
Ponsel Maurin berdering memekakkan telinga di pagi buta itu, seperti biasa Maurin memasang jam alarm agar dia tidak bangun terlambat.
Gadis itu seketika mengerjapkan matanya saat jamnya tidak kunjung berhenti, Maurin meraba raba kasur dimana dia meletakkan ponselnya sebelum terlelap bersama Aden.
Matanya menyipit saat terkena sinar ponsel dan Maurin segera mematikan alarm itu yang secara otomatis kamar Maurin kembali sunyi, sesaat Maurin terdiam lalu ingatannya mengingat tentang kejadian beberapa jam lalu, di waktu dini hari dimana Rangga yang tertidur di sampingnya.
Seketika Maurin langsung menoleh ke arah samping dimana Rangga semalam tertidur di sampingnya, dan saat Maurin melihat ternyata laki laki itu sudah tidak ada di samping Maurin, sedangkan Aden masih tetap tertidur di sampingnya.
"Apa mungkin dini hari tadi, aku mimpi yah!! Tapi kenapa kayak nyata banget." Gumam Maurin yang mencoba mengingat apa yang sudah terjadi dengannya yang seperti antara nyata dan mimpi.
Maurin kembali melihat jam dan kini waktunya Maurin harus segera beres beres rumah, sebelum Maurin keluar untuk beres beres. Maurin terlebih dahulu membenarkan posisi tidur Aden yang sudah tidak karuan tidak lupa Maurin memberikan bantal di samping kanan dan kiri Aden agar anak itu tidak jatuh ke bawah.
Setelah itu Maurin segera menguncir rambutnya dan menggulung rambutnya hingga terlihat tengkuknya yang bersih putih susu. Setelah itu Maurin segera keluar kamar untuk menuju ke dalam kamar mandi.
Saat Maurin membuka pintu bersamaan dengan itu terlihat Rangga tengah menuju ke dapur yang otomatis tatapan Rangga dan Maurin saling bertabrakan. Dan tiba tiba rasa canggung itu hadir.
"Pa- pagi tuan!!." Ucap Maurin pada Rangga sembari kepalanya yang menunduk.
"Pagi!!" Jawab Rangga seperti biasa menjawab dengan datar dan dingin, lalu tanpa basa basi lagi Rangga segera berlalu meninggalkan Maurin.
Melihat sikap Rangga yang seperti biasa, mulai merasa yakin jika apa yang di cobanya untuk mengingat adalah sebuah mimpi karna sikap Rangga di setengah kesadarannya tidak seperti biasanya.
Tidak mau memikirkan lebih dalam lagi Maurin segera masuk ke dalam kamar mandi, lalu segera mengerjakan pekerjaannya.
Setelah waktu berlalu dan Maurin telah menyelesaikan pekerjaannya, Maurin kembali ke dalam kamar dan terlihat Aden masih nyenyak tertidur. Gadis itu menghampiri Aden dan membiarkan pintu terbuka, Maurin dengan penuh kelembutan mencoba membangunkan Aden dari tidurnya, dengan cara menciumi pipi gembul Aden yang begitu menggemaskan.
"Adenn ngantuukk!!." Ucap Aden yang masih enggan untuk bangun sedangkan Maurin tetap mencoba berusaha agar Aden terbangun.
__ADS_1
"Ayo sayang... Apa kamu gak mau nyobain masakan Kakak untuk pertama kalinya." Kata Maurin menggoda Aden sembari menoel noel pipi anak itu.
"Apa kakak masak juga disini?" Tanya Aden yang mulai membuka matanya lalu menatap wajah Maurin.
"Iya sayang, kakak hari ini masak ayam woku, ada kentang goreng juga, dan masih banyak lagi dan semuanya lezat." Jawab Maurin berusaha agar anak itu tertarik pada rayuannya.
Di tengah interaksi antara Maurin dan Aden, diam diam Rangga memperhatikannya dari pintu kamar yang terbuka, dan senyumannya seketika mengembang.
"Papah, kenapa hanya disitu... Ayo masuk papah." Ucap Aden tiba tiba yang bersamaan membuyarkan lamunan Rangga yang terlalu fokus pada Maurin dan Aden, dan mengejutkan Maurin kala Aden tiba tiba saja memanggil Rangga.
