
Rangga keluar dari sekolahan dengan kekecewaannya, Rangga kini menjadi bingung harus kemana lagi mencari informasi tentang keberadaan Mauri. sedangkan dirinya mengenal Maurin tidak terlalu lama membuat Rangga tidak mengetahui banyak hal tentang Maurin.
Rangga yang tidak bisa lagi berfikir harus kemana, laki laki itu kembali untuk tidak masuk bekerja. Di dalam mobil dengan laju yang cukup kencang Rangga menelfon sekretarisnya agar menangani pekerjaan di kantor.
"Kenapa kamu malah pergi Rin!, Apa ini karna sikapku yang terlalu kasar padamu. Tapi tidak seharusnya kau seperti ini." Kata Rangga sungguh tidak bisa berfikir dengan kenekatan Maurin yang benar benar bisa meninggalkannya.
Gadis itu ternyata masih cukup mempunyai keberanian, rencana yang di susu cukup mulus. Maurin pergi seakan meninggalkan banyak beban untuk Rangga.
Braakkk
Rangga membuka pintu dengan kencang, nafasnya tidak teratur kepergian Maurin membuatnya cukup frustasi. Penampilannya cukup berantakan. Di tengah ketidakkaruannya Rangga saat ini, tiba tiba saja Bella datang, entah kenapa wanita itu mengetahui jika dirinya berada di rumah.
"Ga... Kamu kenapa?." Bella langsung menghampiri Rangga yang kini penampilannya sangat berantakan.
Rangga seketika menoleh setelah mendengar suara yang tidak asing baginya.
"Untuk apa kau kesini?." Ucapnya kala melihat kedatangan Bella.
"Saat di jalan aku tidak sengaja melihat mobilmu Ga, dan sepertinya kamu menyetirnya cukup kencang dan pasti aku khawatir Ga." Jawab Bella.
"Pergilah... Aku tidak perlu kau khawatirkan." Rangga langsung menyuruh Bella untuk pergi, rasanya setelah mengetahui Maurin pergi dari rumah laki laki itu semakin tidak bisa mengontrol emosinya.
Bella melihat raut waja Rangga yang benar benar di balut emosi, Bella yang cukup mengetahui tentang Rangga setelah menjalani rumah tangga dengan laki laki itu. Dia lebih memilih untuk pergi karna kali ini kemarahan Rangga tidak main main.
Rangga bergegas menuju ke dalam kamar setelah kepergian dari Bella, sekali lagi pintu kamar menjadi sasaran kekesalannya, Rangga membanting pintu kamar sampai suara keras itu menggema ke seluruh rumah.
*****
__ADS_1
Hari terus berlanjut, Maurin mulai terbiasa menjalani kehidupannya di desa bersama paman dan bibinya. Selama hidup di desa Maurin tidak pernah sekali melewatkan waktu belajarnya. Dengan di bantu Revan dan Elea yang selalu setia menjemputnya untuk ke sekolah, tentu Maurin pasti sedikit mengalami kesulitan ketika dirinya harus tetap sekolah dan menghindari Rangga yang sesekali mencarinya di sekolahan.
Hingga satu bulan berlalu, dimana Maurin sudah benar benar tidak menemui Rangga sama sekali. Bahkan Maurin sudah mencoba untuk melupakan laki laki yang pernah di sukainya itu.
Di pagi buta Maurin mengerjapkan matanya, mencoba mengumpulkan nyawa yang masih belum sepenuhnya kembali. Saat Maurin telah membuka matanya sempurna gadis itu tiba tiba merasakan rasa tidak nyaman di perutnya. Lalu dengan cepat Maurin segera bangkit dan berlari menuju ke kamar mandi.
"Hooeeekk..." Rasa mual itu tiba tiba menyerang, Maurin terus memuntahkan cairan kuning yang begitu terasa pahit, tidak banyak tapi rasanya Maurin begitu lemas saat perutnya terasa mual hebat.
"Ya ampun nduuk... Kamu kenapa?." Sang bibi yang mendengar kehebohan di pagi hari langsung menghampiri Maurin, yang tengah mual di dalam kamar mandi. Bibi trus memijat tengkuk gadis itu.
Setelah rasa mual itu telah mereda, Maurin langsung berkumur untuk menghilangkan rasa tidak enak di mulutnya, Maurin begitu terlihat lemas kala di pagi hari dirinya harus mengeluarkan tenaga.
