Pembantu Pengganti

Pembantu Pengganti
Bab 09


__ADS_3

Bel untuk jam pelajaran terakhir berbunyi, mendadkan kelas belajar mulai berakhir. Siswa dan Siswi dengan cepat membereskan buku buku mereka yang berada di meja dan dengan segera memasukkannya ke dalam tas.


Maurin, Elea dan banyak siswa siswi lainnya berhamburan keluar kelas, lalu Maurin dan Elea berjalan beriringan melewati koridor sekolahan.


"Eehh El... Nanti mampir ke taman yah." Maurin mengajak Elea untuk mampir ke taman.


"Tumben banget, biasanya pulang sekolah langsung melipir pulang!." Jawab Elea dengan keheranannya kala Maurin tiba tiba mengajaknya mampir ke taman, bukan apa apa gadis itu biasanya langsung beranjak pulang dan tidak mau jika Elea mengajaknya untuk mampir kemana mana.


"Yah gapapa sih El, lagi gak sibuk ajah hari ini."


"Sok sibuk banget Rin, emang biasanya kesibukan kamu apa sih penasaran aku." ucapan Elea seketika membuat Maurin terbengong bingung mau menjawab apa.


"Tuhkan, kayaknya emang ada yang kamu sembunyikan deh dari aku Rin." ucap Elea lagi yang merasa semakin penasaran.


"iihhh... Ngomong apa sih El, mana ada aku nyembunyiin sesuatu, udah ayo El, mumpung masih sore kita harus cepet cepet ke taman." Maurin langsung menggandeng tangan Elea dan menariknya menuju parkiran, mencoba mengalihkan arah pembicaraan yang saat ini Maurin masih bingung harus menjawab apa pada Elea.


Dan akhirnya kedua gadis itu memutuskan untuk singgah di taman seperti apa yang di minta Maurin.


Sebelum keduanya memilih duduk di kursi taman kedua gadis itu tidak lupa untuk membeli beberapa makanan dan minuman untuk menangani obrolan di antara keduanya.


Menikmati sore hari di taman sembari melihat pemandangan yang cukup menyejukkan mata, dan senyuman Maurin sekilas tercipta kala melihat beberapa anak anak yang tengah bermain gembira bersama orang tuanya. Maurin tentu merasa iri akan hal itu karna setelah kematian dari sang ayah kebahagiaannya seakan di renggut separuhnya.

__ADS_1


"Enak banget yah El, anak anak itu begitu beruntung memiliki kedua orang tua yang lengkap." kata Maurin yang masih fokus memperhatikan anak anak yang bermain dengan penuh canda tawa.


"Yah mungkin sebagian memang begitu Rin, tapi salah satu atau beberapa dari mereka pasti ada yang mengalami apa yang kamu rasakan, karna kita tidak pernah tau seperti apa kisah mereka sebenarnya. Disini kita hanya melihat lalu menilai." ujar Elea menjawab perkataan Maurin dengan Realita yang sebenarnya.


"Benar juga sih kamu El." jawab Maurin membenarkan ucapan dari Elea.


Kedua gadis itu segera beranjak dari taman kala hari sudah gelap, keseruan berbagi cerita dengan sesekali ikut bermain bersama anak anak yang berada di taman membuat Maurin dan Elea jadi lupa waktu.


"Aku pulang duluan yah El, duuuh jadi lupa waktu gini kalau sekali main setelah lama gak main kayak gini." Kata Maurin tergesah gesah.


"Iyah Rin, hati hati yah jangan ngebut." jawab Elea.


Saat Maurin telah sampai di halaman rumah, jantungnya berdetak menjadi lebih cepat kala sebuah mobil terparkir di rumahnya, dugaan buruk Maurin mungkin akan segera terjadi atau bahkan kini sudah terjadi, karna kenyataannya Rangga memegang ucapannya yang akan ke rumah Maurin untuk menjelaskan pada Bu Rosma dan sekaligus menjemput Maurin untuk tinggal di rumahnya.


