
Di tengah malam, Bu Rosma yang sudah menyiapkan apa saja yang nantinya akan di butuhkan Maurin saat dirinya tinggal tidur. Wanita paruh baya itu segera menyiapkan tempat untuk tidurnya di sofa. Selama Rosma melakukan kegiatannya Maurin hanya menatap apa yang di lakukan oleh sang ibu.
"Ibu tidur dulu yah Rin, kamu juga cepet tidur udah malem banget ini." Kata Bu Rosma sembari mencari posisi nyamannya.
"Iyah bukk... Sebentar lagi Maurin bakal tidur kok." Jawab Maurin. Beberapa saat setelah Maurin menjawab tidak ada lagi jawaban dari Bu Rosma wanita paruh baya itu nampaknya sudah mulai masuk ke alam mimpi.
"Ibuk pasti kecapean banget setelah seharian mengurusku disini. OOOHHH tuhan kapan aku bisa keluar dari tempat ini dengan cepat..." Gumam Maurin, terlalu lama di rawat membuat Maurin sangat merasa jenuh dan bosan sekali.
Setelah tidak ada lagi yang harus di lakukannya, Maurin membaringkan tubuhnya. Tidak langsung memejamkan matanya. Maurin memilih untuk menatap langit langit kamar rawatnya, seketika fikirannya terbang melayang membawa Maurin akan Rangga, memori memori yang telah menyimpan beberapa kejadian entah yang sudah jauh berlalu dan bahkan baru saja berlalu semuanya memutar dan berjalan di dalam fikiran Maurin.
Air matanya kembali lolos setelah mengingat kala Rangga yang sama sekali masih belum berubah menurut Maurin, laki laki itu rupanya masih sama seperti sebelumnya. Dia masih belum bisa mengontrol emosinya sendiri, yang tanpa sadar membuat Maurin kembali menangis.
Tangisan Maurin yang tertahan suaranya karna takut Rosma mendengar, Maurin mencoba meluapkan apa yang terkurung dalam benaknya. Agar beban yang cukup terasa berat itu cepat menghilang.
Tidak terasa air matanya yang keluar mengantarkan Maurin ke alam mimpi, air matanya sedikit demi sedikit mulai mengering. Matanya terpejam, fikiran dan perasaannya mulai melupakan kejadian yang membuat dirinya menangis dan sementara rasa kantuk yang kali ini menjadi obatnya.
Tidak berselang lama setelah Maurin terlelap, sepasang mata tajam tampak mengintai apa yang terjadi di dalam ruang rawat melalui kaca pintu. Melihat Maurin yang tertidur dan merasa jika kondisi sudah aman. Rangga dengan pelan mencoba membuka pintu dengan menekan handle secara perlahan berharap tidak ada suara yang di ciptakan dan membuat tidur Maurin dan Rosma terganggu.
Setelah cukup berhati hati, akhirnya handle itu berhasil terbuka. Helaan nafas lega tampak terasa, Rangga mulai membuka semakin lebar lalu masuk secara perlahan sekali. Lalu tidak lupa menutup kembali pintu secara perlahan, jika di lihat Rangga sudah bagaikan seorang pencuri yang takut akan sang empunya rumah terbangun dan memergoki keberadaannya.
Sepasang mata tajamnya kembali menelisik secara rinci, Rangga tersenyum setelah akhirnya bisa kembali menatap wajah ayu itu secara langsung. Rangga langsung mendekat ke arah Maurin, lalu duduk di kursi yang tidak pernah beralih dari tempat semulanya.
__ADS_1
Rasa rindu tentu di rasa ingin sekali rasanya Rangga langsung memeluk Maurin dan membawanya ke dalam pelukan cukup lama. Tapi sayangnya itu tidak mungkin di lakukan sekarang, Rangga harus benar benar kembali sabar. Sabar untuk menunggu hari Maurin kembali melunak padanya, di tambah beberapa waktu lalu dirinya yang tanpa sengaja tidak bisa mengontrol emosi membuat Maurin kembali terluka.
Setelah cukup puas dengan hanya memandangi wajah dari calon anaknya itu. Seakan tidak cukup sampai di situ kini tangan Rangga beralih meraih tangan Maurin. Terasa lembut nan hangat saat tangannya bersentuhan dengan tangan milik Maurin. Lalu Rangga dengan sangat pelan mencium punggung tangan Maurin yang jemarinya sudah tersemat di sela sela jemari milik Rangga. Seakan tidak pernah puas kini tangan kanannya mulai membelai lembut perut rata Maurin.
