Pembantu Pengganti

Pembantu Pengganti
Bab 25


__ADS_3

Setelah beberapa lama, akhirnya Rangga dan Aden telah selesai mandi berganti pakaian dan menyiapkan keperluan untuk Maurin selama di rumah sakit. Dapat di akui laki laki itu cukup cekatan dalam mengurus Aden mungkin karna dia terlalu sering mengurus dirinya sendiri walau masih bersama Bella.


Setelah semuanya siap, Anak dan ayah itu segera kembali ke rumah sakit untuk kembali menjaga Maurin, kali ini sungguh Rangga benar benar begitu perhatian di tambah semua pekerjaannya di serahkan pada asistennya sedangkan Rangga tinggal memantau saja.


Sesampainya di rumah sakit, Rangga segera memarkirkan mobilnya di basement, Namun saat Rangga hendak keluar, sebuah panggilan masuk yang membuat Rangga memutuskan hubungan untuk mengurungkan niatnya untuk turun.


"Mamah..." Gumam Rangga ketika melihat nama di layar ponselnya.


"Bentar yah sayang, Oma telfon." Kata Rangga pada Aden yang di balas dengan anggukan paham.


"Halo mah." dan obrolan di antara anak dan ibu itu berlangsung, Eli bertanya pada Rangga tentang Aden yang Eli dapatkan informasinya dari Rosma.


Tentu, saat itu Rangga merasa lega karna untuk esok hari udah pasti ada yang menjaga Aden, dan Rangga tidak membingungkan lagi harus bersama siapa nanti putranya selama di tinggal dia dan Maurin beraktivitas melakukan kewajibannya.


"Baiklah mah, nanti Rangga Anter Aden kesana lagian anak ini juga lagi kangen sama mamah." Kata Rangga dan diiyakan oleh Eli.


Setelah usai pembicaraan di antara keduanya, akhirnya sambungan telfon itu pun terputus.


"Apa Oma udah pulang pah?. Tanya Aden yang tentu hafal akan suara dari Omanya.


"Yah sayang, jadi nanti Aden kesana yah ketemu Oma sama Opah." Jawab Rangga yang seketika menciptakan lengkungan senyumannya setelah mendengar jawaban dari Rangga, karna selama Aden bersama Bella anak itu jarang sekali bertemu dengan Omanya.


"Yeeeeh ketemu Opah Omah..." Seru Aden merasa senang.


Setelah memebawa semua barang yang di bawanya, Rangga menggendong Aden lalu masuk ke dalam rumah sakit dan memasuki lift yang akan mengantarkannya menuju kamar rawat Maurin.


"Kakaaak..." Seru Aden saat memasuki kamar rawat Maurin, sedangkan Maurin langsung mengurungkan niatnya untuk tidur kala Aden datang dan dengan keceriaannya menyapa dirinya.


"Haiii sayang!." Maurin membalas sapaan dari Aden.

__ADS_1


Sedangkan Rangga lebih memilih memasukkan barang yang di bawanya ke dalam lalu langsung menatanya,


"Kakak tau, nanti kakak udah gak khawatir lagi kalo udah sembuh, karna Aden akan ke rumah nenek." Tutur Aden bersemangat menceritakannya.


Seketika Maurin langsung menoleh dan menatap ke arah Rangga yang kini juga menatapnya saat Aden mulai bercerita, dan Rangga pun mengerti kala Maurin menuntun penjelasan.


"Ibu kamu menceritakan tentang beberapa hari lalu kepada papah sama mamah, dan mamah yang mengerti kerepotanku langsung meminta agar Aden di titipkan saja padanya." Rangga yang mengerti langsung memberikan penjelasan pada Maurin.


"Berarti nanti saya akan jarang ketemu dengan Aden?." Ucap Maurin tentu merasa sedih, jika Aden berada di rumah Omanya otomatis Maurin akan jarang bertemu dengan anak itu.


"Kakak gausah khawatir nanti Aden pasti minta Oma buat nganterin Aden ke rumah papah." Jawab Aden agar perempuan yang telah memperlakukannya dengan baik tidak terlalu mengkhawatirkannya.


