Pembantu Pengganti

Pembantu Pengganti
Bab 30


__ADS_3

Rangga bergegas untuk masuk ke dalam rumah Namun, anehnya saat Rangga hendak membuka pintu laki laki itu heran pintu itu tidak dapat di buka dan sepertinya terkunci dari dalam.


Tak putus usaha Rangga mencoba memencet bel rumah beberapa saat Rangga menunggu agar Maurin membukakan pintu rumah. Namun, beberapa kali Rangga memencet bel tidak ada sautan dari dalam bahkan tidak ada tanda tanda jika Maurin bergerak ke arah pintu.


Mengingat kejadian di saat Maurin hampir saja di perkosa oleh Aditya, membuat Rangga seketika merasa panik, Rangga memencet cepat bel rumah dan masih belum membuahkan hasil Rangga segera berlarian menuju garasi lalu membuka mobil dan mencoba mencari kunci cadangan di dashboard.


Setelah berhasil mendapatkannya Rangga bergegas kembali, dan segera membuka pintu. Setelah pintu terbuka laki laki itu segera masuk dengan memanggil manggil nama Maurin, nafas yang sedari tadi ingin terhenti karna kekhawatiran yang begitu dalam langsung berhembus lega kala Rangga melihat Maurin tengah menonton sebuah film di lengkapi dengan menggunakan headset.


Maurin menoleh menatap ke arah Rangga, kala menyadari kedatangan seseorang. Seketika senyumannya mengembang gadis itu merasa senang kala melihat kedatangan Rangga dan headset yang menempel di telinganya segera di lepas.


"Tuan!." Panggilnya lalu berdiri meninggalkan aktivitasnya.


"Kenapa kamu mengunci pintu Rin, sedari tadi aku memanggil tapi gak ada jawaban." Rangga langsung meruntuhkan pertanyaan pada Maurin, kekhawatirannya begitu membuatnya panik.


"Ma- maaf tuan, aku hanya takut ada seseorang yang masuk selain tuan. Sedari tadi setelah bangun aku hanya teringat akan kejadian itu, dan membuatku tidak tenang maka dari itu aku memutuskan untuk menonton saja dengan semua jendela dan pintu aku kunci." Jelas gadis itu menampakkan wajah bersalahnya.


Seketika raut wajah Rangga berubah, laki laki itu luluh melihat Maurin yang memelas dan merasa bersalah.


"Baiklah tidak apa apa, lain kali kamu kalo gak tau mau ngapain, kamu kan punya ponsel dan bisa mengabariku terlebih dahulu, aku hanya khawatir." Jawab Rangga berusaha memberi pengertian pada Maurin.


"Baik tuan." Jawab Maurin lalu mengangkat kepalanya tersenyum pada laki laki itu.


"Yaudah saya mau bebersih dulu, setelah ini aku akan ikut bergabung menonton." Kata Rangga sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Maurin.

__ADS_1


****


"Lalu apa yang akan kamu rencanakan Dit?." Tanya Bella yang sudah jelas akan mengikuti rencana Aditya dalam membalaskan kekesalannya karna aduan Rangga pada orang tuanya.


"Aku akan mengajak Rangga bertemu malam ini!." Jawab Aditya, yah laki laki itu kembali ke kediaman Bella setelah bertemu dengan orang tuanya. Rasanya berada rumahnya sendiri Aditya merasa kepalanya akan pecah melihat kemarahan kedua orang tuanya yang belum juga surut.


"Ini baru langkah awal Bel, jika tidak berhasil kita akan melakukan rencana lain, yang terpenting aku harus bertemu dengan Rangga. Karna kunci dari lancarnya rencana ini aku harus bertemu dengan dia." Jawab Aditya, dengan alur rencana yang sudah terancang di otaknya.


"Lakukanlah selagi itu bisa membalaskan apa yang sudah di perbuatnya padamu, sekalian itu juga dapat menghancurkan hidup gadis itu."


Kata Bella memepercaiyai apa yang akan Aditya lakukan.


Aditya segera meraih ponsel yang di letakkan di meja, menekan sebuah nama yang tersimpan di ponselnya lalu segera memanggil nomor itu.


