
"Baiklah Rin, jika kamu tidak mau aku bertanggung jawab atas bayi ini. Izinkan aku untuk selalu bisa menjenguknya selama masa pertumbuhannya di dalam sana." Kata Rangga akhirnya membuat keputusan, laki laki itu mencoba menurunkan egonya ketika Maurin tidak mau mengalah dan di satu sisi Rangga harus menyadari jika dirinya tidak bisa memaksa Maurin. Atau itu akan mempengaruhi kehamilannya.
"Gimana Rin?, Aku mohon berikan aku kesempatan untuk yang ini." Rangga kembali bertanya menuntut persetujuan dari Maurin.
"Baiklah, tapi tuan harus ingat meski masalah ini sudah terpecahkan aku tidak akan tinggal kembali bersama ibu. Jika tuan ingin mengunjunginya silahkan langsung ke rumah paman dan bibi karna selama kehamilanku aku akan berada disana." Jawab Maurin yang akhirnya memberikan kesempatan untuk Rangga.
"Baiklah, apapun itu yang terpenting selama kehamilan sampai nanti waktunya tiba aku masih bisa mengikuti perkembangannya." Kata
Rangga merasa lega dengan keputusan Maurin, setidaknya meski hari ini Rangga belum bisa mengikat Maurin dalam sebuah pernikahan. Dia masih bisa untuk mengikuti perkembangan janin yang ada di rahim Maurin yang tidak lain adalah anaknya sendiri.
Setelah menyelesaikan satu masalah lalu Rangga keluar dari ruang rawat Maurin memberikan kesempatan untuk Rosma bersama putrinya.
Eli segera menghampiri putranya yang kini sudah berada di luar, wanita paruh baya itu ingin mengetahui apa keputusan Maurin.
"Gimana Ga? Apa kamu sudah berhasil membujuknya." Tanya Eli.
Rangga menggeleng pelan. " Tidak mau, Maurin tetap kekeh supaya aku tidak bertanggung jawab akan kehamilannya, tapi yang cukup membuatku lega dia masih memberi kesempatan padaku untuk bisa mengikuti perkembangan janinnya." Jawab Rangga, Eli yang mendengarnya sedikit merasa kecewa.
"Kenapa kamu tidak membujuknya lebih keras lagi Ga, kenapa sampai segitunya dia tidak menginginkan pertanggung jawaban darimu." Kata Eli yang sudah mempunyai harapan besar jika Maurin akan bisa menjadi bagian keluarganya, terlepas karna kesalahan yang di lakukan Rangga. Eli begitu cepat menerima Maurin karna melihat anak itu begitu baik selain itu Eli berharap akan pernikahan Rangga dan Maurin dapat membuat Bella tidak lagi mengusik kehidupan putranya.
"Ya udahlah mah, kita terima dulu keputusan dari Maurin, yang penting sekarang kondisi dia dan janinnya sehat. Aku gak mau untuk terlalu memaksakan pada dia, biar nanti seiring berjalannya waktu aku akan berusaha untuk meluluhkan ya mah." Jawab Rangga lalu Eli mengangguk tanda setuju, benar yang di katakan Rangga saat ini yang paling penting adalah kondisi Maurin agar semakin bagus.
Beberapa jam berlalu dan hari sudah menggelap bahkan malam sudah semakin beranjak, kini tinggallah Rangga dan Rosma yang berada di rumah sakit untuk menjaga Maurin, sedangkan Elea dan lain lainnya termasuk kedua orang tua Rangga izin untuk pulang terlebih dahulu.
__ADS_1
Rangga yang melihat Bu Rosma nampak kelelahan segera menghampirinya.
"Bu... Kalau ibu capek ibu pulang ajah dan istiraha dibrumah, biar Maurin saya yang menjaga." Kata Rangga pada Bu Rosma.
"Tidak perlu tuan, saya masih kuat untuk menjaga putri saya." Kata Bu Rosma dingin, nampak wanita itu kecewa akan Rangga.
"Benar kata tuan Rangga Bu, ibu lebih baik pulang Maurin tau ibu sedang capek banget, jadi Maurin mohon pada ibu jangan memaksakan Maurin takut nanti ibu jatuh sakit karna capek." Sahut Maurin yang diam diam menyimak di antara Rangga dan ibunya.
"Tapi nak..."
