ucap Rangga begitu halus bagaikan alunan lagu merdu untuk calon bayinya yang mungkin masih sukuran biji jagung.
Cukup lama Maurin menikmati belaian dari tangan kekar Rangg, Maurin tidak menyangka jika Rangga bisa seromantis ini. Terkadang saat Rangga bersikap seperti saat ini fikiran Maurin tiba tiba berfikir apakah dulu Bella juga di perlakukan sama seperti ini atau bahkan lebih. Dan sesaat ketika pikiran itu akan semakin masuk, Maurin segera menghilangkan pikiran seperti itu dari otaknya. Dan Maurin berusaha untuk tidak memikirkan hal semacam itu lagi karna itu sudah menjadi masa lalu bagi kehidupan Rangga.
Setelah cukup lama berada di luar Maurin juga sudah merasa sedikit kedinginan akhirnya Rangga Mengajak Maurin untuk masuk ke dalam. Dan Maurin langsung menyetujui ajakan dari Rangga.
"Gapapa kalo tuan tidur disini?." Tanya Maurin, ketika dirinya cukup merasa khawatir. Karna Maurin mengetahui jika Rangga tidak terbiasa tidur seperti ini.
Rangga lalu tersenyum. "Gak perlu khawatir, aku seorang laki laki Rin. Yang dimana pun itu aku bisa dengan cepat buat adaptasi. Yaudah sekarang lebih baik kamu segera masuk dan istirahat di kamar." Jawabnya agar Maurin tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya.
"Baiklah... Aku masuk dulu tuan." Pamit Maurin yang langsung di angguki oleh Rangga.
Setelah Maurin telah masuk dan menutup pintu kamarnya, Rangga menghela nafas. Mata tajamnya tampak menelisik sebuah kasur yang hanya muat untuk dirinya saja, laki laki itu tampak sedikit ragu apakah bisa dia tidur nyenyak malam ini.
"Sial... Aku lupa tidak membawa selimut." Gerutunya kala baru menyadari jika tidak ada selimut yang bisa di pakainya untuk menghangatkan tubuh.
Tidak ada yang bisa di lakukan lagi, Rangga dengan terpaksa langsung merebahkan tubuhnya. Sesaat Rangga mencoba untuk memejamkan matanya, cukup sulit di tambah hawa dingin malam itu cukup menusuk di tambah segerombolan nyamuk yang seakan begitu senang kala darah Rangga cukup mudah di gapai.
__ADS_1
Meski begitu Rangga terus mencoba untuk memejamkan matanya, dengan telapak tangan yang tidak hentinya memukul bagian tubuh yang terasa gatal akibat nyamuk yang menghisap darahnya. Di sepanjang malam yang beranjak, terdengar begitu jelas tepukan dari tangan Rangga yang tidak luput dapat Maurin dengarkan.
Ketika Rangga sudah mulai lelah dan akhirnya kantuk mulai datang laki laki itu mulai memejamkan matanya, meski sesekali tepukan yang tidak cukup keras masih terdengar sampai tepukan itu tidak terdengar kembali karna Rangga benar benar sudah terlelap.
Maurin yang berada di dalam kamar tentu masih belum bisa memejamkan mata kala mengetahui jika Rangga kesulitan untuk tidur. Tidak mendengar lagi keributan dari luar Maurin bergegas bangkit lalu berjalan perlahan dan membuka pintu dengan hati hati berharap agar Rangga tidak terganggu dengan apa yang di lakukannya.
Maurin sedikit terkejut kala melihat dengan keadaan Rangga, laki laki itu meringkuk menahan dingin, dan kulitnya sudah tampah memerah akibat gigitan dari nyamuk.
Maurin yang melihat bergegas kembali masuk ke dalam kamar, lalu mengambil selimut cukup tebal yang tersimpan di lemari. Perempuan itu segera membawanya keluar, tidak langsung menyelimuti Rangga Maurin kembali masuk untuk mengambil lotion miliknya untuk meredakan kemerahan di tubuh Rangga.
Dengan semakin pelan dan hati hati, Maurin mulai mengoleskan bentolan kemerahan di tubuh Rangga yang cukup banyak di bagian lengan karna tidak tertutupi oleh kaos.
