
Pagi pagi buta paman dan bibi dari Maurin sudah datang, yah mereka datang atas permintaan dari Rosma yang meminta bantuan untuk menyiapkan kepulangan Maurin hari ini.
"Makasiih udah dateng, maaf jika ngerepotin paman dan bibi harus Dateng kesini dan ngelewatin jalanan yang pasti susah." Kata Maurin pada Paman dan bibinya.
"Udah gak usah gitu Rin, bibi dan paman dengan senang hati bantuin kamu. Kita juga maaf gak bisa jengukin kamu baru Dateng hari ini karna ibumu yang tiba tiba minta bantuan." Jawab bibi Maurin.
"Gak usah gak enak mbak. Namanya juga mbak lagi sibuk lagian Maurin sekarang udah boleh pulang. Gini aja aku udah seneng, tapi mbak sekali lagi aku minta maaf yah kalau Maurin harus tinggal disana lagi." Sahut Rosma sembari melipat beberapa baju yang beberapa hari ini menjadi baju ganti Rosma yang memang sengaja di bawanya dari rumah.
"Iyah gapapa santai aja sih dek."
"Soal kehamilan Maurin apa ayah dari anak ini. Mau untuk bertanggung jawab dek?." Dan kini sang paman langsung bertanya pada Rosma.
Rosma sesaat melihat ke arah Maurin yang terdiam. "Hmmm... Kalau dia pasti udah mau bertanggung jawab kak. Tapi Maurin nggak mau." Jawab Rosma sedikit memelankan suaranya. Dan Maurin tampak langsung menundukkan kepalanya.
Paman dan bibi Maurin seketika terkejut, dan keduanya langsung menatap tajam ke arah Maurin dengan tatapan seakan bertanya tanya.
"Loh kok kamu malah gak mau Rin, seharusnya kamu beruntung laki laki itu mau bertanggung jawab padamu." Kata Paman yang sedikit tidak habis pikir akan keputusan Maurin.
"Bukannya Maurin gak mau paman. Ada alasan tertentu yang tidak bisa Maurin jelaskan." Jawab Maurin mencoba memberi pengertian pada pamannya.
"Pengertian yang bagaimana Rin, mau gak mau kamu harus menikah dengan dia. Toh dia juga bisa menerima kamu." Sahut sang bibi yang juga ikut menimpali.
__ADS_1
"Masalahnya bukan karna gimana gimana. Tapi paman, aku melakukan ini agar dia bisa introspeksi dahulu akan kesalahan yang di buatnya karna dia sudah melakukan banyak kesalahan yang harus di beri pelajaran untuk ke depannya, karna sama saja bukan jika sekarang aku menerima pertanggung jawaban dia tapi dia masih belum bisa berubah. Bisa saja nanti kami akan di Landa perceraian, aku tidak mau itu terjadi paman jadi aku ingin menundanya dulu sampai dia berubah sikapnya." Jelas Maurin berharap penjelasannya dapat di mengerti oleh paman dan bibinya.
"Biarkan lah mbak... Kak... Dia memutuskan keputusannya sendiri, gak usah khawatir akan apa yang di putuskan oleh Maurin. Ponakan kalian itu cukup pintar dalam memutuskan sesuatu yang terbaik untuk dirinya sendiri." Sahut Rosma saat mengerti jika kakaknya itu tengah khawatir akan ponakannya sendiri.
"Baiklah, kita akan mengerti. Dan pasti ponakanku ini sudah bijak dalam mengambil keputusannya." Jawab sang bibi tersenyum lalu mengacak rambut Maurin.
****
Sedangkan di rumah besar milik kediaman Eli, pagi pagi buta mereka semua berkumpul. Membicarakan sesuatu yang tidak lain berbicara tentang Rangga dan Maurin.
"Kamu yah Ga, harus benar benar tanggung jawab akan gadis yang kamu hamili itu. Mamah sebenarnya cukup kecewa saat mengetahui tentang ini saat itu." Ucap Eli yang mewanti wanti agar Rangga tetap menepati janjinya, meski Eli sudah beberapa kali mengucapkan kata kata itu, tapi wanita paruh baya itu seakan tidak puas ketika belum melihat dengan kepalanya sendiri jika putranya menikahi Maurin.
