Pembantu Pengganti

Pembantu Pengganti
Bab 53


__ADS_3

"aku menebak jika kau telah memikirkan Maurin telah meninggalkanku karna itu lah satu satu harapanmu. Karna kau berfikir jika Maurin hanyalah gadis lugu yang pasti akan memilih untuk pergi. Tapi sialnya untuk dirimu awalnya memang begitu tapi, saat ini dia sudah berada dalam genggamanku." Kata Rangga lalu tersenyum meremehkan.


Seketika senyuman di hibir Bella memudar, tampak wajah kekesalannya yang kini menghiasinya. Bella mengeratkan rahangnya. Melihat Rangga yang semakin menunjukkan kekalahannya membuat Bella tidak terima.


"KENAPA KAMU SEJAHAT INI SIH GA, KENAPAAA?." Teriak Bella lalu memukul dada Rangga. Jelas Bella kini tidak tahu lagi harus berbuat apa sedangkan Rangga sendiri sudah mengetahui akan semua yang telah di lakukannya.


Rangga menahan tangan Bella yang terus ingin memukulinya. " Jahat kenapa Bell?, Aku tidak melakukan apa apa padamu, jangan bersikap seperti ini. Karna kau playing victim sekali." Rangga langsung memberikan kata kata menohoknya pada Bella.


Bella hanya bisa menangis, tidak menyangka jika rencananya yang gagal akan sampai separah ini. Niat hati ingin mencoba untuk meluluhkan Rangga agar bisa kembali masuk ke dalam kehidupan laki laki itu, tapi karna satu kesalahan dan kecerobohannya membuat Bella kehilangan semuanya.


Rangga yang melihat Bella menangis hanya bersikap biasa saja, bahkan laki laki itu segera meninggalkan Bella sendirian. Untuk dulu mungkin Rangga masih tidak bisa untuk mengacuhkan Bella ketika wanita itu sudah mengeluarkan air matanya, tapi untuk sekarang Rangga sudah tidak mau lagi peduli pada Bella. Walau wanita itu adalah ibu dari anaknya.


"Baiklaah Ga, jika itu maumu. Kau sekarang membuangku tapi setelah menghilangnya diriku aku akan kembali dengan menghancurkan hubunganmu dengan perempuan sialan itu." Bella menghentakkan kakinya lalu segera pergi dan keluar dari gedung perusahaan yang tidak lain adalah milik Rangga.


****


"Kamu tahu Rin, tuan Rangga begitu perhatian padamu." Kata Bu Rosma sembari menyuapkan bubur yang telah di sediakan dari rumah sakit.

__ADS_1


"Perhatian gimana Bu?, Bukankah semua sikap tuan Rangga itu karna memang aku tengah sakit." Maurin mencoba bersikap biasa saja, sudah cukup dirinya terkena akan sikap Rangga.


"Perhatian itu beda nak, perhatian tuan Rangga yang di berikan padamu itu layaknya seorang kekasih yang mencintai perempuannya." Tanpa di sadari Bu Rosma memuji apa yang di lakukan oleh Rangga.


"Jangan gitu Bu, coba ingat pas ibu baru mengetahui aku mulai tertarik pada tuan Rangga. Bukankah saat itu ibu sendiri yang memintaku agar selalu waspada dan jangan berharap lebih pada tuan Rangga mengingat kasta aku dan dia begitu jauh." Ujar Maurin kembali mengingatkan pada Bu Rosma, dan Bu Rosma seketika tersadar akan ucapannya sendiri kala itu.


Bu Rosma lalu tersenyum sembari memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Tapi Rin, ibu sepertinya harus menarik ucapan ibu saat itu. Karna setelah melihat reaksi dari keluarga pak Ivan, itu membuat ibu sadar jika keluarga merekan tidak pernah memandang rendah kita yang status sosialnya lebih rendah dari mereka." Jawab Bu Rosma.


