
"kamu harus kembali padaku Rin!." Kata itu terdengar membisik, dan Maurin hanya mematung tanpa membalas pelukan yang masih berlangsung itu.
"Aku gak mau, aku sudah memutuskan untuk berhenti bekerja. Aku sudah tidak ingin ada hubungan lagi di antara kita." Jawab Maurin dengan berusaha memberontak dari dekapan Rangga.
"Beri aku satu alasan kenapa kamu sudah tidak mau memiliki hubungan denganku." Ucap Rangga, emosinya yang seakan ingin meledak kala menerima penolakan dari Maurin dengan sekuat tenaga Rangga menahannya.
"Alasan,- Maurin terkekeh. Apa kamu masih meminta alasan bukankah sudah jelas jika alasanku adalah kamu masih belum selesai dengan masa lalumu, lagi pula kita juga masih belum menjalin hubungan, jadi ini bukan masalah besar kan." Kata Maurin, yang kini menatap tajam manik mata tajam milik Rangga.
"Ooohhh apa karna kemaren kamu melihat Bella memelukku dan dia begitu dekat denganku, jadi kamu memutuskan untuk pergi dariku. Percayalah Rin kamu sedang cemburu dan itu tidak perlu kamu buat besar seperti ini." Ujar Rangga, seketika Maurin terdiam bukan membenarkan melainkan Maurin semakin kesal kala mendengar jawaban dari Rangga.
"Cemburu!!, Aku rasa tidak tuan, jika kamu berfikir kepergianku karna itu. Itu bukan alasan utama tapi aku memang tidak ingin hubungan ini sampai berjalan jauh dan itu nanti bisa saja akan menyakitiku karna aku sadar diri tuan, aku dan tuan sangat berbeda!." Maurin menjawab Rangga penuh penekanan, gadis itu mulai memperlihatkan keberaniannya, yang kini sudah tanpa segan segan menjawab dengan menatap tajam mata elang Rangga.
Rangga merasa geram kala Maurin sudah mulai berani menjawabnya bahkan Maurin sudah bisa membalas tatapan tajamnya, dan tidak terduga Rangga mendorong Maurin cukup kencang hingga membuat benturan keras.
"Awwwshhh." Ringis Maurin dengan badan sedikit membungkuk tangannya reflek mencengkram perut bagian bawah.
Niat Rangga yang cuman ingin mendorong saja untuk membuat Maurin tersudut tanpa di sengaja laki laki terlalu kasar mendorongnya.
Dari rasa kram yang tiba tiba, kini Maurin semakin merasa kesakita gadis itu semakin kuat mencengkram bagian perutny, Rangga yang tadinya merasa emosi kini berbalik. Laki laki itu mulai merasa khawatir pada gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta.
"Rin..." Ketika Rangga hendak meraih lengan Maurin untuk membantunya, gadis itu langsung menghempaskan tangan Rangga.
"Aduuuh ya tuhan..." Keluh Maurin kala perutnya semakin merasa sakit bahkan rasa sakit dua kali lebih sakit.
__ADS_1
Di saat rintihan Maurin yang tiba tiba merasakan sakit, mata Rangga membulat kala darah segar. Mengalir di betis Maurin yang tentu terlihat jelas karna Maurin mengenakan rok selutut.
Tanpa banyak kata Rangga sudah mulai begitu panik, laki laki itu langsung menggendong Maurin tanpa meminta izin terlebih dahulu karna Maurin pasti akan menolak.
"Aduuuhhh sakkkkiiiitttt..." Rintih Maurin yang begitu merasakan sakit yang teramat sangat, gadis itu sudah tidak peduli lagi saat Rangga menggendongnya.
Rangga dengan cepat menggendong Maurin keluar dari dalam kamar mandi, dengan tergopoh gopo Rangga menuju ke arah dimana mobilnya terparkir.
Di tengah kepanikan Rangga, Elsa dan Revan tentu melihat Rangga yang tengah membopong Maurin. Karna mobil Rangga terparkir tidak jauh dari dimana Revan menghentikan mobilnya.
"Looohh itu bukannya Maurin yah Van, kenapa di gendong sama laki laki itu." Kata Elea sembari menunjuk ke arah Rangga.