"Mamah tenang ajah mah, Rangga pasti akan menepati janji Rangga bertanggung jawab sekaligus menjadikan Maurin istri Rangga. Tapi kita harus bersabar dulu mah, karna Maurin harus menyelesaikan sekolahnya dulu. Dan nanti pagi ini Rangga akan langsung ke sekolahan Maurin untuk mengurus tentang Maurin yang mulai sekarang akan home schooling." Jawab Rangga.
"Di rumah sakit sudah ada paman dan bibinya Maurin mah, yang pasti membantu mereka. Dan Rangga bisa mengurus hal lain dulu..."
"Teekkk"
Eli secara reflek memukul Rangga dengan majalah yang di pegang nya sejak tadi. Mendapat jawaban dari Rangga membuat Eli meradang.
"Kamu fikir kita kumpul disini pagi pagi hanya untuk membahas tentang kamu yang harus tanggung jawab. Kamu itu Ga udah tua juga gak ngerti ngerti, sepenting apa sih ngurusin tentang sekolah Maurin yang mamah ajah bisa mengurusnya. Udah tau perempuannya lagi mau pulang malah di tinggal ke hal lainnya, kamu sebenarnya punya otak gak sih Ga." Eli langsung memberikan kata kata menohoknya, dan Rangga mendapatkan sebuah omelan di pagi harinya.
__ADS_1
"Betul kata mamah mu Ga, lebih baik sekarang kamu ke rumah sakit. Ikut bantu kepulangan Maurin." Timpal Ivan Namun dengan suara yang cukup rendah.
"Iyah pah mah." Sekali lagi Rangga bagaikan anak kecil saat terkena omelan dari mamahnya. Yah tiada hal lain lagi yang bisa menampakkan sisi lain dari Rangga kecuali di situasi dirinya tampak bodoh di depan mamahnya.
"Gitu ajah kok nunggu orang ngomel dulu kamu itu." Kata Eli yang seakan tidak puas untuk mengomeli putarnya.
Setelah obrolan mereka selesai Rangga segera beranjak lalu membersihkan dirinya, setelahnya Rangga langsung berpakaian santai namun rapi. Mengurungkan niatnya untuk mengurus home schooling Maurin Rangga memilih untuk menuruti ucapan dari sang mamah yang memang benar.
****
Selesai memarkirkan mobilnya Rangga segera turun langkah lebarnya melangkah menuju dimana ruangan Maurin. Rangga mengetuk pintu beberapa kali terlebih dahulu sebelum masuk. Dan setelah mendapat jawaban dari dalam Rangga langsung membuka pintu.
Semua orang yang berada di dalam seketika langsung berfokus pada Rangga yang baru saja datang, sedangkan Rangga tampak canggung kala ada orang lain di dalam sana.
Paman dan bibi Maurin sedikit melongo kala melihat laki laki tampan datang ke kamar Maurin, seketika untuk sesaat Rangga masih berada di ambang pintu karna tidak ada yang mempersilahkannya untuk masuk.
"Silahkan masuk tuan." Kata Maurin ketika Rangga tidak kunjung masuk.
"Pagi, Bu... Om Tante." Sapanya pada orang orang di sekelilingnya.
"Oh yah. Paman dan bibi kenalin ini Rangga." Kata Maurin mengenalkan Rangga pada Paman dan Bibinya, yang seketika Rangga langsung mengenalkan namanya dan menjabat tangan paman dan bibi Maurin.
__ADS_1
Bu Rosma lalu mempersilahkan Rangga untuk duduk, mereka yang masih bingung karna masih belum saling mengenal. Bu Rosma lalu menjelaskan pada Rangga siapa sepasang suami istri itu. Dan Bu Rosma pun menjelaskan pada kakaknya siapa Rangga. Setelah paman dan bibi Maurin mengerti siapa Rangga, mereka sedikit terkejut tidak menyangka jika calon ayah dari anak Maurin adalah orang yang begitu tampan.