
Hari masih petang, tapi ponsel milik Rangga tidak henti hentinya berbunyi. Sampai dimana suara nyaring dari dering ponselnya mampu mengusik tidur nyenyak Rangga. Tangan kekar Rangga meraba raba mengikuti suara itu lalu dengan cepat Rangga meraih dan dengan asal menggeser tombol yang tentu Rangga menerima panggilan entah dari siapa yang mengganggunya di pagi buta.
"Halo." Suara serak khas baru bangun tertedengar menyapa orang dari sebrang sana.
"Kamu dimana Ga?, Aku butuh bantuanmu." Seketika Rangga membulatkan matanya kala ternyata itu telfon dari seseorang yang sudah menghilang beberapa tahun.
"Ini beneran kamu Vin?." Tanya Rangga kembali ingin memastikan, karna saat dia melihat di layar ponselnya nomor yang menghubunginya tidak tersimpan di ponselnya.
"Yah siapa lagi Ga, mentang mentang akungak pernah ngabarin jadi lupa kamu sama temanmu ini." Sahut laki laki itu dari sebrang sana.
"Mau minta bantuan apa kamu Vin?." Tanya Rangga, yang kini rasa kantuknya mulai menghilang.
"Aku baru sampai di kota ini, apa kamu bisa jemput Ga. Aku kehabisan ongkos." Jawab laki laki. Dan Rangga yang mendengarnya hanya bisa menepuk jidat, jika di ingat kelakuan temannya ini tidak pernah benar.
"Sekarang dimana kamu?." Rangga langsung saja bertanya dimana posisi dari Kevin.
Kevin pun segera memberitahukan dimana posisinya, Rangga yang sudah mengetahuinya bergegas bangkit lalu merapikan tempat tidurnya ketika sambungan itu telah terputus. Setelah melipat selimut Rangga bergegas untuk segera mandi.
Rangga segera menggigit bibir bawahnya ketika mengguyurkan segayung air di tubuhnya. Laki laki itu cukup terkejut akan sensasi dingin yang cukup menusuk kulitnya sampai tulang tulangnya.
"Bodoh sekali diriku sampai lupa jika aku mandi tanpa air hangat." Gumam Rangga merutuki dirinya sendiri yang mulai menggigil.
Ritual mandi itu tidak berlangsung lama, Rangga mempercepatnya karna sudah merasa tidak tahan akan rasa dingin itu di tambah ketika Rangga mandi jam masih menunjukkan pukul lima pagi.
__ADS_1
Rangga keluar dari dalam kamar mandi dengan balutan handuk, sembari memeluk dirinya sendiri saat berada tepat dimana tempat Rangga tidur laki laki itu sedikit kebingungan kala dia harus berganti pakaian dimana?, Sedangkan dia juga tidak membawa pakaian ke kamar mandi karna semua pakaiannya berada di dalam kamar Maurin.
Tidak mau kaku kedingin akhirnya Rangga mencoba untuk membuka kamar Maurin, dan Rangga sedikit terkejut dan senang. Ketika pintu kamarnya ternyata tidak Maurin kunci.
Rangga dengan pelan pelan mencoba mencari baju yang cocok untuknya keluar, terbiasa mencari baju dengan tersusun rapi di hanger Rangga sedikit kesulitan kala harus mencari langsung di tumpukan baju. Sampai tanpa sadar apa yang di lakukannya mengusik tidur nyenyak Maurin.
Maurin mencoba mengembalikan kesadarannya, Namun dia cukup terkejut kala melihat sosok Rangga dengan hanya balutan handuk tengah mencari cari bajunya. Ketika Maurin hendak berteriak Maurin seketika langsung membungkam mulutnya sendiri.
Rangga yang merasa pergeran dari kasur Maurin seketika langsung menoleh. Melihat Maurin yang ternyata sudah bangun membuat Rangga langsung berdiri.
"Maaf Rin aku jadi ganggu tidurmu." Ucap Rangga merasa bersalah karna membuat Maurin terbangun.
"Tuan jam segini udah mandi?." Tanya Maurin yang merasa heran kala melihat Rangga yang sudah mandi, karna terlihat rambut Rangga yang begitu basah.
