Pembantu Pengganti

Pembantu Pengganti
Bab 57


__ADS_3

Rangga perlahan lahan menggendong Maurin untuk keluar dari ruangan, sedikit sulit karna ada infus yang juga harus di bawa.


Keduanya sama sama menghela nafa setelah berhasil keluar dari ruang rawat, lalu Rangga dengan penuh hati hati mendudukkan Maurin di kursi roda. Di tengah kesibukan Rangga dan Maurin dari arah yang tidak cukup jauh sepasang mata melihat apa yang di lakukan oleh keduanya. Yah dokter Kevin menajamkan penglihatannya menyimak apa yang tengah keduanya lakukan.


"Udah nyamankan?." Tanya Rangga pelan.


"Udaaah..." Jawab Maurin. Senyuman seakan tidak lepas dari bibirnya kala pada akhirnya dia bisa keluar dari ruang rawat yang sangat membosankan itu.


Rangga segera mendorong kursi roda menuju taman, sedangkan dokter Kevin mengurungkan niatnya yang seharusnya pulang. Saat melihat Rangga sudah mulai mendorong kursi rodanya, Kecil lalu melanjutkan langkah dan mencoba mengecek kamar rawat Maurin.


Dan terlihatlah Bu Rosma yang ternyata masih terlelap, sesaat Kevin terdiam dan mencoba berfikir.


"Apakah mereka tadi keluar diam diam, agar tidak di ketahui oleh Bu Rosma?." Gumamnya bertanya pada dirinya sendiri menebak apa yang sebenarnya terjadi.


Sesampainya di taman Rangga segera mencari tempat yang nyaman untuk keduanya mengobrol dan menikmati malam. Lalau akhirnya Rangga memilih tempat di paling tengah di taman yang tidak terlalu luas itu.


"Gimana enak nggak disini?." Tanya Rangga, meminta pendapat pada Maurin.


"Enak tuan. Disini aja kalau gitu." Jawab Maurin tersenyum.


"Ooh yah Rin, aku ke kantin dulu yah beli cemilan gapapa kan. Biar nanti kita makin seru ngobrolnya." Kata Rangga.


"Gapapa tuan." Jawab Maurin mengangguk.


Rangga pun bergegas meninggalkan Maurin untuk terlebih dahulu ke kantin. Rangga tidak khawatir meski meninggalkan Maurin di taman sendiri karna meskipun sudah tengah malam, rumah sakit malam itu cukup ramai akan orang berlalu lalang.

__ADS_1


Di saat Rangga sudah meninggalkan Maurin. Saat itu pula Kevin telah menyusul Namun, tetap saja Kevin hanya melihat Maurin dari arah jauh.


"Dimana laki laki itu." Gumam Kevin yang tidak melihat kehadiran Rangga disana.


Cukup lama Kevin memperhatikan Maurin, sekilas dokter itu terlihat seperti mata mata yang tengah menjalankan tugasnya. Ketika Kevin merasa terlalu lama meninggalkan Maurin, Kevin memutuskan untuk menghampiri Maurin. Tapi sayangnya belum Kevin melangkahkan kaki, Rangga telah terlihat menghampiri Maurin dengan sekantong cemilan yang cukup besar di tangannya.


"Maaf sayang lama..." Ucap Rangga lalu meletakkan cemilan yang di bawahnya di kursi taman, dan di susul dirinya yang langsung duduk berhadapan dengan Maurin yang duduk di kursi roda.


"Gapapa tuan." Jawab Maurin yang sepertinya sudah merasa terbiasa akan Rangga yang terkadang memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Kamu lapar yah?." Tanya Maurin setelah melihat makanan yang Rangga bawa.


Rangga lalu tersenyum. "Tiba tiba ngerasa laper sayang, karna tadi aku melewatkan makan malam." Ujarnya sembari mengeluarkan beberapa makanan dari dalam kantong.


"Kenapa?, Apa ada yang salah dengan ucapanku tadi." Maurin bertanya kala dirinya merasa tidak nyaman akan tatapan Rangga yang seakan mengintimidasinya.


"Aku hanya sedikit tersinggung akan ucapanmu. Yang mengatakan aku makan terlalu banyak setiap harinya." Jawab Rangga lalu kembali melanjutkan aktivitasnya, mengeluarkan semua makanan dari kantong.


