
"Ada apa sih Dit?, Kalau memang apa yang aku lakukan salah tolong jelaskan apa yang menjadi kesalahanku." Setelah keduanya menyelesaikan pertarungan panasnya di ranjang, Bella kembali bertanya tentang kemarahan Aditya yang tiba tiba.
"Rencanamu yang menitipkan Aden bersama mereka dan kamu berharap hubungan mereka akan merenggang, tapi bukannya malah merenggang hubungan mereka semakin dekat Bell, dan apa kau tahu niatku untuk mengincar Maurin semakin sulit." Jelas Aditya yang kepalanya sudah dingin setelah menuntaskan hasratnya.
Mendengar penjelasan dari Aditya, Bella membenarkan kemarahan Aditya yang tiba tiba, Bella cukup tertegun dengan apa yang di dengarnya, seperti sebuah Boomerang, Bella berniat untuk memberikan masalah pada hubungan Rangga dan Maurin tapi malah rencana itu yang malah berbalik memberikannya masalah.
"Dan kamu tahu Bell, tadi pagi aku berniat untuk menjemput Maurin dan mengantarnya ke sekolah, tapi Rangga tiba tiba menghentikanku dan melarangku karna Maurin tengah sibuk mengurus Aden dan tidak lupa mantan suamimu itu juga ikut turut membantu Aden." Tentu Bella merasa geram mendengar penuturan dari Aditya, dan saat itu juga Bella tidak bisa diam saja jika hubungan Maurin dan Rangga baik baik saja.
Bella yang sudah terlanjur terbawa emosi, segera keluar dari selimut yang membalut tubuhnya, lalu segera memakai pakaian yang sudah di siapkan Aditya sebelumnya, jika Bella biasanya akan menuntut lebih setelah melakukan olahraga panas itu, kini karna sudah terbawa emosi Bella tidak membahasnya atau menuntut pada Aditya, karna masih ada banyak waktu untuk Bella meminta yang tentu dengan mudah pasti di turuti oleh Aditya.
"Kau mau kemana?." Tanya Aditya sembari melihat Bella yang tengah merapikan penampilannya.
"Sudah jelas lah Dit, aku akan mengunjungi mereka aku harus mengambil Aden dari mereka, percuma aku menitipkan anak itu pada mereka kalau rencanaku sia sia dan bahkan semakin mengacaukannya." Kata Bella bersungut sungut.
"Oh yah, satu lagi yang aku lupa katakan padamu Bell, mungkin kini mereka ada di rumah sakit, karna Rangga yang mencegahku untuk menjemput Maurin, aku dan Rangga terlibat perkelahian dan saat Maurin nekat melerai kita dia tanpa sengaja terkena bogemanku." Dan kali ini antara kaget, senang atau sedih bercampur aduk ketika Bella mendengarkannya. Merasa senang karna bisa mendengar jika saingannya itu terluka, Namun, sedihnya mungkin Rangga akan semakin perhatian pada gadis itu.
"Lalu gimana dengan Maurin." Tanya Bella ingin mengetahui lebih jauh.
"Rangga tentu membawanya ke rumah sakit, dan mungkin kalo sekarang kamu ke rumahnya, mungkin disana tidak akan ada orang kecuali satpam." Kata Aditya lalu Bella menghela nafas apa yang di takutkan dirinya mungkin akan segera terjadi, jika Rangga semakin dekat dengan Maurin.
****
"Ini sudah mau beranjak malam tuan, apa gak sebaiknya tuan pulang terlebih dahulu, kasian Aden sedari tadi siang belum mandi atau ganti baju." Kata Maurin pada Rangga yang kini masih saja setia di sampingnya.
__ADS_1
Sesaat Rangga melihat ke arah Aden, yang berada dalam pelukan Maurin di atas ranjang pasien, terlihat Aden bosan karna tidak ada satu mainan pun disitu. tapi, anak itu seakan mengerti dengan keadaan Maurin saat itu dan Aden tidak rewel sekalipun selama menjaga Maurin di rumah sakit.
"Gimana sayang, kita pulang dulu yah buat bebersih." Ucap Rangga meminta persetujuan dari Aden, dengan sedikit bujukan, karna anak itu begitu lengket pada Maurin
Aden sekilas mendongak menatap ke arah Maurin, sedangkan Maurin langsung membalasnya dengan tersenyum.
