Pembantu Pengganti

Pembantu Pengganti
Bab 40


__ADS_3

Nafas Rangga seketika memburu, laki laki itu sudah bisa menebak jika Maurin telah kabur dari rumahny.


"MAUUURIIIIINNNN AAAAKKKHHH..." Rangga beretorika memanggil nama gadis itu, yang tidak mungkin bisa mendengar teriakannya yang telah memenuhi seluruh rumah.


Laki laki itu tidak hanya diam saja Rangga segera meraih ponselnya di dalam kamar dan segera menelfon Maurin, tapi hanya suara operator perempuan yang menjawabnya karna Maurin telah memblokir nomor miliknya.


"Sial... Ternyata di balik diammu kau merencanakan ini dengan begitu baik." Gumamnya yang memang Maurin tidak menyisakan kecurigaan apapun di tambah gadis itu hanya diam saja seolah benar benar tidak ingin berbicara pada Rangga, Namun juga Maurin tidak meninggalkan pekerjaan gadis itu masih melakukan pekerjaan dengan baik, dan membuat Rangga lengah.


Jam masih menunjukkan jika hari masih terlalu gelap, sedangkan laki laki itu tidak tau harus berbuat apa yang pertama di fikirannya adalah dia harus pergi ke rumah orang tuanya, dan memastikan apakah Bu Rosma mengetahui tentang kaburnya Maurin dari rumah miliknya.


Tentu, sisa beberapa jam saja untuk hari beranjak pagi, tapi Maurin berhasil membuat Rangga menjadi tidak karuan laki laki itu tidak bisa memejamkan matanya. Yang terus mengotak atik ponsel barang kali ada sebuah jalan yang di temukan dan menunjukkan dimana keberadaan Maurin, tapi sejauh ini masih belum ada titik terang sama sekali.


Jam pun sudah beranjak pagi, jam pun telah menunjukkan pukul 05.35 wib, laki laki itu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya lalu berganti pakaian. Setelah jas lengkap tampak begitu rapi, saat Rangga keluar dari dalam kamar entah rasanya rumah terlihat seperti sepi tidak seperti biasanya di jam seperti ini Maurin tengah sibuk berkutat membersihkan rumah atau memasak. Namun, sepertinya berbeda dengan hati ini tidak aktivitas yang saat ini mulai di rindukan Rangga yang sudah terbiasa melihatnya sehari hari.


Rangga segera keluar dan menuju mobil miliknya, laki laki itu melajukan mobilnya dan sebelum benar benar keluar Rangga menyempatkan untuk bertanya pada pak Dono. Namun, jawaban pak Dono yang memang benar benar tidak mengetahu atau bahkan mengerti ketika Maurin keluar dari rumah, kembali memupuskan harapan Rangga yang berharap ada sedikit jalan.


Mobil itu melaju dengan cepat, Rangga benar benar tidak sabar laki laki itu ingin segera sampai di kediaman orang tuanya, dan melihat apakah ada Bu Rosma disana. Sedangkan jika Maurin kabur otomatis Bu Rosma juga akan berhenti bekerja.


Sesampainya Rangga di kediaman orang tuanya, Rangga bergegas masuk tanpa memencet bel terlebih dahulu laki laki itu langsung menerobos pintu rumah yang sengaja tidak terkunci.


Saat Rangga masuk ke dalam rumah, Rangga melihat ada Bu Rosma yang tengah bebersih ruangan tengah dan sekali lagi melihat keberadaan Bu Rosma membuat Rangga semakin bingung tidak karuan, banyak pertanyaan yang seketika melintas di fikirannya.

__ADS_1


"Tuan Rangga." Ujar Bu Rosma kala melihat kedatangan Rangga, sedangkan Bu Rosma berusaha kuat untuk bersikap seperti biasa. Bersikap seakan dirinya tidak mengerti apa apa dan semuanya berjalan normal.


"Aden apa masih tidur Bi?." Tanya Rangga yang seketika beralih topik, karna dugaannya salah jika Bu Rosma tidak berada di rumah orang tuanya.


"Aden masih tidur tuan, dia tidur sama omah opahnya." Jawab Bu Rosma ramah.


"Kalau gitu saya kesana dulu yah Bu." Pamit Rangga.