"Eehmmm... Iyah Rin, tadi temenku tiba tiba telfon dan aku harus kesana karna dia butuh bantuan. Aku tinggal dulu yah nanti bentar doang kok." Jelas Rangga pada Maurin.
"Ada apa Rin?, Kenapa kamu murung?." Tanya Rangga.
Maurin langsung menggeleng. "Aku gapapa tuan, mungkin ini karna kehamilanku yang membuatnya sensitif saat kamu bilang akan pergi." Jawab Maurin.
Rangga menghela nafas, dan mengerti akan apa yang di rasakan Maurin. Lalu sedikit mengukur waktu Rangga mencoba membujuk Maurin dan berusaha membuat suasana hati Maurin kembali normal.
"Aku tidak akan lama, kamu tunggu aku pulang nanti kamu minta aku bawain apa?. Biar nanti sekalian bawa oleh oleh juga pada Paman dan bibi." Bujuk Rangga yang cukup mampu mengurangi kerisauan Maurin akibat hormon kehamilannya.
__ADS_1
Akhirnya Maurin menginginkan sebuah makanan yang sudah lama tidak di nikmatinya , hanya sebuah bolu panggang coklat yang tiba tiba di inginkannya. Rangga tentu langsung menyetujui permintaan Maurin.
Setelah menghadapi mood dari ibu hamil itu, Rangga bergegas mencari baju yang kali ini Maurin juga ikut membantu memilih baju itu.
Setelah Rangga telah selesai memakai setelan baju dan terlihat tampak tampan dan rapi lalu laki laki itu segera pamit pada Maurin, dengan tidak melupakan untuk memberikan sebuah kecupan di kening Maurin.
Melewati jalanan yang cukup sepi, Rangga mencoba melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Meski begitu Rangga cukup ngeri akan jalanan sepi dan gelap.
Rangga menghela nafas lega, ketika mobilnya sudah memasuki area kota. Kini tinggal Rangga melanjutkan perjalanannya menuju dimana tempat sahabatnya tengah menunggu.
Setelah dekat dengan area yang di tuju Rangga kembali menelfon temannya itu, lalu pada akhirnya dia berhasil menemukan sahabat lamanya.
"Haii Vin... Maaf udah buat nunggu lama." Kata Rangga langsung menyapa saat baru saja keluar dari dalam mobil.
Rangga dan Kevin langsung berpelukan layaknya laki laki dewasa, Kevin hanya menepuk nepuk pundak Rangga ketika melihat perubahan dari sahabatnya itu.
"Udah punya pasangan baru kamu, terlihat cukup berbeda setelah tidak bersama Bella." Kata Kevin kala melihat perubahan Rangga yang cukup sednifikan.
"Bisa aja Vin. Dan yang kamu katakan memang benar, aku sekarang sudah menemukan dermaga yang akan menjadi labuhan terakhirku. Bahkan kini dia tengah mengandung anakku." Jelas Rangga dan penjelasan itu cukup membuat Kevin terkejut.
"Woooaaahh... Cepat sekali Vin, berarti kamu tega tidak mengundang sahabatmu ini ke pernikahan." Jawab Kevin menyiratkan kekecewaan kala dia harus mengetahui hubungan Rangga yang di kiranya sudah melaksanakan sebuah pernikahan.
"Sepertinya kita harus mengobrol untuk meluruskan sedikit tentang perjalanan kehidupanku agar kamu tidak salah faham Vin. Ayo cabut kita langsung ke tempat yang akan membuat kamu terpukau." Kata Rangga lalu Kevin menyetujuinya.
__ADS_1
Rangga segera kembali memacu mobilnya dengan cukup cepat, karna hari yang masih terlalu pagi membuat jalanan cukup lenggang. Saat Rangga mulai memasuki jalanan sepi dengan pohon pohon yang mengiringi sepanjang jalan. Kevin sebenarnya cukup bertanya tanya mau kemana Rangga membawanya.
Sebelum Kevin bertanya, Rangga langsung menjelaskan semuanya pada Kevin sepanjang jalan menuju ke rumah Paman dan bibi Maurin, tersemat keterkejutan saat Kevin mendengar penjelasan dari Rangga tapi laki laki itu tetap berusaha tenang agar Rangga bisa melanjutkan ceritanya dengan lancar.