Pembantu Pengganti

Pembantu Pengganti
Bab 12


__ADS_3

Maurin langsung menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya, dan gadis itu membulatkan matanya kala melihat siapa orang yang memanggilnya yang tidak lain adalah Aditya laki laki yang di kenalnya karna dia tidak sengaja menabrak mobilnya.


" Tuan Aditya." ucap Maurin menyebutkan nama dari laki laki itu.


"Waaah, gak nyangka kita bakal ketemu di tempat yang tidak terduga seperti ini." kata Aditya lalu menghampiri Maurin.


"Kalau boleh tau, kamu di rumah Rangga ngapain?." Tanya Aditya, yang masih belum mengetahui jika gadis itu bekerja di rumah sepupunya.


"Eehhmm... Aku bekerja disini." jawab Maurin.


"APAA!!." Aditya tentu terkejut kala mendengar jawaban dari gadis itu, dan tiba tiba ingatannya kembali memutar dimana suatu hari yang lalu dan Aditya melihat Maurin keluar dari halaman rumah Rangga.


Dan kini lah Maurin dan Aditya berada, Aditya yang ingin tau lebih jelasnya tentang bagaimana Maurin bisa sampai bekerja di rumah milik sepupunya, Dan Aditya membawa Maurin ke halaman belakang yang cukup luas.


Keakraban seketika tercipta, keduanya dengan asyik mengobrol berdua di halaman belakang yang memang di tumbuhi rerumputan yang sudah terpotong rapi. Membuat siapapun nyaman jika mengobrol di halama itu.


Saat Rangga baru keluar dari kamar mandi, Rangga segera berganti pakaian santai setelah penampilannya terlihat segar dan rapi Rangga keluar dari kamar untuk menemui sepupunya itu.


Namun, saat Rangga sudah berada di ruang tamu, Rangga merasa heran kala tidak mendapati sosok Aditya berada di ruang tamu. Rangga yang tidak mendapati Aditya di ruang tamu laki laki itu mengira Aditya tengah berada di dapur. Lalu Rangga memilih untuk ke dapur, dan sesampainya di dapur Rangga masih belum mendapati Aditya hingga membuatnya bingung dimana sebenarnya Aditya.


Dan saat Rangga hendak melangkahkan kakinya untuk ke depan dan berniat untuk mencari Aditya, langkah itu Rangga urungkan kala samar sama Rangga mendengar obrolan yang di barengi dengan tawa, dan suara itu berasal dari arah belakang.


"Bukankah itu suara Aditya, lalu berbicara dengan siapa dia." gumam Rangga pada dirinya sendiri dengan pikiran yang menebak nebak, karna Rangga tidak berfikiran jika Aditya tengah mengobrol dengan Maurin.

__ADS_1


Laki laki itu membelokkan langkahnya untuk menuju ke arah halaman belakang, Namun saat Rangga membuka pintu belakang rumah, laki laki itu tak percaya jika Aditya dan Maurin dengan akrab mengobrol yang sesekali di iringi tawa dari keduanya yang terlihat begitu asyik. Dan tidak dapat di pungkiri perasaan aneh itu tiba tiba datang menghinggapi relung hati Rangga yang jujur merasa tidak suka melihat keakraban di antara Maurin dan Aditya.


Tidak ingin lama lama melihat pemandangan tidak mengenakkan itu, Rangga segera menghampiri dimana Aditya dan Maurin tengah duduk.


"Seru yah, ngobrol berduaan disini!." Ucap Rangga tiba tiba dari arah belakang.


Maurin yang mendengar suara Rangga, seketika langsung berdiri dan terkejut kala melihat Rangga sudah berada di belakangnya.


"Ohh yah Ga, aku lupa mau cerita sama kamu, beberapa hari yang lalu aku gak sengaja ketemu sama Maurin dan ternyata kita gak sengaja ketemu lagi disini." ucap Aditya seraya bangkit dari duduknya.


"Ooohh... Jadi kalian udah saling kenal." ucap Rangga yang ingin kembali memastikan.


"Yah seperti itulah Ga." jawab Aditya, lalu tersenyum ke arah Rangga.


