
"aku mau bika Ambon!." Maurin segera menyebutkan makanan yang sangat di idamkannnya saat ini, entah kenapa tiba tiba Maurin menginginkan Bika ambon.
Seketika Rangga ternganga, yangvdi fikirkan Maurin akan menginginkan makanan yang biasanya di sukai atau mungkin makanan yang masih bisa di jangkaunya walau sedikit sulit. Dan kini Rangga menjadi sedikit pusing ketika ibu dari calon anaknya menginginkan kue khas Medan itu, sangat sulit di tebak dan juga sulit untuk di dapatkan.
"Apa tidak bisa?." Tanya Maurin lesu, melihat dari raut wajah Rangga yang seakan keberatan dengan permintaannya.
"Apa kamu sangat menginginkan Bika ambon Rin, apa tidak ada makanan lain untuk bisa menggantikan Bika ambon itu." Kata Rangga saat mendapatkan pertanyaan kembali ketika dirinya cukup lama tidak menjawab setelah mendengar Maurin menginginkan kue itu. Dan lagi pula harus kemana Rangga mencari Bika Ambon sedangkan yang jual kue itu cukup langka di kota itu apa lagi saat ini hari masih menunjukkan pukul dini hari yang tidak mungkin ada toko kue yang buka jam segitu.
"Kamu gak bisa yah!, Yaudah gak usah." Ucap Maurin, tiba tiba matanya mulai mengembun dan Maurin terus menunduk terlihat semburatan sedih terlihat di wajah itu. Entah Maurin sendiri sebenarnya tidak mengetahui ada apa yang terjadi pada dirinya, sungguh hal yang tidak biasa yang di rasakan Maurin.
"Rin ini masih jam segini, gak mungkin ada toko kue buka jam segini." Rangga mencoba memberikan pengertian pada Maurin, laki laki itu merasa tidak tega melihat wajah sedih Maurin.
"Tidak apa apa. Lebih baik aku tidur kembali." Jawab Maurin suaranya terdengar sedikit serak tanda tengah menahan tangis. Maurin pun dengan segera membaringkan tubuhnya lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, rasanya Maurin ingin menangis saat dirinya tidak mendapatkan apa yang di inginkannya.
Rangga semakin teriris kala melihat Maurin langsung menutup tubuhnya, dan tidak lama bahu Maurin terlihat mengguncang dan Rangga tahu jika Maurin tengah menangis.
Rangga yang sudah benar benar tidak tega langsung segera bangkit, laki laki itu tidak berani untuk berbicara dan memutuskan langsung keluar dari ruangan itu. Sedangkan Maurin semakin terisak kala menyadari jika Rangga langsung keluar tanpa membujuknya. Sedangkan Rangga langsung mencari seorang suster dan untuk di mintai bantuan.
"Suster..." Panggil Rangga saat melihat suster yang baru keluar dari ruang rawat yang sepertinya baru selesai mengecek pasien.
"Ada apa tuan, apa ada yang bisa saya bantu?." Tanya suster itu.
"Sus, saya harus keluar sebentar. Disana kekasih saya tengah sendirian saya minta buat suster jagain dia dulu." Kata Rangga.
__ADS_1
"Baik tuan." Suster itu langsung mengiyakan permintaan Rangga, dan tanpa menunggu lama suster langsung menuju ke kamar VIP dimana Maurin di rawat.
Rangga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menembus sepinya malam dini hari, dan tidak membutuhkan waktu lama mobil itu sampai di rumah milik sang mamah. Dengan segera satpam membukakan pintu pagar untuk Rangga lalu mobil Rangga segera masuk.
"Mamaaaahhh." Rangga trus memanggil Eli dengan trus mengetuk pintu kamar milik orang tuanya itu.
Sampai ketukan yang tidak kunjung ada hentinya membuat tidur Eli terganggu, dengan masih merasa kantuk Eli segera bangkit lalu berjalan mendekati pintu.