"Sepertinya lagi ada yang tidak beres El, sebaiknya kita ikutin mereka." Revan lalu segera bangkit laki laki itu langsung mengeluarkan dompet dan membayar mie yang sudah mereka pesan.
Setelah membayarnya Revan dan Elea langsung berdiri untuk segera masuk ke dalam mobil. Dari dalam mobil Revan trus mengikuti jejak kemana mobil Rangga melaju, terlihat mobil Rangga melaju dengan begitu cepat.
Setelah sepuluh meniy berjalan, mobil yang di kendarai Rangga berbelok ke arah rumah sakit dan membuat kedua teman Maurin merasakan panik. Sebenarnya apa yang terjadi sampai mereka harus ke tempat ini. Dengan cekatan Revan mengikuti mobil Rangga sampai dimana mobil itu berhenti tepat di depan UGD. Tak lama kemudian Rangga langsung meminta bantuan suster, yang dengan segera sebuah brankar langsung di jalankan ke arah Maurin.
Revan dan Elea tentu shock saat Maurin keluar dari dalam mobil dan di pindahkan ke atas brankar, kemeja putih milik Rangga penuh dengan darah. Dan saat itu fikiran Maurin dan Elea semakin tidak tenang.
"Ayo Van, cepet kamu parkiran mobilnya. Itu Maurin kenapa Van!!." Seru Elea menepuk nepuk pundak Revan agar Revan segera memarkirkan mobilnya.
Revan dengan gerakan cepat langsung membawa mobilnya ke area basement, tidak kalah panik dari Elea Revan mungkin merasakan panik melebih Elea.
__ADS_1
Sedangkan di dalam Rangga dengan cemas menunggu Maurin yang tengah di tangani di dalam UGD tampak seraut wajah penyesalan tergambar dari wajah Rangga.
Ketika di tengah kecemasan Rangga, Rangga tidak memegang tas milik Maurin dengan benar. Dan tiba tiba saja dari dalam tas sebuah benda jatuh, membuat Rangga seketika mengalihkan pandangannya ke arah benda itu.
Rangga mengangkat satu alisnya sebelah kala seperti tidak asing akan benda yang masih tersegel itu. Laki laki bergegas jongkok lalu meraih benda yang berbungkus kardus tipis kotak.
Benar seperti dugaannya, benda yang tepatnya dapat di sebut sebuah alat tes kehamilan yang pernah Rangga lihat ketika Bella memberitahukan kehamilan pertamanya pada Rangga. Sempat fikirannya terhenti kini Rangga mulai berfikir kenapa bisa ada alat tes kehamilan di tas milik Maurin.
DEGG
Jantung laki laki itu langsung berdetak cepat otaknya kembali memutar ingatannya akan kejadian yang membuat Maurin sempat merasa shock.
"Apa mungkin?." Gumam Rangga sembari trus menatap ke arah tespack yang masih dalam genggamannya.
Di tengah fikiran Rangga yang berlarian kemana mana setelah mendapati sebuah tespack dari tas Maurin, tiba tiba saja Elea dan Revan datang menghampiri Rangga.
"Apa kamu sudah melakukan sesuatu terhadap Maurin sampai dia harus masuk rumah sakit." Kata Revan berbisik namun masih dapat terdengar.
"Aku tidak sengaja mendorong dia terlalu keras ke tembok, sampai dia tiba tiba mengalami pendarahan." Rangga tetap menjawab perkataan dari Revan.
BUUUGGGHH.
Sebuah bogeman mentah mendarat tepat di rahang Rangga, Revan cukup terpancing emosinya akan apa yang di katakan Rangga. Dada laki laki itu tampak naik turun mewakili emosi yang cukup meluap.
__ADS_1
"APA KAU TIDAK CUKUP UNTUK MENYAKITINYA SEKALI SAJA HAA BRENGSEK." suara Revan terdengar menggema, Elea yang menyadari jika dia tengah di area rumah sakit langsung menahan Revan agar tidak semakin menjadi.
"Van... Udah ini ada di rumah sakit, jangan sampai kamu membuat keributan dan kita di suruh pergi. Kamu harus ingat Maurin Van... Dia masih butuh kita disini." Kata Elea mencoba menenangkan Revan, jika emosi Revan semakin meledak mungkin saja keributan akan semakin menjadi.