"Maurin disini bakal baik baik ajah kok Bu, ibu gak perlu khawatir. Yang terpenting sekarang bukan hanya Maurin aja tapi kesehatan ibu juga, lagi pula disini udah ada tuan Rangga yang menjag Maurin." Maurin mencoba meyakinkan pada Rosma agar dia tidak merasa khawatir, meskipun Maurin mengerti jika kekhawatiran Rosma karna Maurin bersama Rangga.
"Baiklah, ibu mau pulang dan istirahat besok ibu kembali kesini." Akhirnya setelah Maurin berhasil meyakinkan, Rosma menyetujui perkataan Maurin.
Dengan segera Rangga langsung menelfon supirnya untuk menuju ruang rawat Maurin. Tak berselang lama supirnya datang.
"Baik pak..."
Setelah berpamitan pada Maurin dan berterimah kasih pada Rangga meski rasa kecewabya masih ada, Rosma segera mengikuti langkah supir itu untuk segera pulang.
Rangga segera menutup pintu, entah ada kebahagiaan tersendiri saat kini dia dan Maurin hanya berdua. Lalu Rangga melangkah menuju ke arah dimana Maurin hanya diam sembari jemarinya saling meremas.
"Apa kamu tidak tidur?." Tanya Rangga lalu duduk di kursi sebelah ranjang Maurin.
__ADS_1
Maurin menggeleng. "Aku masih belum mengantuk, jika tuan mengantuk tidurlah terlebih dahulu." Jawab Maurin.
"Mana mungkin aku akan meninggalkanmu tidur, aku akan menemanimu sampai kantuk itu datang." Jawab Rangga tersenyum.
Tangan Rangga dengan pelan mulai menjalar, lalu tangan itu menggenggam tangan milik Maurin yang sesaat sempat ingin menolak. Rangga lalu menatap wajah pucat Maurin.
"Sekali lagi maafkan aku, maaf karna telah membuatmu menjadi seperti ini." Kata Rangga, rasanya laki laki itu masih belum puas ketika Maurin masih belum memaafkan seutuhnya.
"Udahlah tuan, tidak perlu membahas itu lagi. Aku harus tidur terlebih dahulu sepertinya aku mulai mengantuk." Maurin seketika ingin mengalihkan pembicaraan karna Maurin benar benar masih belum bisa memaafkan Rangga seutuhnya.
"Baiklah... Silahkan kamu tidur." Jawab Rangga yang mengerti ketika Maurin masih tidak ingin membahasnya, dan Rangga mengerti.
"Apa tuan tidak berniat untuk pindah ke sofa dan juga segera tidur?." Tanya Maurin, jujur saja dirinya merasa canggung kala dia hendak tidur tapi Rangga masih betah memperhatikannya.
"Izinkan aku untuk tidur disini Rin, karna aku juga ingin tidur bersama dia yang berada di dalam sini." Kata Rangga sedikit membuat Maurin terkejut kala Rangga secara tiba tiba memindahkan tangannya di atas perut Maurin.
"Tapi..."
"Aku berjanji tidak akan macam macam Rin, apa kamu tahu ketika janin lebih sering dekat dengan ayahnya pertumbuhannya akan semakin baik." Kata Rangga mengarang.
Maurin seketika tertarik dengan perkataan Rangga, Maurin mulai berfikir apakah itu memang benar?.
"Apa benar seperti itu tuan!." Entah sejak kapan mungkin karna batinnya yang mulai kuat pada sang janin, Maurin menjadi semangat jika menyangkut apapun tentang janinnya yang di harapkan agar bertumbuh dengan sehat sampai dia siap untuk lahir. Sedangkan siang tadi Maurin masih belum bisa menerima kehadirannya.
__ADS_1
"Benar Rin!, Maka dari itu izinkan aku untuk melakukannya karna aku juga menginginkan dia agar tumbuh baik." Kata Rangga.
"Tidurlah Rin, kita tidur bersama dia malam ini." Kata Rangga melanjutkan tanpa menunggu jawaban dari Maurin, laki laki itu segera menyandarkan kepalanya di atas kasur, lalu tangan kekarnya mengelus lembut perut rata itu. Rangga terus melakukannya dan Maurin tidak dapat menolak dan akhirnya Maurin memilih untuk menikmati elusan tangan Rangga yang begitu terasa nyaman. Yang tanpa menunggu lama Maurin akhirnya terlelap.