
Setelah cukup lama ketiganya menunggu, seorang dokter laki laki keluar dari dalam UGD, dokter itu langsung menghampiri Rangga tepatnya orang yang pertama kali membawa Maurin ke rumah sakit.
"Saya harus bicara dengan anda pak..." Kata Dokter laki laki berkacamata itu.
Rangga segera mengikuti kemana langkah dokter itu, meninggalkan kedua teman Maurin yang semakin khawatir akan keadaan Maurin.
"Silahkan duduk!." Kata Dokter mempersilahkan.
"Apa anda keluarga dari pasien?." Tanya Dokter.
"Yah Dok, tepatnya saya kekasihnya." Jawab Rangga, laki laki itu tampak merasa bangga ketika mengakui jika dirinya adalah kekasih dari Maurin.
Dokter hanya bisa tersenyum, sudah sebuah fikirannya juga berkelana karna tidak dapat di pungkiri siapapun pasti akan berfikiran sama halnya seperti dokter itu ketika sang pasien telah hamil Namun, status di antara keduanya masih sepasang kekasih.
"Jadi pak, saya hanya ingin menyampaikan jika pendarahan yang di alami oleh pasien bukan pendarahan biasa, karna pendarahan itu di akibatkan akan masih terlalu muda usia kandungan pasien." Jelas dokter sembari mengembangkan senyumannya.
Sesaat Rangga masih mencerna dengan apa yang di jelaskan oleh dokter. Hingga beberapa saat otaknya langsung berputar dan Rangga langsung mulai faham dengan apa yang di jelaskan oleh dokter laki laki itu.
"Maksud dokter, Maurin ha- hamil dok." Tampak bibirnya bergetar kala Rangga mengatakan kata hamil, laki laki itu masih tidak menyangka dengan kabar yang begitu mengejutkan dirinya.
"Iyah pak, syukurnya pendarahan hebat tadi yang memungkinkan kecil untuk janin tidak selamat tapi syukurnya janin itu begitu kuat hingga tidak sampai terjadi keguguran." Jelas Dokter.
"Lalu selanjutnya saya harus bagaimana Dok?." Tanya Rangga dengan perasaan yang begitu campur aduk.
Dokter itu tersenyum.
"Untuk selanjutnya pasien harus di rawat selama dua Minggu karna pasien di wajibkan untuk bedrest untuk keberlangsungan janin di dalam kandungannya, karna untuk sementara pasien tidak boleh beraktivitas terlebih dahul. Dan ini resep vitamin dan obat penguat kandungan silahkan bapak tebus!." Jelas dokter sembari menyerahkan secarik kertas yang bertuliskan resep, yang langsung di terima oleh Rangga.
__ADS_1
"Dan nanti pasien akan segera di pindahkan di kamar rawat yah pak..." Ujar dokter itu lagi.
"Iyah Dok, kalau begitu saya permisi keluar dulu. Terimah kasih." Ujar laki laki itu dan segera bangkit.
Revan dan Elea segera menghampiri Rangga yang baru keluar dari ruangan dokter, dengan muka kecemasannya Elea dan Revan penasaran dengan hasil pemeriksaan dokter.
"Gimana? Apa penyebab Maurin mengalami pendarahan?." Tanya Elea seketika ingin segera mengetahui keadaan Maurin.
"Pendarahan yang di alami Maurin, karna dia tengah hamil di usia muda yang begitu rentan akan keguguran. Tapi dokter bilang jika janinnya masih bisa di selamatkan." Jawab Rangga.
Elea dan Revan langsung shock mendengar jawaban dari Rangga, Revan mengusap wajahnya kasar. Laki laki itu juga berfikir jika apa yang kini menimpa Maurin, itu semua karna Maurin mengenal sosok laki laki yang tidak lain adalah Rangga.
"Apa sekarang kau puas, telah menghancurkan kehidupan Maurin sedikit demi sedikit." Kata Revan emosi, wajahnya tampak merah menahan emosi.
"Udah Van, ini bukan waktunya untuk kita saling menyalahkan. Yang terpenting kita harus fokus ke Maurin dulu." Sekali lagi Elea mencoba menenangkan Revan, gadis itu tidak ingin masalah semakin bertambah hanya karna Revan yang tidak dapat mengontrol emosi.
