
Plaaakk...
Suara tamparan menggema ke seluruh rumah, Bu Rosma tampak bergetar setelah melayangkan tangannya menampar pipi Rangga. Mendengar cerita dari Rangga cukup membuat Bu Rosma berani melakukan itu pada laki laki yang telah menghancurkan kehidupan putrinya.
"Saat Maurin menceritakan tentang kamu yang telah merenggut kesuciannya, aku benar benar marah tapi putriku memohon dengan penuh tangisan agar bisa menerima itu semua. Tapi kini aku tidak bisa lagi menahannya tuan. Karna kamu terlalu keterlaluan terhadap putriku, apa kamu tau tuan, dia aku izinkan bekerja di rumahmu agar aku bisa menuruti kemauannya yang mempunyai niat untuk membantuku, aku berharap dia baik baik saja disana tapi kamu malah merusaknya seperti ini." Isak Bu Rosma yang pada akhirnya meluapkan segala amarah yang sempat di pendamnya.
Tentu Rangga dan kedua orang tuanya merasa terkejut, karna ternyata selama ini Bu Rosma mengetahui semuanya. Pantas saja Maurin bisa menghilang dan pergi darinya tanpa beban karna Bu Rosma di minta untuk merahasiakannya pada Rangga.
"Kenapa Bu Rosma, kenapa kamu malah menuruti keinginan putrimu merahasiakan jika dia sudah di nodai oleh Rangga?." Kata Ivan lalu segera berdiri, permasalahan ini cukup besar dan harus segera di selesaikan.
"Dia hanya sadar diri pak, dia tidak mau meminta pertanggung jawaban pada tuan Rangga. Karna dia sadar kasta kita berbeda jadi dia memilih untuk menghindar dari tuan Rangga." Jawab Bu Rosma yang masih terisak.
Eli yang melihat Rosma masih terisak yang pasti merasa shock ketika mendengar cerita dari Rangga yang menjelaskan jika Maurin tengah hamil dan mengalami pendarahan, Eli segera menghampiri Rosma lalu merangkulnya.
"Maaf, maafkan anakku Bu Rosma. Aku akan menebus kesalahan ini agar Rangga bertanggung jawab akan Maurin." Ucap Eli mencoba memberikan ketenangan pada Bu Rosma.
"Tentang keadaan Maurin sekarang dia bagaimana?." Tanya Ivan pada Rangga.
"Dia sudah di pindahkan di kamar rawat pah." Jawab Rangga.
"Kalau begitu saya akan kesana saja, sayabingin melihat keadaan anak saya." Ujar Bu Rosma.
"Kita semua akan kesana Bu Rosma, lebih baik Bu Rosma berangkat bersama kita agar sampai disana lebih cepat." Kata Eli memeberi saran, sedangkan Bu Rosma hanya menyetujui ucapan Eli karna dia pun ingin segera menemui putrinya.
Akhirnya mereka semua sama sama beranjak untuk menuju rumah sakit dimana Maurin kini tengah di rawat.
__ADS_1
****
Elea dan Revan menunggu Maurin dengan cemas, kala Maurin itu tidak kunjung tersadar. Sampai setelah Elea dan Revan puas menunggu akhirnya mata milik Maurin mulai menegrjap dan beberapa saat mata Maurin terbuka sempurna.
Sesaat Maurin masih terdiam menyesuaikan fikirannya yang bertanya tanya dimana kah dirinya saat ini, di tambah ruangan dengan bau khas itu tampak asing.
"Syukurlah kamu sudah sadar Rin, kamu sekarang ada di rumah sakit tadi kamu pingsan." Kata Elea, yang merasa jika Maurin butuh jawaban kenapa dirinya sampai disini.
"Makasiih udah nemenin." Jawab Maurin lemah, meski begitu mata Maurin seperti mencari sosok yang kini tidak berada di ruangan itu.
"Gimana keadaan kamu Rin, sekarang kamu merasakan apa?." Tanya Revan, mencoba mengalihkan fikiran Maurin. Revan pun dapat menyadari apa yang kini tengah Maurin cari.
