
Melihat ketakutan dari raut wajah Maurin, Aditya justru semakin mendekati gadis itu dan tidak lupa menutup pintu lalu menguncinya, senyuman Aditya semakin merekah sampai memperlihatkan barisan dari deretan gigi rapinya ketika melihat
Maurin yang terjatuh ke atas kasurnya.
"Tu- tuan mau apa?." Tanpa sadar ketakutan itu membuat Maurin meneteskan air matanya.
"Aku hanya ingin kamu menjadi milikku Rin, aku tidak rela jika kamu akan dimiliki oleh Rangga." Ujarnya semakin mendekati Maurin yang trus mencoba memundurkan tubuhnya menjauh.
"Ta- tapi buka seperti ini caranya tuan..." Maurin semakin terisak.
Maurin yang begitu panik kala melihat Rangga semakin mendekat ke arah kasur, dengan cepat gadis itu merangkak lalu turun. Niatnya yang ingin berusaha kabur sayang Aditya menangkap Maurin dengan begitu mudah.
Seketika aroma tubuh Aditya menabrak indra penciuman Maurin, aroma maskulin itu seakan mendobrak penciuman Maurin, di tengah dirinya berada di pelukan Aditya.
Maurin yang telah masuk di dalam pelukan itu, mencoba dengan sekuat tenaga memberontak namun, apa daya kekuatan gadis itu tidak sebanding dengan kekuatan Aditya yang cukup besar.
"Jika bukan seperti ini, harus seperti apa cara yang harus aku lakukan Rin." Jawab Aditya sembari membisikkannya di telinga Maurin.
Breeett
Dengan sekali tarikan dress tidur Maurin sobek, memperlihatkan punggung mulusnya dengan kaitan tali Br*a yang masih terkait melingkar di punggung mulus Maurin.
Has*rat Aditya semakin memuncak kala dapat melihat betapa mulus punggung itu, di tambah pelukan erat yang dengan sempurna menempelkan kedua melon bangkok di dadanya.
Tetesan air mata semakin deras mengalir pipi Maurin, meski pelukan Aditya yang begitu erat Maurin berusaha untuk memberontak meski dapat di bilang semua itu sia sia, mau berteriak kencang mengingat rahangnya yang masih belum sepenuhnya pulih.
__ADS_1
Aditya mulai melangkahkan maju yang reflek Maurin melangkahkan kakinya mundur, menahan kembali agar Aditya tidak membawanya ke kasur sekali lagi sia sia harapannya. Maurin trus di dorong mundur hingga kakinya tidak kehilangan keseimbangan saat menabrak kasur dan membuat keduanya terjatuh dengan posisi Aditya di atas.
Sedangkan di dalam mobil Rangga merasa perasaannya tidak enak, membuat laki laki itu kembali menambah kecepatan mobil.
"Kenapa perasaanku tiba tiba seperti ini tuhan, apa ada sesuatu dengan kamu Rin." Jantungnya berdegup kencang, fikirannya yang tertuju pada Maurin kemana mana.
Aditya kembali menelisik setiap inci wajah ayu Maurin tanpa balutan make up, sedangkan Maurin memalingkan wajahnya yang sudah basah akibat air mata. Sesaat Aditya mencoba menghapus air mata itu, yang langsung Maurin berusaha menjauhkan wajahnya.
Aditya kembali tersenyum, tangan kekarnya mulai menjalar ke arah dada kerah baju yang melonggar Rangga kembali menggenggamnya dengan kedua tangan kekarnya, lalu.
Breettt.
Dalam sekali tarikan kain yang menutupi bagian dada Maurin di robek, yang reflek kedua tanggannya yang tidak sengaja leluasa menyilang di dada. Hasrat Aditya semakin terbakar hebat apalagi melihat wajah Maurin yang memerah entah karna malu ata marah, dengan kedua tangan yang menyilang di dada. Ketika Maurin hendak meraih sebuah selimut, dengan cepat pula Aditya melempar selimut itu dan terjatuh di pojokan kamar, membuat Maurin semakin deras mengeluarkan air matanya dengan isakan yang lirih, harus bagaimana sekarang dia, tidak bisa apa apa Maurin tidak ingin pasrah tapi keadaan yang membuatnya harus pasrah.
Di dalam kamar Aditya yang semakin merasa leluasa setelah mengoyak pakaian Maurin, bibir itu mulai menjelajah menghirup di setiap titik bagian tubuh Maurin yang begitu harum. Dan tepat di bagian leher Maurin yang terlihat begitu menggoda Aditya mendaratkan sebuah tanda disana dengan dalam, Maurin memejamkan matanya sembari mengutuk Aditya.
