
Setelah mengurus semua administrasi rumah sakit yang tentunya Rangga yang menanggung semua biaya rumah sakit calon ibu dari anaknya nanti.
Rangga, Maurin dan lainnya bergegas menuju mobil dan kini Rangga dan Maurin memilik kesempatan lagi untuk berdua saja, karna ibunya naik mobil yang di sewa paman dan bibinya.
"Apa kamu yakin Rin, mau tinggal di rumah paman dan bibimu?." Rangga bertanya kembali berharap jika Maurin bisa berubah fikiran.
"Aku sudah yakin tuan, karna disana sangat nyaman. Coba lihat aja nanti bagaimana suasana pedesaan di rumah paman dan bibi. Aku jamin siapapun pasti betah disana." Jawab Maurin yang masih kekeh dengan keputusannya.
"Baiklaah, sekarang yang terpenting kamu sudah benar benar nyaman disana, aku nanti akan mengurus semua tentang sekolahmu." Ujar Rangga yang tanpa menoleh ke arah Maurin karna Rangga fokus melihat jalanan di depannya dimana Rangga mengikuti kemana mobil paman dan bibi Maurin melaju.
Maurin seketika menoleh ke arah Rangga, lalu tersenyum. "Makasih tuan." Ucapnya lalu kembali mengedarkan pandangannya ke arah luar jendela menikmati suguhan di luar sana.
"Tidak perlu berterimah kasih. Ini sudah menjadi kewajiban ku Rin. Dimana kenyamanan dan keamanan kamu dan bayi kita itu penting.", Jawabnya sembari tangan kirinya mengelus perut rata Maurin.
Sekali lagi Rangga kembali bersikap lembut, seperti tidak tampak jika sebenarnya laki laki ini cukup mudah terpancing emosinya. Meski penyebabnya hanya hal kecil.
Setelah perjalanan sudah cukup lama, mobil yang di kendarai paman Maurin mulai memasuki jalanan yang di sampingnya di tumbuhi pohon pohon yang begitu lebat. Rangga yang baru pertama kalinya masuk sedikit heran, mau kemana sebenarnya kenapa ada jalanan seperti ini.
"Apakah rumah paman dan bibimu begitu melosok Rin?." Tanya Rangga saat hawa sejuk yang di hasilkan dari pepohonan mulai terasa.
"Iyah tuan, memang sih cukup jauh dari perkotaan tapi aku nyaman. Satu lagi Revan dan Elea begitu sering mengantar jemput ku meski halamannya seperti ini." Jelas Maurin. Mendengar Maurin menyebutkan nama dari teman temannya itu sesaat membuat fikiran Rangga di penuhi pertanyaan.
"Jadi selama ini mereka yang menjemput dan mengantarkanmu." Tanya Rangga kembali ingin memastikan.
Maurin mengangguk. "Iyah bahkan mereka berdua yang menutupi kemana perginya diriku selama ini. Sampai tiba dimana waktu kamu berhasil kembali menemukanku." Kata Maurin.
__ADS_1
"Yah karna kamu udah jodohku Rin, jadi meskipun kamu pergi kemanapun. Bahkan tuhan mengerti dia akan mengembalikannya padaku meski membutuhkan waktu." Rangga membanggakan dirinya pada Maurin.
Maurin hanya bisa menghela nafas mendengar apa yang di katakan Rangga bisa jadi memang benar adanya.
Tidak lama kedua mobil itu melewati jalanan yang di tumbuhi banyak pepohonan serta sawah sawah yang menghiasi sepanjang perjalanan. Akhirnya mobil Rangga menyusul mobil milik paman Maurin yang berhenti tepat di depan rumah milik pamannya.
Sesaat Rangga terdiam mengedarkan pandangannya ke arah rumah yang tampak kuno namun terlihat cukup unik dan terlihat nyaman.
"Kenapa tuan?." Tanya Maurin kala Rangga tidak kunjung turu.
Rangga seketika tersadar dari kefokusannya, lalu menatap ke arah Maurin. "Tidak apa apa, bentar aku turun dulu." Kata Rangga lalu bergegas turun dari mobil dan segera membukakan pintu untuk Maurin.