"Gak ngerasain apa apa Van, cuman sedikit pusing aja." Jawab Maurin.
Beberapa saat setelah kesadaran Maurin, tiba tiba saja pintu kamar rawatnya terbuka. Seketika ketiganya langsung menoleh ke arah pintu secara bersamaan.
"Ibu kenapa menangis?." Ucap Maurin lalu segera menghapus air mata yang mengalir di pipi sang ibu.
"Maafin ibu nak, maafin ibu karna ibu kamu jadi seperti ini." Tangis Rosma yang mulai menyalakan dirinya sendiri setelah apa yang menimpa putri satu satunya itu.
"Ibu gak salah bu, ini semua memang sudah jalan Maurin. Dan bagaimana pun kita harus bisa menerimanya, dan Maurin minta ibu jangan menangis seperti ini." Jawab Maurin yang berusaha untuk menenangkan sang ibu, Maurin masih nampak bisa menerima karna dia sendiri belum mengetahu tentang kehamilannya.
Elea yang melihat itu sungguh tidak tega, gadis itu lalu bangkit dan menghampiri dimana Rangga tengah berdiri.
"Saya ingin bicara dengan kamu." Kata Maurin lalu beralalu keluar dari ruangan.
__ADS_1
Rangga yang dapat melihat keseriusan dari wajah Elea langsung mengikuti arah langka kemana Elea pergi.
Terus Elea melangkah yang memang ingin membawa Rangga jauh dari ruang rawat Maurin.
Sampai di tempat yang sepi Elea menghentikan langkah yang di ikuti oleh Rangga.
"Apa kamu melihat tadi dengan seksama, bagaimana hancurnya ibu dan anak itu karna ulahmu." Kata Elea menohok, jujur saja gadis itu merasa geram akan Rangga yang hanya bisa menghancurkan kehidupan sahabatnya.
"Nanti aku akan bertanggung jawab padanya, kamu sebagai sahabat tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya." Jawab Rangga.
"Aku tahu kamu pasti akan tanggung jawab terlebih kamu juga orang yang mampu menggapai keinginanmu walau itu sulit, tapi yang jadi pertanyaan apakah kamu nanti bisa mencintai sahabatku sebagaimana sahabatku mencintai dirimu." Kata Elea yang tidak bisa menahan emosinya sama sekali.
Apa yang di katakan Elea cukup mengejutkan Rangga. Maurin mencintai dirinya apakah itu benar dan selama ini dialrinya baru mengetahui tentang hal itu.
"Kenapa diam, apa kamu juga baru mengetahui jika sahabatku mencintaimu. Sudah ku duga karna laki laki seperti mu tidak akan pernah menganggap cinta dari sahabatku." Ujar Elea, tanpa banyak kata lagi Elea langsung pergi meninggalkan Rangga dan kembali untuk melihat keadaan Maurin.
Terdiam Rangga masih terdiam setelah mendengar pernyataan dari sahabat Elea, ternyata Maurin sudah menyimpan perasaan padanya sudah sejak lama.
Er4erreeee
Cukup terkejut Rangga kembali ke ruangan Maurin, perkataan Elea yang cukup menohok mampu membuat Rangga hanya terdiam dengan banyak fikiran yang beterbangan di otaknya.
Rangga dengan diam langsung menerobos masuk ke dalam ruangan milik Maurin, Maurin yang melihat kedatangan Rangga hanya bisa mengalihkan pandangannya pada sosok Rangga yang saat ini semakin mendekat ke arahnya.
"Bu apa saya boleh berbicara berdua saja dengan Maurin?." Tanya Rangga pada Bu Rosma yang sampai saat ini terus berada di samping putrinya.
__ADS_1
Sesaat Bu Rosma terdiam, sembari menatap lekat ke arah Rangga. Jujur saja di dalam perasaannya ada rasa benci akan sosok laki laki yang tidak lain adalah putra dari majikannya. Mereka yang mendengar keinginan Rangga sedikit merasa ragu.
"Aku tidak akan macam macam, aku hanya ingin berbicara yang penting bagiku dan Maurin. Pleaseee." Kata Rangga mencoba meyakinkan semua orang yang berada disana.