Pembantu Pengganti

Pembantu Pengganti
Bab 14


__ADS_3

Saat Rangga kembali keluar setelah masuk dengan membanting pintu, telinganya mendengar Isak tangis yang sepertinya berusaha untuk di tahan.


Saat mendengar isak tangis Maurin, hati Rangga tiba tiba terenyuh dan rasa bersalah menghinggap di benaknya, sedangkan Rangga baru pertama kalinya merasakan hal itu, entah kenapa apa sedangkan dirinya tidak terlalu memperdulikan saat Bella dulu menangis , atau mungkin dulu karna Bella yang membuat hati Rangga menjadi membeku dan dingin seperti sekarang, dan karna Maurin lah saat ini yang menjadi alasan hatinya mulai mencair.


"Apakah aku tadi terlalu keras, sampai dia menangis." gumam Rangga, lalu semakin mendekati pintu kamar Maurin.


Rasa bersalah itu semakin besar, kala isakan Maurin semakin terdengar saat Rangga mendekati pintu kamarnya dan kini laki laki itu sudah berada tepat di depan pintu kamar Maurin.


Entah bisikan dari mana berawal hanya mendekati pintu kamar, kini tangan Rangga mulai menyentuh handle pintu, dengan pelan Rangga membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Saat pintu sedikit demi sedikit terbuka, terlihat kamar itu gelap.


Maurin yang sepertinya tidak menyadari kehadiran Rangga karna gadis itu menangis dan menutupi kepalanya dengan bantal, berharap dengan seperti itu suara tidak terlalu terdengar tapi ternyata suara tangisan itu semakin menggema.


Rangga masuk ke dalam kamar dengan langkah pelan, lalu menutup pintunya dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara. Rangga yang sudah masuk ke dalam kamar dengan sempurna melangkah lebih dekat.


"Apa ucapanku terlalu menyakiti hatimu..."


Maurin yang tiba tiba mendengar suara berat itu, seketika langsung menghentikan tangisnya dan dengan cepat mengusap air matanya, gadis itu mencoba melihat siluet dari tubuh Rangga karna kegelapan di kamarnya yang membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas dimana sekarang Rangga berada.


Maurin yang tidak mengetahui dimana Rangga berdiri langsung meraba raba kasur dan segera menurunkan kakinya, lalu segera berdiri ketika gadis itu melangkahkan kakinya.


"Buuugghh." Maurin menabrak tubuh tegap Rangga yang ternyata berada tepat di depannya.


Maurin yang kehilangan keseimbangan dengan asal mencari pegangan dan dengan erat gadis itu mencengkram baju Rangga, laki laki itu yang juga tidak siap dengan cengkraman Maurin tubuh itu juga kehilangan keseimbangan.


"BRUUUGH." Akhirnya Rangga yang tidak siap dengan serangan mendadak itu, membuat Rangga dan Maurin terjatuh bersamaan di atas kasur, dengan posisi Rangga yang berada di atas tubuh Maurin.

__ADS_1


Keduanya sesaat sama sama terdiam di dalam kegelapan dengan hidung mancung keduanya yang saling bersentuhan, diantara keduanya yang saling diam hanya terdengar hembusan nafas keduanya yang saling beradu, waktu seakan terhenti, namun detak jantung terdengar sama sama memburu, sungguh situasi yang mencanggungkan yang membuat Maurin dan Rangga sama sama berdebar.


"Ma-maaf tuan, saya gak bisa nafas." kata Maurin yang menahan berat tubuh Rangga yang menimpanya.


Rangga langsung tersadar setelah mendengar perkataan Maurin, Rangga dengan cepat bangkit, dan Maurin juga sebaliknya gadis cantik itu segera bangkit.


Setelah berdiri Maurin melangkah dan menuju dimana saklar lampu berada, dan sekali tekan kamar itu akhirnya terang, Maurin denga pelan membalikkan tubuhnya dan terlihatlah Rangga yang masih berdiri di dekat kasur.


Kamar yang sudah terlihat terang, membuat Rangga bisa melihat mata Maurin yang sembab akibat menangis yang terlalu lama, Maurin yang hanya diam saja setelah menghidupkan lampu, dan masih mematung di tempat yang sama, Rangga yang mengetahui jika Maurin pasti merasakan canggung, laki laki itu lebih memilih untuk menghampiri Maurin.


