Pembantu Pengganti

Pembantu Pengganti
Bab 23


__ADS_3

"Apa ada masalah Dit, aku memang sengaja menitipkan Aden pada mereka." Jawab Bella santai di tengah wajah serius Aditya yang menuntut jawaban.


"Apa alasannya, apa ada keuntungan kau menitipkan Aden pada mereka?." Aditya merasa tidak habis pikir dengan apa yang di pikirkan oleh Bella, karna Aditya dapat melihat dengan kehadiran Aden, Maurin dan Rangga semakin begitu dekat.


"Karna agar dengan kehadiran Aden mereka menjadi menjauh Dit, bukankah jika Maurin sibuk mengurus Aden mereka jadi tidak punya waktu untuk bersama dan akan merenggangkan hubungan yang sudah mulai dekat itu." Jawab Bella dengan fikiran yang masih sama, Bella mengharapkan hubungan Maurin dan Rangga menjadi renggang karna kehadiran Aden .


"Hahahaha... Kau bodoh Bell BODOOOHH!!." jawab Aditya lalu membentak Bella.


Bella menjadi bingung dengan jawaban Aditya yang tiba tiba saja membentak dirinya, apakah ada yang salah dengan yang dia lakukan.


Melihat Bella yang justru menjadi bingung, Aditya langsung bangkit dari duduknya dan menarik Bella agar mengikuti langkahnya.


"Dit, jangan narik narik kayak gini malu tau di lihat orang." Bella mengegrutu sepanjang jalannya yang tergopoh mengikuti langkah cepat Aditya.


Di dalam lift Aditya hanya diam dan memegang erat pergelangan tangan Bella, wajahnya memerah seperti menahan emosi yang ingin di ledakkannya, melihat raut wajah seperti itu Bella hanya diam saja tentu wanita itu tidak mau memancing amarah Adit yang mungkin langsung memuncak.


Aditya menempelkan Cardlock dan pintu segera terbuka, Aditya langsung menyeret Bella ke dalam kamar hotel dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur berukuran king size itu, Aditya tanpa banyak kata langsung melepaskan semua kain yang menempel di tubuhnya hingga tubuh Aditya polos tanpa sehelai benangpun, Bella yang mengetahui apa yang akan di lakukan Aditya padanya hanya bisa diam dan memperhatikan seakan wanita itu juga siap dengan apa yang akan terjadi padanya.


Laki laki itu menghempaskan tubuhnya berada di atas Bella, wajahnya semakin di dekatkan pada Bella lalu bibir Aditya menjamah setiap titik sudut sensitif milim Bella, tentu Bella dengan agresif membalasnya, permainan itu di mulai keduanya saling membalas dan dengan kekuatannya Aditya merobek pakaian Bella, dan Bella sudah terbiasa akan hal itu to yang penting setelah ini dia bisa menikmati uang milik Aditya yang bisa dengan puas di pakainya untuk berbelanja menggantikan pakaian yang di rusak Aditya.


Di dalam kamar itu hawa semakin memanas membuat Aditya semakin tidak dapat mengontrol dirinya, tanpa banyak kata Aditya segera melesakkan rudal kokohnya, dan seketika permainan panas itu segera berlangsung dan suara suara kenikmat*an itu memenuhi ruangan, keringat yang muncul dari sela sela pori pori menyatu dalam permainan itu.


****


Seorang suster mengetuk pintu kamar rawat Maurin, dan setelah mendapat jawaban dari Rangga suster itu segera masuk ke dalam kamar dengan membawa senampan bubur, minum dan di lengkapi dengan sepiring buat yang di potong dadu.

__ADS_1


"Silahkan..." Ucap suster itu lalu meletakkan nampannya di meja nakas yang sudah tersedia di rumah sakit.


Setelah meletakkan makanannya suster itu berpamit keluar pada Rangga dan Maurin, lalu segera meninggalkan kamar itu setelah selesai melakukan tugasnya.


"Makan siang saya sudah datang, apa gak sebaiknya tuan memesankan makanan terlebih dahulu untuk Aden." Ucap Maurin yang tentu selalu mendahulukan hal apapun yang berkaitan dengan Aden.