"Tuan Rangga." Seketika saat Rangga masih melangkah beberapa langkah, Bu Rosma menghentikannya lalu Bu Rosma menghampiri Rangga.


"Maurin disana baik baik saja kan Tuan?." Tanya Bu Rosma seketika Rangga merasa terkejut, apakah yang baru saja di dengarnya itu memang benar. Apa Bu Rosma memang benar benar tidak mengetahui tentang Maurin.


"Ehmm..." Rangga berdehem untuk menutupi kegugupannya.


Setelah berbicara dengan Bu Rosma Rangga segera pamit dan berlalu untuk menuju ke kamar milik orang tuanya, sepanjang langkahnya laki laki itu terus memutar otaknya bagaimana bisa Maurin senekat ini, apakah sekecewa itu dia padanya. Rasanya kepala Rangga ingin benar benar pecah memikirkan masalah ini.


****


Seperti yang di harapkan Revan dan Elea mereka dapat menikmati pagi hari yang sejuk di desa, paman dan bibi Maurin menyambut mereka dengan hangat seperti pagi ini mereka dengan perhatian menyajikan dua piring singkong kukus bersama teh hangat yang menemani pagi mereka. Pagi itu tampak begitu menyenangkan di tambah obrolan serta candaan menjadikan pagi itu semakin hangat dengan kebersamaan.


"Seru juga yah ternyata jadi gak sia sia minta di buatin izin gak masuk sekolah." Celetuk Revan sembari menyuapkan singkong hangat ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Tapi lain kali jangan seperti ini yah, nanti yang ada orang tua kalian malah nyamperin paman dan bibi di kira ngajarin anak orang gak bener." Sahut sang paman pada Revan dan mereka langsung ketawa.


"Ohh yah Rin, kira kira si tuan Rangga mu itu apa nyariin kamu yah?." Ucap Elea yang membayangkan apa yang di lakukan Rangga saat mengetahui Maurin kabur dari rumahnya.


"Kalo itu sih pasti El, tapi biarin ajahlah aku sudah gak mau mikirin lagi tentang dia." Jawab Maurin menyembunyika banyak luka tentang Rangga.


****


Setelah menjawab beberapa pertanyaan dari kedua orang tuanya yang tentu akan mempertanyakan kenapa dia sudah pagi pagi kesini, serta menemui Aden dan melepas kangen pada putranya serta tidak lupa menjawab pertanyaan putranya yang tidak luput menanyakan tentang keberadaan Maurin.Dan setelah itu Rangga segera pamit untuk berangkat kerja pada kedua orang tuanya tanpa mengikuti sarapan pagi itu.


"Kalau gitu hati hati yah Ga..." Ucap Bu Eli pada putranya.


"Yah mah, Rangga berangkat dulu." Rangga segera menciun punggung tangan kedua orang tuanya.


Rangga kembali mengemudikan mobilnya, sepanjang perjalanan Rangga hanya memikirkan dimana keberadaan Maurin sebenarnya. Tidak langsung menuju kantor Rangga terlebih dahulu mampir ke sekolahan Maurin.


Sesampainya di sekolahan Maurin tampak banyak siswa siswi yang masuk ke dalam halaman sekolahan, melihat gerbang yang masih belum tertutup Rangga kalau meminta izin pada satpam untuk masuk dan beralasan ada suatu hal yang harus di obrolkan dengan beberapa guru. Setelah berhasil meyakinkan satpam akhirnya Rangga berhasil masuk ke dalam area sekolahan.


Laki laki itu tampak langsung menuju ke ruangan kepala sekolah, dan beruntungnya kepala sekah pagi itu telah sampai lebih awal. Rangga pun segera mengetuk pintu ruangan kepala sekolah dan segera masuk setelah di izinkannya.


Setelah menemui kepala sekolah dan bertanya tentang Maurin, kepala sekolah mengarahkan Rangga pada wali kelas Maurin. Rangga pun harus kembali keluar dari ruangan itu untuk beralih ke ruangan wali kelas Maurin.

__ADS_1


"Beberapa saat ada seorang siswa pak, yang memberikan surat izin Maurin pada saya. Dia izin jika tengah sakit mungkin bapak bisa langsung ke rumahnya pak." Ujar guru perempuan itu pada Rangga, yang sempat terpesona akan ketampanan seorang laki laki yang tengah mencari salah satu dari muridnya.


__ADS_2