Maurin reflek terkekeh, gadis itu sedikit takjub akan sifat Rangga yang terlihat begitu manja. "Apakah kamu selalu seperti ini tuan, jika bersama orang yang mengenalmu. Begitu manja di balik sikap dingin dan tegas." Timpal Maurin.


"Perlu kamu tahu sayang, aku seperti ini hanya pada orang yang aku cintai. Dan maafkan sikapku yang terkadang begitu mudah berubah rubah." Kata Rangga lalu menggenggam erat tangan Maurin.


Antara senang, beruntung atau bingung. ketika dirinya mampu mengambil hati laki laki yang kini berada di hadapannya, kini Maurin mulai mengerti tentang sifat Rangga sebenarnya, laki laki yang mudah berubah ubah tapi di balik Maurin yang mengetahui seperti apa sifat Rangga. Perempuan itu bertekad untuk ingin mengubahnya. Meskipun itu nanti tidak akan berubah sepenuhnya tapi setidaknya Rangga lebih dapat bisa mengontrol emosinya.


"Kenapa bengong?." Kata Rangga sembari menyunkan tangannya di depan wajah Maurin.

__ADS_1


Maurin seketika menggeleng. "Aku laper, bisa kamu bukain roti ini." Ucap Maurin sembari menunjuk pada sebungkus roti yang di inginkannya.


"Boleh sayang..." Rangga lalu mengambil roti yang di inginkan Maurin, dan Rangga segera membukakan untuk Maurin.


"Biar aku suapin yah!." Kata Rangga yang tidak langsung memberikan roti itu.


"Gausah tuan, lebih baik tuan segera makan juga. Bukankah tadi tuan sudah mengeluh lapar." Tolak Maurin, lalu segera mengambil alih roti yang berada di tangan Rangga.


"Baiklah kalau seperti itu." Dan akhirnya Rangga memilih untuk menuruti ucapan Maurin.


Keduanya segera menikmati roti itu, bercerita lalu bersenda gurau. Dan di balik kebahagiaan yang baru saja tercipta sepasang mata yang sedari tadi mengintai. Seketika terlihat tangannya yang mengepal erat.


Kevin segera mengusaikan apa yang di lakukannya, laki laki itu segera berbalik. Langkahnya tampak tidak mengarah ke arah dimana biasanya dia ingin pulang, dan langkah itu ternyata mendekat ke arah kamar rawat milik Maurin.


Melihat tempat sampah sampah yang terletak di luar kamar rawat Maurin, entah dokter Kevin tiba tiba mempunyai ide gila. Dengan di sengaja namun Kevin berusaha untuk terlihat seperti tidak di sengaja dokter itu tiba tiba tersandung dan menabrak tempat sampah yang tidak bersalah itu. Seketika akibat apa yang di lakukannya suara keras tercipta. Beberapa orang yang beralalu lalang yang melihat dokter Rangga menabrak tempat sampah itu segera membantunya.


"Apa dokter tidak apa apa?." Tanya Orang yang menghampiri Kevin.


Kevin seketika langsung berdiri sebelum orang orang membantunya. "Saya tidak apa apa, maaf saya kurang fokus. Mungkin karna kelelahan." Jawabnya mengelak, dengan cukup berhasil Kevin membuat kericuhan di depan kamar milik Maurin.


Sedangkan Bu Rosma seketika mulai mengerjapkan matanya, kala mendengar suara dari tempat sampah itu. Seketika Bu Rosma segera bangun. Dan saat kesadaran Bu Rosma telah kembali seutuhnya. Bu Rosma tentu cukup kaget saat tidak melihat Maurin yang sudah tidak ada di ranjang.


Bu Rosma tersentak lalu segera bangun, wajah paniknya langsung menghiasi. Bu Rosma segera keluar dari kamar rawat itu untuk mencari Maurin dan berniat menanyakan pada petugas.


Saat Bu Rosma membuka pintu dengan kasar, orang orang yang masih belum juga beranjak mengalihkan pandangannya pada Bu Rosma tak terkecuali pada Kevin.

__ADS_1


__ADS_2