Di lain tempat Rangga yang tengah akan memakai pakaiannya setelah selesai mandi, lalu melirik ke ponselnya yang berbunyi alisnya terangkat sebelah kala melihat siapa yang tengah menelfonnya, Rangga pun menebak jika Aditya pasti akan menumpahkan segala amarahnya.


"Apa kita bisa bertemu?." Tanpa basa basi Aditya langsung saja mengutarakan keinginannya untuk bertemu dengan Rangga.


"Apa itu harus aku lakukan Dit." Jawab Rangga tersenyum mengejek.


"Aku akan tunggu kedatanganmu malam ini di sebuah Club Blue Night, tapi jika memang kamu berani untuk datang bukan hanya berani mengadu pada orang tuaku." Katanya terkekeh Aditya mencoba memancing amarah dari Rangga.


Panggilan telfon itu langsung di putus oleh Aditya tanpa menunggu jawaban dari Rangga, mendengar perkataan dari Rangga seketika Rangga mengepalkan genggamannya. Apa yang dia lakukan agar Aditya merasa jera, dengan apa yang sudah di lakukan dan apa yang di lakukannya malah menjadi bahan untuk Aditya menghinanya dan Rangga tidak akan diam saja dengan apa yang di katakan Aditya, laki laki itu memutuskan untuk mengganti pakaiannya selayaknya bagaimana dirinya biasa memakai pakaian saat berada di luar rumah.

__ADS_1


Aditya tersenyum setelah memutuskan panggilannya pada Rangga, laki laki itu sudah merasa yakin akan rencananya yang akan berjalan lancar.


"Jika aku tidak berhasil dalam rencana sebelumnya dan Maurin juga terlanjur membenciku, jadi aku akan membuat Rangga tertarik juga dalam posisiku." Ucapnya setelah meletakkan ponsel di atas meja.


"Maksudmu Dit?." Tanya Bella, masih tidak mengerti dengan rencana Aditya.


"Kamu akan mengerti sendiri Bel, aku harus siap siap dulu untuk menemui Rangga." Aditya lalu bangkit menuju kamar bawah dimana disana ada beberapa pakaiannya yang dengan sengaja di tinggalkan di kediaman Bella.


Sedangkan Rangga sudah rapi dengan pakaiannya, laki laki itu segera keluar untuk menemui Maurin. Saat Rangga berjalan ke arah Maurin gadis menatap Rangga yang tengah menghampirinya.


"Rin, aku harus keluar ada urusan mendadak, kamu jaga diri baik baik." Ucap Rangga pada Maurin.


Maurin yang sedari tadi memang menunggu Rangga, sedikit merasa kecewa kala Rangga ternyata tidak bisa untuk bersamanya. Sekali lagi Maurin mencoba menyadarkan dirinya jika dia hanya seorang pembantu di rumah itu.


"Baik tuan, gapapa... Hati hati." Kata Maurin meski terselip rasa kecewanya.


Laki laki itu segera berlalu, tiba tiba saja Maurin kembali melihat sosok Rangga yang dingin, entah kenapa sikap laki laki itu tiba tiba berubah.


"Tenang Rin, jangan terlalu kamu pikirkan bukankah memang dia sudah seperti itu sejak pertama kali bertemu." Gumamnya menyadarkan dirinya, agar perasaannya tidak terlalu larut akan sikap Rangga yang baru baru ini memperlihatkan perhatiannya pada Maurin.


Melihat kepergian Rangga, Maurin memutuskan untuk tidak melanjutkan menonton, gadis itu lebih memilih untuk bangkit dan kembali ke dalam kamarnya.


****

__ADS_1


Aditya yang lebih dulu sampai di Club, memilih untuk memesan wine yang berkadar alkohol tinggi yang terkandung perangsang di dalamnya. Aditya mulai menjalankan rencananya dimana rencana kali ini dia dalam sekali gayung dua pulau terlampaui. Bukan hanya menghancurkan nama Rangga di mata Maurin tapi juga dapat menghancurkan kehidupan Maurin.


Setelah memesan minuman dan beberapa cemilan, Aditya memilih tempat untuk digunakannya menunggu kedatangan Rangga.


__ADS_2