Pembantu Pengganti

Pembantu Pengganti
Bab 36


__ADS_3

Entah di sengaja atau tidak gadis itu semakin tidak memperdulikan lagi tentang kehadiran Rangga, Sedangkan Revan semakin terlihat jika dia berusaha untuk mendekati Maurin. Sembari keasyikan mengobrol Revan menyelipkan kesempatan dengan merangkul kan lengannya di pundak Maurin, dan tentu apa yang di lakukan Rangga membuat keduanya semakin terlihat dekat. Di tambah sesekali obrolan itu di selangi dengan tawa mereka.


Semakin lama Rangga memperhatikan semakin panas pula hatinya, tangannya mengepal erat, urat urat di lehernya terlihat jelas kala rahangnya mengerat. Dan sekali lagi tawa di antara mereka kembali terdengar Rangga terus memperhatikan. Dan di titik ini lah emosinya sudah tidak terbendung lagi kala Revan dengan penuh perhatian mengusap sisa makanan yang tertinggal di bibir Maurin.


Rangga segera menetapkan tubuhnya, mata elang itu menatap menghunus ke arah mereka dan Maurin yangvtidak menyadari jika Rangga tengah berjalan menghampiri mejanya.


Rangga langsung menggenggam erat tangan Maurin lalu menariknya dan gadis yang tidak siap akan apa yang di lakukan Rangga, tentu saja langsung menabrak tubuh Rangga kala Rangga dengan cukup kasar menariknya dalam posisi terduduk.


Sontak Elea dan Revan terlihat terkejut dengan apa yang di lakukan oleh laki laki yang bahkan tidak di kenalnya itu.


"Apa kau sengaja melakukan ini di depanku." Ucap Rangga dengan menekankan kata katanya.


Revan yang melihat Maurin seperti tertekan laki laki itu langsung berdiri, dengan kasar Revan menarik Maurin dan mengalihkan Maurin ke dalam pelukannya. Revan lalu mendorong Rangga dengan cukup kasar, tentu Rangga terpancing emosi laki laki itu langsung menghampiri Revan tidak terima akan apa yang di lakukan Revan. Rangga tanpa banyak bicara langsung mendaratkan bogeman mentahnya.


Buuuugggh


"Aaaahhh Vaaaannn..." Maurin berteriak histeris, lalu segera menghampiri Revan yang sudah tersungkur ke bawah.


Elea pun tidak kala terkejut kala keributan untuk menjadi semakin membesar, denga sigap gadis itu segera memanggil satpam. Agar segera menghentikan kekacauan ini, Satpam pun segera datang dan segera mencegah Rangga ketika akan kembali menghajar Revan.


Rangga mengibaskan tangan satpam yang hendak memegangnya, laki laki itu mendorong satpam. Lalu tanpa banyak kata langsung menarik Maurin dengan kasar.


"Lepasin tuan." Ucap Maurin sembari berusaha melepaskan cengkraman tangan Rangga.

__ADS_1


"Jangan pernah macam macam pada saya, karna Maurin sudah terikat dengan saya." Rangga tidak menghiraukan berontakan Maurin, dan lebih memilih memberi peringatan pada Elea dan Revan.


Setelah mengatakan itu semua Rangga langsung menarik Maurin agar mengikuti langkahnya dan membawa Maurin kembali ke rumahnya, selama langkahnya menuju basement banyak pasang mata yang memperhatikan mereka tapi Rangga tidak memperdulakannya sama sekali ketika dirinya sudah di kuasai amarah.


"Apa sebenarnya hubungan Maurin dengan laki laki itu El?." Tanya Revan sembari di bantu Elea untuk berdiri.


"Aku gak tahu Van, selama ini Maurin tidak cerita apa apa padaku." Jawab Elea yang memang Maurin merahasiakan tentang hal ini pada Elea.


Akhirnya Revan dan Elea memutuskan untuk pulang dengan membawa kekecewaan serta rasa penasarannya pada Maurin.


Dada Maurin bergemuruh dan berdetak cepat, Rangga mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh hingga Maurin merasakan takut, terlihat jelas kemarahan dari wajah Rangga.


"Ke- kenapa tuan melakukan ini padaku." Maurin memberanikan diri bersuara di tengah kemarahan Rangga yang memuncak.


