
"kenapa kau senyum senyum seperti itu?." Tanya Bella heran ketika melihat Aditya yang pulang dengan raut wajah penuh kepuasan.
"Karna rencanaku berhasil Bell!." Jawab Aditya lalu mendaratkan tubuhnya di samping Bella.
Bella lalu memiringkan tubuhnya menatap ke arah Aditya yang seakan habis mendapatkan sesuatu yang berharga, dan membuat Bella menjadi penasaran.
"Kita tinggal melihat esok hari Bel, apa akan ada peperangan besar di antara Maurin dan Rangga. Jika kala itu Rangga menggagalkan rencanaku dengan datang dan mencegahku saat akan merebut kesucian Maurin. Dan kini sosok Rangga yang bagaikan malaikat sosok malaikat bagi Maurin, ternyata sudah menjadi sosok iblis yang menyeramkan karna laki laki yang menolongnya pula yang mengambil kesuciannya." Jelas Aditya merasa penuh kemenangan.
"Gila kamu Dit, bisa terbalik banget gitu yah." Bella hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak menyangka akan rencana Adit yang di luar pemikirannya.
"Jadi dengan begitu, Maurin pasti akan membenci Rangga." Sambung Aditya.
****
Di kamar milik Rangga semuanya masih berjalan, kamar itu semakin memanas bibir Rangga menelusuri setiap inci bagian dada yang terlihat begitu menggoda, Rangga menyingkap kain yang menutupi persinggahan melon bangkok hingga terpampang nyata bungkusan melon bangkok yang begitu menggoda padat dan berisi, tak puas hanya menikmati dengan menatapnya saja, Rangga mulai membuka bungkus melon bangkok. Jantung Maurin semakin berdegup kencang gadis itu mulai panik kala Rangga dalam sekali tarikan bungkus melon bangkoknya terlepas dan melon bangkok itu membusung menantang semakin memancing hasrat Rangga yang sudah berada di puncak. Tidak sampai di situ Rangga mulai meninggalkan jejak di bibirnya mendarat di gunungan melon yang menggoda dengan kulit putih susu.
__ADS_1
Maurin terus terisak kala Rangga terus melakukannya berulang, yang terkadang meninggalkan rasa nyeri kala Rangga menghisapnya terlalu kuat, kini bagian dadanya penuh dengan jejak Rangga berwarna merah keunguan.
"Pleaseee, tuan aku mohon hentikan." Suara Maurin terdengar serak karna sedari tadi berteriak memohon agar Rangga menghentikan semuanya.
Setelah puas menelusuri dan menikmati melon bangkok itu Rangga mulai melepaskan kain di tubuhnya hingga tidak tersisa sehelai benang pun, Maurin seketika memalingkan wajahnya kala begitu terpampang nyata roti sobek milik Rangga yang tentu pasti menggoda siapapun wanita yang melihatnya, tidak Mr.Cassava black mamba yang begitu kokoh berdiri hingga tanpa sengaja menempel pada paha mulus Maurin yang sudah tidak ada penghalang apapun karna pakaiannya yang telah rusak oleh tangan Rangga.
Dengan perlahan Rangga mulai mengarahkan Mr,Cassava black mamba ke irisan buah plum yang begitu ranum dan terlihat bersih yang sepertinya di rawat penuh oleh Maurin.
Saat Mr, Cassava mulai Rangga arahkan hingga menyentuh irisan buah plum Maurin membelalakkan matanya, Gadis itu kembali memberontak untuk mencegah Rangga agar tidak melakukannya dan berontakan Maurin semakin membuat Rangga tidak terkendali. Mr, Cassava yang begitu sulit untuk menerobos pintu yang masih rapat dengan sekuat tenaga mencoba mendorongnya hingga Rangga merasakan ada sesuatu yang di tabraknya. Maurin membelalakkan matanya mulutnya terbuka merasakan sesuatu yang mencoba menerobos kepemilikannya, dan tentu rasa sakit dan nyeri itu seketika bercampur.
"Aaaahhh sa- sakiiit." rintih Maurin mencoba menahan rasa sakit itu, gadis itu menggigit kuat kuat bibirnya tangannya yang sudah terlepas dari genggaman Rangga memiliki menggenggam erat selimut yang berada di bawah tubuhnya.
