
Sesaat setelah mendapat tempat duduk yang nyaman, seorang waiters menghampiri meja mereka lalu memberikan buku menu agar memudahkan mereka dalam memilih menu yang di inginkan.
Aditya yang begitu peka jika gadis itu jarang atau bahkan tidak pernah berkunjung ke cafe, langsung dengan sigap Aditya membantu Maurin dalam memilih pesan, dengan penuh kesabaran detail laki laki itu menjelelaskan tentang beberapa menu yang mungkin saja tidak pernah menemui atau bahkan mengetahui makanan dan minuman di caffe itu.
"Apa kamu mau yang ini." ucap Aditya sembari menunjuk sebuah gambar makanan berbetuk dessert kepada Maurin.
"Boleh." jawab Maurin, yang melihat dessert itu menggiurkan.
"Baiklah." Aditya segera menyebutkan nama makanan yang di setujui Maurin untuk menjadi pesanannya.
Selama memesan makanan dan minuman, hati Rangga semakin memanas apalagi di tambah dengan Aditya yang mengeluarkan perhatian lebihnya pada Maurin.
"Aku ke kamar mandi dulu Dit." ucap Rangga yang sudah tidak dapat menahan lagi rasa panas yang membara dan membakar hatinya.
"Aaaaaahhhh." teriak Rangga saat dirinya sudah berada di dalam kamar mandi, emosi Rangga tiba tiba tidak terkendali.
Kedua tangan Rangga mencengkram erat wastafel, nafasnya memburu dan wajahnya memerah, Rangga memperhatika dirinya sendiri di depan cermin wastafel.
"Ada apa denganku sebenarnya kenapa perasaanku tiba tiba panas saat melihat kedekatan mereka, huuufff." gumam Rangga pada dirinya sendiri lalu menghembuskan nafasnya kasar untuk menenangkan diri.
Rangga lalu membasuh wajahnya dengan air berharap panas yang menguap dari perasaannya itu menghilang, setelah beberapa saat berada di kamar mandi. Laki laki itu keluar dan kembali duduk bersama Aditya dan Maurin.
"Habis cuci muka?." Tanya Aditya saat melihat rambut Rangga yang terlihat basah dan wajahnya yang lebih Segaran.
"Yah, ke kamar mandi cuci muka buat ngilangin kantukku Dit." jawab Rangga lalu menyeruput kopi pesananannya yang sudah datang.
__ADS_1
Maurin sesekali mencuri pandang pada Rangga, kala melihat rambut basahnya yang semakin memancarkan pesona.
Selama berada di caffe Rangga di penuhi dengan kekesalannya terhadap Aditya yang menumpahkan segala perhatiannya pada gadis itu, niat hati ingin merilekskan fikiran di caffe sembari mengobrol tapi kebalikannya bukan malah membuat pikiran Rangga rileks tapi semakin membuat pikiran Rangga kacau sekaligus membakar hatinya.
Setelah hari semakin malam, Rangga memutuskan untuk mengajak Aditya dan Maurin pulang. Jujur saja selain alasan malam yang sudah semakin larut Rangga mulai muak dengan sikap Aditya yang menampakkan perhatiannya meski Maurin mencoba beberapa kali menghindar tapi Aditya tetap saja tidak mau mendengar.
"Ga aku nginep disini yah." kata Aditya saat ketiganya sudah keluar dari dalam mobil.
"Nginep!! Gak... gak... mau tidur dimana kamu Dit, di rumahku cuman ada dua kamar dan semua sudah terisi." Rangga tentu langsung menolak permintaan Aditya yang ingin menginap di rumahnya, tentu Rangga tidak sebodoh itu karna Rangga mengerti jika Aditya pasti ingin lebih sering bertemu Maurin.
"Yaaaahh... Gak asik kamu Ga, masa sepupu sendiri nginep gak boleh." jawab Aditya.
"Udah pokoknya gak ada nginep nginepan, cepat sana pulang." usir Rangga pada Aditya. Dan Aditya berdecak kesal.
Mau tidak mau Aditya yang tidak mendapat izin dari Rangga pun langsung memutuskan untuk pulang dengan kekecewaan tapi seketika semangatnya kembali lagi kala Aditya mengingat jika dia bisa kapan ajah bertemu dengan Maurin.
