
Maurin tersenyum lebar ketika melihat Elea masuk ke dalam ruangannya, seketika rasa sedihnya berkurang saat melihat sahabatnya masuk dengan wajah yang begitu ceria.
"Gimana udah lebih mendingan setelah ngobrol sama tuan duda?." Tanya Elea langsung duduk di kursi samping ranjang Maurin.
"iiissh apaan sih El." Maurin sedikit malu bercampur kesal ketika Elea menyinggung soal Rangga.
"Ohh yah Rin, aku mau ngasih tau sesuatu. Tapi saat aku memberitahu bisa gak kamu tetap tenang." Dalam sekejap raut wajah Elea berubah menjadi serius, membuat Maurin jelas merasa takut. Apa yang ingin di katakan Elea, sampai sahabatnya itu terlihat begitu serius.
"Mau ngomong apa sih El, jangan buat aku takut gini!." Jawab Maurin yang juga begitu penasaran dengan apa yang ingin Elea katakan.
Sesaat Elea hanya terdiam, gadis itu benar benar tidak tega jika harus mengatakan yang sebenarnya. Tapi di lain sisi Maurin juga harus segera tau tentang janin yang berada dalam kandungannya.
"Eell.. kok diem ajah sih, cepet kasih tau." Ujar Maurin menuntut Elea agar segera mengatakan, yang Maurin juga semakin kesal karna di hantui rasa penasaran.
"Tapi janji kamu bakal tenang kan Rin." Kata Elea lagi, ingin memastikan pada Maurin agar dia tetap tenang saat mendengarkannya.
"Janji El, janji..." Jawab Maurin cepat seakan dia akan siap mendengar kenyataan itu.
Sekali lagi Elea mencoba menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskan perlahan, tangan gadis itu segera menggenggam tangan Maurin begitu erat, sedangkan Maurin menatap Elea serius dan siap untuk mendengarkan apa yang harus di ketahuinya.
"Penyebab kamu tiba tiba pendarahan karna dorongan dari Rangga, itu bukan hanya pendarahan biasa Rin. Tapiiii- sekali lagi Elea mengambil oksigen lalu mengeluarkannya. - tapi itu karna kamu sedang hamil." Elea melanjutkan kata yang membuat hati Maurin serasa remuk, Elea yang merasakan tangan Maurin melemah dalam genggamannya, segera Maurin genggan erat memintanya agar untuk kuat.
__ADS_1
Maurin hanya terdiam tatapannya kini kosong, air mata meluncur begitu saja mengaliri pipinya, sedangkan Elea langsung terisak.
"Riiinnn, aku mohon tolong tetap tenang Rin, jangan kamu terlalu memikirkan itu. Apakah kamu tahu kamu harus tetap kuat agar dia- Elea mengalihkan tangannya menyentuh perut rata Maurin. - dia membutuhkanmu Rin, jadi aku mohon tahan dulu. Pikirkan dia yang mempunyai hak untuk tumbuh dengan baik, dia selamat Rin ketika beberapa jam lalu hampir luruh." Elea memohon agar Maurin tetap tenang, Elea tahu Maurin pasti akan shock dengan semua ini.
Jelas terasa begitu hancur berkeping keping perasaan Maurin, baru saja dia bisa menerima kenyataan jika kesuciannya telah di renggut. Tapi kini kenyataan kembali menghantam relung hatinya, mendengar isakan Elea yang memintanya agar menerima keadaan ini dulu. Membuat Maurin mencoba menjernihkan pikirannya.
"Lalu sekarang aku harus gimana El?, Sebentar lagi kita akan ujian lalu wisuda. Bagaimana dengan itu bagaimana jika teman teman mengetahui tentang kehamilanku El." Ucap Maurin lirih bertanya tentang bagaimana dengan kedepannya.
"Kamu gak perlu mikirin itu Rin, yang terpenting sekarang kamu nerima dia yah. Soal ujian nanti biar itu urusan nanti. Yang terpenting sekarang kamu harus menjaga dia sampai dia lahir... Yah!!." Elea kembali menguatkan Maurin, agar jangan memikirkan kekhawatiran yang nanti pasti bisa di hadapi.