"Baiklah, soal perkenalan kalian itu bukan urusanku, Dit ayo keluar kita ke cafe aku ingin minum kopi." ucap Rangga, yang bersikap seakan tidak peduli dan tidak ingin tahu tentang hubungan antara Maurin dan Aditya, meskipun sebenarnya Rangga sungguh merasa penasaran.


"Baik, Tuan." jawab Maurin.


"Heeiii Ga, jangan terlalu ketat pada dia, setidaknya kali ini untuk dia terlambat untuk membersihkan rumah itu sudah kecil, karna dia sudah tinggal di rumahmu, bagaimana kalau kita ajak dia ke cafe." ucap Aditya lalu mengusulkan idenya untuk mengajak Maurin.


Seketika Maurin mendongak menatap Aditya, merasa terkejut dengan apa yang sudah di katakan oleh Aditya.


"Apa kau sudah gila Dit." sahut Rangga yang tidak setuju dengan apa yang di usulkan oleh Aditya.

__ADS_1


"Apa masalahnya Ga, lagi pula ini hanya ke Cafe, tidak mungkin kan seharian kita harus membahas pekerjaan lagi." jawab Aditya merasa heran kala Rangga tiba tiba tidak setuju.


"Maaf tuan Aditya, sepertinya itu terlalu berlebihan, sebaiknya tuan Aditya dan Tuan Rangga pergi berdua saja lagi pula aku harus tidur lebih awal" sahut Maurin di antara perdebatan antara Rangga dan Aditya.


"Tidak bisa, tidak bisa kau sudah memutuskan untuk mengajakmu, jika Rangga tidak setuju dan tidak mau pergi biar kita saja yang pergi." putus Rangga yang seketika mendapat tatapan tajam dari Rangga. Dan sebelum Rangga kembali memberi jawaban Aditya langsung menarik Tiara untuk mengikutinya.


"Brengsek kau Dit." seru Rangga saat dia kali ini tidak dapat menghentikan Aditya, dan mau tidak mau Rangga memilih untuk menyusul Aditya dan Maurin yang sudah mendahuluinya.


"Tuan, bagaimana dengan tuan Rangga." ucap Maurin yang kini dia sudah berada di dalam mobil, Maurin merasa khawatir jika karna dia, hubungan antara Rangga dan Aditya menjadi renggang hanya karna dirinya.


"Kamu gak perlu khawatir Rin, Lihat dia tetap menyusul kita." ucap Rangga menatap ke arah luar jendela mobil dimana Rangga menghampiri mobil.


Rangga dengan kasar membuka pintu mobil lalu menutupnya dengan sedikit membanting pintu, membuat Maurin terhenyak terkejut.


"Jadi ikut?." Ucap Aditya mencoba memancing kembali emosi Rangga.


"Apa kau tidak bisa diem." jawab Rangga dengan penuh penekanan.


Sedangkan Maurin yang duduk di kursi belakang hanya terdiam kala melihat perseteruan kecil antara dua saudara sepupu itu.


Aditya tidak ingin melanjutkan perdebatan, dan memilih untuk menghidupkan mesin dan menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.


Sepanjang perjalanan Rangga hanya terdiam dan sesekali mata tajam itu melirik Maurin yang tidak sengaja juga melirik ke arah kaca spion, yang dengan cepat Maurin memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan tajam yang cukup menyeramkan bagi Maurin.

__ADS_1


Sedangkan Rangga menahan segala gejolak di perasaannya yang dia sendiri pun tidak mengerti ada apa dengan perasaannya, dan laki laki itu memastikan akan bertanya langsung pada Maurin ada hubungan apa antara dia dan sepupunya.


Setelah perjalanan yang tidak memakan waktu lama, akhirnya mobil yang di kendarai Aditya telah sampai di sebuah caffe. Ketiga orang itu segera keluar dari dalam mobil lalu masuk ke dalam caffe secara berbarengan dan saat itu Maurin mencoba trus mengalihkan tatapannya yang kadang tidak sengaja bertabrakan dengan tatapan Rangga.


__ADS_2