Pembantu Pengganti

Pembantu Pengganti
Bab 64


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan, akhirnya mobil yang di kendarai Rangga berhenti di depan rumah milik paman dan bibi Maurin.


"Di rumah ini, perempuan yang aku ceritakan ada di sini. Aku harap kamu bisa berkenalan baik dengan dia." Kata Rangga pada Kevin.


"Pasti Ga, terlebih dia adalah perempuan yang kau cintai. Tentu aku akan bersikap baik." Jawab Kevin lalu terkekeh.


Rangga dan Kevin lalu segera masuk ke dalam rumah itu tidak lupa keduanya mengucapkan salam, dan dari dalam terdengar salamnya di jawab.


"Sini tuan, silahkan sarapan dulu. Kita bisa sarapan bareng." Kata bibi saat melihat kedatangan Rangga yang membawa seseorang lagi.


"Iyah bi. Makasih, sebelumnya saya mau mengenalkan teman saya yang baru sampai di kota ini. Dia Kevin." Kata Rangga pada semua orang yang kini menatapnya tidak terkecuali oleh Maurin.


"Kevin..." Kevin lalu mengulurkan tangan dan menjabat satu persatu tangan paman bibi dan Maurin.


"Yaudah ayo sekalian makan bareng." Kata bibi mengulangi kembali untuk mempersilahkan Rangga dan Kevin.


Mereka semua terdiam menikmati sarapan yang tersaji, tidak ada satu pun orang yang mengeluarkan suaranya.


"Rin, nanti aku ke kota dulu untuk mengantarkan Kevin ke rumahku, dan sekalian mengurus tentang sekolahanmu." Ucap Rangga setelah mereka selesai dengan sarapannya.


"Baik tuan. Terimah kasih." Jawab Maurin, dia hanya mengiyakan ucapan Rangga. Karna Maurin menyerahkan semua urusan di sekolahnya pada Rangga.


Sebelum Rangga memutuskan untuk pergi laki laki itu memanfaatkan waktu yang tersisa, dengan ide yang seketika muncul begitu saja di kepala Rangga. Laki laki itu kembali membersihkan dirinya, dan meminta bantuan Maurin untuk mencarikan setelan lagi yang baru. Padahal jika di fikir setelan yang tadi di pakai masih begitu tampak bersih dan bisa di pakai kembali.


"Bagaimana dengan setelan ini?." Maurin berbalik ke arah Rangga yang masih berdiri dengan hanya menggunakan handuk yang melilit tubuhnya.

__ADS_1


"Boleh." Lalu Rangga melangkah mendekati Maurin. Dan semerbak aroma parfum dari sabun yang di kenakan Rangga menyeruak menghunus Indra penciuman Maurin.


Rangga meraih setelan itu, mengambil alih ke dalam genggamannya. Tidak langsung memakainya Rangga memilih membawa Maurin ke dalam pelukannya, Maurin yang mendapat serangan cepat itu seketika begitu terkejut.


"Mulai dari kemaren aku ingin memelukmu seperti ini Rin." Gumam Rangga semakin mengeratkan pelukannya.


"Tuan, jangan seperti ini di luar sahabatmu tengah menunggumu." Maurin merasa sedikit panik, ketika Rangga masih belum melepaskannya dalam pelukan hangat itu.


"Biarkan seperti ini dulu sebentar Rin..." Rangga benar benar tidak menghiraukan ucapan dari Maurin.


Sedangkan di luar Kevin merasa bosan menunggu Rangga keluar dari dalam kamar, lalu dengan terlebih dahulu meminta izin pada Paman dan bibi. Laki laki itu beranjak dan mengetuk pintu kamar.


"Apa kau harus di bantu ber-make up juga Ga?." Tanya Kevin dari luar rumah.


Seketika dengan cepat Maurin memaksa Rangga agar melepaskannya, dan cukup terpaksa Rangga harus melepaskannya.


Maurin yang menyadari jika Rangga tengah lengah, tanpa banyak kata langsung saja dengan secepat kilat keluar dari dalam kamar. Dan Rangga tidak sempat untuk mencegahnya.