Sesaat kedua perempuan itu saling tatap tangis di antara keduanya masih berlanjut tapi mulai mereda, dan dalam hitungan cepat Maurin langsung memeluk Elea.
Elea langsung mengembangkan senyumannya yang tanpa di ketahui Maurin yang masih memeluknya, gadis itu merasa lega, dia juga sudah menebak jika sahabatnya yang memiliki hati begitu luas ini pasti akan menerima buah hati yang hadir di waktu yang tidak tepat.
"Udah jangan nangis.- Elea mengusap air mata Maurin, setelah mengurai pelukan. - soal anak ini apakah kamu akan meminta pertanggung jawaban pada tuan duda itu." Tanya Elea yang langsung saja ingin menuntaskan masalah.
Sesaat setelah mendengarkan pertanyaan seperti itu, Maurin terdiam. "Sepertinya aku gak perlu menuntut pertanggung jawaban dari dia, karna belum tentu dia akan mau El. Terlepas ini adalah tanggung jawab dia, tapi aku pasti bisa merawatnya sendiri dengan ibu ketika dia gak menginginkannya." Maurin benar benar copy paste dari ibunya, dan memang dari awal Maurin sudah di peringatkan oleh Rosma untuk menjaga jarak dengan Rangga karna status sosial mereka yang jauh berbeda.
Elea tersenyum kala melihat ketegaran dan kekuatan dari sahabatnya itu. " Apapun nanti Rin, yang terpenting anak kamu disini sehat dan aku akan menjadi aunty yang akan menemani ibunya sampai dia lahir ke dunia." Ucap Elea.
Maurin kembali memeluk sahabatnya, berjuta rasa syukur yang di panjatkannya pada tuhan, walau dirinya berada di situasi tersulit pun masih banyak orang sekelilingnya yang begitu peduli padanya.
__ADS_1
Pelukan di antara keduanya segera terurai kala Eli, Ivan dan tidak lupa dengan Rangga yang menggendong Aden masuk bersama ke dalam ruang rawat.
Elea segera bangkit dari kursi, dan kini giliran Eli yang duduk dekat Maurin. Wanita paruh baya itu tersenyum lembut pada Maurin, tidak nampak sama sekali raut wajah marah.
"Apa semua baik baik saja?." Tanya Eli lembut dan meraih tangan Maurin.
Maurin tersenyum canggung, di tambah Rangga dengan intens memperhatikan. Dan Maurin hanya menjawab dengan anggukan karna untuk berbicara saja rasanya masih begitu canggung.
"Syukurlah, sebelumnya Tante minta maaf jika harus langsung membahas tentang ini. Kamu juga sepertinya sudah mengetahui tentang apa yang terjadi. Disini Tante ingin membicarakan tentang Rangga yang akan bertanggung jawab atas semua yang menimpa kamu." Ujar Eli.
"Untuk masalah itu, Tante dan keluarga tidak perlu lagi merisaukannya. Aku sebagai ibu dari anak ini tidak menuntut pertanggung jawaban apapun dari tuan Rangga, karna aku akan merawatnya Tante." Jawab Maurin tersenyum.
Rangga yang mendengarkan jawaban dari Maurin begitu shock dengan itu, bagaimana bisa Maurin tidak mau jika dirinya bertanggung jawab. Bukankah itu malah lebih bagus.
Rangga pun segera memberikan Aden ke Ivan, laki laki itu langsung mendekat ke arah Maurin.
"Kenapa Rin?, Kenapa kamu menolak, bukankah itu malah lebih baik. Bahkan aku sendiri yang meminta untuk bertanggung jawab tanpa kamu memohon terlebih dahulu." Kata Rangga yang terlihat semburatan emosi di wajahnya.
"Karna aku gak mau tuan, untuk menikahiku karna kasian atau tuntutan. Karna itu sama halnya dengan berbohong. Biar aku membawa anak ini dan merawatnya sendiri." Jawab Maurin.
"Tidak bisa Rin, karna itu juga anakku Rin..." Seketika Rangga terpancing emosi.
__ADS_1