
Setelah semuanya keluar Rangga meraih kursi lalu mendudukinya, laki laki itu menatap lekat ke arah Maurin yang terus saja memalingkan wajahnya pada Rangga. Rangga dapat mengerti perasaan Maurin yang mungkin begitu kecewa karnanya.
Rangga lalu meraih tangan Maurin, dan Maurin langsung menyingkirkan tangan Rangga. "Apa kamu masih marah?." Tanya Rangga. Namun Maurin tetap diam tanpa menjawab tidak dapat di pungkiri Maurin benar benar marah dan kecewa.
Tidak mendapat respon bahkan menatap pun Maurin terasa enggan, akhirnya Rangga memutuskan untuk berdiri lalu keluar dari ruang rawat itu.
Bukan menyerah Rangga hanya ingin berusaha untuk meluluhkan Maurin, dan dengan caranya kali ini Rangga berharap Maurin bisa memaafkannya.
"Sayang sini, Tante mau ketemu kamu." Panggil Rangga pada Aden, anak laki laki itu yang tentu begitu merindukan sosok Maurin langsung berlari dengan seulas senyum.
Setelah Aden sudah berada dalam genggamannya, Rangga kembali masuk ke ruang rawat itu sembari menggandeng putranya. Semua orang yang berada di luar hanya saling tatap saat melihat Rangga yang mencoba membujuk dan meluluhkan Maurin kembali.
"Kakak cantik." Suara itu dengan keriangannya menyapa sosok Maurin yang terus menatap ke arah dinding.
Benar saja, jika hanya dengan suara Aden Maurin bisa langsung luluh buktinya tanpa beban Maurin langsung menoleh ke arah Aden dengan senyuman yang terbit saat melihat anak laki laki itu menghampirinya.
"Papah duduk sini Aden pangku yah pah." Ujar Aden mengarahkan Rangga agar duduk di kursi semula dirinya duduk.
Dan kini berkat Aden Rangga dapat duduk di kursi itu sembari memangku Aden dan saat itu Rangga dapat merasakan kedekatannya dengan Maurin tanpa harus Maurin memalingkan wajahnya.
Tangan mungil milik Aden, meraih tangan milik Maurin anak itu menggenggam dengan lembut. Membuat hati Maurin berdesir hangat saat Aden sesekali mengusap punggung tangan Maurin layaknya seorang laki laki dewasa yang ingin menenangkan kekasihnya.
__ADS_1
"Kakak cantik sakit yah?." Ujarnya lembut dan semburat kekhawatiran nampak di wajah tampan itu.
"Iyah sayang, tapi Kakak gapapa kok. Jadi Aden gak usah sedih yah sayang." Jawab Maurin membalasa dengan mengelus lembut pipi gembul milik Aden.
"Ohh yah, kakak cantik juga lagi marahan yah sama papah?." Kata Aden sedikit mengejutkan Maurin.
"Kalau memang papah salah sama kakak cantik, Aden mohon buat kakak cantik maafin papah. Aden gak mau kakak cantik dan papah marahan." Ujarnya kembali melanjutkan bait katanya yang belum usai.
Rangga hanya menatap lekat ke arah Maurin yang sesekali melirik ke arahnya, Maurin tampak mengulas senyum canggung di tambah Aden mengatakannya tepat saat Rangga berada bersama mereka.
"Nggak sayang! Kakak gak marahan kok sama papah yah kan tuan!." Jawab Maurin lalu meminta pendapat Rangga untuk meyakinkan.
"Kamu bohong Rin, apa kamu tahu sayang, papah sudah meminta maaf beribu kali tapi kakak cantik tidak mau memaafkan." Seketika Maurin membulatkan matanya kala Rangga malah mengadu pada Aden, saat mendengar jawaban dari Rangga Aden semakin terlihat sedih.
Seketika Maurin menggeleng cepat. "Nggak sayang, gak perlu. Baiklah mulai detik ini di depan Aden kakak memaafkan papah." Kata Maurin cepat, sungguh dia tidak tega melihat wajah sedih itu.
