
"Doakan ajah mah yang terbaik buat Adit dan dia!!" Ucap Adit kala mendapat respon cukup menyenangkan dari mamahnya.
Tak luput juga dengan Nelson yang menyambut kabar bahagia tentang anaknya yang tengah dekat dengan seorang wanita, tentu kedua orang tua Adit mengharapkan yang terbaik bagi putranya.
"Yaudah, Adit berangkat dulu mah... Pah..." Laki laki itu menjabat lalu mencium punggung kedua orang tuanya secara bergantian.
"Hati hati nak..." Kata Mala.
Aditya segera berlalu dan keluar dari rumah megahnya, laki laki itu kini memilih untuk membawa motor saja untuk menjemput Maurin, yang bukan tanpa alasan Aditya merasa jika berboncengan dengan Maurin akan terasa lebih dekat jika naik motor.
Dan tak mau membuang waktu lebih lama, Aditya melajukan motornya dengan kecepatan penuh berharap dia tidak telat untuk menjemput Maurin.
Sesampainya di rumah milik Rangga, laki laki itu segera turun dari motornya sesaat sebelum masuk Aditya melirik ke arah garasi dimana mobil Rangga masih terparkir pertanda jika Maurin masih belum berangkat menuju sekolah.
Tidak seperti biasa Aditya yang biasanya langsung masuk begitu saja kini dia lebih memilih untuk memencet bel rumah terlebih dahulu, dan itu menjadi pertanda jika hubungannya dan Rangga mulai merenggang.
Dari dalam Rangga yang tengah asyik menemani Maurin menyuapi Aden, lebih memilih untuk dirinya yang bangkit dan melangkahkan kakinya untuk membukakan pintu.
Sesaat Rangga hanya terdiam lalu menatap lekat ke arah laki laki yang bertamu pagi pagi itu, Rangga merasa sedikit tidak nyaman dengan kedatangan Aditya, dan Rangga pun sudah bisa menebak untuk apa Aditya datang ke rumahnya.
"Ada perlu apa kesini, bukankah tidak ada masalah pekerjaan yang harus di bicarakan di rumah?." Tanya Rangga meski sudah menebak maksud sebenarnya Aditya datang ke rumahnya.
"Tidak penting untuk membicarakan pekerjaan di rumah, karna di kantor saja itu sudah memuakkan." Jawab Aditya yang mulai memasang wajah tidak sukanya.
Benar benar terlihat jika hanya karna soal wanita hubungan itu bisa saja merenggang jika salah satu dari keduanya tidak ada yang mau mengerti ataupun mengalah.
"Kedatanganku kesini untuk menjemput Maurin!." Ucap Aditya lagi mengatakan maksudnya.
__ADS_1
Rangga tersenyum kala tebakannya benar, dengan maksud kedatangan dari Aditya ke rumahnya.
"Apakah dia memintamu untuk menjemput, aku rasa tidak, jadi silahkan kau kembali karna dia sedang bersama Aden waktunya tidak bisa di ganggu." Kata Rangga lalu tanpa menunggu jawaban dari Aditya, laki laki itu segera berbalik dan langsung akan menutup pintu.
Namun, sialnya sebelum pintu itu tertutup sempurna Aditya langsung menahannya dan dengan tenaganya laki laki itu mendorong pintu hingga membuat Rangga yang tidak siap terhuyung ke belakang.
"APA KAU TIDAK PUNYA SOPAN SANTUN, BUKANKAH AKU SUDAH MELARANGMU!." Kata Rangga membentak kala kini emosinya di pancing oleh Aditya.
"Kedatanganku kesini untuk menemui Maurin, tidak ada hak kau untuk melarangku karna kau bukan siapa siapanya." Jawab Aditya memebalas tatapan tajam dari Rangga.
"Jelas aku ada hak dia tinggal bersamaku dan siapapun yang tinggal bersamaku itu semua menjadi hakku." Dan adu mulut itu semakin memanas saja, keduanya saling membalas.
"Itu mungkin hanya hakmu sebatas dalam pekerjaan saja, untuk yang lainnya tidak!." Jawab Aditya, lalu dengan segera melangkahkan kakinya menghampiri Maurin.
