Pembantu Pengganti

Pembantu Pengganti
Bab 26


__ADS_3

Sebelum Maurin benar benar boleh pulang, dokter pun memastikan kembali keadaan Maurin jika sudah siap untuk pulang, hasil pemeriksaan yang bagus akhirnya Maurin di perbolehkan untuk pulang hari itu.


Hanya Rangga yang tinggal mengurusi biaya rumah sakit Maurin.


"Bentar yah, aku harus mengurus biayanya." Kata Rangga pada Maurin sebelum keluar.


"Tuan." Panggil Maurin lirih yang seketika Rangga mengurungkan niatnya untuk keluar kamar.


"Ada apa?." Tanya Rangga.


"Apa biaya rumah sakitnya besar?." Dan kegelisahan yang sedari tadi berputar putar di otak Maurin, akhirnya di sampaikan juga pada Rangga.


Rangga langsung terkekeh mengetahui kegelisahan Maurin.


"Gak perlu khawatir itu semua saya yang menanggung, sebagai tanda ucapan terimah kasih juga karna telah merawat Aden dengan baik." Kata Rangga tanpa menunggu jawaban dari Maurin laki laki itu langsung berlalu.


Setelah menyelesaikan semuanya, Rangga menggendong sembari menuntun Maurin untuk menuju ke mobil, Rangga yang merangkul Maurin bak kekasihnya membuat jantung Maurin berdetak kencang.


"Pah, kapan ke Oma?." Tanya Aden di tengah perjalanan, seketika Maurin dan Rangga langsung menoleh secara bersamaan pada Aden yang berada di pangkuan Maurin.


"Kita anter kakak dulu ke rumah nanti papah akan langsung anter kamu ke rumah Oma." Jawab Rangga lalu mengacak rambut Aden.


Selama perjalanan Rangga cukup menikmatinya karna tidak seperti biasanya ketika dia berada di dalam mobil bersama Maurin, suasana menjadi canggung, tapi saat bersama dengan Aden suasana di mobil cukup menyenangkan untuk Rangga karna Maurin dan Aden saling bercanda hingga tanpa sadar mereka telah sampai di rumah.


"Aku turun disini saja tuan, dan tuan langsung nganterin Aden ke rumah nyonya Eli." Kata Maurin yang meminta Rangga agar langsung mengantarkan ke Aden ke rumah Omanya.


"Dan jangan lupa yah sayang, jangan sampai Aden keceplosan kalau Kakak abis keluar dari Rumah sakit." Kata Maurin pada Aden, yah sepanjang perjalanan selain bercanda Maurin juga meminta pada Aden agar anak itu tidak berbicara apa apa tentang dirinya yang masuk rumah sakit.


"Siap kakak." Jawab Aden semangat sembari memberi hormat.


"Pinter." Ucap Maurin yang senang melihat tanggapan Aden, dan tidak lupa Maurin mencium pipi gembul milik Aden.


Dan mereka akhirnya berpisah Aden trus melambaikan tangannya pada Maurin sampai mobil yang di kendarai Rangga tidak terlihat lagi.

__ADS_1


Setelah kepergian Aden Maurin langsung masuk ke dalam rumah, tentu gadis itu merasa kesepian kala Aden harus pergi ke rumah Omanya.


Maurin yang memang masih lelah pun akhirnya langsung masuk ke dalam kamar untuk istirahat.


"Ranggaaaa..." Teriak seseorang yang masuk tanpa permisi dengan memanggil manggil nama Rangga.


Baru beberapa saat Maurin beristirahat, bahkan tidurnya masih belum nyenyak tiba tiba saja ada suara yang memanggil Rangga, Maurin yang penasaran akhirnya memilih untuk kembali bangkit dan segera keluar dari dalam kamar.


Saat Maurin keluar dari kamar gadis itu terkejut yang ternyata Bella lah yang datang kerumah, sontak Bella yang melihat kehadiran Maurin langsung menghampiri Maurin.


"Rangga mana?." Tanya Bella dengan nada ketus.


"Tuan sedang pergi." Jawab Maurin yang jujur saja merasa sedikit takut pada Bella.


"Pergi kemana?? Lalu dimana Aden.!" Tanya Bella lagi dengan mengedarkan pandangannya, ke seluruh rumah mencari sosok yang di carinya.