"Makasiih sayang." Dan Aden langsung masuk ke dalam pelukan Maurin.


Rangga tersenyum melihat apa yang di lakukan Maurin dan putranya entah mengapa jika melihat interaksi antara Maurin dan Aden, terkadang membuat perasaan aneh itu datang, dan lebih ke terharu dan senang.


"Apa papah boleh bergabung..." Kata Rangga menghampiri Maurin dan Aden.


"Boleh dong pah..." Jawab Aden yang semakin merasa senang karna itu akan menjadi semakin seru.


Ketiganya pun akhirnya terlihat obrolan yang cukup seru, canda tawa menghiasi kamar rawat Maurin, kecanggungan seakan luntur apalagi kini sikap dingin Rangga benar benar mulai mencair, dan malam pun semakin larut, Aden yang sudah meminum segelas susu yang di pesankan oleh Rangga.


Dengan pelan Rangga memindahkan putranya ke sofa dengan tidak lupa memberikannya bantal dan selimut, setelah selesai Rangga kembali duduk di samping Maurin.


Malam itu tiba tiba sunyi, apalagi di tambah dengan Aden yang tertidur dan tersisa dua orang dewasa itu yang masih terjaga.


"Apa kamu tidak mengantuk?." Tanya Rangga memecah keheningan.


"Belum tuan, kalau tuan udah ngantuk tidur duluan gapapa." Jawab Maurin yang terkadang sedikit malas di antara perasaan yang mencanggungkan ini, bukan apa apa dia hanya tidak bisa mengendalikan perasaannya yang terkadang terlewat bahagia.

__ADS_1


"Dan kebetulan aku gak ngantuk juga, oh yah mulai sekarang tidak perlu terlalu formal seperti itu seperti pada umumnya saya di ganti aku, karna aku tidak keberatan sekaligus juga risih mendengar kamu bilang saya saya" kata Rangga memulai pembicaraan, dan meminta pada Maurin agar mengobrol seperti biasa.


"Ba- baik tuan."


Dan lagi lagi rasa canggung itu kembali hadir kala obrolan di antara keduanya tidak ada lagi pembahasan.


"Baiklah kalau gitu aku tidur dulu." Ucap Rangga pada akhirnya, dia juga tidak ingin lama lama di antara kecanggungan itu.


"Baik tuan, selamat malam"


"Malam"


****


Di kediaman Bella, wanita itu cukup bingung dengan apa yang harus di lakukannya kembali, ketika dulu dia dengan susah payah mengambil hak asuh Aden, kini dengan kebodohan dan kecerobohannya dia secara tidak langsung memberikan Aden begitu saja pada Rangga.


Yang di takutkan Bella, jika Bella ingin meminta Aden kembali Rangga akan menghalanginya dan bisa saja Rangga tidak mau mengembalikan Aden padanya, karna bisa saja Rangga kembali berusaha untuk mengambil hak asuh Bella ke tangannya.


Bella yang sudah buntu fikirannya segera menelfon Aditya, karna di fikirannya hanya muncul nama laki laki itu dan yang memungkinkan jika Aditya yang bisa membantunya.


"Bisa kerumah gak Dit?." Bella langsung bertanya pada Adit tanpa basa basi setelah sambungan itu terhubung.


Bella pun meminta Aditya agar segera menuju ke rumahnya, terdengar suara gelisah dari Bella mau tidak mau Aditya langsung meluncur ke arah sana.


Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Aditya datang juga laki laki itu langsung masuk begitu saja ke dalam kamar Bella dimana Bella tengah gelisah menunggunya.


"Dit, aku harus gimana, Aden masih bersama Rangga bisa gak bisa gue harus kembali mengambil Aden pada Rangga." Ucap Maurin langsung menghampiri Aditya.


"Aku kan sudah bilang kau terlalu gegabah Bell, itu sudah resikomu tidak ada jalan lagi dan hubunganku dengan Rangga pun tidak baik Bell." Sahut Aditya merasa tiba tiba emosinya di uji.

__ADS_1


__ADS_2