"Hati hati." Ucap Rangga saat membantu Maurin untuk turun.
Sesaat setelah baru saja sampai mereka lalu mengobrol untuk memecah kecanggungan antara Rangga, paman dan bibi Maurin. Dengan cukup baik Rangga berbaur dengan mereka sampai obrolan mereka terputus kala Bu Rosma mengeluarkan suaranya.
"Besok ibu harus segera kembali bekerja, apa sebaiknya kita pulang sekarang aja tuan?." Tanya Bu Rosma pada Rangga.
Rangga seketika terbengong kala mendengar pertanyaan dari Bu Rosma dan pada akhirnya Rangga menyetujuinya meski Rangga sendiri masih ingin berlama lama disana.
"Sebelumnya, sebelum saya pulang saya mau menyampaikan sesuatu kepada paman dan bibi terlebih dahulu." Kata Rangga sebelum benar benar pergi.
"Silahkan jika memang ada yang ingin di sampaikan tuan." Kata Paman Maurin.
"Setelah beberapa saat berfikir nanti saya meminta izin pada Paman, jika saya bukan hanya sering kesini. Tapi selama Maurin berada disini saya akan tinggal disini juga." Kata Rangga membuat Maurin dan semuanya terkejut.
__ADS_1
"Tapi tuan."
"Tidak ada tapi tapian Rin, keputusanku sudah bulat dan aku tidak mau ada penolakan untuk ini." Kata Rangga telak yang tidak mau keputusannya di ganggu siapapun termasuk Maurin.
"Sebelumnya tuan, saya sungguh tidak keberatan jika tuan hendak tinggal disini. Tapi yang menjadi masalah di rumah ini sudah tidak ada kamar lagi." Jelas paman Maurin yang sedikit merasa tidak enak untuk menyampaikannya.
"Soal itu mudah, nanti saya akan membawa kasur yang cukup untuk satu orang dari rumah saya siap jika harus tidur di ruang tamu atau ruang keluarg." Rangga berbicara dengan begitu enteng, seakan apapun masalah pasti akan di lakukan agar keinginannya terpenuhi.
"Baik jika memang itu keputusan tuan." Yah mau bagaimana pun paman Maurin tidak mampu untuk menolak apa yang di inginkan dari laki laki itu.
Setelah obrolan itu selesai, akhirnya Rangga dan Bu Rosma pamit untuk pulang setelah beberapa saat tertunda karna Rangga.
"Jika paman lihat kamu cukup beruntung Rin, bisa mendapatkan laki laki seperti dia." Ucap sang paman, setelah mobil Rangga sudah tidak terlihat dan menjauh.
"Maurin tidak pernah menyangkal tentang keberuntungan itu paman, hanya saja Maurin kini cukup ingin membuat jarak terlebih dahulu. Agar bisa merubah sikapnya menjadi lebih baik lagi." Jawab Maurin.
"Bener apa kata Maurin pak, ini semua juga demi kebaikan Maurin dan tuan Rangga untuk ke depannya." Timpal sang bibi yang setuju dengan apa yang kini Maurin lakukan.
****
Jam mulai beranjak sebelum Rangga memutuskan kembali dimana Maurin berada, Rangga terlebih dahulu menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertinggal sedikit. Setelah semuanya beres dan aman, Rangga segera bergegas pulang lalu menyiapkan semuanya dari pakaian ganti dan lain lain.
Tanpa menunggu lama setelah semuanya beres, mobil Rangga melaju kencang kembali melintasi jalanan yang pagi tadi di lewatinya. Melintas saat hari sudah beranjak sore Rangga beberapa kali menemui orang orang yang hendak pulang dengan membawa rumput yang mungkin untuk pakan ternaknya.
Tak berapa lama akhirnya mobil itu kembali terhenti di halaman rumah milik paman Maurin. Saat Rangga sampai di rumah itu laki laki yang masih berada dalam mobil cukup terpesona saat baru pertama kali melihat Maurin mengenakan daster yang terlihat cocok di tubuh Maurin, daster yang di desain seperti dres itu menampakkan aura keibuan dari diri Maurin tanpa menghilangkan kecantikan ala gadis belia seusianya.
__ADS_1