"Tu-tuan ini sudah di dalam rumah, apa boleh tuan lepas." kata Maurin kala dirinya dan Rangga sudah berada di dalam rumah. Namun, Rangga masih belum juga melepaskan genggaman tangannya.
Rangga yang menyadari itu setelah mendengar perkataan dari Maurin, langsung melepaskan tangan Maurin dari genggamannya.
"Apa hubunganmu dengan Aditya?." Rangga tiba tiba langsung bertanya, tentang hubungan Maurin dan Aditya.
Karna Rangga sudah tidak dapat menahan lagi akan rasa penasarannya.
"Ma- maksud tuan?."
__ADS_1
"Bukankah aku sudah jelas bertanya, apa hubunganmu dengan Aditya, bukankah kau memiliki hubungan dengannya." Rangga berkata lagi dengan lebih menekankan kata katanya.
Maurin seketika menggeleng cepat.
"Saya tidak punya hubungan apa apa dengan Tuan Aditya, kita hanya sebatas kenal saja tidak lebih dari itu." elak Maurin pada tuduhan Rangga, yang memang benar benar Maurin tidak mempunyai hubungan apa apa dengan Aditya.
Mendengar jawaban Maurin yang tidak memuaskan, Rangga menatap tajam ke arah Maurin, tentu gadis itu merasa takut melihat tatapan tajam dari Rangga. Langkah demi langkah Rangga yang semakin mendekat membuat Maurin memundurkan langkah di setiap langkah Rangga yang memaju.
Hingga langkah mundur Maurin itu tak bisa lagi untuk mundur lebih jauh, karna tubuhnya yang sudah menabrak dinding. Di tengah Maurin yang sudah tidak bisa untuk kembali memundurkan langkahnya, Rangga tetap semakin mendekatkan langkahnya hingga Maurin memalingkan wajahnya dari tubuh Rangga yang kini sangat begitu dekat dengan dirinya, sampai aroma tubuh maskulin dari Rangga tercium menyeruak masuk ke dalam hidung, dan hembusan nafas Rangga yang begitu jelas terdengar.
"Aku ingin bertanya sekali lagi, apa hubungan dengan Aditya. JAWAAB JUJUR." kata Rangga dengan penuh penekanan dan bentakan yang semakin membuat Maurin tersudut ketakutan. dan itu semua karna rasa penasaran yang begitu merengsek masuk ke dalam pikiran Rangga.
"Sa-saya benar benar ti-tidak ada hubungan dengan Tuan Aditya." Maurin menjawabnya dengan rasa takut, karna baru kali ini Maurin melihat kemarahan Rangga yang memuncak.
"BUUUGG." Maurin seketika memejamkan matanya kala Rangga memukul tembok di samping kepalanya dengan keras.
Terlihat tangan Rangga lebam dengan darah yang merembes, dapat terlihat seberapa keras pukulan itu.
Setelah memukul tembok, Rangga menjauhkan tubuhnya dari Maurin dengan nafas yang tersengal sengal, Maurin yang masih takut sesaat mencuri pandang melihat punggung tangan Rangga yang lebam dengan darah yang merembes keluar dikit demi sedikit.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Rangga langsung meninggalkan Maurin, lalu masuk ke dalam kamarnya. Maurin sedikit terhenyak kala Rangga membanting pintu dengan keras.
Setelah beberapa saat setelah kepergian Rangga, Maurin memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Gadis itu tentu masih merasa syok dengan apa yang sudah di lakukan Rangga cukup mengejutkannya, Maurin bertanya tanya ada apa sebenarnya dengan Rangga, kenapa laki laki itu langsung merasa marah padanya tanpa alasan yang jelas, walaupun ini tentang kedekatannya dengan Aditya yang sama sekali tidak benar kenapa Rangga sulit untuk percaya padanya.
"Hikkss... Hiks..." Dan isakan Maurin terdengar, kala Maurin tidak mengerti dengan semua ini, tentang kemarahan yang tiba tiba dan keterkejutannya akan perlakuan kasar dari Rangga.
__ADS_1