Pembantu Pengganti

Pembantu Pengganti
Bab 06


__ADS_3

"Rin, cobain punya ku, enak!." Ucap Revan sembari mengulurkan sesendok makanan yang di pesannya.


Maurin yang mendapat perlakuan khusus dari Revan terdiam, rasanya kini Maurin bingung harus bersikap bagaimana. Karna Maurin tidak ingin jika membalas Revan akan berpikir dia memberikan kesempatan sedangkan Maurin kini hatinya sudah bertaut pada sosok Rangga, Entah itu perasaannya akan terbalaskan atau tidak Maurin tidak peduli.


"Udah Rin, terima ajah cuman suruh nyoba ajah kan." sahut Elea kala menyadari jika Maurin merasa canggung.


Mendengar apa yang di katakan Elea, mau tidak mau Maurin langsung menerima suapan dari Revan, dan Revan dengan senang hati menyuapkan sesendok makanan pada Maurin.


"Gimana?."


"Hmmm... Lumayan enak, kamu mau coba punyaku juga." ucap Maurin menawarkan balik pada Revan.


"Boleh, asal kamu yang nyuapin." jawab Revan yang ingin mengambil kesempatan yang ada.


Dan pada akhirnya saling suap tidak dapat di hindari, tapi meski begitu Maurin mencoba untuk bersikap sebiasa mungkin agar apa yang di lakukannya tidak terlihat seakan memberi harapan pada Revan.


"Habis ini kita kemana?." Tanya Revan yang sudah selesai menghabiskan makanannya.


"Anterin aku beli baju." sahut Elea yang masih sibuk dengan makanannya.


"Oh yah, aku ke toilet dulu yah bentar" ucap Maurin pada Elea dan Revan.


"Mau aku anterin." ucap Revan menawarkan.


"iiiisssh... Gak perlu, yaudah aku pergi dulu yah."


Maurin segera berdiri, lalu beranjak melangkahkan kakinya untuk ke kamar mandi, Namun, di saat Maurin tengah berjalan tiba tiba saja dari arah belakang seorang anak menabrak tubuhnya.


"Bruuugh."


Seketika Maurin langsung membalikkan badannya, dan dengan segera Maurin berjongkok lalu membantu anak laki laki itu berdiri.


"Maaf Tante." ucapnya dengan raut wajah bersalah.


"Tidak masalah, lain kali hati hati yah." jawab Maurin tersenyum dengan menyentuh hidung mancung milik anak laki laki itu.

__ADS_1


"Apa kamu tidak apa apa sayang."


suara dari arah belakang Maurin seketika membuat Maurin membulatkan matanya kala mengenal suara itu, hingga Maurin tidak menyadari jika anak laki laki itu langsung berlari memeluk Rangga.


"Aku tidak apa apa papah, Tante cantik ini yang menolongku." anak laki laki itu berlari ke arah Rangga, sedangkan Maurin masih belum mengubah posisinya.


Sedangkan Revan dan Elea yang melihat apa yang terjadi pada Maurin, keduanya segera menghampiri Maurin.


"Maurin, ada apa?." Revan berlarian menghampiri Maurin.


Rangga yang awalnya ingin segera membawa putranya pergi, seketika mengurungkan niatnya, langkanya kembali terhenti kala Revan menyebutkan sebuah nama yang tidak asing baginya.


"Aku gapapa kok Van, santai ajah." jawab Maurin sembari melirik ke arah Rangga yang kini tengah menatapnya dengan anak laki laki berada di gendongannya.


Tentu saja saat itu Maurin merasa terkejut sekaligus bertanya tanya, siapakah anak laki laki yang baru saja menabraknya, kenapa anak itu memanggil Rangga dengan sebutan papah. Dan pertanyaan itu terus berputar putar di dalam fikiran Maurin.


"Gimana Rin? Mau lanjut ke kamar mandi?." Tanya Elea yang seketika pertanyaan itu membuyarkan lamunan Maurin.


"Yah El, bentar yah aku ke kamar mandi dulu." Maurin segera melanjutkan langkahnya untuk ke kamar mandi tanpa menghiraukan keberadaan Rangga yang kini terus menatapnya.


"Dari mana ajah, kok lama banget?." Tanya Bella pada Rangga yang baru saja kembali.