"Baiklah." Tanpa banyak kata lagi Rangga segera menggunakan ponsel pintarnya memesan makanan untuk dirinya dan Aden.


"Sudah... Ayo sekarang kamu makan dulu." Rangga lalu meraih semangkuk bubur yang di peruntukkan Maurin, karna memang harus makan yang bertekstur lembut karna rahangnya yang masih belum pulih.


"Ti- tidak usah tuan, biar saya sendiri." Maurin menolak saat Rangga ingin menyuapkan sesendok bubur ke mulutnya, gadis itu sungguh merasa tidak enak sekaligus merasa canggung, jika seperti ini gadis itu mungkin akan susah untuk melupakan Rangga ketika saat ini Maurin mencoba untuk menghilangkan rasa yang tumbuh pada Rangga.


"Aku tidak menolak apapun itu." Ucap Rangga lalu kembali menyuapkan bubur itu.


"Pelan pelan makannya, gak ada yang akan meminta." Kata Rangga yang merasa jika Maurin seakan memakan makanan itu dengan cepat.


Blushh... pipi Maurin langsung merona merasa malu dengan apa yang di katakan Rangga, ternyata apa yang di lakukannya di ketahui oleh Rangga.


Bertepatan dengan suapan terakhir, Aden terbangun dan langsung terduduk dengan wajahnya yang kusut karna cukup lama tertidur.


"Kakak baik, udah bangun!." Ucap anak laki laki itu, lalu dengan sempoyongan mencoba menghampiri Maurin.


"Hati hati sayang..." Kata Maurin yang kala ingin beranjak namun di cegah oleh Rangga.


"Biar aku yang menghampirinya." Ucap Rangga lalu segera menghampiri Aden dan langsung membawanya dalam gendongan.

__ADS_1


"Kakak baik udah bangun dan udah makan siang juga!." Kata Rangga lalu menghampiri Maurin, dan duduk di kursi sebelumnya dengan Aden berada di pangkuannya.


"Cepat sembuh yah kakak cantik, biar nanti kita bisa main lagi." Ucap Aden seolah menyemangati Maurin.


"Iyah sayang, terimah kasih." Jawab Maurin yang tentu merasa bahagi kala sosok mungil ini berada di sampingnya, mungkin ikatan keduanya seperti Kakak dan Adik atau bahkan lebih dekat lagi seperti ibu dan anak.


Di tengah keasyikan obrolan keduanya, tiba tiba saja pintu kamar di ketuk, Rangga langsung menoleh ke arah pintu, laki laki itu pun segera berdiri dengan Aden yang masih berada di gendongannya.


"Maaf mengganggu pak, ada makanan yang bapak pesan." Kata suster yang ternyata mengantarkan pesanan Rangga untuk makan siangnya dengan Aden.


"Makasih sus." Tidak lupa Rangga berterimah kasih, karna telah mengantarkan makanannya.


Rangga pun segera masuk kembali dengan tidak lupa menutup pintu, lalu berjalan ke arah sofa dan meletakkan makanan yang masih di bungkus itu di atas meja, sedangkan Aden Rangga dudukkan di sofa.


"Aku mau Kakak yang nyuapin." Rengek anak itu kala Rangga ingin menyuapi Aden.


"Kakak masih sakit sayang, kamu hari ini di suapin papah dulu yah." Bujuk Rangga dengan mencoba memberi pengertian pada anak itu.


"Nggak mau paaah, pokoknya sama kakak." Dan Aden semakin merengek.


"Biar saya ajah tuan, lagian saya udah merasa baikan kok." Sahut Maurin kala melihat Aden yang menolak untuk di suapi Rangga.


Melihat Maurin yang kesulitan untuk turun, Rangga denga cepat menghampiri Maurin lalu membantunya.


Tentu apa yang di lakukan Rangga sekali lagi membuat Maurin terkagum akan laki laki itu, dirinya merasa beruntung juga dapat perhatian dari laki laki dingin itu, yang seketika tembok es itu seakan mencair di hari ini.

__ADS_1


__ADS_2