
Setelah merapikan semua barang barangnya dan memasukkan ke dalam tas, kini Maurin tengah menunggu waktu dimana dirinya harus keluar. Sembari menunggu Maurin berbalas chatt dengan Elea.
Jam sudah menunjukkan pukul 00.45 wib, Maurin berjalan mendekati pintu, melihat ke arah kamar Rangga. Terlihat dari sela pintu bagian bawah tidak ada cahaya lampu yang memancar. Maurin pun memastikan jika Rangga sudah tertidur, Maurin berbalik lalu meraih tas yang sudah penuh dengan barang barangnya. Gadis itu lalu membawa tas itu dengan langkah pelan, Namun pasti. Maurin keluar dengan pelan pelan agar tidak menimbulkan suara, saat berada di dapur Maurin membuka pintu belakang dengan hati hati. Sampai gadis itu dapat menghembuskan nafasnya lega, ketika berhasil keluar dan menutup pintu.
Halaman belakang rumah cukup gelap, Maurin harus kembali hati hati dalam melangkah karna cahaya yang minim, gadis itu segera mengotak atik kembali ponselnya mengirimkan pesan pada Elea jika drinya sudah di dekat pagar.
Tidak lama setelah Maurin mengirimkan pesan, tiba tiba saja ada sebuah tangga yang di arahkan masuk ke area halam belakang dan muncullah Elea yang memanjat mobil bersama Revan membantu untuk mengulurkan tangga pada Maurin.
"Ayo Rin, cepetan!!." Kata Elea sembari memelankan suaranya.
"Hati hati Rin." Timpal Revan agar Maurin berhati hati, Agar apa yang di lakukan mereka tidak di ketahui oleh Rangga.
Setelah tangga terulur Maurin dengan hati hati memijak setiap pijakan, Revan membantu mengambil alih tas yang Maurin bawa sedangkan Elea membantu Maurin agar segera memijak bagian atas mobil.
Setelah berhasil Maurin, Elea dan Revan bergegas turun dari atas mobil. Lalu ketiganya segera masuk ke dalam mobil, Revan segera melajukan mobil dengan kecepatan penuh, agar mereka segera menjauh dari rumah itu.
"Ya tuhan melegakan sekali, El... Van... Makasih yah udah mau bantuin aku, apalagi di tengah malam kayak gini." Ucap Maurin pada Elea dan Revan, yang seakan ucapan terimah kasih itu akan terus terucap untuk kedua sahabatnya itu.
"Yah Rin, sama sama." Jawab Elea juga merasa ikut lega.
__ADS_1
"Yang terpenting kamu bisa terbebas dari laki laki itu, semua tidak masalah Rin." Timpal Revan yang jawabannya tidak luput dengan kebucinannya pada Maurin.
Lima belas menit perjalanan mobil Revan mulai melewati jalanan yang di sampingnya di penuhi sawah sawah milik warga, di jam dini hari melewati jalanan sepi terasa begitu sunyi dan hanya terdengar hewan rawa yang membunyikan suaranya.
"Sepertinya kalo kita lewat sini pagi pagi atau pas siang hari bakalan sejuk banget yah." Kata Elea trus melihat ke luar jendela.
"Iyah El... Bener banget ini indah banget, oh yah omong omong nanti kalian gapapa kalo harus jemput aku kesini?." Maurin tentu merasa tidak enak jika harus merepotkan kedua sahabatnya terus.
"Gak masalah Rin, lagian itung itung kita bisa sambil refreshing yah kan Van." Jawab Elea yang juga meminta pendapat pada Revan, entah kalau soal Maurin Elea pasti akan melakukannya mungkin karna gadis itu yang juga selalu ada untuk dirinya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 25 menit akhirnya ketiganya sampai di sebuah rumah, sebuah rumah sederhana yang memiliki halaman cukup luas.
"Ini rumahnya Rin?." Tanya Elea sembari mengedarkan pandangannya dari dalam mobil.
"Bagus Rin, kayaknya aku juga bakal betah disini." Bukan Elea, melainkan Revan lah yang kini menimpali jawaban dari Maurin.
