
"Apa kamu sadar, dengan apa yang kamu lakukan barusan Ga?." Kata Ivan yang juga merasa sedikit kesal pada putranya itu.
Rangga terdiam, tidak langsung menjawab perkataan dari Ivan. "Rangga tidak bisa mengontrol emosi Rangga pah, karna Rangga tidak mau kehilangan Maurin dan calon anak Rangga." Jawab Rangga sedikit frustasi karna emosinya membuat Rangga tidak sadar akan emosinya.
"Yah kamu berarti harus menahan emosi kamu Ga, mau gak mau itu harus. Kalau memang kamu tidak setuju dengan keputusan Maurin. Apa salahnya untuk menerimanya terlebih dahulu. Dari pada harus seperti ini kamu bisa bisa kehilangan keduanya." Ivan seakan geram dengan sikap Rangga yang tidak berubah tentang menahan emosi. Rasanya Rangga sulit sekali untuk menghilangkan sifatnya yang satu ini.
"Udaaah... udah lanjut nanti di rumah jangan ribut di rumah sakit. Dan kamu Rangga camkan semua perkataan papahmu itu, belum belum udah mau merusak hubungan kamu itu." Eli langsung melerai di antara keduanya, sedangkan Rangga hanya menunduk dengan fikirannya berlarian kesana kemari.
"Sepertinya Maurin masih ingin berdua bersama ibunya. Lebih baik kita pulang lebih dahulu, kita berikan mereka waktu." Kata Eli lagi, yang meminta untuk pulang terlebih dahulu.
Tentu mendengarkan itu Rangga langsung mengangkat kepalanya menatap ke arah Eli. "Mamah, papah dan Aden saja yang pulang. Aku masih mau disini mah..." Kata Rangga yang tidak ingin ikut untuk pulang.
"Mau melawan lagi kamu Ga, mamah bilang pulang yah pulang." Putus Eli, tidak menerima penolakan dari Rangga.
Bagaikan anak kecil yang di marahi oleh ibunya, Rangga akhirnya menuruti perintah dari Eli tanpa ada perlawanan lagi. Toh nanti dia bisa kembali lagi ke rumah sakit itu, yang terpenting Rangga harus meluluhkan hati dari mamahnya itu.
"Buu... Kapan sih Maurin pulang. Kenapa masih lama, Maurin udah gak tahan Bu disini. Maurin pengen balik aja ke rumah bibi." Rengek Maurin, masih belum genap seminggu berada di rumah sakit Maurin sudah memohon untuk kesekian kalinya meminta pulang, sedangkan Maurin sendiri sudah tahu apa jawabannya.
"Kamu yang sabar dong Rin, ini juga demi kebaikan kamu dan anakmu disini. Kamu mau kalau memaksa pulang nanti ada apa apa dan malah membahayakan kesehatanmu dan janinmu." Kata Rosma yang sudah merasa bingung harus membujuk seperti apa lagi pada Maurin.
Maurin yang mendengar perkataan Rosma langsung menggeleng. "Makanya nurut dulu nak, dan satu lagi kamu juga harus makan yang lahap dan minum vitamin dari dokter biar keadaanmu cepet stabil dan segera pulang.
__ADS_1
"Iyah Bu, Maurin akan melakukannya." Jawab Maurin lalu perempuan itu meminta pelukan dari ibunya, sifat manjanya seketika langsung keluar. Rosma hanya bisa tersenyum kala melihat perubahan dari putrinya.
Ketika Maurin dan Rosma masih melanjutkan obrolan, tiba tiba saja pintu di ketuk lalu tidak lama seorang suster masuk bersama dokter laki laki yang biasanya menangani Maurin.
"Gimana kabarnya, sudah merasa lebih baik?." Sapa dokter itu dan tidak lupa menanyakan tentang keadaan Maurin.
"Baik dok, dan sudah mulai enakan dok." Jawab Maurin.
Dokter itu segera memeriksa keadaan Maurin sedangkan sang suster mengganti cairan infus Maurin yang harus di ganti dengan infus baru.