"Tapi kakak gapapa kalau ditinggal?." Tanya Aden yang masih mengkhawatirkan keadaan Maurin
"Gapapa dong sayang, kakak udah sedikit baikan juga, nanti disini juga ada suster yang jagain kakak, sekarang kamu pulang dulu yah sayang." Jelas Maurin menjawab pertanyaan Aden, tutur lembutnya seakan menyerap sempurna dalam pehaman Aden.
"Kalau gitu ayo papah, kita pulang lalu mandi, biar kita gak bau asem." Kata Aden pada Rangga dan Maurin.
Mendengar perkataan Aden, seketika membuat Maurin dan Rangga tertawa melihat kepolosan dari anak itu.
"Ya hati hati tuan." Jawab Maurin.
"Dadaahhh kakak, Aden pergi dulu." Aden trus melambaikan tangannya dan di balas dengan semangat oleh Maurin, hingga Aden dan Rangga keluar dari dalam kamar dan tidak terlihat lagi.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah, seperti biasa sepanjang jalan di penuhi dengan ocehan Aden yang mempertanyakan sesuatu yang di temuinya sepanjang jalan, dan Rangga menjawabnya dengan telaten dan sabar.
"Papah." Panggil Aden lalu menatap ke wajah Rangga.
"Iya sayang, ada apa? Apa ada yang mau kamu tanyakan?." Jawab Rangga dengan fokus ke arah depan.
__ADS_1
"Apa Kakak bisa jadi ibu aku pah."
"Ciiiiitt..." Suara rem yang tiba tiba mendadak di hentikan berbunyi cukup nyaring, beruntung Aden berada di Carseat yang membuat dia aman, Rangga pun cukup terkejut saat mendengar ucapan Aden, yang entah kenapa tiba tiba berbicara di luar dugaan Rangga.
"Apa kamu gapapa sayang?." Tanya Rangga langsung pada Aden, takut akibat dirinya yang mengerem mendadak Aden kenapa kenapa.
"Aden gapapa pah." Jawab Aden tersenyum, menandakan jika dia baik baik saja.
Rangga bernafas lega, kala mengetahui keadaan Aden yang masih aman, lalu tanpa menunggu lama Rangga kembali menyalakan mesin mobilnya lalu kembali melakukannya.
"Kenapa papah tidak menjawab!." Ucap Aden yang sepertinya masih menuntut jawaban dari Rangga.
Dan Rangga kembali mengela nafasnya kasar, ternyata anaknya itu masih saja ingin mendapat jawaban.
"Tidak semudah itu sayang, karna Kaka baik harus menggapai cita citanya dulu, apa Aden tau seorang wanita yang menjadi mamah Aden nantinya, dia harus benar benar siap untuk selalu bersama kita, dia udah gak sekolah atau bekerja karna papah mau jika nanti yang akan menjadi mamah Aden harus memang banyak meluangkan waktu bersama kita." Dan seperti biasa dari banyaknya pertanyaan yang terkadang memang membuat Rangga sedikit stok, dan membuat dia terbiasa dalam menerangkan hal hal yang harus Aden mengerti.
Mendengar jawaban serta penjelasan dari papahnya, wajah Aden langsung menyiratkan kekecewaannya anak itu tiba tiba diam saja hingga perjalanan sampai di rumah.
Sesampainya di rumah Rangga dengan cekatan memandika Aden di lanjut dengan memakaikan baju lalu menyisir rambut milik putranya itu.
"Kamu disini dulu yah sayang, giliran papah yang mandi." Ucap Rangga pada Aden, yang sepertinya kekecewaannya masih ada karna anak itu jadi lebih pendiam.
Selama Rangga mandi fikirannya terus beterbangan memikirkan tentang apa yang di katakan Aden, apakah dia harus segera mengatakan perasaannya pada Maurin sedangkan Rangga sendiri pun masih belum yakin tentang perasaannya, Rangga takut jika perasaan ini hanya perasaan nyaman saja yang muncul karna Maurin selalu hadir di dekatnya.
__ADS_1
lanjut dulu agak maleman yah Shay, soalnya tiba tiba ke optik, nanti aku usahain up satu babnya lagi❤️ mampir ke Igku : Abiyasapages02 yah buat mengetahui dunia kepenulisan dan lain lain love you😍