"Tu- tuan Rangga sedang ke rumah nyonya Eli, mengantarkan Aden kesana." Dan untuk jawaban Maurin kali ini, Bella seketika menatap Maurin dengan tajam wanita itu merasa terkejut kala mendengarnya.


"APAA...!!! SIAL!." umpatnya merasa kesal sekaligus tidak menyangka, rencananya kali ini benar benar membuatnya jatuh ke dalam jurang.


Tidak lagi memperdulikan Maurin, wanita itu langsung keluar dari dalam rumah, lalu kembali masuk ke dalam mobilnya lalu menutup pintu dengan keras.


"Kenapa jadi gini siiihhh... Aaaaahhh." Bella sungguh merasa bingung dan marah, dan semua amarah dia lampiaskan ke setir mobilnya.


"Ini gara gara gadis bodoh itu." Gumamnya dengan nafas memburu.


Tidak langsung pergi dari situ, Bella langsung menyalakan ponselnya menekan sebuah kontak yang bertuliskan dengan nama Aditya.


"Dimana?." Tanya Bella kala sambungan telfon itu sudah terhubung.


Bella yang ingin membalaskan kekesalannya pada Maurin, memilih menghubungi Aditya dan Bella gunakan Aditya sebagai bahan pelampiasannya pada Maurin.


****

__ADS_1


"Cucuuu Omaaa." Seru Eli kala melihat kedatangan Aden bersama Rangga, Eli langsung mengambil alih Aden dalam gendongannya.


Aden tentu langsung tertawa geli kala Eli trus menciumi pipi gembul itu dengan gemas.


"Oh yah mah, Rangga langsung balik dulu yah mah." Kata Rangga yang merasakan khawatir pada Maurin.


"Lohh udah lama kamu itu gak ketemu mamah, sekalinya kesini kok langsung mau pulang aja." Kata Eli.


"Mungkin dia lagi banyak kerjaan mah, makanya buru buru." Sahut Ivan yang baru ikut bergabung.


"Iyah mah, lagian Rangga besok harus nyiapin buat meeting juga." Kata Rangga memberi pengertian pada sang mamah.


****


Sedangkan di perjalanan hampir sampai di rumah milik Rangga, sepanjang perjalanan Aditya hanya tersenyum lalu Aditya menambah kecepatan mobil dan membuatnya tidak lama mobil Aditya telah sampai di rumah Rangga. pak Dono yang memang mengenal siapa Aditya pun langsung memberi izin pada Aditya.


Untuk pertama kalinya saat pertama kali Aditya bertemu dengan Maurin, tidak seperti bertemu dengan kebanyakan wanita yang di temuinya. Jika biasanya Aditya bakal bodoh amat saat perempuan incarannya di dahului laki laki lain Aditya tidak begitu peduli. Tapi untuk Maurin Aditya sepertinya mulai terobsesi pada gadis itu, dan membuat laki laki itu dengan berusaha untuk mendapatkannya di tambah dia mengetahui jika saudara sepupunya juga mencintai wanita itu.


Langkah Aditya semakin mendekati pintu, dengan pelan Aditya membuka pintu. Sepi seperti itulah gambaran saat Aditya memasuki rumah besar itu.


Seulas senyum terlihat tercipta dari bibirnya, informasi yang di dapatkan dari Bella jika Rangga tengah berada di rumah sang bibi membuat Aditya semakin mempunyai waktu luas untuk menjalankan keinginannya.


Langkah itu terlihat begitu tenang, Namun semakin pasti mendekati kamar milik Maurin.


"Sepertinya tuhan kali ini juga memihakku untuk membantuku mendapatkan dia." Gumamnya dan kini tangan kekar itu sudah menggenggam handle pintu.


"Kleekk" suara pintu itu mulai terbuka, Maurin yang masih belum tertidur seketika menoleh ke arah pintu.


Gadis itu menebak nebak siapa yang datang, dan tetap saja fikirannya mengira jika itu adalah Rangga yang datang. Sampai pintu itu di buka semakin lebar dan Maurin melihat sosok yang tidak di duganya.


Aditya langsung tersenyum kala Maurin yang kini menatapnya.


"Tu- tuan Aditya." Ucap Maurin tergugup, yang justru kini takut melihat senyuman Aditya yang cukup aneh.

__ADS_1


Maurin yang awalnya tengah berbaring langsung bangkit dan berdiri, apalagi di tambah dengan Aditya yang melangkah semakin masuk ke dalam kamarnya.


__ADS_2