Pembantu Pengganti

Pembantu Pengganti
Bab 08


__ADS_3

"Ibu tahu sayang, kalau tuan Rangga udah punya anak. Tapi sayangnya perceraian dengan istrinya membuat Tuan Rangga jadi terlihat jarang sekali bersama anaknya." jelas Bu Rosma pada Maurin yang kini mendengarkannya dengan seksama, betapa besar keingin tahuannya terhadap majikannya itu terlebih jika Maurin juga menaruh perasaan pada majikannya.


Setelah mendapatkan jawaban dari ibunya, seketika Maurin hanya terdiam. Namun, di diamnya Maurin pikirannya kini tengah berlarian memikirkan kedekatan Rangga dengan mantan istrinya dan itu cukup membuat Maurin merasakan cemburu.


"Yaudah ih kok malah ngelamun, sekarang kan kamu udah tahu tuh statusnya tuan Rangga, mendingan kamu sekarang mandi udah bau asem soalnya." ucap Bu Rosma memecah lamunan Maurin.


"iiissh... Mana ada aku bau asem." jawab Maurin yang tak urung membuat Maurin melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Setelah mengetahui fakta tentang Rangga, Malam itu Maurin menjadi tidak bersemangat, tidak hanya itu Maurin pun merasa bingung harus bagaimana menghadapi sosok Rangga saat dia harus bekerja disana esok hari dan lamunan itu membuat Maurin tidak kunjung tidur hingga rasa kantuk dengan sendirinya datang saat waktu menunjukkan pukul jam 02.30 wib.


Malam yang hening berjalan dengan semestinya, waktu tidur yang kurang membuat Maurin lagi lagi terbangun di waktu yang tidak tepat dan sekali lagi hari itu di awali dengan kepanikan Maurin yang harus segera berangkat bekerja sekaligus melanjutkannya menuju sekolahan yang sudah dapat di tebak gadis itu pasti akan telat. Meninggalkan semua pemikiran yang pasti saat ini Maurin harus bisa menghadapi Rangga laki laki yang tidak lain adalah majikannya yang memilik sifat dingin cuek bahkan sedikit jutek.


Selama perjalanan menuju rumah milik Rangga, rasa cemas dan panik beradu menjadi satu, dan dengan kecepatan tinggi Maurin melajukan motornya agar bisa cepat sampai.


Saat tiba Maurin langsung masuk kala melihat gerbang terbuka, tidak seperti biasanya Maurin tidak menyapa pak Dono, yang kini melihatnya dengan heran.


Setelah memarkirkan motornya Maurin sedikit merasa heran karna mobil milik Rangga masih terparkir di garasi, lalu siapa yang baru keluar dan membuat gerbang di buka. Tidak ingin memikirkan hal lain setelah menyadari jika dirinya sudah telat Maurin bergegas masuk ke dalam rumah.


"Apa kau tidur terlalu larut hingga membuatmu telat lagi pagi ini." suara berat itu seketika mengejutkan Maurin, dan sontak membuat Maurin langsung menoleh ke arah sumber suara. Dan wajah dingin bercampur dengan aura kemarahan membuat Maurin seketika menelan salivanya.


"Ma-." dan kata kata itu tidak dapat berlanjut kala Rangga menyelanya.


"Aku tidak lagi menerima maaf darimu, sekarang cepat lakukan tugasmu dan setelah itu temui aku ke ruangan kerja di atas." kata Rangga dengan tegas dan setelah mengatakannya laki laki itu langsung beralalu meninggalkan Maurin.


Maurin menghembuskan nafasnya yang tertahan setelah kepergian dari Rangga, dan tanpa menunggu lama gadis itu segera melakukan tugasnya dengan cepat namun tetap hati hati, karna Maurin tidak ingin melakukan kesalahan yang sama.

__ADS_1


Setelah Maurin mengerjakan semua pekerjaannya dari bebersih dan memasak lalu menata masakan di meja, sesaat Maurin melirik ke jam yang tengah bertengger di dinding , sekali lagi Maurin menghembuskan nafas beratnya kala melihat jam yang sudah mepet dengan waktu berangkat sekolah, tapi masalah yang menimpa karna keterlambatan membuat Maurin tidak bisa langsung berangkat.


Dengan langkah ragunya dan jemari yang terus meremas baju, Maurin melangkahkan kakinya menuju ruang kerja milik Bara. Saat tepat berada di depan pintu Maurin dengan ragu mengetuk pintu itu.