Seketika senyuman Rangga tercipta, laki laki itu merasa senang ketika rencananya berhasil.
Sedangkan di luar ruang rawat Eli terus memperhatikan Bu Rosma yang tidak hentinya terisak walau isakannya sudah sedikit mereda Namun, rasa khawatir dan kecewanya terhadap Rangga semakin membesar. Tidak ingin terus larut akan masalah ini Eli segera berdiri lalu melangkah mendekat ke arah Rosma.
"Bu... Saya tahu ini semua berat Bu, tapi Bu bukankah jika ada masalah tidak baik terus berlarut larut di biarkan. Maka dari itu disini saya sebagai ibu dari putra yang sudah memberi kesedihan pada keluarga ibu ingin bertanggung jawab atas semua ini, saya akan meminta Rangga untuk menikahi Maurin secepatnya." Kata Eli dengan suara selembut mungkin agar Bu Rosma tidak tersinggung.
__ADS_1
Sesaat Bu Rosma mengusap air matanya, lalu wanita paruh baya itu menoleh menatap ke arah wanita yang sudah beberapa tahun ini menjadi majikannya.
"Bertanggung jawab dan menikahi putri saya, apa itu akan mengembalikan semua yang di renggut oleh tuan Rangga. Tidak kan Bu lagi pula apa mungkin tuan Rangga bisa mencintai anak saya, saya rasa biarkan itu semua saya tanggung biarkan anak dalam kandungan putri saya berkembang tanpa sosok ayah. Yang terpenting putri saya tidak akan merasakan kecewa dan rasa sakit yang sama untuk kedua kalinya." Jawab Bu Rosma, wanita paruh baya itu menangis mengingat masih putri satu satunya yang harus menerima masalah yang begitu besar. Untuk mengharapkan tanggung jawab dari keluarga kaya yang bahkan kastanya begitu jauh dengannya membuat Bu Rosma tidak berharap banyak.
"Tapi Bu..." Ucapan Eli tidak berlanjut kala Ivan menepuk pundaknya, laki laki itu menggelangkan kepalanya perlahan meminta agar Eli jangan membahas soal itu terlebih dahulu.
Akhirnya Eli hanya bisa menghela nafasnya, kala Ivan langsung meminta Eli untuk membiarkan Bu Rosma sendiri agar bisa menenangkan dirinya.
Elea yang merasa tidak lega setelah melihat interaksi antara Rosma dan Eli, gadis itu kembali beraksi. Elea segera bangkit lalu menghampiri Eli.
"Aku harap bapak dan ibu bisa mempertanggung jawabkan apa yang di lakukan oleh putra bapak dan ibuk pada sahabat saya, karna di balik itu juga sahabat saya tengah mengandung cucu dari bapak dan ibu." Ujar Elea.
"Kamu jangan khawatir nak, setelah keadaan kembali kondusif sudah pasti itu hal utama yang akan segera kami bicarakan. Dan soal kehamilan Maurin apa dia sudah tau." Jawab Ivan lalu melayangkan pertanyaan pada Elea.
"Belum pak, dia sampai sekarang belum tahu. Dia hanya mengetahui jika dia pingsan karna pendarahan yang tidak tahu penyebabnya apa. Tapi jangan khawatir saya akan menjelaskan semuanya pada dia nanti." Jawab Elea, gadis ini memang sahabat yang begitu baik tidak hanya itu Elea begitu memperhatikan keluarga Maurin karna memang Maurin juga sudah begitu baik padanya.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Rangga dan Aden keluar dari dalam ruang rawat Maurin. Dan Elea segera beralih menghampiri Rangga.
"Apa dia baik baik saja?." Tanya Elea pada Rangga.
"Syukurlah, dia sudah mendingan." Jawab Rangga.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama Elea segera masuk ke dalam ruang rawat, sesaat Elea mencoba mengintip dengan memberikan senyuman pada Maurin yang langsung melihat ke arah pintu yang terbuka.
"Haaiii Riiin..." Sapa gadis itu riang berharap kesedihan Maurin berkurang.