Pembantu Pengganti

Pembantu Pengganti
Bab 17


__ADS_3

"Saya keluar dulu tuan, Makasiih." ucap Maurin saat hendak turun yang tidak lupa mengucapkan terimah kasih pada Rangga.


Rangga tidak membalas ucapan Maurin Namun, saat Maurin hendak membuka pintu, tangan Rangga langsung mencegahnya. Maurin yang sedikit terkejut dengan tangan Rangga yang tiba tiba mencekalnya, lalu gadis itu menatap ke arah Rangga.


"Terimah kasih telah menenangkan Aden." Kata Rangga yang sebenarnya tidak mengerti pada dirinya sendiri, yang ingin mencegah Maurin ketika hendak mau turun.


Maurin tersenyum.


"Sama sama tuan, lagian itu sudah menjadi tugas saya." Jawab Maurin.


Setelah itu Rangga langsung melepas tangannya yang masih menggenggam lengan Maurin, lalu Maurin untuk kedua kalinya berpamitan turun yang langsung mendapat balasan anggukan dari Rangga.


Setelah kepergian Maurin, Rangga menghidupkan mesin mobil untuk segera berangkat ke arah kantornya Namun, saat hendak memundurkan mobil mata tajam Rangga melihat sosok yang di kenalnya tengah berada di depan gerbang sekolah.


"Aditya." Gumam Rangga kala melihat sosok Aditya, yang dapat terlihat tengah menunggu Maurin datang.


Ketika Rangga hendak turun untuk menghampiri Aditya, tiba tiba saja ponselnya berdering dan Rangga bergegas melihat siapa yang tengah menelfonnya dan terlihat sebuah nama dari asisten pribadinya muncul di layar, dan seketika Rangga mengingat jika dirinya harus segera ke kantor untuk meeting. Dan mau tidak mau Rangga harus segera meninggalkan tempat itu dan merelakan rasa penasarannya.


"Tuan Aditya" kata Maurin terkejut kala melihat Aditya yang sudah berada di depan sekolahannya.


Aditya tersenyum melihat Maurin telah tiba.


"Tuan kesini ngapain?" Tanya Maurin yang tentu saja heran dengan kedatangan Aditya ke sekolahannya.


"Disini aku sengaja Rin, nunggu kamu datang aku hanya ingin menemui mu." jawab Aditya.


"Tapi tuan!! Aku harus segera masuk ke dalam jam udah mepet." Aditya saat itu membuat Maurin menjadi bingung karna kedatangan Aditya yang juga tidak jelas, Namun, Maurin merasa tidak enak jika harus meninggalkan Aditya begitu saja. Tapi di satu sisi gadis itu harus segera masuk karna jam sudah menunjukkan bel tanda masuk akan berbunyi.

__ADS_1


"Ooohh kalau gitu kamu masuk ajah Rin... Lagian udah ketemu kamu ajah udah lega kok." Kata Aditya yang juga menyadari jika Maurin merasa tidak enak padanya jika meninggalkannya.


"Beneran tuan?." Tanya Maurin meyakinkan.


Dan Aditya mengangguk sembari melemparkan senyumannya sebagai jawaban.


"Kalau gitu saya masuk dulu tuan." Kata Maurin sebelum masuk ke dalam area sekolahan.


"Yah, semangat belajarnya"


Aditya segera pergi dari tempat itu, setelah Maurin sudah menghilang dari pandangannya. Laki laki itu melajukan mobilnya menuju perusahaan Rangga yang sudah di pastikan laki laki itu akan terlambat untuk mengikuti meeting pagi itu.


****


"Dari mana? Sampai Dateng meeting telat?" Tanya Rangga pada Aditya setelah meeting selesai dan semua orang telah membubarkan diri dari ruangan meeting.


"Aku sengaja sebelum berangkat menemui Maurin terlebih dahulu." Tak di sangka Aditya menjawab dengan jujur pada Rangga.


"Apa itu lebih penting Dit, dari pada meeting pagi ini?." Tanya Rangga dengan serius, terlihat dari pertanyaan yang penuh penekanan dan tatapan tajam yang di tujukan pada Aditya.


"Ooh... maaf Ga, tapi aku harap kamu memakluminya. Bukankah kamu pernah mengalami hal seperti aku dimana menemui orang yang kamu cintai walau sebentar itu lebih berharga dari segalanya" dan seperti tersambar petir di siang bolong, seperti itulah yang kini di rasakan Rangga. Kala mendengar pernyataan dari Aditya dari mulutnya sendiri.