Tidak beberapa lama setelah Maurin berhasil keluar dari kamar, mungkin sekitar dua puluh menit yah jika di pikir itu cukup lama untuk ukuran orang berganti pakaian. Dan akhirnya Rangga keluar dari dalam kamar dengan pakaian rapinya.


"Bener bener yah kamu Ga, ngalah ngalahi cewek kalo ganti lama banget." Gerutu Kevin ketika sudah sangat bosan menunggu Rangga.


"Kamu ngegrutu kayak gitu juga gak ada bedanya sama cewek Vin." Sahut Rangga seakan tidak mempunyai salah.


Rangga mengelus lembut dan berbicara sedikit pada calon anaknya. Setelah melakukan ritual yang di saksikan orang di dalam rumah itu. Rangga benar benar pamit pada Maurin, dan paman bibi.

__ADS_1


"Berapa umur perempuan mu itu Ga?." Tanya Kevin di perjalanan yang masih di area jalanan yang di iringi banyak pepohonan.


"Delapan belas tahun karna dia masih belum lulus SMA." Jawab Rangga begitu santai.


Mungkin satu hal ini luput dari keterangan Rangga di awal, yang sontak membuat Kevin sedikit melongo terkejut.


"Gila kamu Ga, perempuan umur segitu udah kamu hamili." Jawab Kevin tidak habis pikir akan jalan kehidupan dari sahabatnya itu.


"Yang terpenting setelah ini, aku akan berubah lebih baik lagi Vin. Aku tidak akan rela untuk kedua kalinya pernikahanku kandas." Ucap Rangga penuh keyakinan.


"Jika di fikir nih Ga, sekarang Maurin usia kandungannya masih dua bulanan kurang sedikit nih yah. Kalau di fikir fikir nanti setelah anak kamu besar bisa jadi itu adalah jodohku." Kata Kevin sembari membayangkan betapa cantiknya putri dari sahabatnya, jika di lihat Maurin dan Rangga adalah dia sepasang yang cukup sempurna untuk membentuk keturunan yang begitu cantik.


"Gila aja Vin. Inget anakku nanti udah remaja kamu udah umur empat puluh tahun keatas. Kamu gak mikir sekarang dia masih di dalam perut dan bahkan belum kebentuk dan kamu udah umur dua puluh empat." Celetuk Rangga lalu terkekeh mendengar perkataan dari Kevin.


"Yaaaah gak sadar diri nih orang, lah kamu fikir sekarang umurmu masih muda Ga?. Nggak kan!. Tapi kamu bisa tuh dapetin Maurin yang umurnya bahkan belum menyentuh angka dua puluh." Kevin menjawab telak akan celetukan Rangga. Dengan sekejap Rangga langsung mengingat dirinya sendiri.


"Iyah juga. Tapi aku saranin lebih baik kamu cari aja sekarang ngapain nungguin anakku lahir itu juga kalo dia perempuan, kalo laki laki mampus Lo bisa jadi perjaka tua." Ledek Rangga terkekeh semakin kencang.


"Yah setidaknya nanti jika dia lahir dengan jenis kelamin perempuan. Kamu harus ingat Ga jika anakmu akan jadi milikku."


Begitulah ketika dua laki laki yang bersahabat namun, sering kali terlibat perdebatan jika keduanya tengah bertemu.


Meskipun umur keduanya terpaut cukup jauh tetap saja keduanya bisa menjadi bak tom and Jerry. Dan perbedaan dari jarak usia mereka pula yang menjadi alasan antara Rangga dan Kevin berbicara menggunakan aku dan kamu. Karna mungkin agar terlihat cukup pantas terlebih usia Kevin yang terlalu jauh dengan Rangga.


Beberapa hari Rangga begitu jarang masuk ke dalam rumahnya, karna harus menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu dengan Maurin. Dan jika di tanya apakah dia rindu tentu saja iya. Tapi bagi Rangga untuk sementara memenuhi keinginan Maurin dan mengikuti kemana langkahnya pergi itu sangat pentin bagi Rangga. Agar dia tidak kembali kehilangan perempuan yang amat di cintainya.

__ADS_1


"Rumahmu gak pernah berubah yah Ga?." ujar Kevin saat matanya mengedarkan ke seluruh ruangan rumah.


__ADS_2