"Masuk." Suara itu kembali terdengar dan cukup membuat Maurin semakin merasa takut dan gugup.


Dengan pelan Maurin membuka pintu, dan sedikit demi sedikit gadis itu membuka pintu hingga pintu terbuka lebar. Wajah yang menunduk dan jemari yang tidak kunjung henti meremas baju yang sudah terlihat kusut Maurin mengayunkan langkahnya mendekat ke arah Rangga yang masih berkutat dengan laptopnya.


"Duduk!." Ujar laki laki itu dingin.


Maurin yang mendapat perintah segera duduk di kursi yang jaraknya dengan Rangga hanya di batasi oleh meja yang di penuhi berkas berkas milik Rangga.


Setelah Maurin duduk, Rangga menutup laptopnya lalu laki laki itu menatap dengan intens dan membuat Maurin semakin gugup.


"Apa kau tau, kalau kau melakukan kesalahan ini lebih dari satu kali." kata Rangga sembari menatap Maurin dengan tatapan tajamnya.


"Dan kau juga harus tau, kalau aku membenci seseorang melakukan kesalahan yang sama."


"Aku ingin tau, apa penyebab keterlambatanmu kali ini." ucap Rangga menuntut jawaban dari Maurin.


"Kar-." Maurin tidak melanjutkan jawabannya saat Rangga menyela ucapannya.


"Karna kau menghabiskan waktu malammu bersama teman temanmu itu bukan" kata Rangga menyela ucapan Maurin.


"Untuk kesalahanmu yang sudah kau lakukan untuk kedua kalinya, aku ingin

__ADS_1


mulai malam ini kau harus menginap disini sebagai hukumannya, Ngerti!." Putus Rangga yang pada akhirnya meminta Maurin untuk tinggal di rumahnya.


"Ta-tapi tuan."


"Tidak ada tapi tapian, keputusanku sudah bulat. Dan untuk itu nanti malam saya akan dateng ke rumah kamu, untuk menjelaskan pada ibu kamu." dan ucapan Rangga benar benar serius.


"Baik tuan." dan hanya jawaban sederhana itu yang dapat Maurin berikan, gadis itu sungguh tidak dapat menolak apa yang sudah di putuskan oleh Rangga.


"Dan satu lagi, nanti setelah sekolah tidak perlu kesini karna malamnya aku akan menjemputmu sekalian berbicara pada Bu Rosma tentang keputusanmu." ucap Rangga lagi, yang masih belum menuntaskan ucapannya.


Sedangkan Maurin tidak ada jawaban lagi selain mengiyakan.


Setelah selesai berbicara, Maurin segera keluar dari ruangan milik Rangga, kini Maurin hanya memikirkan bagaimana nanti kalau dia sudah benar benar tinggal di rumah itu, perasaan yang tersemat di hatinya mungkin akan semakin membesar.


Tidak lagi menghiraukan jam yang sudah semakin beranjak, meskipun nanti Maurin telat dia tetap berangkat ke sekolah dan benar saja saat dia sampai gerbang sekolah sudah tertutup. Dan satu hal yang ada di pikiran Maurin saat ini hanyalah bagaimana agar bisa masuk tanpa melewati gerbang itu. Dan ide gila Maurin langsung muncul yaitu masuk dengan melompati gerbang, suatu hal yang tidak pernah Maurin lakukan sama sekali.


Dan baru sekali mencoba dan berhasil, Maurin mengembangkan senyumannya. Sebelum bel sekolah berbunyi Maurin bergegas menuju kelas.


"Haiii, El..." Sapa Maurin pada Elea dengan wajah sumringahnya.


"Laaah, aku kira kamu gak masuk Rin." Elea terkejut akan kedatangan Maurin yang tiba tiba.


"Yah gak mungkinlah aku gak masuk El." Maurin menjawab sembari meletakkan tasnya di atas meja lalu duduk di bangku.


Saat Elea akan kembali memberikan jawaban tiba tiba saja guru yang mengajar di hari itu datang, dan semua siswa siswi grusak grusuk kembali ke tempat masing masing dan ucapan salam serentak mereka ucapkan.

__ADS_1


Hari itu Maurin mengikuti pelajaran dengan baik sampai selesai, yah walaupun akhir akhir ini gadis itu sering hampir terlambat untuk masuk. Tapi dengan kelincahannya gadis itu mampu melewati dengan baik.


__ADS_2