Rangga menggeleng laki laki itu menatap ke arah Elea dan Revan.
"Setelah ini Maurin akan segera di pindahkan di kamar rawat, aku meminta tolong pada kalian untuk menjaganya sementara ini. Karna aku harus menjelaskan semuanya pada Bu Rosma." Kata Rangga, laki laki itu tidak luput meminta bantuan untuk menjaga Maurin pada kedua sahabat Maurin.
"Baiklah."
Setelah itu Rangga bergegas menuju ke arah dimana mobilnya terparkir, laki laki itu benar benar akan mengatakan semuanya pada Bu Rosma, Rangga merasa inilah waktu yang tepat. Karna Rangga sudah memantapkan perasaannya pada Maurin.
Sesampainya di rumah langkah lebarnya mengayun mengantarkan Rangga sampai masuk ke dalam rumah, ketika Rangga sudah berada dalam rumah Rangga langsung menuju kamar kedua orang tuanya, yang sepengatahuan Rangga kedua orang tuanya tengah berada di rumah untuk meluangkan waktu bersama Aden.
Eli, Ivan dan Aden seketika menoleh ke arah pintu secara bersamaan kala Rangga tiba tiba membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.
__ADS_1
"Papaaah..." Aden tampak berbinar saat melihat kedatangan dari Rangga, seseorang yang begitu berarti yang selalu di rindukannya.
Rangga bergegas membawa Aden dalam gendongannya, bocah itu tampak begitu manja saat bersama sang papah.
"Bukankah ini masih lama untuk kamu pulang Ga?." Tanya Ivan sembari melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Rangga sengaja pah pulang lebih awal, kerjaan kantor hari ini sementara Rangga serahkan pada sekretaris Rangga, disini Rangga ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan mamah dan papah." Jawab Rangga.
Tampak serius, membuat Eli penasaran dengan apa yang ingin di bicarakan Rangga padanya dan Ivan.
"Apa ini tentang perusahaan Ga?." Sahut Eli yang kini berganti bertanya.
"Bukan mah, kali ini Rangga ingin membicarakan tentang masa depan Rangga, jadi sebaiknya sekarang mamah dan papah langsung kebruang tamu. Dan Rangga akan menitipkan Aden ke pelayan untuk sementara."
Ketiga orang dewasa dan satu bocah lucu itu segera keluar dari dalam kamar, Eli dan Ivan segera berlalu menuju ruang tamu sedangkan Rangga mencoba untuk membujuk Aden untuk bersama pelayanan, karna pembicaraan ini Rangga tidak ingin Aden mendengarkan.
Setelah cukup lama membujuk putranya, akhirnya Rangga berhasil membuat Aden terlepas darinya. Tidak lain sebuah alasan dengan menjanjikan Aden untuk bertemu dengan Maurin, bocah itu seakan langsung menemukan kata ajaib untuk langsung mengerti. Setelah berhasil membujuk Aden, Rangga bergegas menghampiri Eli dan Ivan yang kini sudah duduk di ruang tamu. Sebelum Rangga benar benar menghampiri kedua orang tuanya Rangga terlebih dahulu mencari sosok Bu Rosma, dan tidak lama Rangga mencoba mencari akhirnya Rangga menemukan Bu Rosma tengah sibuk beberes di dapur.
"Bu..." Panggil Rangga pada Bu Rosma, seketika Bu Rosma langsung membalikkan badan ketika dirinya di panggil.
"Eehh tuan Rangga!." Bu Rosma seketika tersenyum kala melihat sosok Rangga.
"Rangga mau bicara sama ibu bisa?."
"Yah bisa dong tuan, bentar ibu cuci tangan dulu." Bu Rosma kembali berbalik ke arah wastafel lalu segera mencuci tangannya.
Setelah itu Bu Rosma mengikuti langkah Rangga menuju ruang tamu, dan Bu Rosma mulai bertanya tanya ada apa? Kenapa Rangga tiba tiba ingin berbicara padanya, terlebih lagi saat berada di ruang tamu, sudah terlihat Eli dan Ivan yang membuat Bu Rosma semakin penasaran.
__ADS_1