"Maaf jika ini mengganggu tidurmu!." Ucap Maurin memelankan suaranya.
Posisi yang awalnya miring dan meringkuk kini Rangga merubah posisinya menjadi telentang dan menatap ke arah Maurin.
"Aku menyukai akan situasi seperti ini, jika memang dengan cara di gigit nyamuk aku bisa mengetahui tentang kepedulian mu padaku aku rela untuk melakukannya setiap hari." Kata Rangga memerkan gigi rapinya, sungguh hal sederhana yang di lakukan Maurin cukup mampu menyentuh relung hatinya. Di tambah selama pernikahannya bersama Bella Rangga tidak pernah sama sekali mendapatkan perlakuan seistimewa ini.
"Ayolah tuan, bukannya apa apa aku pasti akan melakukan hal yang sama ketika ada orang yang memang memerlukan ini." Maurin berusaha untuk menahan perasaannya.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan itu Rin, karna aku tidak rela kamu melakukannya pada selain kepadaku." Kata Rangga memberikan tatapan tajam.
"Itu egois namanya tuan, tidakkah kamu hanya memikirkan dirimu saja kalau begitu." Ucap Maurin lalu mencoba melepaskan genggaman tangan Rangga.
"Lalu jika memang seperti itu, biarkan aku saja yang akan mewakili kebaikanmu itu. Tapi aku tidak akan melarangnya jika itu kau lakukan jika dengan sama sama perempuan." Jelas Rangga lalu melepaskan tangan Maurin yang berusaha untuk di lepas.
Tidak mau lagi menjawab ucapan Rangga, Maurin lalu meraih selimut yang masih terlihat. Lalu membentangkan selimut itu dan menutupi sebagian tubuh Rangga.
"Selamat tidur tuan." Kata Maurin lalu bergegas bangkit dan kembali masuk ke dalam kamarnya.
Sesuatu hal manis yang di dapatkannya malam ini cukup memberi kesan bahagia bagi Rangga. Jika di tanya hal sederhana yang membahagiakan apa yang belum di rasakannya, yah jawabannya hal seperti ini. Yang tanpa di duga sudah Rangga dapatkan dari sosok perempuan yang kini tengah mengandung anaknya.
"Jika kau bisa selembut ini sampai seterusnya. Aku pastikan aku ubah sikapku Rin, agar kamu tidak bisa lepas padaku. Karna aku ingin kamu selu berada di dalam hidupku." Gumam Rangga, yah laki laki ini sebenarnya menyadari tentang apa kekurangannya yang tidak lain adalah tidak dapat mengendalikan emosinya sendiri di kala sebuah amarah menguasai dirinya.
Maurin terus tersenyum sembari menatap langit langit dan tidak luput tangannya yang juga mengelus dengan lembut perutnya. Berharap calon bayi di dalam kandungannya dapat merasakan kasih sayang dan rasa bahagia yang kini tengah di rasakannya.
Maurin tentu di landa kebahagiaan setelah apa yang terjadi, sikap Rangga cukup membuatnya melayang di luasnya nirwana dengan pernak pernik kebahagiaan. Maurin berharap dengan penuh keyakinan semoga kebahagiaan ini trus di rasakannya, yang pasti akan semakin terasa bahagia jika Rangga juga dapat merubah sikapnya.
Di penutupan malam ini sebuah kesan bahagia tuhan berikan pada dua sejoli yang sama sama memperjuangkan cinta mereka dan juga buah hati mereka, apapun itu hal hal kebaikan selalu di harapkan keduany untuk menemani jalan sampai dapat meraih kebahagiaan sebenarnya.
__ADS_1
( Yuhuuuu... maaf baru update, soalnya sekalian nyicil bab buat novel selanjutnya hehehe. yang penting doakan othor agar hari harinnya trus lancar agar bisa update setiap hari hehehe... jangan lupa yah sayangku buat mampir ke Igku Abiyasapages02, terimah kasih udah selalu rutin baca, Rangga dan Maurin tentu senang sekali jika cerita mereka dapat kalian nikmati. jangan lupa buat ninggalin jejak juga yah... see you😍❤️)