Dengan tergopoh gopoh Maurin turun dari motor dan langsung menuju rumah yang pintunya ternyata sudah terbuka, dan melihat itu Maurin seakan kehilangan nafasnya seketika. Langkah demi langkah yang penuh keraguan Maurin trus berusaha agar langkah itu semakin mendekat ke arah pintu.


"Assalamualaikum." Maurin mengucapkan salam dengan nada pelannya, dan seketika suara lirih namun masih terdengar mengalihkan pandangan Bu Rosma dan Rangga.


"Waalaikum salam." jawab Bu Rosma menjawab salam dari putrinya.


Bu Rosma menghela nafasnya kala melihat putrinya yang datang terlambat sedangkan di rumah Maurin tengah di tunggu seseorang, dengan melalui sorot mata Bu Rosma langsung mengkode Maurin agar dirinya segera ganti baju dan segera ikut menemani tamu yang sudah 30 menit berada di rumah itu.

__ADS_1


Maurin yang langsung mengerti dengan kode dari sang ibu, langsung terburu buru masuk ke dalam rumah tanpa melihat ke arah Rangga yang kini telah menatapnya dengan tatapan dingin dan mencekam.


"Ya tuhan, ya tuhan, gimana ini duuuh bodoh banget aku ini, udah tau kalau tuan Rangga bakal Dateng, malam main lupa waktu." gerutu Maurin pada dirinya sendiri yang kini di Landa kepanikan.


Segera sadar jika dirinya tengah di tunggu, Maurin dengan cepat menuju kamar mandi dan segera mandi agar tubuhnya tidak terlalu lengket. Sudah dapat di tebak Maurin mandi dengan secepat kilat dan segera berganti pakaian dan mengoleskan make up tipis di wajahnya. Setelah menyelesaikan aktivitas bebersihnya Maurin langsung menuju ke ruang tamu dimana Rangga dan ibunya menunggu dirinya.


"Seperti yang sudah saya katakan, saya akan datang kemari dan kamu sudah mengetahuinya bukan. Dan ternyata kamu malah pulang terlambat dan saya datang dan harus menunggu kamu pulang." kata Rangga tiba tiba setelah Maurin baru duduk di kursi.


"Deg." perkataan dari Rangga seketika menyentil perasaan Maurin, dan membuat Maurin semakin merutuki dirinya.


"Ma-maaf tuan." ucap Maurin dengan menunduk, bukan karna kenapa tatapan tajam Rangga begitu menakuti Maurin yang seakan tatapan itu bisa membunuh Maurin.


Sedangkan Bu Rosma tidak dapat membela Maurin, karna putrinya itu memang bersalah.


"30 menit menunggu dan selama itu saya tidak diam saja, selama itu saya membicarakan tentang kamu yang harus tinggal di rumah saya untuk bekerja disana agar dapat memudahkanmu juga, dan setelah saya menjelaskan semuanya pada Bu Rosma, dan keputusan sudah di ambil jika malam ini kamu ikut saya ke rumah karna mulai malam ini juga kamu tinggal di rumah saya dan kamu bisa kembali ke rumahmu di hari Minggu saja." Rangga menjelaskan panjang lebar tentang hasil dari pembicaraannya bersama Bu Rosma selama Maurin tidak ada.


Maurin seketika menoleh ke arah Bu Rosma.


"Kamu harus bertanggung jawab dengan pilihan yang sudah kamu ambil." dan ucapan Bu Rosma sudah cukup menjadi jawaban bagi Maurin.


Hanya hembusan nafas beratnya yang mewakili perasaan Maurin saat ini, antara senang dan sedih semua bercampur aduk. Karna yang menjadi kerisauan Maurin adalah perasaannya yang sudah jatuh pada sosok Rangga. Namun, di satu sisi dia juga harus membentengi perasaan itu setelah mengetahui status Rangga dan sepertinya hubungan Rangga dengan mantan istrinya masih belum usai, dimana jika Maurin masih memaksakan perasaannya sudah jelas dirinya lah yang akan menerima rasa sakit dari kekecewaan yang di ciptakan sendiri.

__ADS_1


__ADS_2