"Sehat sehat yah sayang, jangan nyusahin mamah." Gumamnya penuh harap yang selalu mengharapkan kebaikan hadir pada Maurin dan calon anaknya.
Rasa tidak puasnya seakan menuntun Rangga agar melakukan lebih, hingga tanpa sadar aktivitasnya itu mengusik tidur Maurin, di kala Rangga tengah mencium perut rata Maurin. Mata Maurin mengerjap dan Maurin merasa ada benda berat yang menimpa perutnya. Maurin seketika melebarkan matanya lalu refleks tubuhnya menghindar dan sedikit bangkit, Rangga seketika terkejut kala Maurin bangun dan melihat apa yang di lakukannya.
Sesaat tatapan keduanya saling terkunci hingga dimana Rangga merasa Maurin akan berteriak, dan saat itu lah Rangga dengan cepat membungkam mulut Maurin.
"Hmmm... Hmmmmpppt." Maurin terus mencoba memberontak, Namun tenaganya tidak sebanding dengan tenaga milik Rangga.
Awalnya Maurin tidak mau, tapi setelah melihat Rangga dengan tatapan memohonnya. Maurin mengangguk dan seketika Rangga langsung melepaskan bungkamannya.
"Apa kamu akan membunuhku tuan." Ucap Maurin langsung menegur Rangga, dengan suara yang reflek mengecil.
Rangga lalu tersenyum. "Jika aku tadi langsung melepasnya mungkin aku tidak akan mempunyai kesempatan untuk bisa berbicara dan bersamamu Rin. Jadi aku terpaksa, lagi pula aku gak sampai membuatmu tidak bisa bernafas." Jawab Rangga kembali duduk di kursi.
"Untuk apa kembali lagi?." Ucap Maurin ketus.
"Maaffiin atas emosiku yang beberapa waktu lalu Rin." Kata Rangga menunduk, laki laki itu cukup merasa bersalah setelah mengingat waktu itu dimana dia tidak bisa mengontrol amarahnya.
__ADS_1
"Tidak perlu minta maaf jika kesalahan itu akan kamu ulangi kembali tuan." Ujar Maurin ketus, rasanya Maurin seakan ingin menguji kesabaran Rangga.
Rangga tampak menghela nafas, dan Maurin mengerti jika itu tanda jika Rangga tengah menahan dirinya. "Aku janji itu tidak akan terulang kembali sayang." Katanya melembut, cukup membuat hati Maurin meleleh karna ucapan itu.
"Oh yah, kamu gak bosen di dalam kamar?." Tanya Rangg mencoba membuka obrolan baru.
Maurin langsung menoleh ke arah Rangga. "Bosen itu pasti tuan." Jawab Maurin lalu kembali melemparkan pandangannya ke arah lain.
"Biar aku ambilkan kursi roda dan aku akan mengajakmu ke taman rumah sakit. mau?." Kata Rangga dengan tawarannya.
Seketika wajah Maurin berbinar, inilah yang seakan Maurin inginkan. "Mau tuan mau..." Jawab Maurin antusias. Melihat binaran kebahagiaan itu membuat Rangga seketika tersenyum.
"Baiklah... Tunggu sebentar aku akan ambilkan kursi roda." Kata Rangga sembari bangkit.
Setelah menunggu tidak terlalu lama, akhirnya Rangga kembali yang seperti sebelumnya keluar masuk dengan pelan pelan. Membuat Maurin terkekeh geli melihatnya.
"Kenapa senyum senyum gitu?." Tanya Rangga tentu dengan suara tetap kecil agar tidak mengganggu tidur Bu Rosma.
"Gapapa lucu ajah ngelihat tuan, ngendap ngendap gitu kayak maling." Kata Maurin lalu dengan cepat menutup mulutnya saat ingin ketawa lebih kencang.
Rangga lalu terkekeh. "Tahan dulu ketawanya, aku akan menggendongmu karna kursi rodanya aku taru di luar agar tidak menimbulkan suara kamua siap." Ujar Rangga pada Maurin.
__ADS_1