Pembantu Pengganti

Pembantu Pengganti
Bab 18


__ADS_3

Setelah selesai pelajaran pertama bel tanda waktu istiraha berbunyi, seperti biasa Elea mengajak Maurin untuk ke kantin. Dan saat Maurin hendak keluar dari kelas ponselnya tiba tiba bergetar yang menandakan ada seseorang yang menghubunginya.


Dan saat Maurin melihat siapa yang menelfon, tertera di layar nama ibunya yang tengah menelfonnya.


"El, bentar yah... Aku angkat telfon dari ibu bentar." Ujar Maurin pada Elea, yang mengurungkan niatnya untuk ke kantin.


"Iyah Rin, santaaii." jawab Elea yang seperti biasa tidak keberatan.


Maurin tanpa menunggu lama, segera mengangkat telfon dari ibunya. Dan saat sambungan telfon itu terhubung suara yang pertama kali Maurin dengar adalah suara tangisan dari Aden, dan saat itu juga Maurin langsung merasa panik.


"Ada apa Bu? Apa terjadi sesuatu pada Aden?." Maurin langsung melemparkan pertanyaan pada ibunya, gadis itu tampak khawatir kala mendengar tangisan Aden yang begitu kencang.


"Dia menangis trus Rin, tidak mau berhenti, sebaiknya kamu pulang dulu Rin kalau memang memungkinkan untuk pulang awal, kalau tidak bisa ibu akan menelfon tuan Rangg" jelas Bu Rosma yang tampak menjawab telfon sembari menimang nimang Aden agar anak itu tenang.


"Baiklah Bu, Maurin akan mencoba untuk izin. Nanti Maurin akan langsung pulang jika bisa." jawab Maurin.


Setelah usai dalam obrolan, Maurin memutuskan sambungan telfon itu, Elea segera menghampiri Maurin yang tentu penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi sampai membuat Maurin terlihat begitu panik.


"Ada apa Rin?" Elea langsung melemparkan pertanyaan.


"Ibu kebingungan El, cucu dari majikan ibu yang di titipkan rewel terus dan sedangkan ibu sendirian sekarang disana." jawab Maurin menjelaskan tentang apa yang membuat dirinya panik.


"Lalu Rin, apa kamu harus kesana untuk membantu ibu!." Jawab Elea, yang mengetahui jika Bu Rosma bekerja sebagai Art, namun gadis itu tidak mengetahui jika Maurin sebenarnya juga sama.


"Iyah El, dan aku harus segera izin untuk pulang terlebih dahulu." Maurin tampak menjelaskan rasa khawatirnya lewat raut waja yang panik.


"Kalau gitu sekarang kamu langsung pulang ajah Rin, kasian juga Bu Rosma soal izin biar nanti aku yang urus, aku akan membuat beberapa alasan yang masuk akal." Ujar Elea yang siap membantu.

__ADS_1


"Beneran El?." Ucap Maurin yang tidak menyangka jika Elea selalu membantunya dalam setiap kesulitannya.


"Benaran!! Yaudah gih cepetan siap siap pulang." Kata Elea meyakinkan.


Mendengar itu, Maurin segera kembali ke bangku mengemasi barang barangnya untuk segera pulang.


"Kalau gitu aku pulang dulu yah El, makasiih banget udah bantu." kata Maurin sebelum dirinya pergi.


"Iyah sama sama, hati hati di jalan. " jawab Elea tersenyum melambai ke arah Maurin yang sudah melangkah keluar.


Maurin akhirnya dapat keluar dari sekolahan dan mendapat izin dari satpam sekolah yang menjaga gerbang, mengingat jika dirinya datang bersama Rangga. Membuat Maurin kini harus memesan ojek online.


Sesampainya Maurin di tempat kediaman Bu Eli dan Pak Ivan, Maurin segera meminta security untuk membuka gerbangnya, lalu segera berlalu masuk ke dalam rumah.


"Kakak..." Aden langsung memanggil Maurin dan merentangkan tangannya, dan Maurin dengan sigap mengambil alih Aden dari gendongan ibunya.


Bu Rosma tertegun anak itu langsung terdiam dan menyandarkan kepalanya di bahu Maurin. dan menikmati kelembutan usapan tangan Maurin di punggungnya.