Rangga dengan cepat melepaskan sabuk pengaman miliknya, lalu menatap tajam ke arah Maurin yang seakan tengah di pojokkan. Maurin seketika terdiam melihat wajah kemarahan Rangga yang menakutkan.


Dengan satu tangan kekarnya Rangga mencengkram rahang Maurin, Rangga menatap menusuk melalui tatapan tajamnya.



Tanpa aba aba Rangga langsung membungkam bibir Maurin dengan bibirnya, laki laki itu mengunci kedua tangan Maurin dengan tangan kirinya. Sungguh Maurin terkunci dalam ciuman itu. Rangga terus menelisik Rongga yang terasa manis dengan perpaduan matcha yang masih melekat, laki laki itu dengan kasar terus menghisap sampai dimana pasokan oksigen di antara keduanya telah berkurang.


"KENAPA DI LEPAS!! KENAPA SEKALIAN TIDAK MEMBUNUHKU SAJA SAMPAI AKU KEHILANGAN NAFAS." Maurin memukul dada bidang Rangga, tangis Maurin langsung pecah sedangkan Rangga hanya diam saja setelah melakukan itu semua yang tanpa di pungkiri rasa bersalahnya semakin besar di tambah isakan Maurin yang begitu menyayat.

__ADS_1


Rangga segera melepaskan sabuk pengaman yang masih melingkar di tubuh Maurin, laki laki itu langsung membawa Maurin ke dalam pelukannya.


"Apa kau masih belum puas tuan, setelah merenggut kesucianku kau sekarang dengan seenaknya menciumiku dengan kasar hikss... Apa setidak bergunanya itu aku di matamu." Maurin langsung mengeluarkan semua apa yang di pendam, Rangga semakin memeluk erat Maurin dalam dalam dekapannya.


Air mata keduanya sama sama menetes, Rangga yang mendapat kata umpatan dari Maurin tidak membalasnya laki laki itu menerima semua apa yang di katakan dan di lakukan Mauri , Rangga membiarkan semuanya keluar agar Maurin merasa tenang.


Setelah cukup lama di dalam mobil, akhirnya Maurin mulai tenang, keduanya kini kembali saling diam. Rangga segera memesangkan seat belt pada Maurin dan bergantian dengan dirinya. Setelah itu Rangga segera melajukan mobilnya menuju kediamannya.


****


Keesokan harinya di pagi hari Maurin tetap menjalankan tugasnya sebagai pembantu, matanya terlihat sembab. Namun, meski begitu Maurin tetap melakukan pekerjaannya secara profesional. Setelah melakukan pekerjaannya Maurin sudah merencanakan sesuatu, tentu rencananya akan di bantu oleh Revan dan Elea. Setelah menyelesaikan lebih awal pekerjaannya, Maurin diam diam keluar dari rumah itu, hari dimana kebetulan dirinya tengah libur sekolah Maurin meminta untuk bertemu dengan Elea dan Revan. Selain akan merencanakan sesuatu Maurin juga ingin menjelaskan semuanya pada kedua temannya.


Di depan gerbang sudah menunggu sebuah taksi yang sudah di pesannya, Maurin terburu buru segera masuk ke dalam mobil itu. Dan menyuruh agar sang supir segera menjalankan mobilnya, gadis itu menghela nafas lega setelah dirinya mulai menjauh dari rumah itu. Dan selama perjalanan Maurin mencoba menelfon Elea dan berbicara tentang dimana tempat mereka akan bertemu.


Setelah sampai di sebuah cafe yang mengangkat tema outdoor, Maurin segera masuk lalu mengedarkan pandangannya mencari dua sosok sahabatnya.


"Eeell." Panggil Maurin ketika dirinya sudah menemukan Elea.


"Sini Rin." Elea langsung melambaikan tangan dan meminta Maurin untuk menghampirinya.


Maurin langsung memeluk sahabatnya itu dengan erat, melepaskan sedikit beban yang di tanggung ya. Sedangkan Revan hanya menatap keduanya sembari tersenyum tipis.


Ketiganya pun segera duduk, seperti niat awal Maurin pun menceritakan semuanya pada Elea dan Revan, yang tidak ada satupun yang terlewat termasuk tentang kejadian malam itu dimana Rangga merenggut kesuciannya.

__ADS_1


__ADS_2