"Duuuhh Bi, perut Maurin gak enak!." Keluhnya yang masih merasa lemas.
"Ayoo keluar dulu, biar bibi buatin teh hangat." Bi Risma langsung menuntun Maurin keluar dari kamar mandi, dan mendudukkannya di kursi dapur.
"Masuk angin pasti kamu Rin." Ujar sang paman yang melihat keadaan Maurin seperti orang yang mengalami masuk angin.
Bi Risma segera memberikan segelas teh manis hangat untuk Maurin, berharap agar rasa mual itu segera mereda.
"Habis ini biar bibi kerokin yah, mumpung masih pagi juga." Kata Bi Risma pada ponakannya.
"Yah Bi makasiih." Maurin pun segera meminum teh manis hangat buatan bi Risma, seketika kehangatan dari teh itu memberikan rasa nyaman di dalam perut Maurin.
Seperti janji sang Bibi, kini di dalam kamar dengan telaten Bi Risma mengerok punggung Maurin, guratan merah terlihat dari gosokan uang koin dengan minyak. Maurin terus memejamkan mata sembari menikmati kerokan dari Bi Risma, yang kini Maurin mulai merasakan jika kepalanya terasa berat.
"Udah selesai nih Rin, semoga aja setelah ini kamu udah merasa enakan yah." Kata Bi Risma, ketika kerokan itu selesai.
__ADS_1
Maurin yang sedari tadi terpejam langsung membuka matanya, gadis itu segera bangkit lalu memakai pakaiannya.
"Makasih yah Bi." Ucap Maurin.
"Sama sama, kalau gitu bibi keluar dulu. Lupa kalau hari ini bibi sedang datang bulan dan harus segera ganti pembalut"
Deg.
Seketika jantung Maurin berdetak hebat, mendengar kata datang bulan otak Maurin seketika langsung mengingat jika selama satu bulan lebih dirinya berada di rumah sang bibi. Maurin sama sekali belum mendapatkan tamu bulanan.
Tiba tiba saja fikirannya berlarian kemana man, di tambah dirinya yang kini tiba tiba merasakan mual. Maurin yang sudah mulai merasa tidak enak dan curiga akan keadaannya mulai menerka nerka apakah dirinya kini tengah hamil.
Tentu setelah kejadian itu Maurin memang sempat memikirkan bagaimana jika dirinya hamil, tapi pemikiran yang mencoba menangkan jika itu tidak akan mungkin karna dia melakukannya hanya sekali membuat Maurin jadi tidak terlalu memikirkan akan hal itu. Dan tanpa di minta air matanya lolos begitu saja membasahi pipinya di pagi hari.
"Aku harus memastikannya." Gumam Maurin, yang berniat akan membeli test kehamilan jika nanti sudah di jemput Revan dan Elea ketika akan berangkat sekolah.
Fikiran tentang kehamilan semakin memenuhi otaknya, di tambah ketika Maurin mencoba mencari tahu tentang tanda tanda kehamilan di google dan tanda tanda itu banyak yang di alaminya saat ini, dan itu membuat Maurin semakin takut.
Sepanjang mempersiapkan untuk berangkat sekolah, dengan kecemasan melanda Maurin mencoba untuk terlihat baik baik saja. Sampai Elea dan Revan datang menjemputnya.
Tidak seperti biasa raut wajah Maurin terlihat sedikit murung, keceriaan tidak terlihat dari sosok Maurin. Membuat Revan dan Elea sedikit merasa heran.
Setelah pamit pada Paman dan Bibi, ketiganya segera berangkat, Elea dan Revan tidak luput dalam memperhatikan Maurin yang masih gelisah.
"Kamu kenapa sih Rin? Kok murung sekali hari ini." Tanya Elea tiba tiba, membuyarkan lamunan Maurin.
"Eemmmh gapapa kok El, cuman lagi gak enak badan. Nanti sebelum ke sekolah mampir ke apotik dulu yah mau beli obat. Sepertinya aku anemia." jawab Maurin sedikit tergugup.
__ADS_1
"Mungkin kamu kecapean Rin, makanya jangan capek capek inget kesehatan juga." Sahut Revan yang cukup mengkhawatirkan keadaan Maurin.
"Yah Van." Jawab Maurin singkat.