"Mungkin karna udah kenal Bu, sama Maurin." Jawab Maurin tersenyum ke arah Bu Rosma.


"Oh yah Bu!! ini udah waktunya Aden makan apa ibu tadi sudah memasak makanan?." Tanya Maurin kala waktu sudah memasuki dimana Aden harus makan siang.


"Belum Ra, ibu gak sempet masak keburu Aden tadi nangis trus..."


"Yaudah kalau gitu, Maurin minta ibu masakin yah... Karna Aden gak mungkin mau jika Maurin tinggal" dan kali ini Maurin meminta bantuan sang ibu memasak untuk makan siang Aden.


Bu Rosma pun segera berlalu ke dapur untuk memasak sesuai permintaan Maurin, meski gadis itu baru pertama kali mengasuh Aden tapi jiwa keibuannya sudah cukup terlihat.

__ADS_1


****


Setelah seharian Rangga menghadapi kesibukan di kantor sampai Rangga lupa jika dirinya menitipkan Aden ke Bu Rosma, setelah meregangkan otot ototnya yang terasa kaku karna trus menatap laptop setelah selesai meeting, kini Rangga dapat bernafas lega dan laki laki itu segera bersiap untuk pulang.


Sesaat Rangga melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, jam sudah menunjukkan jika hari sudah beranjak malam.


"Pasti Maurin sudah menyusul Aden, ya tuhan aku sampai melupakan mereka berdua." Gumam Rangga lalu mengusap wajahnya kasar, ketika Rangga menyadari jika dirinya seharian ini terlalu sibuk.


Rangga segera keluar dari ruangannya lalu masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai paling bawah, setelah beberapa menit berada di lift akhirnya lift telah sampai di lantai bawah. Rangga segera keluar dari gedung perusahaan untuk menuju basement khusus para petinggi di perusahaan. Laki laki itu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, entah rasanya Rangga kini merasa tidak sabar untuk ingin bertemu Maurin dan Aden.


Sesampainya Rangga di rumah kedua orang tuanya, tanpa mengetuk pintu Rangga langsung saja masuk. Dan saat Rangga masuk ke dalam rumah suasana terasa sepi, lalu Rangga melanjutkan langkahnya menuju ke ruang keluarga. Namun, saat Rangga berada di ruang keluarga sama saja tidak ada siapa siapa, tapi Rangga dapat mendengar suara orang yang tengah mencuci di dapur.


"Bu Rosma!!." Panggil Rangga pada Bu Rosma yang sepertinya tidak menyadari kehadiran Rangga.


Sontak Bu Rosma langsung menghentikan aktivitasnya, lalu menoleh ke arah Rangga.


"Tuan Rangga, baru pulang tuan!." Ucap Bu Rosma.


"Iyah Bu, tadi di kantor padet banget Bu... Oh yah Maurin dan Aden dimana Bu?." Jelas Rangga dan tidak lupa menanyakan keberadaan Maurin dan Aden.


"Looh... Tuan Rangga gak di telfon kah sama Maurin, tadi siang Maurin kesini tuan karna Aden tiba tiba rewel dan gak mau berhenti nangis, dan setelah Maurin dateng Aden langsung diam, lalu di lanjut Maurin meminta saya masak untuk makan siang Aden dan setelah itu Maurin minta pada supir buat nganterin dia ke rumah Aden." jelas Bu Rosma pada Rangga yang ternyata datang untuk menghampiri Maurin dan Aden.


"Jadi Maurin tadi ninggalin jam pelajarannya yah bu." Ujar Rangga yang cukup merasa sedikit sesak kala dirinya tidak dapat meluangkan waktu di kala Maurin dan Aden tengah membutuhkannya.


"Iya tuan!." Jawab Bu Rosma membenarkan.


"Yaudah kalau gitu saya pamit pulang ke rumah dulu yah Bu, takut Maurin kerepotan." Ucap Rangga memutuskan untuk segera pulang.

__ADS_1


"Iyah Tuan, hati hati" jawab Bu Rosma.


Dan Rangga segera meninggalkan Bu Rosma, lalu segera menuju pulang ke rumahnya.


__ADS_2