"Tentu, yaudah yuk kita lebih baik segera masuk. Sekalian nanti istirahat lagian nanti pagi kita harus segera kembali ke sekolahan." Ucap Maurin oada kedua temannya.
"Tapi Rin, lebih baik kita jangan masuk sekolah dulu deh. kita izin ajah dulu gak masuk nanti takutnya laki laki itu bakal nyariin kamu ke sekolahan." Ucap Elea yang sebenarnya masih ingin menikmati suasana pedesaan.
__ADS_1
Maurin seketika berfikir, mungkin yang di katakan Elea benar adanya. Karna ketika Rangga mengetahui jika dirinya telah kabur dari rumah. Laki laki itu pasti akan mencari keberadaannya.
"Bener juga sih Rin, lebih baik kayak gitu tapi besoknya masuk kembali lagian bolos sehari aja gak masalah yang penting udah mengirimkan surat izin kan ke sekolahan." Timpal Revan, laki laki itu menyetujui apa yang di usulkan oleh Elea.
Dan akhirnya Maurin menyetujui rencana kedua temannya, setelah memutuskan semuanya ketiganya segera turun dari mobil lalu segera mengetuk pintu yang tidak lama seorang laki laki paruh baya membukakan pintu.
Laki laki paruh baya itu langsung memanggil sang istri kala melihat siapa yang datang, sang istri yang mengetahui kedatangan dari keponakannya merasa begitu senang dan menyambut kedatangan mereka.
Niat awal yang ingin langsung istirahat semuanya di luar perkiraan, di malam yang akan mengantarkan menuju waktu pagi mereka terlibat obrolan, yang tentu membahas kedatangan Maurin yang juga akan menginap di rumah paman dan bibi. Setiap cerita Maurin lampirkan tentang apa yang terjadi padanya tentu mendapatkan reaksi berbeda, paman dan bibinya pun tidak kalah kaget dengan cerita Maurin yang dimana kejadian tidak di inginkan malam itu. Tentu awal mula paman dan bibinya tidar terima tapi setelah Maurin memberikan alasan kenapa lebih memilih untuk menghindar saja dari pada memperpanjang semuanya, akhirnya mereka mau mengerti tentang kondisi Maurin. Paman dan bibinya pun bersyukur jika Maurin masih di berikan hati yang luas untuk menerima masalah berat yang menimpanya.
"Sekarangkan udah ceritanya, lebih baik kita tidur mumpung masih ada beberapa jam lagi untuk istirahat." Sang bibi langsung mengakhiri obrolan di antara mereka.
Semuanya pun menyetujui dengan apa yang di ucapkan oleh sang bibi, dan akhirnya mereka bergegas untuk segera tidur dan akan bangun beberap jam lagi.
****
Sedangkan di kediaman Rangga, laki laki itu mengerjapkan matanya kala kerongkongannya terasa kering. Rangga bergegas bangkit dari tidurnya laki laki itu berjalan gontai untuk menuju dapur.
Teguk demi teguk Rangga membasahi kerongkongannya yang kering dengan meminum air segelas, setelah meminum segelas air Rangga seketika langsung merasa segar, matanya pun tidak merasa kantuk sama sekali.
__ADS_1
Setelah Rangga selesai minum, laki laki itu bergegas untuk kembali ke dalam kamarnya. Namun, langkahnya terhenti kala saat dirinya melirik ke arah kamar Maurin, kamar itu terlihat terang. Melihat itu membuat Rangga curiga apa gadis itu tidak tidur di jam segini karna Maurin pasti akan mematikan lampunya saat dia akan tidur.
Merasa penasaran Rangga mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamarnya, laki laki itu memilih untuk mencoba melihat ke kamar Maurin. Saat Rangga mendekat laki laki itu menyadari jika pintu kamar Maurin sedikit terbuka. Apakah gadis itu tengah ke kamar mandi?, Tapi sepertinya tidak juga karna kamar mandi tidak ada orang yang beraktivitas disana, Rangga pun semakin mendekat dan mencoba membuka pintu pelan pelan. Dan laki laki itu terkejut saat pintu terbuka sempurna sosok gadi itu sudah tidak ada di dalam kamar beserta barang barangnya, kamar itu terlihat tampak bersih dan plong.