"Tadi Aden tiba tiba saja berlarian dan aku harus mengejarnya." jawab Rangga pada Bella yang tidak lain adalah mantan istrinya.


"Ohh yah, Aku mau ke kamar mandi dulu." ucap Rangga setelah Aden berada di pangkuan Bella, dan laki laki itu bergegas menuju kamar mandi.


*****


Saat Maurin kembali dan pamit untuk pulang, pada saat itu Rangga mendapatkan telfon dari Aditya dan meminta Rangga untuk bertemu dan kebetulan Aden yang juga ingin bertemu Rangga dan membuat Rangga memanfaatkan waktu itu.


Setelah menyelesaikan kegiatannya di dalam kamar mandi, Maurin keluar lalu mencuci tangan kembali dan segera keluar dari toilet.


"Kenapa kau seperti tidak mengenalku saat tadi tidak sengaja bertemu."


"DEGG." langkah Maurin seketika terhenti kala suara berat itu berbicara, dan spontan membuat Maurin menoleh ke arah belakang dan terlihatlah seorang laki laki yang tidak lain adalah Rangga.

__ADS_1


"Tu-tuan Rangga." ucap Maurin terbata bata.


Rangga menyeringai, lalu langkahnya mendekati Maurin sedangkan Maurin sedikit demi sedikit memundurkan langkahnya, hingga "GREPP." tubuh Maurin berada di dalam pelukan Rangga.


"Tu-tuan, jangan seperti ini." Maurin merasa panik yang tiba tiba Rangga langsung memeluk dirinya, sedangkan saat itu banyak orang orang yang berlalu lalang keluar masuk kamar mandi, yang tentu tatapan mereka pasti tertuju padanya dan Rangga.


"Sebagai hukuman karna telah mengabaikanku, mulai besok kau harus bekerja dan menginap di rumah, karna mulai sekarang semua pekerjaan di rumah akan kamu kerjakan seperti mencuci baju dan lainnya." ucap Rangga tiba tiba dengan pelukan yang masih belum terlepas.


"Ta-."


"Tidak ada penolakan, karna ini sudah keputusanku." Rangga kemudian melepaskan pelukannya dan tanpa memberikan kesempatan untuk Maurin menjawab laki laki itu langsung berlalu dan meninggalkan Maurin begitu saja.


"Huuuufffttt." Tampak Maurin hanya menghembuskan nafas beratnya, kala Rangga meninggalkan dirinya begitu saja. Memilih untuk memikirkan kejadian nanti saja Maurin langsung berlalu dan kembali menemui teman temannya.


"Kenapa Rin?." Tanya Elea kala Maurin datang dengan muka di tekuk.


"Kenapa apanya sih El?." Maurin kembali melemparkan pertanyaan.


"Muka kamu, kenapa di tekuk begitu?." Sahut Revan mewakili jawaban dari Elea.


"Gapapa, perasaan kalian ajah, mana ada mukaku di tekuk." jawab Maurin Mengelak.


"Ohh yah, habis makan langsung pulang aja yah." Maurin kembali berbicara, setelah pertemuannya dengan Rangga yang menghadirkan banyak pertanyaan di benak Maurin, membuat Maurin ingin cepat cepat pulang untuk mempertanyakan hal itu kepada ibunya.


"Loh, bukannya kita masih harus belanja dulu yah Rin, kamu kenapa sih Rin?." Elea jelas kecewa karna ekspektasinya buyar.


"Iyah Rin, kamu ini sebenarnya kenapa? Kamu gak kasian sama Elea, kita juga buat jalan bareng kayak gini lagi pasti susah Rin." sahut Revan, yang juga merasa kecewa, karna Revan pun ingin menghabiskan banyak waktu bersama Maurin. Dan saat ini lah kesempatan yang terbaik untuk Revan kembali mendekati Maurin.


Maurin yang melihat kekecewaan dari raut wajah kedua temannya pun merasa iba, dan memang tidak seharusnya Maurin langsung memutuskan sesuatu secara sepihak hanya karna dia merasa penasaran tentang kehidupan Rangga.


"Baiklah, kita habis ini belanja belanja lagian juga sayang kan kapan lagi dapat traktiran, sebelumnya maaf yah." Maurin pada akhirnya mau untuk melanjutkannya.


"Yes, gitu dong Rin."


Revan dan Elea merasa senang kala Maurin menyetujui permohonan keduanya.

__ADS_1


__ADS_2