"Keadaannya sudah mulai membaik dan stabil, tinggal nunggu beberapa hari lagi, nanti jika semakin membaik kamu bisa boleh pulang." Kata Dokter itu melegakan Bu Rosma yang menyimaknya.
"Makasiiihh yah Dok..." Kata Bu Rosma pada Dokter laki laki itu.
Setelah tugasnya selesai Dokter itu segera pamit pada Bu Rosma, dan kini tinggalah hanya Maurin dan Bu Rosma saja.
"Tuh dengerin apa kata Dokter, udah mulai membaik tapi harus jaga makan, minum vitamin sama jaga fikiran. Biar cepet bisa pulang." Ujar Bu Rosma kembali mengingatkan pada Maurin.
"Yaah Bu, kalau gini Maurin akan rajin makan kok walau mual." Jawab Maurin.
****
__ADS_1
Jam terus berlalu dan hari beranjak mulai petang, sejak kejadian Rangga dan Maurin bertengkar sampai detik ini Rangga tidak kembali untuk menemui Maurin. Sedangkan Maurin sedikit harap harap cemas, antara masih marah pada Rangga tapi hormon kehamilannya seakan mendorong Maurin untuk ingin dekat dengan Rangga.
Malam masih menunjukkan pukul 19.30 wib, dokter malam ini sepertinya sedikit telat untuk memeriksa Maurin. Dan ketika Maurin hendak bertanya pada sang ibu. Tiba tiba saja pintu di ketuk dan Maurin mengurungkan niatnya untuk bertanya karna sudah menebak jika dokter sudah datang.
Sesaat setelah pintu di ketuk dugaan Maurin memang benar, seorang dokter bersama susternya masuk, namun beda dari sebelumnya dokter yang kali ini datang untuk memeriksanya bukanlah dokter yang sudah Maurin kenal. Melainkan dokter itu adalah dokter yang berbeda, wajahnya tampan dengan rahang kokohnya, tampak usianya jauh lebih muda dari dokter sebelumnya. Bahkan usia mereka sepertinya terpaut sangat jauh.
"Malam..." Sapanya pada Maurin, suara itu tampak terdengar dingin. Namun, seorang itu berusaha untuk ramah pada Maurin dengan melemparkan senyuman tipis.
"Malam dok..." Maurin dan Rosma dengan kompak menjawab, dan Rosma pun sedikit bertanya tanya kenapa bukan dokter biasanya yang memeriksa.
Tanpa banyak kata, Dokter itu segera memeriksa Maurin. Jelas dan itu pasti jika Maurin sedikit gugup, jika dokter sebelumnya cukup aktiv dalam bertanya. Terbalik dengan dokter yang satu ini yang lebih banyak diamnya dengan aura ketegasannya. "Mulai hari ini sampai nanti pulang, saya yang akan menggantikan papah saya yang harus saya gantikan posisinya karna harus menangani pasien lain." Pada akhirnya dokter itu mengeluarkan suaranya di tengah tengah dia memeriksa Maurin.
Dan setelah mendengar ucapan dari dokter itu, Maurin reflek mengangguk angguk tak luput juga dengan Rosma. Ketika sedikit ada kejutan karna dokter tampan ini adalah putra dari dokter sebelumnya.
Setelah memeriksa Maurin, dokter yang tidak lain bernama Kevin itu segera menjelaskan tentang keadaan Maurin dan apa saja nasihat agar Maurin segera pulih. Setelah menyelesaikan tugasnya dokter Kevin segera pamit pada Maurin dan Rosma.
Pintu segera di tutup oleh suster. "Apakah dia sudah lama berada disini sus?." Tanya Dokter Kevin sembari berjalan.
"Masih belum genap seminggu dok." Jawab Suster dan hanya di jawab anggukan oleh Dokter Kevin.
"Ngelihat Dokter tadi aku kok jadi takut yah Bu saat dia meriksa dingin banget kayak es batu beda sama ayahnya." Kata Maurin pada ibunya.
__ADS_1
"Yah sebenarnya sama aja Rin, cuman kamu udah terbiasa sama dokter sebelumnya." Jawab Rosma.