
Para tenaga kesehatan langsung dengan sigap menghampiri dan membawa brankar ke arah Rangga yang tengah menggendong Maurin, dan dengan cepat Maurin di baringkan di brankar itu. Setelah Maurin segera di tangani oleh tenaga kesehatan Rangga beralih ke kursi belakang dan menggendong Aden.
Setelah menunggu Maurin di tangani di UGD, akhirnya Maurin di pindahkan ke kamar rawat, dan Rangga memilih kamar privat untuk Maurin. Menunggu cukup lama gadis itu masih belum bangun juga dan terlihat guratan khawatir di wajah Rangga dan Aden, sembari menatap wajah Maurin dengan lebam di bagian pipinya. Kejadian ini membuat Rangga merasa menyesal karna apa yang di alami Maurin sekarang itu juga karna dia yang tidak mau mendengarkan ucapan Maurin.
Setelah menunggu cukup lama, dan membuat Aden tertidur tidur kursi sofa, sedangkan Rangga tetap duduk di samping ranjang Maurin dengan tanggannya yang menggenggam tangan Maurin. Lalu di tengah Rangga yang mulai di hampiri rasa kantuk jemari Maurin mulai sedikit bergerak, sontak Rangga yang mulai akan terlelap mendongak menatap ke arah Maurin yang mulai mengerjapkan matanya.
"Ha- hauuss," dan kata haus menjadi kata yang pertama kali Maurin katakan saat sadar.
Rangga dengan cepat segera membuka botol mineral lalu memberikan sebatang sedotan, dan segera memberikannya pada Maurin dengan tidak lupa membantu Maurin untuk meminumnya.
Rangga kembali membantu Maurin yang ingin menyadarkan punggungnya dengan posisi sedikit duduk, Rangga tampak telaten dalam memperhatikan Maurin kali ini.
"Makasiih tuan!." Ucap Maurin lirih yang memang masih merasakan lemah di tubuhnya, sepertinya rahangnya masih terasa sakit akibat pukulan keras dari Aditya.
Melihat Maurin yang tampaknya masih begitu lemah, Rangga langsung memencet tombol Nurse Call Bell, memanggil dokter dan perawat untuk memeriksa keadaan Maurin.
"Kamu jangan gerak dulu, sebentar lagi dokter akan datang!." Kata Rangga memberikan perhatian, yang cukup menyenangkan perasaan Maurin.
"Apakah ibu tahu tentang ini tuan?." Tanya Maurin yang seketika teringat akan Bu Rosma, Maurin takut jika Rangga sudah memberi tahu pada ibunya jika kondisi Maurin sekarang seperti ini.
"Bu Rosma tidak tahu, aku belum memberitahunya." Jawab Rangga.
"Syukurlah, aku minta sama tuan jangan pernah berbicara tentang hal ini pada ibu." Minta Maurin, yang ingin kejadian ini hanya di ketahui oleh Rangga, Aditya dan Aden.
"Baiklah."
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa saat setelah Rangga memencet Nurse Call Bell, akhirnya seorang dokter perempuan datang bersama perawatnya.
"Selamat siang ." Salam dokter cantik itu memasuki kamar rawat Maurin.
"Siang Dok!." Jawab Maurin dan Rangga hampir bersamaan.
Bu dokter terlebih dahulu permisi sebelum memeriksa Maurin, dan dokter itu dengan fokus memeriksa Maurin. Sedangkan perawat mengerjakan tugasnya mencatat lalu memeriksa cairan infus.
"Kondisinya mulai membaik dan tidak ada yang perlu di khawatirkan, hanya saja butuh waktu untuk memulihkan rahangnya yang sedikit tergeser akibat pukulan keras." Jelas dokter itu dengan detail menjelaskan keadaan Maurin untuk saat ini.
"Apakah saya bisa secepatnya pulang dok?." Tanya Maurin yang seketika membuat Rangga langsung menoleh ke arah Maurin dengan menatap tajam.
Bu dokter tersenyum mendengar pertanyaan dari Maurin, sebuah pertanyaan yang biasa di dapatkannya kala sang pasien merasa baik baik saja dan tidak ingin berlama lama di rumah sakit.