"Kenapa diam saja pah, sini sini." Ujar Aden lagi memaksa Rangga untuk ikut bergabung dengannya dan Maurin.
"I- iya sayang." Rangga yang tidak dapat menolak permintaan Aden, langsung melangkah masuk ke dalam kamar.
Dan spontan Maurin langsung bangkit dari bebaringnya setelah dia ikut berbaring saat membangunkan Aden.
"Kan kakak baik ngebangunin Aden baik baik pah, Aden suka kalau gitu." Jawab Aden yang memang tidak dapat di pungkiri Bella membangunkan Aden hanya sekedar membangunkan.
Memperhatikan antara Rangga dan Aden, dengan jarak yang begitu dekat meninggalkan rasa tersendiri yang sulit untuk di ungkapkan, dan sekaligus rasa kagum yang di rasakannya kala sikap dingin Rangga hanya dapat di lelehkan oleh anak laki laki menggemaskan itu.
Di waktu yang bersamaan Namun, di tempat yang berbeda, Di rumah megah milik seorang laki laki yang tidak adalah Aditya, penampilan laki laki itu sudah terlihat rapi dengan setelan jas kantornya. Di hari itu Aditya merasa begitu semangat karna Aditya berniat akan menyusul Maurin ke rumah Rangga dan mengantarnya ke sekolahan.
"Sarapan dulu den!!." Ucap sang bibi menawarkan Aditya untuk bersarapan.
"Mamah sama papah ini udah sarapan bi?." Tanpa menjawab ucapan dari sang bibi, Aditya melemparkan kembali pertanyaan.
"Udah den, ini mereka sedang sarapan." Jawab sang bibi.
__ADS_1
"Baiklah, aku kesana." Dan sang bibi mengangguk.
Aditya pun segera beralalu dan menghampiri kedua orang tuanya yang tengah sarapan, sebelum mereka sama sama berangkat bekerja.
"Pagi Dit, ayo sarapan." Sapa Mala pada putranya.
"Pagi juga mah..." Jawab Aditya lalu mencium kening sang mamah.
"Adit berangkat dulu yah mah... pah..." Ucap Aditya yang ingin segera berangkat, tentu karna tidak sabar ingin bertemu dengan Maurin.
"Kenapa buru buru ini masih pagi Dit." Sahut Nelson saat anaknya ingin segera berangkat dan melewatkan sarapan.
"Iyah pah, ada sesuatu yang harus segera Aditya kerjakan." Tentu jawaban itu bukanlah jawaban yang sebenarnya.
"Papah gak yakin jika itu menjadi alasan utama, wajahmu terlihat cerah pagi ini, Sepertinya kamu sedang ingin bertemu seseorang. Apa kamu sedang dekat dengan seseorang karna papah rasa kamu sedang jatuh cinta pada seseorang." Kata Nelson yang dapat membaca garak gerik dari sikap Aditya yang terlihat berbeda dari biasanya, dan tebakan dari Nelson cukup tepat dengan apa yang kini terjadi pada Aditya.
"Papah menebaknya selalu tepat pah." Jawab Aditya tersenyum lalu mengakui apa yang di katakan sang papah itu benar.
Mendengar pengakuandari Aditya, Seketika Mala menghentikan sarapannya.
"Apa itu benar Dit? Ohh syukurlah tuhan anakku sudah menemukan tambatan hatinya" tanya Mala yang ingin memastikan tidak lupa wanita paruh baya itu, bersyukur kala putranya itu akhirnya sudah mulai menemukan tambatan hati yang sudah lama tidak terdengar jika Aditya sedang dekat dengan seorang wanita.
Yang sedangkan mereka tidak tahu apa yang Aditya lakukan di luar sana, dimana laki laki itu terkenal akan pesonanya yang biasanya di gunakan untuk mempermainkan wanita yang di kenalnya.
"Tapi pah... Mah... Adit masih proses pendekatan sama dia." Jawab Aditya, yang kali ini berbeda laki laki itu malah menceritakan seorang gadis yang kini di incarnya, sedangkan Aditya tidak pernah menceritakan tentang gadis yang berhubungan ataupun sedang dekat dengannya selain Maurin.
"Tidak apa apa Dit, jangan lupa kamu harus mendapatkan dia... Duuuhh mamah jadi gak sabar pah, ingin tahu wajah gadis itu." Kata Mala dengan cukup Antusias.
__ADS_1