Rangga melorotkan matanya kala melihat mobil Aditya yang terparkir sembarangan, jantung laki laki itu semakin berdegup kencang tidak butuh waktu lama untuk memarkirkan mobil di garasi Rangga langsung keluar dan segara masuk ke dalam rumah. Sepi, itulah yang terlihat dan Rangga tanpa kata langsung menuju ke kamar Maurin yang tertutup dan dari luar jantung Rangga terasa remuk kala mendengar lirih isakan Maurin.
Braaakk.
Dengan sekali tendangan tanpa ketukan terlebih dahulu Rangga mendobrak pintu kamar Maurin, dan membuat Aditya menoleh secara bersamaan, sedangkan Maurin tidak lagi memperdulikan itu dia hanya terus menangis sesenggukan.
Nafasnya langsung memburu kala terkejut dengan apa yang di lihatnya, Aditya yang tidak lain adalah sepupunya berada di atas tubuh Maurin dengan posisi merangkak.
Langkah lebarnya langsung menghampiri, emosi yang memuncak tanpa kata Rangga menendang paha Aditya dengan kencang yang otomatis membuat Rangga terjatuh ketika tidak siap menerima serangan dari Rangga.
__ADS_1
Bruuugh.
Maurin yang terlepas dari kukungan Aditya langsung bangkit dan merangkak ke kasur meraih bantal dan guling serta mengeratkan baju yang koyak itu agar tetap melekat di tubuhnya, sedangkan Rangga tidak cukup untuk tendangan saja Rangga kembali menghampiri Aditya yang hendak bangkit dengan kasar Rangga menarik baju Aditya, lalu memberikan bogeman mentah dan beberapa pukulan kasar yang membuat Aditya langsung babak belur di tangan Rangga, emosi Rangga yang kali ini begitu memuncak membuat Aditya tidak bisa melawan apalagi Rangga tidak memberikan jeda untuk pukulan.
"PERGI KAU BRENGSEK!! PERGIII JANGAN PERNAH KAU INJAK KEMBALI RUMAH INI." bentak Rangga setelah mengeluarkan Aditya dari kamar Maurin.
Langkah tertatihnya sembari menahan rasa sakit yang begitu mendera di beberapa bagian tubuh, Aditya langsung keluar dari rumah itu tanpa meninggalkan sepatah kata pun pada Rangga.
Nafasnya Rangga trus memburu wajahnya memerah, pori pori kulitnya mengeluarkan keringat hasil dari perasaannya yang memanas, setelah Aditya menghilang dari pandangannya Rangga kembali masuk ke dalam kamar dan melihat Maurin memeluk lutut dengan penampilan berantakannya, bantal yang di gunakan Maurin untuk menutupi tubuhnya seakan sia sia, tubuh indahnya tetap terekspos.
Rangga segera mengambil selimut yang di lempar Aditya di pojokan, laki laki itu mendekati Maurin lalu merentangkan selimut dan Rangga menutupi tubuh Maurin dengan membalut selimut itu ke tubuhnya.
Rangga teriris saat isak itu masih berlangsung, tubuhnya bergetar dengan air mata yang tak kunjung menyurut. Rangga yang tidak tega langsung membawa Maurin ke dalam pelukan dan tangisan itu semakin pecah.
"A- aku sudah ti- tidak suci la- lagi tu- tuan." Katanya terisak sembari sesenggukan karna tangis yang cukup lama.
Mendengar itu Rangga mengeratkan pelukannya, mencoba menyalurkan ketenangan untuk gadis itu tangisnya begitu terdengar pilu.
"Laki laki i- itu te- telah merenggutnya tuan."
"Tidak!!. kamu masih suci Rin, dia belum melakukannya padamu kamu masih suci, jangan seperti ini dia sudah pergi." Rangga mencoba menampis semua apa yang di fikiran Maurin, agar gadis itu mulai tenang. Tangan Rangga mengepal mengingat Aditya yang telah melakukan semua ini.
*( Haii Gengs, satu bab dulu yah tapi di pastikan update setiap hari, soalnya lagi benerin rumah juga... jangan lupa dong buat ninggalin jejak biar aku tambah semangat membuat alur cerita yang bakal buat kalian seperti naik rollercoaster hehehe... pokoknya sehat sehat buat kalian, doain juga biar rumahku cepet selesai biar double up.
mampir ke Igku : Abiyasapages02 buat interaksi dan melihat aktivitas menulisku see youu❤️)*
__ADS_1