Rangga yang melihat apa yang di lakukan Aditya, semakin membuatnya geram lalu Rangga dengan cepat mengikuti langkah Aditya.
Rangga lalu menarik kerah Aditya, dan dalam sekejap bogeman mentah di daratan oleh Rangga pada rahang Aditya. Dan Aditya tentu langsung terhuyung kala tidak siapa menerima bogeman mentah itu dan saking kerasnya sudut bibir Aditya mengeluarkan darah.
"APA TIDAK CUKUP AKU MELARANGMU HAAA, KAU KINI TERLALU LANCANG!." sentak Rangga pada Aditya setelah mendapat balasan bogem dari Aditya.
Suara lantang Rangga menggema ke seluruh rumah, Maurin yang tengah fokus bersama Aden, langsung terkejut kala mendengar suara Rangga yang begitu lantang.
"Apa papah sedang marah kak?." Tanya Aden yang dengan jelas mendengar suara papahnya yang terdengar begitu marah.
"Tidak tahu sayang, kamu disini dulu yah... Biar kakak lihat dulu yah sayang!." Jawab Maurin sembari yang tiba tiba merasa khawatir.
Aden yang mengerti dengan perkataan Maurin langsung mengangguk cepat, dan Maurin segera meninggalkan Aden setelah merasa jika Aden aman untuk di tinggalkan. Langkahnya semakin cepat untuk menghampiri dimana Rangga kala semakin terdengar keributan.
__ADS_1
"STOOOPP!!..." Teriak Maurin kala melihat kedua saudara sepupu itu saling balas memukul.
Sesaat setelah mendengar suara Maurin kedua laki laki itu menghentikan perkelahiannya, Namun, saat Rangga terlihat lengah Aditya kembali mendaratkan bogeman, emosi di antara kedua laki laki itu seakan sama sama membara.
"BUUUGGHH..."
dan Rangga kembali membalas, muka keduanya kini sudah babak belur akibat serangan demi serangan yang tidak mau mengalah.
Maurin yang melihat perkelahian kembali lagi, mulai bingung gadis itu sungguh tidak tahu apa yang harus di lakukannya.
"Pleaseee... Stoppp!!!" Mohon Maurin Namun, tetap sia sia ucapannya sama sekali tidak di dengarkan.
Tidak punya cara lain, Maurin yang sudah kebingungan harus berbuat apa langsung menghampiri keduanya dan berada di tengah tengah mereka, dan bogeman yang akan Aditya layangkan pada Rangga tiba tiba saja tanpa sengaja bogeman itu terkena pipi Maurin, dan detik itu juga saking kerasnya Maurin langsung terjatuh dengan sudut bibir dan hidung berdarah.
Aditya merasa terkejut dengan apa yang sudah di lakukannya bogeman itu ternyata malah mengenai orang yang di cintainya.
Rangga tanpa banyak kata, langsung menghampiri Maurin yang ternyata sudah tidak sadarkan diri.
"KAU GILAAA DIT!!." seru Rangga pada Aditya yang masih mematung karna terkejut.
"Gak usah mendekat biarkan aku saja yang mengatasinya!." Kata Rangga dengan menepis tangan Adit yang akan menyentuh Maurin.
Rangga dengan cepat mengangkat tubuh Maurin dan menggendongnya, lalu masuk ke dalam untuk mencari Aden.
"Kakak baik!!" Kata Aden terkejut melihat Maurin tidak sadarkan diri di dalam gendongan papahnya.
"Sayang, kamu bisa ikutin papah!! Ayo ikut papah kita anterin Kakak baik ke rumah sakit." Dalam sekali arahan, Aden dengan cepat memahami apa yang di katakan oleh Rangga, anak itu langsung mengikuti langkah sang papah.
__ADS_1
Saat melewati Aditya, Rangga dan Aden tidak menghiraukan karna Aden pun yang merasakan khawatir seperti yang di rasakan Rangga.
Setelah Rangga mendudukkan Maurin di kursi depan, Rangga beralih untuk membantu Aden masuk ke dalam mobil dan mendudukkannya di Carseat, agar selalu aman selama perjalanan.