Suara erangan kenikmatan menggema di kamar itu, Rangga terus memompa semakin cepat. Meski rasa nyeri dan sakit itu mulai berkurang ketika tubuhnya mulai menerimanya dan merasakan kenikmatan pula. Maurin hanya bisa pasrah saat itu air matanya terus menggenang membasahi rambut yang menjadi labuhannya. Kini Maurin merasa tidak mempunyai kehormatannya lagi. Laki laki yang ternyata beberapa saat lalu menyelamatkannya dari kejadian buruk yang akan menimpanya dan saat ini laki laki itu juga yang merebutnya.
Rangga mengerang hebat dan menggigit daerah melon bangkok itu, kala merasakan pelepasan yang begitu dahsyat, nafas keduanya saling memburu, keringat bercucuran dan menjadi satu. Maurin merasa lemas sedangkan Rangga langsung jatuh limbung di samping gadis itu.
__ADS_1
Maurin begitu merasakan kelelahan hebat gadis yang telah kehilangan kesuciannya beberapa saat lalu tangannya meraba raba, lalu meraih selimut untuk di gunakannya menutupi tubuh polosnya, di fikirannya kini hanya memejamkan mata karna lelah itu begitu menggelayut di tambah rasa nyeri di pangkal pahanya. Dalam sekejap setelah pergumulan panas itu keduanya sama sama terlelap mengarungi mimpi yang mungkin akan menjadi mimpi terburuk saat keduanya membuka mata.
Malam terus beranjak hingga pukul 03.55 wib, Rangga mulai mengerjapkan matanya rasa berat di kepalanya masih sedikit terasa. Namun, rasa ringan di tubuhnya juga mengimbangi tidur yang hanya beberapa jam cukup mengembalikan kebugaran dalam tubuhnya di tambah hasratnya yang sudah di ledakkan. Setelah beberapa saat mencoba untuk mengembalikan nyawanya akhirnya laki laki itu telah sepenuhnya tersadar. Ingatan Rangga mulai kembali laki laki itu mulai mengingat apa yang beberapa jam lalu terjadi, rasa sesal langsung bersarang di benaknya. Lelaki itu perlahan mencoba menoleh ke atas samping seketika air mata yang jarang sekali keluar itu, akhirnya lolos. Rangga memejamkan matanya erat, saat melihat wajah lelap polos milik Maurin.
"Brengsek kau Rangga." Gumamnya merutuki dirinya yang tidak dapat mengendalikan hasratnya.
Rangga menatap lekat wajah ayu Maurin, tubuh polosnya di tutupi seluruh selimut tebal sedangkan Rangga masih dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun karna Maurin tidak menyisakan sedikit selimut untuknya.
Laki laki itu tentu merasakan dingin, dirinya dan Maurin telah di jadikan satu dalam situasi yang tidak di harapkan ini. Rangga menarik selimut lalu dirinya ikut masuk ke dalam selimut itu. Bukankah kini Maurin sudah menjadi miliknya, yah Rangga mulai berfikiran seperti itu.
Sama sama polos dan tanpa sehelai benang pun, kulit Rangga yang bertabrakan dengan kulit Maurin merasakan kenyamanan membuat Rangga memejamkan mata menikmatinya. Laki laki itu semakin merapatkan tubuhnya membawa Maurin masuk ke dalam pelukannya.
Merasakan pergerakan dari Rangga, Maurin mulai mengerjapkan mata. Dan saat matanya terbuka sempurna mata itu bertabrakan dengan mata milik Rangga yang tengah menatapnya lekat.
Air mata itu kembali menetes, saat ingatannya kembali tentang kejadian beberapa jam lalu.
__ADS_1
"Maafkan aku Rin, ini semua berada di luar kendaliku." Ucap Rangga dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Maurin semakin meneteskan air matanya deras, entah kenapa ini semua harus terjadi padanya. Dia benar benar tidak siap akan cobaan kali ini, Rangga semakin teriris mendengar Maurin yang kembali terisak. Sepertinya gadis itu sudah tidak melawan lagi karna sudah tidak ada yang harus di pertahankannya karna semua yang di jaganya sejak dulu telah di renggut paksa oleh Rangga.