
"Apapun itu, aku harus tetap menitipkan Aden disini Ga, karna aku mempunyai urusan yang lebih penting ini demi karirku selanjutnya." Bella tetap kekeh ingin meninggalkan Aden bersama Rangga.
"Aku harus segera berangkat Ga." Kata Bella setelah sesaat melihat ke jam tangan yang melihat di pergelangannya.
Tanpa menunggu jawaban Rangga, Bella segera berlalu meninggalkan rumah itu, dan membawa senyuman liciknya.
Rangga yang sudah tidak dapat melakukan apa apa, segera menghampiri Maurin dan Aden yang sedari tadi masih asyik mengobrol.
Obrolan yang tengah berlangsung seketika langsung terhenti, kala Maurin dan Aden menoleh ke arah Rangga yang tengah menghampiri mereka.
"Papah." Maurin menurunkan Aden yang meminta turun dengan bahasa tubuhnya.
Anak itu langsung menghampiri Rangga, dan dengan sigap Rangga langsung menggendongnya, lalu menciumi Aden dengan bertubi tubi hingga anak itu merasa kegelian.
"Papah stop papaah. Adenn gelii..." Ucap Aden memohon di iringi dengan tawanya yang menghiasi pagi itu.
tanpa di sadari Maurin juga ikut menyunggingkan senyumannya hingga gigi rapinya terlihat, di tengah candanya bersama Aden mata tajam milik Rangga mencoba mencuri pandang ke arah Maurin yang tengah ikut tersenyum, hati dingin itu mulai mencair kala melihat senyuman mempesona itu.
"Saya antar Aden ke kamar dulu, kamu tunggu disini saya mau bicara." kata Rangga pada Maurin, yang seketika senyuman di bibirnya menghilang.
"Baik tuan." Jawab Maurin mematuhi.
"Ayo sayang, kita ke kamar dulu." Rangga langsung membawa Aden menuju kamarnya dengan candaan sepanjang langkah menuju ke kamar.
__ADS_1
Sedangkan Maurin, tiba tiba saja jantungnya berdetak cepat. Apa yang di ucapkan Rangga membuat Maurin menebak nebak, apakah dia melakukan kesalahan sampai Rangga ingin berbicara berdua dengannya.
Di tengah lamunan itu, Maurin segera tersadar kala melihat Rangga sudah kembali dari kamar, jelas saja itu membuat Maurin semakin panik dan gugup.
"Bisa ikut saya ke ruang tamu." ucap Rangga yang tanpa menunggu jawaban dari Maurin, Rangga berbalik lalu menuju ke arah ruang tamu.
Maurin yang penasaran sekaligus takut, segera mengikuti langkah Rangga ke arah ruang tamu.
"Duduk!!." Rangga mempersilahkan agar Maurin duduk di seberangnya, dan Maurin langsung duduk.
Dan kini keduanya duduk di kursi bersebrangan dan saling berhadapan yang hanya di pisahkan oleh meja.
"Langsung saja, saya hanya mau membicarakan soal Aden, kedatangannya kali ini bukan tanpa alasan, Bella secara mendadak menitipkan Aden kesini karna dia harus melakukan pekerjaannya. Dan saya harus segera meeting pagi ini, sedangkan kamu harus ke sekolah dan itu membuat saya bingung karna tidak memungkinkan saya tiba tiba membatalkan meeting penting ini." Jelas Rangga yang membagikan keresahannya berharap setelah berbicara dengan Maurin, Rangga bisa mendapatkan jalan keluarnya.
"Maaf tuan, sebelumnya apa Bu Eli dan Pak Ivan tidak ada yang bisa dimintai bantuan?." tanya Maurin yang fikirannya langsung berlari ke arah sana.
"Mamah dan papah, dalam minggu ini tengah melakukan perjalanan ke luar negara, jadi tidak bisa Rin." jawab Rangga, yang sudah bingung harus bagaimana.
"Tapi kan tuan, kalau nyonya Eli dan tuan Ivan tidak berada di rumah sekarang, pasti ibu saya tetap disana kan. Jadi gimana kalau Aden di titipkan ke ibu dulu, nanti sepulang sekolah saya akan jemput Aden, karna saya juga gak bisa ninggalin pelajaran karna sebentar lagi saya harus ujian tuan." Maurin mencoba memberikan saran pada Rangga.