"Maksut kamu Dit, kamu mencintai pembantuku?." Tanya Rangga kembali meyakinkan akan ucapan yang baru saja Aditya lontarkan.


"Apa salahnya Ga, dia itu cantik dan polos tidak ada alasan untuk aku tidak mencintainya." Jawab Aditya terkekeh kala mendapat reaksi Rangga yang seperti tidak percaya.


"Aku minta padamu Dit, untuk menjauhi Maurin. Cintamu itu hanya sebatas menyukai kecantikannya saja aku tahu kalau kamu hanya menyukai gadis lugu hanya untuk kamu permainkan!." Kata Rangga, yang di luar pemikiran Aditya Rangga akan menanggapinya seperti itu, tapi bagaimana pun Rangga tidak dapat menahan dirinya kala mendengar pernyataan dari Adit.

__ADS_1


Rangga tahu bagaimana sepak terjang laki laki itu dalam mempermainkan wanita, dan Rangga tidak ingin Aditya melakukan hal yang pada Maurin.


"Woooaaahh... Tanggapan mu sungguh di luar pemikiranku Ga, kenapa kini kamu seakan akan bersikap melindungi perempuan itu. Apa kamu juga menyukainya." Jawab Aditya dengan tidak lupa senyuman licik itu seketika tercipta dari bibirnya.


"Sudah pasti semua tentang dia, aku harus ikut campur karna dia adalah Asisten di rumahku. Dimana juga dia menginap di rumahku, jadi tidak masalah kalau aku memperingatkanmu." jelas Aditya yang semakin menunjukkan pada Aditya jika dia berhak untuk memberiman peringatan pada Aditya ketika Aditya mempunyai niatan tidak baik pada Maurin.


"Hahahah... Aku baru melihat wajah seriusmu dalam membela wanita, tapi apakah kata kata mu itu akan berlaku. Tidak!! karna aku tetap akan mendekatinya dan membuatnya jatuh cinta kepadaku!." Aditya seakan menantang Rangga dalam hal itu, membuat Rangga mengepalkan tangannya erat.


Dan saat Aditya hendak keluar dari ruangan meeting, tiba tiba saja tangan Rangga mencekal lengan Aditya. Senyuman licik Aditya seketika menghilang dan wajahnya berubah bengis.


"BRAAAKKK." Rangga langsung menarik lengan Aditya dengan kasar, hingga tubuh Aditya menabrak meja dengan keras.


"Jangan coba coba untuk mendekatinya, bukankah aku sudah memberikan peringatan padamu secara baik baik." kata Rangga penuh penekanan.


"Melihat sikapmu yang seperti, aku tidak yakin jika kau hanya ingin melindunginya karna dia pembantu di rumah mu, tapi aku yakin jika kau bersikap seperti karna kau telah menyimpan perasaan padanya." Kata Aditya membalas, dengan bahasa yang mulai berbeda menekan kan kata kau pada Rangga.


"Jika aku menajawab iya... Kamu mau apa??."


Aditya langsung terkekeh, mendengar jawaban serta pengakuan Rangga.


"Jika memang iya, bukankah sudah jelas jika kita akan bersaing, jadi mari kita bersaing secara sehat untuk mendapatkan Maurin." Aditya semakin menguji kesabaran Rangga.


"Dia bukan barang taruhan Dit!!." Sahut Rangga dengan cepat.


"Kalau memang seperti itu, jadi jangan salah kan aku kalau aku akan mendapatkannya dengan segera!!." Aditya segera berlalu dari ruangan itu meninggalkan Rangga dengan penuh emosi padanya.


"BAIKLAH, KITA LIHAT SIAPA YANG AKAN MENANG!!." seru Rangga pada Aditya yang akan membuka pintu.

__ADS_1


Mendengar jawaban itu Aditya mengacungkan jari tengahnya pada Rangga, dan Rangga menganggap jika itu menjadi tanda bendera perang yang Aditya kibarkan padanya.


Sesuatu yang tidak pernah di bayangkan Rangga tiba tiba terjadi, bukan perkara mudah kala Rangga harus berhadapan dengan saudaranya sendiri. Namun, di balik ini Rangga sudah dapat mengakui jika hatinya telah benar benar jatuh pada Maurin.


__ADS_2