Maurin merapatkan tubuhnya ke dinding kala melihat Rangga yang semakin mendekat ke arahnya, jujur saja gadis itu merasa sedikit trauma setelah beberapa saat yang lalu dia mendapatkan bentakan dari Rangga.


"Maafkan aku karna tidak dapat mengontrol emosiku sampai aku membentakmu." ucap Rangga dengan suara lirih, Namun, masih jelas terdengar oleh Maurin.


Beberapa saat keheningan hadir di antara keduanya, Mata tajam Rangga trus menatap mata sayu milik Maurin, wajah itu semakin dekat dan semakin mendekat sampai hembusan nafas dari keduanya sama sama terasa.


Kalo ini Rangg benar benar seperti tidak dapat mengontrol perasaannya, perasaan yang entah Rangga sendiri tidak heran dengan perasaannya sendiri, atau laki laki itu tidak menyadari jika dirinya mulai tertarik pada Maurin.


Wajah itu sekarang sudah sangat dekat, bahkan hidung keduanya saling menempel, dan ketika Rangga akan menyatukan bibirnya, tiba tiba saja suara dering ponsel membuyarkan semuanya, dan seketika Maurin langsung menjauhkan wajahnya lalu keluar dari kukungan Rangga, sedangkan Rangga langsung berdiri tegap.


Dering ponsel yang masih tidak kunjung berhenti, Rangga memilih untuk mebgambil ponselnya, saat Rangga melihat siapa yang menelfonnya laki laki itu langsung keluar dari dalam kamar tanpa meninggalkan satu kata pun pada Maurin.


Maurin yang melihat Rangga sudah keluar, langsung menghampiri pintu dan segera menutupnya dan tidak lupa untuk mengunci pintu itu.


"Ya tuhaaan, apa tuan Rangg sedang kerasukan, kenapa dia tiba tiba bersikap seperti tadi." gumam Maurin setelah dapat bernafas dengan lega setelah Rangga keluar dari dalam kamarnya.

__ADS_1


Antara merasa senang, kaget, dan bingung yang saat ini Maurin rasakan, sikap Rangga yang cukup manis itu mampu memporak porandakan perasaan Maurin saat ini.


Rangga yang mendapat telfon dari Bella, tentu laki laki itu tidak bisa menolaknya karna, Rangga khawatir kala Bella menghubunginya ada sesuatu yang berhubungan dengan Aden putranya.


Namun, sudah sekian lama ternyata sebuah telfon dari Bella ternyata hanya sebuah telfon biasa dimana Bella hanya ingin mencari perhatian pada Rangga.


"Lagi apa Aden sekarang." tanya Rangga lewat sambungan telfon yang belum usai, Rangga mencoba mengalihkan pembicaraan dengan bertanya tentang Aden.


"Ooohh ayolah Nggaa... Aden pasti akan selalu baik baik saja selama bersamaku, apa kamu tidak bisa hanya fokus pada pembicaraan kita saja." Bella tampak memutar bola matanya malas, kala mengetahui jika Rangga ingin mengalihkan pembicaraan.


"Oh yah Nggaa... Omong omong Art mu itu masih menginap di situ kah?." Bella mencoba mengubah topik pembicaraan karna rasa penasarannya yang juga menuntut Bella, dan sekaligus Bella ingin mengetahui lebih dalam tentang Maurin.


"Iyah dia masih menginap disini, karna memang dia sudah punya kewajiban untuk bekerja dimana pekerjaannya yang menuntut dia harus menginap." jawab Rangga.


"Oh ya Ngga besok aku kesana yah sama Aden." seakan tidak ingin panggilan itu cepat terputus Bella trus mencoba mencari topik pembicaraan.


"Datanglah kesini jika kau mau Bell, rumahku terbuka lebar untuk kau dan Aden."


Setelah mendengar jawaban dari Rangga, Bella hanya tersenyum di sebrang sana.


"Baiklah Ngga, jika kamu ingin istirahat, aku akan mematikan telfonnya."


"Baiklah, aku matikan dulu." Rangga segera memutuskan panggilan itu dengan segera.


Bella merangkai senyuman di bibirnya, setelah panggilan telfon itu langsung terputus.

__ADS_1


__ADS_2