"Ada apa Ga, kok tiba tiba ke rumah. Gak ada yang terjadi apa apa kan pada Maurin?." Tanya Eli, tentu Eli sedikit panik ketika Rangga tiba tiba saja datang di waktu yang tidak tepat.
"Mah, apa mamah bisa buat Bika Ambon, pasti bisakan mah." Rangga langsung bertanya tentang Eli apakah bisa untuk membuatkan kue itu.
"Bisa Ga, tapi ada apa pagi pagi buta udah tanya tentang Bika Ambon?." Tanya Eli, sungguh tidak menyangka dengan permintaan dari putranya.
"Makanya kok tiba tiba banget, ada
yang lagi ngidam rupanya." Kata Eli lalu tersenyum.
"Yaudah mamah mau ganti baju sama cuci muka dulu." Lanjut Eli lalu kembali masuk ke dalam kamar dengan menggulung rambutnya.
Rangga yang melihat Aden tengah tertidur pulas bersama sang ayah, membuat menarik perhatian Rangga dan laki laki itu segera masuk ke dalam kamar. Sesaat Rangga menatap dalam ke arah Aden, rasanya begitu campur aduk saat melihat putranya terlelap. Dan dalam satu detik kemudian Rangga mengecup kening dari putranya.
"Rindu yah pada Aden, sampai ngelihatinyya seperti itu." Kata Eli yang baru saja keluar dari kamar mandi dan mendapati apa yang di lakukan Rangga.
__ADS_1
Rangga lalu bangkit, saat mendengar perkataan Eli. "Rindu sekali mah, di tambah aku yang jarang sekali meluangkan waktu untuk dia." Jawabnya.
"Yaaahh mamah sekarang cuman bisa berharap Ga, nanti kamu bisa bersatu dengan Maurin. Di tambah nanti Maurin sekarang lagi mengandung anakmu. Gak nyangka juga kamu akan jadi ayah dengan dua anak." mungkin karna Rosma yang sudah mengabdikan dan bekerja di rumahnya sangat baik, membuat Eli cukup senang pada Maurin.
"Tadinya Rangga sempat berfikir jika mamah tidak akan merestui hubungan Maurin dan Rangga, tapi di luar fikiran Rangga mamah bisa menerima dia." Kata Rangga, yang tentu terbesit rasa senang saat restu dari mamahnya mudah tergapai.
"Mamah sih mau kamu sama siapa aja gak masalah GA, yang penting jangan seperti Bella. Sudah cukup mamah mempunyai menantu seperti dia."
Setelah obrolan ringan itu usai, Eli bergegas menuju ke dapur dan di ikuti oleh Rangga. Selama obrolan anak dan ibu itu berlangsung sosok ayah yang tidak lain adalah Ivan benar benar tidak terganggu sama sekali. Laki laki paruh baya itu tetap tertidur nyenyak.
Selama proses pembuatan Bika Ambon sesekali Rangga mencoba membantu mamahnya dalam memasak entah mengaduk adonan lalu memindahkan pada loyang atau mengambilkan bahan yang di minta sang mamah.
Setelah berkutat cukup lama di dapur sampai ayam tengah berkokok tanda waktu subuh sudah menginjak, akhirnya Bika Ambon permintaan Maurin telah siap.
"Cepet kamu antar langsung ke Maurin kasian dia menunggu makanannya." Kata Eli sembari memberikan Bika Ambon yang sudah tersusun rapi di kotak.
"Makasiih mah, kalau gitu Rangga kesana dulu."
"Hati hati Ga." Kata Eli.
Rangga segera berlalu dengan sebelumnya mengecup kening sang mamah, laki laki itu dengan perasaan bahagianya membawa Bika ambon yang di inginkan Maurin.
Sesampainya di rumah sakit Rangga melangkah pasti, senyuman seakan terus terlukis di bibirnya, laki laki itu tidak lagi peduli akan penampilannya yang berantakan setelah membantu sang mamah membuatkan Bika Ambon. Yang terpenting saat ini Rangga merasa bangga bisa membawakan apa yang di inginkan Maurin terlebih dia juga ikut peran dalam pembuatan Bika Ambon itu.
__ADS_1