"Yaudah saya permisi dulu, perbanyak istirahat." Kata Bu dokter lagi sebelum pergi keluar dari ruangan itu.
Setelah kepergian Dokter dan perawatnya, hening kembali hadir diantara keduanya. Dan ketika Maurin mengedarkan pandangannya tiba tiba Maurin merasa terenyuh kala melihat Aden tertidur di sofa dan berbantalkan jas Rangga.
"Apa Aden udah dari tadi tidur?." Tanya Maurin memecah keheningan di antara keduanya.
Mendengar pertanyaan dari Maurin, sesaat Rangga menatap ke arah putranya yang begitu terlelap.
"Iyah, sedari tadi dia menanyakan kapan kamu akan bangun, sampai dia lelah dan tertidur." Jawab Rangga yang membuat Maurin merasa semakin terenyuh melihat wajah polos yang terlelap, entah mengapa Maurin begitu teramat sayang pada anak itu.
"Apa dia sudah makan tuan? Ini sudah melewati jam makan siangnya."
__ADS_1
Dan kini berbalik Rangga merasa kagum akan gadis ini, baru beberapa hari saja bersama putranya gadis ini sudah hafal jadwal Aden untuk makan.
"Belum, biar nanti sekalian kita makan bareng setelah dia sudah terbangun." Jawab Rangga.
"Oh yah tuan, apa tuan tidak masuk ke kantor?." Maurin tentu terlalu mengkhawatirkan banyak hal, selain Aden teintu Maurin juga mengkhawatirkan tentang Rangga, Maurin takut karna dia masuk ke rumah sakit dan itu dapat mengganggu waktu Rangga dalam bekerja.
"Tidak perlu khawatir semuanya telah aku urus, soal pekerjaanku itu sudah ada yang menghandle, yang terpenting cepatlah sembuh agar semuanya bisa berjalan normal lagi." Kata Rangga agar Maurin tidak terlalu mengkhawatirkan hal hal yang mungkin dapat memperlambat kesembuhannya.
****
Setelah kejadian tadi pagi, tentu Aditya memilih untuk absen masuk kantor laki laki laki itu dapat menebak jika Rangga tidak mungkin masuk ke kantor. Dan itu membuat Aditya menjadi malas serta khawatir akan keadaan Maurin. Dan memutuskan Aditya untuk pulang ke apartemennya dari pada harus pulang ke rumahnya.
Laki laki itu tengah mondar mandir di apartementnya dan bingung harus melakukan apa, sedangkan Rangga pasti tidak akan semudah itu untuk memberinya izin bertemu dengan Maurin.
"Aku harus nemuin Bella." Ucap Aditya yang tidak tahu harus berbuat apa, laki laki yang dapat di juluki sebagai cassanova itu segera menghubungi Bella.
Aditya adalah seorang cassanova yang tentu sering bergonta ganti pasangan, dan Bella yang gila akan harta menjadikan keduanya dengan mudah memulai hubungan. Dan tentu saja hubungan di antara Bella dan Aditya keduanya menata rapi agar tidak ada yang mengetahui termasuk Rangga yang berstatus mantan suami Bella, yang di ketahui Rangga keduanya hanya berhubungan seperti saudara saja tanpa merasa curiga meski kerap kali Bella dan Aditya bersama.
Setelah menghubungi Bella Aditya segera berganti pakaian untuk menemui wanita yang terkadang menjadi pemuas nafsunya itu, selain untuk melampiaskan kebingungannya saat ini dengan menjamah tubuh Bella, Aditya pun ingin bertanya tentang Aden yang tiba tiba bersama dengan Maurin dan Rangga.
Di sebuah tempat di hotel ternama Aditya dan Bella bertemu, sebelum keduanya masuk ke kamar hotel keduanya memilih untuk mengobrol di restoran yang berada di hotel itu.
"Apa kau memang sengaja menitipkan Aden pada mereka Bell?." Tanya Aditya pada pertanyaan yang sedari tadi ingin di tanyakan pada Bella.
Bella terlebih dahulu meminum minuman yang sudah di pesannya sebelum menjawab pertanyaan dari Aditya.
__ADS_1