Rangga yang mendapat saran dari Maurin, sesaat mencoba mempertimbangkannya, setelah beberapa saat Rangga akhirnya memutuskan untuk menyetujui saran dari Maurin.
"Baiklah, saya akan menitipkan ke Bu Rosma dulu, semoga nanti Aden tidak terlalu rewel agar tidak terlalu menyusahkan Bu Rosma." jawab Rangga.
__ADS_1
Maurin mengukir senyuman tipisnya, setelah mendengar jawaban dari Rangga kini Maurin beranggapan jika Rangga masih mempunyai hati yang lembut, terlihat dari kekhawatirannya terhadap ibunya yang takut kerepotan jika Aden rewel.
Setelah mengobrol, akhirnya Rangga dan Maurin mempunyai ide lain yang di putuskan bersama, jika awalnya hanya Rangga yang akan mengantarkan Aden ke rumah kakek neneknya. Kini setelah mempertimbangkan Maurin akhirnya ikut untuk mengantarkan Aden, karna selain Maurin yang sudah bisa akrab dengan Aden, Maurin mungkin nanti bisa membujuk Aden jika anak itu tidak dapat di tinggalkan.
Rangga dan Maurin yang tengah menggendong Aden, segera masuk ke dalam mobil. selama perjalanan Aden tampak anteng ketika bersama Maurin. Keduanya seperti seorang anak dan ibu, sikap Aden yang sangat sulit untuk di taklukkan dan dengan mudah di taklukkan oleh Maurin yang pembawaannya begitu keibuan sesaat membuat Rangga terkagum dan Rangga terus menyunggingkan senyumannya kala melihat keasyikan Maurin dan Aden yang duduk di kursi belakang dan Rangga yang tak luput memantaunya lewat pantulan kaca mobil.
Sesampainya di rumah milik Ivan dan Eli, ketiganya segera turun dari dalam mobil. Lalu segera masuk ke dalam rumah yang langsung di sambut eh Bu Rosma.
"Tuan Rangga, kenapa tidak ngabarin kalau mau kesini?." Ucap Bu Rosma yang sedikit terkejut akan kedatangan Rangga yang bersama Maurin dan juga Aden yang kini tertidur dalam gendongan putrinya.
"Tadi mendadak Bu, dan ini juga saya dan Maurin buru buru langsung kesini, Aden tiba tiba saja langsung di titipin ke saya sama Bella tanpa konfirmasi terlebih dahulu." jelas Rangga pada Bu Rosma.
Bu Rosma yang sudah mendengar penjelasan dari Rangga, langsung menyetujui untuk menjaga Aden. Aden yang tengah tertidur saat itu membuat tidak ada drama.
Setelah semuanya selesai Rangga dan Maurin berpamitan, Bu Rosma mengantarkan keduanya sampai pintu depan saja.
"Hati hati yah Rin!." Ucap Bu Rosma.
"Ya Bu, nanti kalau Aden rewel atau apa ibu boleh langsung telfon Maurin yah." Kata Maurin yang langsung di angguki oleh Bu Rosma.
Bu Rosma segera menutup pintu setelah kepergian Maurin dan Rangga, setelah mengingat kembali dengan apa yang beberapa saat kalau Bu Rosma menyunggingkan senyumannya. Semua perasaannya bercampur aduk, tidak dapat di bohongi Bu Rosma merasa bahagia saat melihat anaknya dapat semobil dengan majikannya, yah. Meskipun beberapa waktu ke depan Bu Rosma harus segera sadar diri siapa dirinya yang bahkan tidak pantas untuk membayangkan putrinya bisa dekat dengan putra satu satunya di keluarga majikannya.
Selama perjalanan menuju ke sekolahan Maurin, rasa canggung kembali hadir di antara keduanya. Entah tiba tiba bibir Maurin maupun Rangga tiba tiba terkatup rapat, sedangkan kini keduanya sudah cukup sering bertemu tapi kecanggungan itu selalu hadir di kala waktu tertentu.
__ADS_1