"Dari cara nyonya Eli memperlakukan ibu dengan begitu baik, seharusnya ibu langsung sadar jika keluarga mereka memang baik. Tanpa pandang status sosial, meskipun tuan Rangga sedikit dingin arogan dan cuek saat itu." Sekali lagi, perkataan dari Maurin dapat di setujui oleh Bu Rosma.


"Iyah juga yah Rin, kenapa kamu sangat pintar dalam menebaknya. - kata Bu Rosma membenarkan. - oh yah Rin, setelah ini kamu gimana? Kamu mau tinggal balik sama ibu kan?." Tanya Bu Rosma pada Maurin.


"Jika itu memang keputusanmu, ibu hanya bisa menyetujuinya saja nak. Yang terpenting cucu ibu di dalam dan anak ibu sehat." Kata Bu Rosma sembari menyuapkan sesendok bubur terakhir untuk Maurin.


****


Selama rutinitas di perusahaannya Rangga terus fokus pada kesibukan yang membuat Rangga untuk sementara melupakan masalahnya. Rangga bekerja di hari itu sampai harus larut malam, kesibukannya tentu menjadi alasan utamanya.

__ADS_1


Laki laki itu langsung meregangkan otot ototnya setelah banyaknya pekerjaan teratasi hari itu juga, sesaat Rangga lalu melirik ke jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Ya tuhan, ternyata sudah cukup larut. Aku harus segera kembali ke rumah sakit." Rangga sedikit terkejut kala jam tangannya menunjukkan pukul 23.45 wib, dimana malam sudah larut dan sebagian karyawannya sudah kembali ke rumah dan beberapa masih bertahan karna harus kerja lembur. Rangga pun segera bergegas lalu laki laki itu segera keluar dari ruangannya.


Rasa rindu setelah meninggalkan Maurin seharian tentu di rasakan oleh Rangga, mungkin juga karna Rangga yang sudah jatuh cinta akan perempuan itu. tapi Rangga juga tidak bisa gegabah dia harus terlebih dahulu kembali ke rumahnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaiannya sebelum bertemu dengan Maurin.


Sedangkan di rumah sakit, semuanya berada disana tidak terkecuali Aden. Yang terus berada di samping Maurin. Meski banyak yang menemani Maurin merasa ada yang kurang ketika Rangga tidak ada. Rasa rindu tiba tiba menumpuk setelah seharian tidak bertemu. Perasaan Maurin pun jadi mulai gelisah karna sampai malam hendak semakin larut tapi Rangga masih belum juga datang.


"Tidak usah mencemaskan Rangga, dia pasti sebentar lagi akan kembali. Mungkin karna meeting dan beberapa hal lain di kantornya membuat dia harus pulang sampai selarut ini." Kata Eli tiba tiba, seketika membuat Rosma dan Ivan sadar jika Maurin tengah resah menunggu kehadiran Rangga.


Seketika wajah pucat Maurin merona itu jelas terlihat setelah Eli mengatakan perkataannya yang membuat Maurin malu, di tambah jika Eli tengah memperhatikannya.


"Tuh nyonya Eli aja sampai nyadar kalo kamu tengah ngerisauin putranya, jadi ketauan kan." Timpal Bu Rosma yang seketika ruangan itu di penuhi gelak tawa di tengah malam, Maurin hanya bisa menunduk sambil menahan rasa malunya.


Di tengah tawa di antara mereka tiba tiba saja, pintu kamar terbuka. Dan terlihatlah Rangga yang ternyata datang dengan penampilannya yang sudah segar. " Ada apa ini? Kenapa kalian berbahagia tapi tidak mengajakku." Kata Rangga sembari menutup pintu kembali.


"Kamu tahu Ga, Maurin sedari tadi gelisah di tengah kita yang ingin menghiburnya. Dan ternyata dia tengah mencemaskan mu yang tidak kunjung kembali." Eli menjelaskan pada Rangga yang tentu penjelasan itu membuat Rangga tersenyum, sedangkan Maurin semakin malu saat itu rasanya dia ingin menghilang saat itu juga.

__ADS_1


"Se- sebenarnya tidak seperti itu tuan." Maurin akhirnya membuka suara dan mengelaknya.


__ADS_2